
"Nyonya mencari tuan Maxime? " tanya Seorang pelayan pada Allea
"Iya.. apa kamu melihatnya? "
"Tadi tuan keluar sepertinya menemui seseorang" Karena rasa penasarannya Allea keluar mencari Max, namun saat melangkah di sekat sebuah mobil tiba tiba seseorang membekap mulutnya hingga Allea pingsan
Disinilah Allea sekarang, di sebuah hotel terbaring tak berdaya di atas ranjang, Satya Tidur di samping Allea, tidur menyamping memperhatikan Allea dengan satu tangan di buat penyangga untuk kepalanya
"Ternyata lebih dari yang aku duga, kulitnya sangat lembut dan wangi" Satya mengendus lengan serta leher Allea
"Aku mau tau seperti apa reaksi suamimu jika melihat tanda ini nanti" Satya mengukung Allea memberi tanda di dada bagian atasnya, ketika Satya hendak menurunkan gaun Allea pintu tiba tiba saja di dobrak
Sebuah terjangan membuatnya tersungkur di bawah ranjang, Max dengan langkah besarnya mendekat ke arah Satya aura menakutkan terasa di kamar tersebut
Max membangunkan Satya lalu mulai terjadi baku hantam diantara keduanya, Max semakin tersulut emosi ketika Satya berbicara sembarangan
"kulit istrimu sangat lembut, wangi dan manis, aku sudah mencicipinya" ucap Satya seraya tertawa
"Apa yang lucu bajingan? apa yang membuatmu tertawa? melecehkan istriku menjadi kesenangan? baiklah jangan salahkan aku jika menyakitimu juga adalah kesenangan bagiku" ucap Max
Max memukul Satya tanpa ampun bahkan Satya lemas dengan wajah berlumuran darah, Ketika Satya telah terkapar Max melayangkan tinjunya keras ke wajah Satya hingga Kepalanya memantul di lantai
"Bawa dia, kebiri saja" Titah Max nafasnya masih memburu menahan amarahnya
"Baik tuan" anak buahnya menyeretnya Satya seperti koper
Max menatap wajah Allea dan membelai wajahnya kemudian menutupi tubuh Allea dengan jasnya dan membawanya pergi, Tanda merah di atas dada Allea kembali membuat amarahnya meledak
Max meletakkan kasar tubuh Allea di bathtube membuatnya langsung terlonjak, Allea masih mengucek matanya dan ketika matanya di buka lebar lebar suaminya berada di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan
"Kok aku disini? aku ketiduran ya? " tanya Allea
"Kamu harus mandi" Max merobek gaun Allea dan mulai menggosok tubuh Allea dengan kuat
"Aww.. kenapa bajunya di robek? Sakit yang pelan pelan" Allea merintih ketika Max menggosok tanda merah itu dengan kuat
Mendengar rintihan Allea seketika Max menggelengkan kepalanya dan menjauhkan tangannya dari tubuh Allea, Max pergi begitu saja membuat Allea bingung
"Sayang kamu gak jadi mandi? " tanya Allea namun Max tidak menjawab
Selesai mandi Allea keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, melihat suaminya merokok di luar Allea berjalan mengendap lalu memeluk Max dari belakang
"Kamu kenapa gak mandi? mau bantu pakein aku baju? " Ucap Allea seraya mencium punggung suaminya
"Pake baju sana dingin, aku mau ke kantor dulu ada kerjaan mendadak" Max berbalik menjauhkan tubuh Allea lalu pergi
"Sayang tunggu.. kamu marah sama aku? atau aku berbuat salah? kenapa kamu seperti menghindar? "
"Gak ada yang salah, aku gak marah, aku buru buru harus ke kantor" jawab Max
"Tapi ini udah malem, apa gak bisa besok aja? "
"Aku gak bisa.. jangan nungguin aku, tidur aja duluan" Ucap Max lalu pergi
"Dia kenapa ya? " gumam Allea
Hampir pagi Max baru saja pulang dia menatap wajah Allea yang sedang tertidur juga Exel yang ada di sampingnya, Max mengusap kepala Allea juga mencium keningnya
"Maaf sayang.. maaf aku gak bisa jaga kamu" Lirih Max
Allea merasa terganggu dan terbangun dari tidurnya hal pertama yang dia lakukan adalah tersenyum, Max menjauhkan tangannya namun Allea menariknya dan menciumnya
"Tangan kamu kenapa? " Allea bangun melihat dengan jelas tangan serta wajah suaminya yang terluka
"Kamu berantem sama siapa? " tanya Allea
"Gak ada, aku mandi dulu harus buru buru ke kantor" Max beranjak dari ranjang
"Jangan bercanda Max ini masih jam 4 mau ngapain ke kantor?"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Apa lo liat liat" ketus Bisma saat melewati meja kerja Celine
"Pede banget anda, siapa yang liatin? iiuuwwhh... mending gue liat pantat ayam" sinis Celine
"Ya udah jangan liat kesini"
"Gak.. sana pergi ngapain masih disini? " Celine menutup Wajahnya dengan buku
Bukannya pergi Bisma malah sengaja berdiri mendekatkan wajahnya ke dekat buku, saat Celine membuka buka buku yang jadi penutup tersebut betapa terkejutnya dia melihat wajah Bisma sangat dekat
"Aaaaa"
Gedebuk
Celine memukulkan buku yang ada di tangannya ke wajah Bisma, Bisma mengusap bagian wajahnya yang memerah karena buku buku itu
"Awas lo" Ucap Bisma lalu masuk ke dalam ruangan Max
"Hai tampan.. " goda Bisma pada Max, namun Max tidak merespon dia hanya melihat sekilas lalu kembali pada berkas berkasnya
"Gue galau banget nih, gagal kawin deh" Ucap Bisma seraya duduk di sofa
"Max.. lo kenapa sih? sariawan? " tanya Bisma melihat sepupunya itu hanya diam saja
"Muke lo gak enak di liat, gue yang gagal nikah masa lo yang galau? " cicit Bisma
"Keluar" hanya itu yang terucap dari mulut Max
"Gak mau.. gue mau ngajak lo makan siang sebagai rasa terimakasih"
"Gak perlu.. sekarang keluar atau Scurity yang akan seret lo keluar" Tegas Max
"Lo kok tega.. Max, ada masalah apa sih? "
"Keluaaar" bentak Max seraya menggebrak meja
"Wihh.. santai, gue pergi sekarang" Bisma terlonjak, dia benar benar melihat ada masalah dari wajah Max
Ketika Bisma keluar di balik pintu sudah ada staf yang saling mendorong memilih siapa dulu yang masuk, Bisma menanyakan kenapa mereka berkumpul di depan ruangan Max
"Bos kalian kenapa? " tanya Bisma
"Gak tau hari ini galak banget"
"Mana di suruh kumpulin data tahunan dalam satu hari"
"Ini udah 3 kali revisi salah terus"
"Saya di marahin mulu karena masalah kopi"
"Yang sabar ya.. resiko punya bos tempramen nya jelek" Ucap Bisma seraya terkekeh mendengar curhatan para staf di kantor Max
"Apa kalian akan berkumpul disana terus menerus? Urus surat pengunduran diri sekarang juga" teriak Max dari dalam ruangan ketika mendengar keributan di luar ruangannya
"Noh.. hati hati Macan lagi ngamuk" ucap Bisma seraya pergi, para Staf menelan ludah dengan susah payah mempersiapkan diri untuk masuk
Pintu terbuka seketika Max menoleh dengan tatapan tajam membuat mereka serasa lemas tak bertulang, tatapan elang itu bagai pedang yang siap menghunus lawannya
"Dosa apa kemarin yang gue lakuin sampe sekarang di buat lemes" batin seorang Staf
"Ganteng sih tapi bikin takut" batin yang lain
"Apa kalian akan berdiri disana terus? atau saya yang harus kesana? " Max menggebrak meja membuat orang orang itu semakin panik bahkan diantaranya ada yang sampai berkaca-kaca