My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Inisiatif sendiri



Budayakan like sebelum lanjut membaca karena menekan tombol like tidak akan menyakiti jari anda.. percaya deh


Allea keluar dari ruangan dimana Gita di rawat di susul Max, seseorang hendak menyapanya namun karena Allea menangis sambil berlari dia tidak sempat mendengarnya


"Maaf tante Allea lagi sedih" ucap Max pada tetangga yang tadi pagi dia temui di depan rumah


"Ya tidak apa apa.. tenangkan dia" jawabnya


"Saya permisi" ucap Max kembali mengejar Allea


Melihat Allea yang hendak masuk ke mobil Max menekan remote di kuncinya agar pintunya terbuka, saat Max masuk Allea sedang menutup wajahnya dengan telapak tangan


Tubuhnya bergetar dengan tangis yang menyesakkan dada, Max bingung harus bersikap bagaimana dengan waktu yang lama Max hanya diam menatap Allea yang tak kunjung reda tangisnya


"Hiks.. hiks.. "


"Sayang... kamu percaya Tuhan? " ucap Max sambil mengusap Lembut kepala Allea


"Rencana Tuhan lebih indah, percayalah semua akan di ganti dengan yang lebih baik buat hidup kamu"


"Maafin aku yang gak bisa menjaga kamu dan anak kita dengan baik, aku bukan suami yang baik" lanjut Max


Allea membuka tangan dari wajahnya seraya menggeleng " kamu suami yang baik, aku.. aku.. cuma merasa.. hiks.." perkataannya tidak di lanjutkan ada rasa sesak yang tidak bisa di jelaskan


"Aku mengerti... kemari sayang" Max menarik lembut Allea agar pindah ke pangkuannya


Allea menurut dia pindah ke pangkuan Max di kursi kemudi, Allea menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Max dengan lembut Max mengusap punggung Allea juga mengusap air mata yang menetes di pipinya


"Aku takut kalo nanti gak bisa kasih kamu anak lagi" lirih


"Hei... kamu jangan mendahului ketentuannya, kita periksa besok ke dokter aku yakin kamu baik baik aja" jawab Max


"Kalo aku bermasalah apa kamu akan tinggalin aku? " tanya Allea


"Enggaklah, perkara anak kita bisa ikhtiar sampai titik darah penghabisan, tapi kalo pun Tuhan gak berkehendak kita bisa adopsi anak. Aku gak mempermasalahkan hal itu asal aku hidup sama kamu aku selalu bahagia" jawab Max


"Kita bisa buat bayi yang lucu lagi, kita bisa buat yang banyak" hibur Max, Allea hanya mengangguk entah dia menanggapi perkataan Max atau tidak


Max mengemudi dengan Allea yang duduk menghadapnya meski agak kesulitan, Sesampainya di rumah Max tidak menurunkan Allea yang tertidur di pangkuannya dia menggendongnya seperti koala membuka gerbang sendiri membiarkan mobilnya di pinggir jalan


Dia naik ke ranjang perlahan duduk bersandar di kepala ranjang membiarkan Allea tidur nyaman di pelukannya, entah berapa lama Allea tidur dengan posisi duduk memeluk Max akhirnya dia bangun mengerjapkan matanya


Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah leher suaminya, dia bangun menatap wajah Max yang sedang terlelap Allea menyusuri wajah Max dengan jarinya lalu mengecup bibirnya sekilas


Allea mengecup seluruh wajah Max namun suaminya itu tidak kunjung membuka matanya, Allea juga mencium bibir Max dan ciumannya semakin turun ke telinga leher dan dadanya yang sebelumnya sudah dia buka kancing bajunya


"Kamu nakal" ucap Max


"Kamu bilang mau kasih aku anak yang banyak? sekarang lakukan" Ucap Allea dengan menggoda


Tanpa membuat waktu Max menubruk tubuh Allea hingga berada di atasnya, mereka saling membelit satu sama lain membuat sore itu menjadi sore yang panas bagi keduanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Siapa nama baby boy ini? " tanya Bagas


"Dirgantara Sebastian" jawab Dito


"Kita panggil dia Dirga" ucap Gita


"Gue masih kepikiran Allea" ucap Sandro


"Telepon gas" pintanya pada Bagas


"Nyuruh mulu, telepon aja sendiri"


"Gue takut sama suaminya"


"heleh sok sok an mau nonjok nelpon aja gak berani" hardik Bagas mengambil handphonenya


Sudah dua kali Bagas menelpon nomor Allea namun tidak di jawab ketiga kalinya telepon baru di jawab namun tidak ada suara di sebrang telepon sampai Bagas menekan tombol loudspeaker dan akhirnya mereka semua terperanjat


Suara d*s*h*n keduanya terdengar mengalun "Faster baby" suara Max terdengar berat seperti menahan sesuatu


"Aaahh... dasar sial" ucap keempat teman laki laki Allea, untung saja tidak ada ibu Gita karena sedang melihat bayi di inkubator


"Sungguh beruntung kalian bisa merasakannya" gumam Sandro mengundang gelak tawa teman temannya


"Apa Max membujuk Allea dengan cara seperti ini? " pikir Gita


"Sudah sayang jangan di pikirin, nanti kamu jadi pengen" ucap Dito mendapat pukulan dari istrinya


Ternyata handphone Allea tertindih tubuh Max hingga tidak sengaja teleponnya terjawab saat mereka sedang mencapai puncaknya. Kali ini mereka akan menjadi bahan olok olokan teman temannya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Malam malam pintu rumah Allea di ketuk seseorang Allea membuka pintu ternyata tetangganya yang ramah itu berkunjung dengan membawa sebuah rantang


"Tante.. silahkan masuk" ucap Allea


"Tante kesini cuma mau nganter ini, Siapa tau kamu belum makan"


"Ohh.. kebetulan Allea lagi masak ayo masuk nanti kita makan malam bersama" Allea menarik lembut tangannya masuk


"Silahkan duduk tan, Allea mau lanjutin masak dulu"


"Kakak kamu kemana? " tanyanya


"Ke bengkel dulu katanya ada masalah di bengkelnya" Jawab Allea kembali memasak


"Orang tua kalian kemana? " tanyanya


"Ahh.. nama tante siapa? Allea belum tahu" Allea mengalihkan pembicaraan


"Panggil tante Ririn"


"Ya.. tante mau makan sekarang? " tanya Allea


"Kita nunggu kakak kamu aja"


Tidak berselang lama terdengar suara mobil terparkir di halaman rumah, terdengar suara langkah kaki mendekat


"Sayang.. udah belum masaknya aku lapar" ucap Max


"Ehh.. halo tan" Max tersenyum kikuk


"Ayo kita makan.. bukannya tadi bilang kamu lapar? " ucap Allea


Mereka makan malam bersama sambil sesekali berbincang, setelah selesai Ririn pamit pulang di antar Allea sampai ke depan


"Kapan kapan main ke rumah tante ya" ucap Ririn


"Pasti tan nanti Allea main ke rumah tante"


Allea kembali masuk ke rumahnya dia begitu terkejut saat Max keluar dari sampai pintu "Iisshh.. ngagetin aja "


"Tante itu nanya nanya gak? " tanya Max


"Nanya cuma aku alihkan aja"


"Bantuin aku cuci piring ya.. " bujuk Allea manja bergelayut manja di lengan Max


"Ada upahnya gak? "


"Upah apaan? " Max malah menaik turunkan alisnya bukannya menjawab pertanyaan Allea


"Ahh.. aku udah paham, kerjain sendiri aja deh" ucap Allea melewati Max


"Hei katanya mau cepet cepet punya baby"


"Tapi gak harus setiap hari beberapa kali udah kayak minum obat aja" mendengar penuturan Allea Max tertawa seraya mengikuti langkah istrinya mencuci piring berdua


Indah seandainya memang ada suami sempurna yang ganteng, kaya, setia, mau bantu pekerjaan rumah, ngelakuin apa pun demi istrinya bahagia.. aahh.. tapi itu hanya di novel saja wkwkwk


Jangan lupa like, komen dan vote ya beri dukungan lainnya juga 🌹🌹🌹🌹


Kasih rate bintang lima ya ⭐⭐⭐⭐⭐