My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Arabella hilang ingatan



"Kamu tau gak? " tanya Dito yang sedang berbaring bersama Gita


"Gak tau, kamu aja belum ngomong" Jawab Gita


"Hehe.. kamu bisa aja" Dito terkekeh mencolek hidung Gita


"Tadi di sekolah Max marah marah" lanjut Dito


"Loh kok bisa? dia marah sama siapa? " tanya Gita


"Sama Arabella, dia ngomporin murid lain bicara yang enggak enggak aku juga belain Allea tapi kayaknya Allea sedih eh tau nya tiba tiba Max datang lihat Allea hampir nangis"


"Terus terus? " Gita yang kepo merubah posisi tidurnya yang semula terlentang kini menghadap Dito


"Ya dia marah marah di kelas sampe Arabella keluar kelas karena malu, kayaknya Max tau sesuatu tentang Arabella Max balikin omongan yang dia tujukan buat Allea"


"Emang si Arabella ngomong apa?


" Dia gak nyinggung nama sih cuma Arabella ngomong kalo cowok ngasih segalanya sama cewek bisa jadi si ceweknya juga udah ngasih segalanya sama si cowok" jelas Dito


"Kenapa dia bisa ngomong gitu? " tanya Gita


"Karena Max kasih kartu ATM dia sama Allea, Max juga bilang semua yang dia punya milik Allea makanya cewek cewek jadi panas dingin sendiri" jawabnya


"Kasihan Allea dia pasti malu di olok olok satu kelas, coba kalo aku ada di sana udah aku bejek-bejek mereka" ucap Gita dengan kesal


"Istri aku menakutkan " goda Dito sambil memeluk Gita


"Kalo aku ada di posisi Allea apa kamu juga akan seperti Max? " tanya Gita


"Tentu, aku akan lindungi orang yang aku cintai meskipun nyawa aku taruhannya sekalipun, apa lagi cuma omongan omongan gak berkelas orang iri"


"Emmhh so sweet banget sih suami aku" Ujar Gita manja mengalungkan tangannya di leher Dito


Dito mengecup bibir Gita namun menurut Gita itu belum cukup, Gita membalikkan tubuh Dito dan menindihnya


"Kamu makin *****, semakin padat" ucap Dito matanya tertuju pada sesuatu yang menantang di depan sana


Gita mengikuti arah pandangan Dito dan membuka tali dress di pundaknya, membuka penutup bagian atasnya lalu mencondongkannya ke hadapan Dito


Bayi besar itu seperti kelaparan menikmatinya bergantian, keduanya terhanyut dalam permainan yang di kendalikan Gita


"Kamu semakin nakal sekarang" ujar Dito kini sudah berbaring menutupi tubuh polos mereka dengan selimut


"Aku berguru sama kamu" jawab Gita membuat Dito terkekeh


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Gibran memperhatikan Cindy yang malam malam sedang bicara dengan seseorang yang di sekat gerbang, Setelah Cindy kembali masuk Gibran mengagetkan Cindy dengan berdiri tiba tiba di dekat pintu


"Siapa tadi? " tanya Gibran


"Bukan siapa siapa dad, aku mau tidur dulu" jawab Cindy melewati Gibran


"Apa yang ada di tangan kamu? " tanya Gibran


"Bukan apa apa " Cindy menghentikan langkahnya sejenak lalu berjalan terburu buru naik ke kamarnya


"Untung gak ketahuan" gumam Cindy menyandarkan punggungnya di pintu


"Lumayanlah walaupun gak seberapa tapi aku punya pegangan dari pada daddy ngasih cuma lima puluh ribu sehari " Lanjutnya melihat kartu ATM di tangannya


Frans memberikan kartu ATM yang akan dia transfer uang satu minggu sekali, walaupun tidak sebesar yang di berikan Gibran dulu tapi setidaknya dalam kondisi seperti ini Cindy sangat membutuhkannya


Cindy juga mulai membuka dirinya untuk Frans dia yakin pria itu tidak berbohong, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Gibran karena kekayaannya siapa tau suatu saat akan jatuh ke tangannya


.


.


Gibran menelpon orang suruhannya yang mengikuti Allea, dia menjelaskan Allea keluar dari apartemen diam diam mengikuti kekasihnya yang sempat berada di apartemen. Juga melaporkan Allea sempat datang berbicara dengan penjaga club malam setelah itu pergi ke rumah sakit


"Saya melihat nona menangis usai keluar dari rumah sakit tuan"


"Kenapa? apa yang terjadi sama dia? " tanya Gibran


"Maaf tuan saya mengikutinya dari jauh saya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, saya juga belum sempat masuk ke rumah sakit jadi saya tidak tahu "


"Dasar gak becus, cari tahu apa yang terjadi sama anak saya" pungkasnya lalu mematikan sambungan telepon


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Allea berjalan sendiri menyusuri jalan hendak kembali ke apartemen tiba tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya, seorang wanita turun dan memegang tangan Allea


"Sayang kenapa nangis? " tanya Lydia


"Bunda" Allea tidak bicara apapun dia berhambur memeluk Lydia


"Masuk sayang biar bunda antar pulang ya" Allea menuruti perkataan Lydia dia masuk kedalam mobilnya


"Bilang sama bunda kamu kenapa nangis jalan sendirian? Maxime kemana? " tanya Lydia namun Allea hanya menggeleng


"Kamu bertengkar sama dia? " tanya Lydia Allea hanya diam


"Bunda ngerti sayang, kamu jangan nangis lagi ya" Lydia memeluk Allea mengusap punggungnya


Lydia mengambil handphonenya dari tas lalu menghubungi nomor Max, Baru saja Max menjawab teleponnya Lydia sudah mengoceh tidak memberikan waktu untuk Max menjawab


"Kamu gak khawatir kalo dia kenapa kenapa?


" Bunda dengar dulu ini cuma salah pa.. "


"Salah apa huh apa? pulang sekarang bunda mau bicara sama kamu"


"Siapa sayang? " suara seorang wanita membuat Lydia semakin geram


"Maxime.. pulang sekarang jangan sampai bunda suruh orang buat seret kamu" teriak Lydia lalu mematikan teleponnya


"Bunda turunin Allea di coffeshop Z aja Allea mau ketemu temen dulu" lirih Allea


"Kamu beneran gak apa apa? kamu ikut bunda pulang aja ya"


"Gak bun makasih, Allea turun disana aja" jawab Allea


"Kalau ada sesuatu kamu bilang aja sama bunda ya jangan di pendam sendiri" Lydia tahu dari Max bahwa Allea pergi dari rumah karena bertengkar dengan ayahnya namun Max hanya mengatakan Allea tinggal di rumah temannya


"Iya bunda, makasih"


"Gak usah bilang makasih sekarang kamu juga anak bunda, nanti bunda marahin Maxime jangan sedih lagi ya" Lydia membelai wajah Allea lalu kembali memeluknya


Sesampainya di tempat yang di katakan Allea, gadis itu turun dan melambaikan tangannya pada Lydia. Allea tidak pergi kemanapun sebelum Lydia benar benar pergi


Melihat mobil Lydia menjauh Allea berjalan menuju apartemen yang jaraknya tidak jauh dari Sana, Setelah sampai di apartemen Allea tidak bisa tidur dia hanya berguling kekiri dan kekanan


Mungkin setelah 2/4 jam kemudian terdengar suara pintu apartemen di buka Allea tahu itu pasti Max, Allea pura pura tidur menyembunyikan wajahnya di bawah guling


Ranjang di belakangnya berdecit tanda seseorang duduk di sana, sebuah tangan terulur mengusap rambutnya. Seseorang mungkin sedang berbaring di belakangnya dan sekarang sedang memeluknya juga mengecup rambutnya berkali kali


"Sayang maaf" ucap Max seketika air mata Allea membanjiri kedua matanya


"Aku tahu kamu belum tidur, Maafin aku ya aku gak bermaksud kasar sama kamu" Max menyingkirkan rambut di belakang Allea lalu mengecup tengkuk serat punggungnya yang terbuka


"Aku gak bisa liat kamu sedih, kamu boleh marahin aku pukul aku tapi jangan diemin aku kayak gini" Max mempererat pelukannya sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk Allea


Punggung Allea bergetar dia menangis dalam diam, Max menarik paksa guling yang di peluk Allea melemparnya kebawah lalu membalikkan tubuh Allea dan menahannya


Matanya yang sembab dengan hidung yang merah beserta ingusnya, Max hampir saja tertawa melihat penampilan Allea tanpa rasa jijik Max mengusap air mata dan ingus Allea


"Kita bicara baik baik ya" Max menatap wajah Allea namun gadis itu membuang wajahnya kearah lain


"Aku mau kita udahan aja" lirih Allea


Mendengar itu Max beralih menduduki kaki Allea dan menahan kedua tangan Allea di dekat kepalanya, Allea berontak namun percuma saja tenaganya kalah kuat


"Aku gak mau kamu ucapin kata itu lagi" tegas Max


"Aku mau udahan Max, percuma aku jalani hubungan sama seseorang yang masih terjebak dalam masa lalunya"


"Kamu salah paham, aku sayang sama kamu aku gak mau kamu ninggalin aku" ucap Max


"Lepasin tangan aku sakit" ketus Allea Max melepaskan cengkraman tangannya benar saja pergelangan tangan Allea memerah


"Kita udahan dulu selama kamu masih peduli dengan wanita lain aku gak bisa terusin ini, Mungkin setelah kita udahan kamu bisa memilih dengan benar" mendengar itu Max memeluk Allea erat tidak peduli Allea memukuli punggungnya sekeras apa


"Kamu boleh sepuasnya lampiaskan amarah kamu tapi setelah itu dengerin aku dan jangan sekali pun bicara ingin mengakhiri hubungan kita" ucap Max yang memeluk Allea dari atas tubuhnya


Allea berhenti memukuli punggung Max bagaimana pun kesalnya dia tetap saja Allea tidak ingin menyakitinya


"Menyingkir dari sana Max" ucap Allea dingin


"Sayang dengar aku, maafin aku yang gak jujur sama kamu malam itu Arabella datang ke club dia mengacau disana terpaksa aku bawa dia ketempat sepi untuk bicara sama dia"


"Di kamar? harus di kamar? " Allea memotong perkataan Max


"Aku bersumpah aku gak ngapa ngapain sama dia, aku langsung pulang kesini kata penjaga di sana dia mabuk dan mobilnya menabrak tiang di dekat club. Dia hilang ingatan sayang" Allea cukup terkejut dengan pernyataan Max


"Dia cuma ingat dua tahun yang lalu saat kita masih pacaran, aku udah jelasin sama dia cuma dia malah kesakitan aku terpaksa jagain dia karena orang tuanya di luar negeri"


"Aku udah dengar semuanya, sekarang turun" ucap Allea masih saja ketus


"Kamu maafin aku kan? jangan tinggalin aku" Max semakin mengeratkan pelukannya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allea


"Cuma kamu yang boleh tinggalin aku? " tanya Allea


"Aku gak akan pernah tinggalin kamu, aku sayang sama kamu jangan marah lagi"


"Terserah kamu, aku mau kamu menyingkir aku sesak" tubuh Allea yang kecil tertutup tubuh Max yang tinggi besar juga dengan pelukan yang erat membuat Allea susah bernafas


"Kamu janji maafin aku, aku akan lepasin kamu"


"Aku maafin kamu, sekarang lepasin" Max melonggarkan pelukannya hendak mencium bibir Allea namun Allea menghindar menolehkan wajahnya kesamping


"Kamu masih marah? " Tanya Max


"Aku cuma maafin kamu tapi aku gak mau kamu sentuh aku " ucap Allea


"Arrrggghhh menggemaskan" Max menggigit leher Allea membuatnya menjerit


"Akkhh sakit" Allea memukul lengan Max


Max hanya terkekeh memeluk Allea, pada awalnya Allea menolak tapi Max memohon


"Please cuma peluk aja jangan berontak" Max menautkan tangannya dan Allea memeluknya dari belakang lalu keduanya sama sama memejamkan mata