My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Jadi aneh



"Gue tau lo selalu datang di saat gue dalam bahaya" Allea masih memeluk Max


"Jadi lo selalu teriak panggil nama gue kalo lagi dalam bahaya? " tanya Max yang masih mengelus rambut Allea, Allea mengangguk sebagai jawaban


"kayak 911 dong di panggil pas butuhnya doang" goda Max


Allea mendongak menatap wajah Max seraya melepaskan pelukannya, Allea lantas naik ke tempat dimana dia duduk tadi menyamakan tinggi badannya dengan Max


"Lo gak ikhlas nolongin gue? " tanya Allea dengan wajah cemberutnya


"Enggak"


"Ya udah nanti gue bilang sama ayah biar lo dapet imbalan"


"Emmhh... kenapa mukanya gak enak di lihat gitu? " tanya Max


"Apa lo akan mati matian tolongin cewek yang lo suka? " tanya Allea


"Tentu aja, lo aja gue tolongin apalagi dia"


"Siapa cewek yang lo suka itu? "


"Ishh kepo" jawab Max mengulum senyumnya


"Hah " Allea mengambil nafas panjang menghembuskannya kasar


Allea turun dari tempatnya tapi Max mengangkatnya kembali ke atas, Allea kembali turun dan Max pun kembali mengangkatnya ke tempat duduk


"Apaan sih? " gerutu Allea


"Lo cemburu? " goda Max


"Gak sama sekali" Jawab Allea memalingkan wajahnya


"Gemes banget sih" Max melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Allea serta merapatkan tubuhnya


"Kalo orang yang gue suka itu lo, apa lo percaya? " tanya Max seraya mengelus pipi Allea dengan jari telunjuknya


Allea diam mata mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, Sudut bibir Max terangkat mengukir senyum di wajahnya


"Gue cuma becanda, lo baperan" Ucap Max seraya menusuk nusuk pipi Allea dengan jari telunjuknya


"Becanda, ya haha " Allea tertawa di paksakan


"Kita pulang sekarang" Allea menyingkirkan tangan Max dari pinggang dan wajahnya


"Tangan lo luka" Max mengangkat kedua tangan Allea


"Cuma sedikit, tadi gue cabutin daun teh" Allea menarik tangannya, kedua telapak tangan Allea terluka dan berdarah karena meraih daun teh yang di tabur di jalan


"Naik gue gendong" Max menghadapkan punggungnya pada Allea


"Gak usah gue masih bisa jalan " ujar Allea pergi lebih dulu keluar


Allea berjalan lebih dulu dari Max meskipun Max berbicara di belakangnya namun Allea tidak memperdulikannya, entah kenapa dia merasa begitu kesal mendengar ucapan Max di gubug tadi


"Allea... jadi gini balasan lo setelah gue tolongin" ucapan Max menghentikan langkah Allea


"Lo kan minta imbalan jadi gue harus bersikap gimana nanti ayah ganti semua kerugian yang lo alami karena gue" jawab Allea tanpa berbalik


"Lo marah marah mulu" Sahut Max yang tau tau sudah mengangkat tubuh Allea seperti karung beras di pundaknya


"Max lepasin.. lepasin gak" Allea memukuli punggung Max


"Lo salah jalan Allea, jalannya kesini" setelah berjalan menuju jalan yang benar Max menurunkan Allea


"Kesel gue sama lo" ketua Allea seraya memukul lengan Max


"Apa Allea cemburu beneran ya? Cewek cemburunya gak jelas" gumam Max berlari mengejar Allea yang sudah lari terlebih dahulu


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Cindy berada di sebuah Mall bersama teman temannya, saat sedang makan tiba tiba seorang pria mendekati mereka dan mulai menyapa Cindy


"Kamu anaknya Emile dan Gibran ya? "


"Iya om, om tau mommy daddy saya? " tanya Cindy


"Ya kami berteman dari dulu, tapi sekarang sudah tidak pernah bertemu"


"Apa kabar orang tuamu? " lanjutnya


"Baik om" Jawab Cindy


Entah kenapa Cindy bisa cepat akrab dengan seseorang yang baru saja dia kenal, padahal biasanya dia sangat ketus bahkan pada orang yang dia kenal namun tidak penting menurutnya


"Bisa minta no kamu? nanti om akan silaturahmi ke rumah ketemu papamu" Cindy memberikan no ponselnya


"Baik baik ya, om pergi dulu" ucapnya seraya menepuk pelan kepala Cindy


"Lo kok main kasih no HP lo? gimana kalo dia berniat jahat? " ucap Kiki salah satu temannya


"Gue yakin dia orang baik" jawab Cindy


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Allea di bonceng Max dengan sepeda baru saja sampai di villa Damian, Gibran begitu panik melihat keadaan anaknya yang kacau. Gibran masih mengutuk orang orang yang menyakiti putrinya seraya mengobati luka luka Allea


"Om tau dari mana? " tanya Max


"Allea yang cerita"


"Ohh pasti dia mengagumi saya ya Om" ucap Max dengan pedenya


"Ihh siapa yang kagum.. lo jadi gak jelas sekarang" sahut Allea


"Sekarang? emang dulu Max gimana? " tanya Gibran


"Dulu dia kayak mayat hidup, diem aja sekarang banyak tingkah" cicit Allea


"Tau banget kayaknya anak ayah" goda Gibran membuat pipi gadis itu bersemu merah


"Ayah apaan sih, udah ah Allea mau mandi" Allea pergi meninggalkan ayahnya yang sedang terkekeh


Danendra hanya diam memperhatikan mereka, dia juga kesal karena merasa tidak dianggap ada disana


.


.


Setelah makan malam semua orang masuk ke kamar masing masing, jam menunjukkan pukul 00:30 Max yang merasa haus pergi ke dapur untuk mengambil air


Max mendengar suara di kamar Allea karena penasaran Max membuka pintu kamar yang di tempati Allea, Allea tampak gelisah dalam tidurnya dia menggelengkan kepalanya dengan tubuh yang bergerak seperti menangkis sesuatu. Max mendekat Allea bercucuran keringat bergumam tidak jelas


"Tidak.. jangan... pergi.. pergi.. "


"Allea.. Allea.. " Max menepuk pipi Allea pelan


"Aakkhhh" jerit Allea langsung terbangun dari tidurnya


"Lo mimpi buruk? " tanya Max yang hanya diangguki Allea


"Gak apa apa lo udah aman sekarang" Max menenangkan Allea


"Max ngapain kamu disini? " tegur Gibran yang segera


"Saya mau ambil air om tapi denger teriakan Allea" ucap Max mengacungkan gelas yang di pegangnya


"Kirain Allea teriak gara gara kamu"


"Mana berani kalo ada om" jawab Max


"Jadi kalo gak ada saya kamu berani? " pekik Gibran


"Hehe gak om saya cuma becanda" ucapnya sambil perlahan menghilang di balik pintu


Allea menggeleng melihat kelakuan Max yang sekarang


"Kamu suka sama dia? " tanya Gibran


"Ahh ayah Allea ngantuk, ayah lanjut tidur lagi aja" Allea enggan menanggapi ucapan ayahnya, dia kembali tidur menutup seluruh tubuhnya hingga kepala menggunakan selimut


"Cie.. cie.. Allea" goda Gibran membuat kepala Allea kembali menyembul dari dalam selimut


"Apaan sih ayah kayak abg aja" gerutu Allea


"Ciee.. ciee .. " ledek nya sambil menutup pintu


"Allea.. ciee.. ciee.. " Gibran kembali membuka pintu dan menyembulkan kepalanya


"Ishh ayaaahh... " rengek Allea kemudian Gibran benar-benar menutup pintu sambil tertawa


"Orang orang jadi aneh sekarang" gumam Allea


Setelah keluar dari kamar Allea Gibran melihat Max sedang duduk di sofa depan TV, Gibran duduk di samping Max seraya menepuk pundaknya


"Kenapa gak lanjut tidur? " tanya Gibran


"Saya khawatir sama Allea om, saya takut dia trauma"


"Ya saya juga sedang memikirkan itu"


"Bawa Allea konsultasi om, dia gak akan katakan masalahnya pada orang lain kemaren aja dia larang saya lapor polisi"


"Kenapa? " tanya Gibran


"Dia bilang takut semua orang tahu dan akan menjauhi dia, tapi saya punya bukti kuat buat laporin mereka ke polisi" Max mengambil sesuatu di sakunya


Max meletakkan sebuah logo yang berhasil dia cabut dari jaket salah satu dari mereka, Gibran mengambil logo tersebut dan membolak baliknya


"Sepertinya itu logo geng motor om" lanjut Max


"Om pastikan mereka akan membayar semuanya" Gibran meremas logo tersebut lalu membawanya pergi ke kamar


"Ingat jangan masuk ke kamar anakku" ucap Gibran sebelum benar benar pergi


"Siap om" jawab Max


"Tapi gak janji" lanjutnya dengan berbisik


Up 2 bab hari ini, maaf ya sebelumnya othor gak up beberapa hari karena otak othor lagi ngeleg 🤣


Jangan lupa like komen dan vote ya