
Max sampai di apartemennya dia langsung mencari Allea ke kamar tapi tidak ada siapapun, Max pergi ke dapur ternyata Allea sedang minum di dekat kulkas
Max menghampirinya dan memeluknya dari belakang, Allea tersentak hingga air yang dia minum menyembur. Max terkekeh membalikan tubuh Allea mengelap air di sekitar bibirnya
"Kenapa? kaget? " tanya Max seraya mengusap bibir Allea dengan ibu jarinya
Allea mendorong Max mengelap kasar bibirnya dengan punggung tangan, tanpa menghiraukan Max Allea masuk ke kamarnya Max masih mengikuti Allea dan ikut berbaring memeluk Allea dari belakang
"Kamu kenapa sih? coba ngomong sama aku" Max membalikkan tubuh Allea menghadapnya
"Ayo mau ngomong apa? " tanya Max pada Allea yang hanya hanya diam menunduk
"Apa yang di bawah sana sangat menarik sampai sampai kamu memandangnya seperti itu? " sontak Allea menggeleng mendongakkan kepalanya
"Gak apa apa liat aja, kalo mau pegang juga gak apa apa" goda Max membuat wajah Allea memerah
"Gak lucu" ketus Allea berbalik memunggungi Max, Allea menahan tawanya menutupi wajahnya dengan guling
"Kamu marah kenapa sih? Hei... ngomong Hei.. " Max mencolek colek lengan Allea
Max yang kesal menggigit lengan Allea hingga Allea menjerit "Sakit" Allea berbalik mengusap lengannya
"Kalo ada apa apa tuh ngomong jangan diem mulu" Max menangkup wajah Allea
"Nanti bilangnya cowok gak peka, kami bukan paranormal yang bisa baca pikiran orang" kesal Max mengguncang kepala Allea
"Kamu mau bilang sesuatu sama aku? " Akhirnya Allea bicara
"Bilang apa? jangan berbelit belit kalo nanya"
"Kamu ada sesuatu yang belum kamu bilang sama aku? " tanya Allea
"Aneh banget, aku gak ngerti"
"Kamu pernah ngapain aja sama Arabella? "
"Apaan sih? gak pernah ngapa ngapain sumpah" jawab Max
"Kamu bohong, gak mungkin dia bohong kan"
"Arabella ngomong apa? kamu lebih percaya dia? lihat aku, Apa menurut kamu aku tukang bohong? " tanya Max seraya memeluk merapatkan tubuhnya dan Allea
"Aku gak tahu harus percaya siapa, Kamu masih gak mau cerita sesuatu? "
"Oke.. aku cerita sekarang sama kamu, Janji jangan marah lagi" Allea hanya mengangguk sebagai jawaban
"Dulu aku emang pernah sempet mau ngelakuin itu tapi gak jadi" Allea mendorong Max saat mendengar itu
"Dengar dulu" Max kembali menarik pinggangnya
"Jadi waktu itu dia mungkin berniat jebak aku karena dia udah hamil sama orang lain, dia punya pacar lain di belakang aku sampai dia hamil pacarnya gak mau tanggung jawab jadi mungkin dia mau aku bertanggung jawab buat anaknya"
"Tapi untungnya aku gak jadi karena gak berani waktu itu, beberapa minggu setelahnya dia ketahuan hamil sama orang tuanya dan mereka panggil aku karena mereka taunya aku pacar dia"
"Ya.. aku nyangkal dong orang gak jadi masuk" Tawa Allea pecah saat mendengar kalimat terakhir Max
"Kenapa ketawa? Emang bener kan ? "
"Dan kamu tahu siapa yang harusnya bertanggung jawab? " Allea menggeleng
"Jonathan, cowok yang kemaren ngikutin kamu. Aku gak tau dia dendam apa sama aku sampai sampai dia berusaha deketin kamu juga"
"Kamu gak bohongkan? " tanya Allea
"Aku gak pernah bohong sama kamu"
"Kemaren bohong"
"Iya deh kecuali kemaren" Jawab Max sambil
terkekeh
"Jangan marah lagi hm, Aku gak bisa kalo kamu cuekin. Hidup aku hampa rasanya" ucap Max manja mengusak wajahnya ke dada Allea
"Iihh modus deh" Allea menjauhkan kepala Max dari dadanya
"Aku lapar, masak ya" pinta Max
"Pesan aja lah"
"Ya udah kalo gak masak aku mau mimi" Ucap Max manja
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Gimana Rin hasilnya? " tanya Gibran dokter cantik tersebut hanya menggeleng dan tersenyum
"Istrimu tidak hamil" Jawabnya seraya menulis sesuatu di kertas
"Apa maksud anda? jangan berbohong saya benar benar hamil" bentak Emile
"Ohh ya? lalu pembalut di kamar mandi punya siapa? " tanya Gibran
"Itu.. itu.. punya Cindy " Emile mengelak
Dokter menyalakan rekaman dari saku jasnya Emile membulatkan mata tidak menyangka sang dokter merekam pembicaraannya, Sorot mata Gibran menajam mendengar rekaman tersebut
"Itu rekaman yang kamu minta dan ini poto hasil USG nya bersih tidak ada apapun" Ucap dokter Ririn
"Kalian bersekongkol? "
"Jangan ribut di rumah sakit silahkan bawa istrimu pulang "
"Baiklah terimakasih Rin, aku permisi" Gibran menarik tangan Emile secara paksa
Saat pulang bekerja Gibran masuk ke kamar mandi dia melihat pembalut yang lupa di sembunyikan oleh Emile, dia menghubungi teman dokternya agar dia tidak menerima pasien lain dan menyuruhnya merekam apa saja yang di bicarakan oleh Emile
"Kamu menjebakku? "
"Aku? kamu yang sudah berbohong maka nikmati Juah dari kebohonganmu" jawab Gibran mengemudikan mobilnya dengan kencang
"Kamu mau bawa aku kemana? pelankan mobilnya" teriak Emile
"Aku akan buat laporan yang sempat tertunda ke kantor polisi, karena kebohonganmu aku melukai anakku, aku membiarkannya tinggal di luar"
"Aku melakukan ini untuk anakmu juga, aku mau Cindy bebas"
"Dia bersalah tidak sepantasnya kamu terus membelanya, beri dia efek jera atas semua kesalahannya atau dia akan hidup sepertimu" cekcok antara mereka tidak dapat di hindari hingga sampai di kantor polisi
Gibran tidak segan segan menyeret Emile yang kekeh tidak mau masuk ke sana, Setelah Emile di proses di kantor polisi Gibran berniat mencari Allea
Gibran langsung menuju apartemen Max tidak mengenal kata lelah dia harus segera meminta maaf pada anak gadisnya itu, dia juga mengabaikan telepon dari Cindy yang terus menerus berdering di handphonenya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang aku pergi dulu" ucap Max pada Allea yang sedang mencuci piring bekas makan mereka
"Mau kemana? " tanya Allea
"Ada pemasok datang aku harus temui mereka"
"Aku ikut" Allea segera menyimpan piring piringnya
"Gak, disana bukan tempat yang cocok buat kamu "
"Oh atau kamu mau diam diam ketemu sama seseorang? ya udah aku juga capek aku tidur aja" ketus Allea melewati Max menabrak lengannya
"Eits.. kenapa kamu jadi curigaan gitu? Aku serius aku harus ke bar sekarang"
"Pergi aja, aku gak peduli" Allea menepis tangan Max namun Max menariknya sampai dia masuk kedalam pelukan Max
"Oke.. kamu boleh ikut, jangan keluar dari kamar aku" ucap Max seraya memeluk dan menciumi kepala Allea
"Gak usah, aku gak mau ganggu" Allea masih pura-pura marah padahal senyum hampir melengkung di bibirnya
"Ya udah, aku pergi" Max melepas pelukannya dan berbalik pergi
Allea menghentakkan kakinya bukan ini jawaban yang Allea tunggu, dengan kesal Allea melempar satu pack tissu hingga mengenai punggung Max
"Kok lempar lempar barang sih? " Max berbalik menatap Allea yang wajahnya sudah cemberut bibirnya di Tekuk membuatnya terlihat menggemaskan
"Ahh.. kenapa kamu sekarang jadi menggemaskan" Max mengangkat tubuh Allea seperti karung beras di pundaknya lalu memukul b*k*ngnya dengan kesal
"Turunin aku malu kalo sampe bawah gini" Allea berontak menendang nendangkan kakinya
Max tidak mendengarkan Allea dia membawa Allea dengan posisi seperti itu hingga ke mobilnya sampai sampai mereka jadi pusat perhatian orang , Allea menutup wajah dengan kedua tangannya sampai dia masuk kedalam mobil
"Aku malu kenapa kamu gak turunin aku" gerutu Allea
"Itu hukuman buat orang yang suka ngambek" jawab Max mulai menjalankan mobilnya