
"Aku mau... tante tinggal disini"
Duuaaarrr
Semua orang mematung mendengar permintaan Ellia, Allea membalikkan tubuh gadis kecil tersebut lalu berlutut menyamakan tinggi tubuhnya
"Sayang.. Itu gak bisa tante punya Ello, kita bisa ketemu kapan aja, minta yang lain aja ya? " Ucap Allea lembut, Mata Ellia berkaca kaca wajahnya menunjukkan kesedihan menatap ayahnya
"Oke.. Dia tinggal disini" Ucap Alexander
"Hei.. Kita belum sepakat" Pekik Allea
"Tidak ada kesepakatan, kamu adalah tersangka disini jadi ikuti saja aturannya" Jawab Alexander
"Aku punya anak.. Aku tidak bisa meninggalkannya"
"Itu tidak bisa di buat sebagai alasan, bawa juga anakmu kesini"
"Bener pa? Horee.. Aku punya temen" Ellia kegirangan berlari memeluk papanya
"Kamu gak bisa seenaknya dong" Sergah Allea
"Tinggal disini atau tinggal di penjara dan berpisah dari anak kamu" Allea menjadi bungkam dia tidak punya pilihan lain
"Tante ayo aku tunjukin kamar aku.. Kita tidur berdua ya" Ellia menuntun tangan Allea
"Tunggu sayang.. Besok aja tante kesini Ello pasti cari tante ya.. Ellia kan anak baik" Bujuknya
"Papa tante gak mau bobo sama Ellia" Bocah kecil itu mengadu pada papanya
"Tidur disini lagi pula Daniel sudah pulang tidak ada yang mengantar kamu, saya lelah mau istirahat" Ucapnya
"Lagian siapa yang mau diantar kamu pulang, masih banyak taksi" Gumamnya
"Temani Ellia tidur, saya bisa kapan saja melaporkan hal ini"
"Oke.. Oke.. Dasar si dominan" Ucap Allea dengan mata mendelik menatap Alexander dengan ujung matanya
Setelah larut malam Alexander memeriksa kamar Ellia, gadis itu tidur saling memeluk dengan Allea, Alexander duduk di belakang Ellia dan mengusap kepalanya serta menciumnya
Ellia terusik membuat keduanya menggeliat dengan gerakan yang sama, tanpa sadar bibir Alexander membuat lengkungan menatap kedua wanita di hadapannya yang tidur dengan posisi yang sama
"Kenapa kalian bisa mirip? " Gumamnya
"Tidak.. Jangan.. Max jangan pergi.. Jangan tinggalin aku.." Allea kembali mengigau dalam tidurnya, melihat itu Alexander segera pindah ke samping Allea seraya menepuk nepuk pipinya
"Max jangaaaaannnn" Allea terbangun dengan spontan memeluk Alexander
"Jangan pergi lagi.. Aku mohon kami sudah terlalu banyak menderita " Lirih Allea
Alexander tidak menjawab dia bingung dengan apa yang di katakan Allea, tangannya membelai kepala Allea dia juga merasakan kenyamanan saat wanita ini memeluknya
"Kenapa papa peluk tante? " Tanya Ellia dengan suara parau seraya mengucek matanya, Allea tersadar setelah mendengar perkataan Ellia
"Yaakk.. Kenapa kamu memeluk saya? " Pekik Allea mendorong tubuh Alexander lalu menyilangkan tangan di dadanya
"Kamu lupa atau pura-pura lupa? Jelas jelas kamu yang memeluk saya"
"Gak mungkin, terus ngapain kamu disini? " Tanya Allea
"Saya memang setiap malam periksa kamar Ellia"
"Udah tante papa Ellia masih ngantuk.. Papa bobo sini" Ellia menepuk kasur di sebelahnya
"Kalo gitu tante pindah ya"
"Aku mau tante juga disini, aku gak pernah ngerasain tidur sama mama" Lirihnya
"Bukannya mama Ellia yang tadi ya? " Tanya Allea, namun Ellia menggeleng dengan wajah sedih
"Itu susternya, ayo tidur besok Ellia harus sekolah" Alexander tidur di sebelah Ellia membelai rambutnya
Allea ikut tidur di sebelah Ellia rasanya tidak tega melihat wajah sedih Ellia, Allea tidur memunggungi keduanya sambil memikirkan Ello yang tidur sendiri di kamarnya
"Tante tidurnya menghadap kesini" Ujar Ellia seraya membalikkan tubuh Allea
"Tidur ya.. Besok jangan kesiangan" Ucap Allea sambil tersenyum menepuk-nepuk bokong Ellia
Allea menundukan pandangannya dia tahu saat ini Alexander tengah menatapnya, jantungnya berdebar padahal dia sudah meyakinkan bahwa laki-laki di hadapannya bukan suaminya
"Dia bukan Max.. Dia bukan Max" Batin Allea
Allea akhirnya tertidur Alexander masih memandangi wajahnya, entah kenapa dia hanya senang melihat wajah Allea yang mirip seperti Ellia gadis kecilnya
"Kalau Ellia sudah besar mirip seperti dia" Batin Alexander
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Allea.. " Vero memanggil Allea yang baru saja tiba di rumah sakit
"Tadi berangkat sama siapa? " Tanya Vero saat melihat Allea turun dari mobil mewah
"Ohh.. Dianter temen kak" Jawab Allea
"Baru beberapa hari disini udah punya temen? "
"Ahh.. Gue duluan ya kak ada operasi hari ini" Allea pergi dengan langkah seribu menghindari pertanyaan Vero
Baru saja membuka pintu ruangannya Allea di kejutkan dengan kehadiran ketua yang tersenyum padanya, Allea lagi lagi menghela nafas kasar sebelum masuk ke ruangannya
"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita" Benar saja di ruangannya sudah disiapkan meja dan dua kursi
"Harusnya anda tidak perlu repot repot ketua saya sudah sarapan di rumah" Jawab Allea
"Ayolah hargai usahaku yang sudah menyiapkan semuanya" Ketua menggandeng tangan Allea masuk
"Ahh.. Saya bisa jalan sendiri" Allea melepaskan tangan ketua dengan satu tangannya
"Dokter Allea aku punya sesuatu " Allea mengernyitkan keningnya
Ketua mengeluarkan sebuah kotak sepertinya isinya adalah cincin, saat ketua hendak membuka kotak tersebut Allea terlebih dulu bicara
"Saya sudah punya banyak cincin ketua, maaf saya tidak bisa menerima barang mewah ini saya merasa tidak pantas" Ucap Allea
"Wanita cantik sepertimu selalu pantas mendapatkan apapun, ini hanya sebagian kecil aku bisa memberikanmu lebih dari ini"
"Dokter Allea meja operasi sudah di siapkan" Ujar seorang suster yang tiba tiba saja masuk
"Maaf tuan sepertinya saya tidak bisa menemani anda sarapan" Ucap Allea lalu pergi
"Untung kamu datang tepat waktu" Ucap Allea pada suster itu
"Hati hati dokter, menurut gosip ketua selalu mengganggu dokter dan perawat cantik disini itu alasan dokter wanita selalu tidak betah disini" Bisik suster
"Pantas saja, aku merasa di jebak sama Vero" Gumam Allea
Di meja operasi Allea bergerak dengan tangan berlumuran darah memegang pisau dan alat alat yang di berikan suster, setelah operasi selesai Allea bisa bernafas lega ketika operasinya berhasil
"Kerja bagus semuanya" Allea selalu memuji timnya setelah selesai bekerja
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Bi, Ello udah di jemputkan? Tadi siang dia makan apa? " Tanya Allea ketika menunggu taksi online untuk pulang
"Den Ello tadi... " Belum selesai bibi bicara seseorang merebut handphonenya dari belakang
"Tidak sopan" Ucap Allea dengan wajah sinis
"Ello udah di jemput Daniel dan sekarang ada di rumah, ayo pulang" Ucap Alexander seraya memberikan handphonenya pada Allea
"Apa apaan ini? Tuan Alexander harusnya saya punya hak untuk pulang atau pergi kemanapun kenapa anda selalu mengatur urusan saya? "
"Saya anggap kamu tahanan jangan banyak bicara, masuk" Alexander mendorong Allea Masuk kedalam mobil
"Tunggu.. Saya harus pulang membawa baju dan mobil"
"Kamu akan di antar jemput mulai sekarang dan baju sudah Daniel bawa bersama Ello" Jawabnya lalu menutup pintu mobil dengan kencang
"Aarrggghh... Bisa gila gue lama lama" Teriak Allea, Alexander hanya tersenyum smirk menjalankan mobilnya
Sesampainya dirumah Ello seperti biasa bermain dengan gadgetnya sementara Ellia menunggu kepulangan mereka di pintu, setelah memarkirkan mobil Allea turun membanting pintu mobil dengan wajah marah
"Tante.. " Ellia berlari memeluk Allea
"Hai.. Sayang mana Ello? Apa kalian sudah makan? " Raut wajah Allea berubah seketika
"Cih.. Dasar rubah" Ejek Alexander lalu masuk membiarkan Ellia bersama tante barunya
Saat Alexander masuk dia berpapasan dengan Ello, tiba tiba handphone yang di pegang Ello jatuh setelah melihat wajah Alexander
"Papa.. Mama bilang papa udah meninggal" Ucap Ello dengan tatapan tak lepas menatap Alexander
"Bocah kecil aku bukan papa kamu " Jawab Alexander sambil berlalu meninggalkan Ello sendiri
Ketika Allea dan Ellia masuk mereka melihat Ello menghapus air matanya seraya memungut handphonenya kembali lalu berlari keluar rumah tersebut, Allea mengejar Ello dan memeluknya dari belakang
Ello tidak mengatakan apapun namun tangisnya tampak pilu hingga tersedu-sedu
"Kenapa sayang? Ada apa? " Tanya Allea seraya menghapus air mata Ello
"Papa.. Apa papa tidak mengenal kita? " Lirihnya
Allea memeluk Ello dia tidak bisa lagi menahan air matanya, Alexander menatap mereka dari kamarnya yang berada di lantai atas
"Apa anak itu menangis karena kata kataku? Apa aku semirip itu dengan papanya" Gumam Alexander merasa iba melihat mereka sepertinya sangat sedih ketika melihat wajahnya
"Ello kenapa? " Tanya Ellia setelah mereka kembali masuk, Allea harus bersusah payah membujuk Ello dan memberi pengertian bahwa Alexander bukanlah papanya
"Bukan urusanmu" Jawabnya lalu pergi ke kamar
"Ello lagi sedih, gak usah ganggu dia ya tante masakin mau? " Tanya Allea
"Mau.. Kalo gitu ayo aku mau lihat tante masak" Ellia menuntun tangan Allea ke dapur
"Lihat dia sudah bisa mendapatkan hati Ellia, aku rasa di sengaja mendekatinya untuk mendapatkan tuan" Ucap suster
"Kamu cemburu heh? Biarkan saja sepertinya nona Ellia bahagia dengan dokter itu" Jawab pelayan di rumah itu
"Aku tidak percaya kebaikannya pada Ellia tulus" Ucap suster yang sudah merawat Ellia dari bayi
"Tapi aku rasa dokter itu tulus.. Lagi pula kalau pun dia mengincar tuan sah sah aja, dia janda, cantik, pintar berpendidikan yang aku dengar dari tuan Daniel dua juga anak orang kaya kalo di banding sama kita bagaikan langit dan bumi" Jawab pelayan itu, suster mendengus kesal mendengar penuturan pelayan