My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Segalanya membaik



"Ayah pulang dulu ya, nanti sore ayah kesini lagi " Ucap Gibran seraya mengusap kepala Allea


"Ayah pasti capek gak apa apa pulang aja istirahat lagi pula Allea dan Max udah mendingan" 


"Ya udah kalo gitu besok pagi aja ayah kesini sebelum berangkat ke kantor "


"Ya.. Hati hati yah" Allea mencium tangan ayahnya begitu pun Max


Sebenarnya Gibran tidak langsung pulang dia pergi menemui Ririn yang menelponnya dengan keadaan menangis meminta Gibran mengantarnya ke kantor polisi


Di perjalanan Ririn tampak cemas meremas jemarinya matanya berkaca kaca, Gibran yang melihat hal itu menggenggam tangan Ririn berusaha menenangkannya


"Apa lagi yang di perbuat anak itu? Aku gagal mendidik dia" Lirih Ririn


Sebenarnya Jonathan sengaja tidak memberitahu Ririn dia khawatir ibunya itu khawatir dan kecewa, namun Yuki yang tidak puas dengan cara kerja Jonathan sengaja memberitahu Ririn menelponnya seolah olah bersedih dengan kabar di tangkap nya Jonathan


Sesampainya di kantor polisi Ririn dan Gibran berbincang dengan polisi yang berjaga menanyakan apa sebenarnya yang terjadi hingga Jonathan di jebloskan kedalam penjara, saat Jonathan menampakkan batang hidungnya polisi menyebutkan nama Allea


Gibran mematung sejenak mencerna kata kata sang polisi dia menatap Ririn yang memegang tangannya lalu menepisnya dan pergi begitu saja, jelas sekali kesedihan begitu terlihat di wajah Ririn kini dia menatap anaknya penuh kemarahan


Plak.. Plak.. Plak.. 


Ririn menampar wajah Jonathan berkali kali juga memukulinya sehingga polisi harus melerai Ririn, Jonathan baru kali ini melihat kemarahan Ririn yang begitu memuncak sampai memukulinya


Ririn yang biasanya berlaku lemah lembut yang selalu mengajarinya dengan nasihat walaupun anak anaknya melakukan kesalahan kini menjadi orang yang berbeda, kemarahan jelas terpancar dari kedua matanya yang memerah


"Kamu tahu? Gibran itu ayahnya Allea, apa yang harus mama katakan nanti? " Bentak Ririn


Sekarang Jonathan mengerti kenapa ibunya bisa semarah ini


"Dimana otak kamu? Kenapa kamu melakukan hal menjijikkan seperti ini? Kenapa kamu mengganggu wanita yang jelas jelas sudah punya suami? 


" Kalau sampai Max mati di tangan kamu bagaimana nasib istri serta anak anaknya nanti ? kamu pikir Allea akan menerima kamu setelah kamu membunuh suaminya? Huh? "


"Kamu seharusnya bisa merasakan bagaimana hidup di keluarga yang tidak utuh, tapi kenapa kamu malah ingin melakukannya pada calon anak mereka? " Ririn berkata dengan nada tinggi suaranya bergetar dengan air mata membasahi pipinya


Anaknya tidak kunjung bicara akhirnya Ririn pergi meninggalkannya, sebelum benar benar pergi Ririn berbalik dan mengatakan sesuatu pada polisi


"Proses dia sesuai hukum jangan menerima jika ayahnya menyuap ingin membebaskannya atau kalian tidak akan bertugas lagi setelah itu" Ririn benar-benar pergi tanpa berbalik lagi


"Andai mama tau aku ngelakuin ini demi mama dan Allea" Batin Jonathan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang tidur disini aku kedinginan" Ucap Max saat Allea tidur Ririn ranjang pasiennya


"Malu nanti kalo ada orang yang datang gimana? " 


"Gak apa apa kita kan suami istri wajar dong tidur berdua" Allea tidak menjawab perkataan Max dia memilih memejamkan matanya


Allea merasa seseorang menggesernya dan tidur di sebelahnya, Allea berpura pura tidak merasakan apapun dia masih memejamkan matanya


Sebuah ciuman mendarat di pipinya namun Allea Masih tidak merespon hingga Max mencium semua wajahnya tanpa terkecuali


"Iisshh.. Geli" Allea menahan wajah Max dengan tangannya


"Suruh siapa pura pura tidur, aku kangen sama kamu'' ucap Max menyingkirkan tangan Allea di wajahnya


"Kita berdua satu ruangan apa yang perlu di kangenin? "


"Bukan itu sayang.. Kangen yang lain" Bisik Max membuat bulu kuduk Allea meremang


"Jangan macam macam disini" Ucap Allea


"Satu macam saja sayang" Bisik Max dengan bibir menempel di telinga Allea membuatnya merasa geli ketika bibir Max bergerak


Tanpa bicara Max turun berjalan ke arah pintu membawa botol infusnya, setelah mengunci pintu dan menutup tirainya Max kembali ke ranjang Allea


"Ini gila.. Kamu lagi sakit bisa bisanya mmpphtt.. " Max membungkam bibir Allea yang cerewet dengan bibirnya


Allea tidak menyangka suaminya akan segila ini melakukannya di rumah sakit


"Kamu gila" Ucap Allea seraya mengancingkan bajunya


"Tapi kamu suka kan? " Ucap Max tersenyum puas berjalan mendekati Allea setelah membuka kunci pintu


Max kembali berbaring di samping Allea memeluknya serta menciumi pipinya, Allea berbalik menghadap Max tangannya terulur menyentuh wajah suaminya yang masih terdapat luka dan lebam 


"Pasti waktu itu kamu kesakitan ya" Ucap Allea menyentuh luka yang sudah mengering


"Aku lebih sakit lihat kamu di ikat seperti itu, kalo aja dia gak diam diam mukul aku udah aku abisin dia duluan" 


"Kamu selalu terluka gara gara aku" Lirih Allea


"Dan kamu selalu menjadi sasaran orang orang yang benci sama aku.. Maaf selalu melibatkan kamu " Allea menggeleng lalu mendongak mengerucutkan bibirnya meminta Max mengecupnya


Max mengecup sekilas bibir Allea dan kembali memeluknya, mereka saling memeluk seolah takut kehilangan satu sama lain


"Jangan bikin aku khawatir lagi, aku hampir gila waktu kamu hilang" Ucap Max 


"Kamu gak tau dunia aku seakan runtuh waktu aku lihat kamu terkapar, aku kira aku akan kehilangan kamu saat itu" Lirih Allea 


Mereka saling mengeratkan pelukan Max mengecup kepala Allea berkali-kali sebelum keduanya terlelap


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sekarang kamu udah tenang kan? " Ucap Dito


"Hmm.. Aku bener bener seneng akhirnya mama mau nerima aku sama Dirga" 


"Gak ada yang perlu kamu khawatirkan sekarang"


"Iya.. Sekarang kita tidur  biar besok bisa bangun lebih pagi" Dito menahan tangan Gita ketika dia hendak tidur


"Yakin mau tidur sekarang? " Tanya Dito membuat Gita mengangkat sebelah alisnya


"Apa gak sebaiknya kita merayakannya dengan... " Dito menggantung kata katanya


"Ahh.. Haha aku lelah hari ini kapan kapan aja ya" Gita mengerti maksud Dito segera tidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala"


"Sayang.. Ayo lah.. " Rengek Dito berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Gita


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Ririn sudah menghubungi nomor Gibran beberapa kali namun tetap sama tidak ada jawaban akhirnya Ririn memutuskan hari ini datang ke perusahaan Gibran


Para staf sudah tahu siapa Ririn mereka langsung mempersilahkan Ririn menunggu di ruangan Gibran karena Gibran sedang mengadakan meeting, Ririn melihat lihat di sekitar ruangan kerja Gibran dia menemukan sebuah foto yang di selipkan diantara tumpukan Map


Foto wanita cantik mirip Allea yang sedang bercanda mesra dengan Gibran, mereka sepertinya saling mencintai Ririn menyimpan kembali foto tersebut saat mendengar langkah kaki menuju ruangan tersebut


''Gibran aku.. "


"Pergi" ucap Gibran dingin seraya melewati Ririn begitu saja


Mata Ririn berkaca kaca pria yang baru saja beberapa bulan dekat dengannya juga menyatakan cintanya mengusirnya begitu saja, hati Ririn perih melihat sikapnya yang kini dingin bahkan raut wajahnya datar tak berperasaan


Ririn melangkahkan kakinya gontai keluar dari ruangan Gibran, tatapan Gibran menatap punggung Ririn yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu