My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kecurigaan



Sore itu masih matahari masih sangat terik Allea yang baru saja pulang sekolah langsung menjatuhkan dirinya di sofa lapuk di rumahnya, dia berjalan gontai mengambil air dingin di kulkas yang berada di dapur


Setelah kembali dari dapur Allea mendengar samar samar neneknya sedang bicara dengan seseorang, Allea mengintip dari jendela dan orang tersebut sempat melihatnya Allea segera menutup jendela tersebut


"Saya ingin bertemu dengannya bi" ucapnya


"Maaf tuan sebaiknya anda kembali saja, lagi pula buat apa anda bertemu dengan Allea? " ucap Bi Mar pada Gibran


"Saya benar benar ingin bertemu dengannya, saya melihat sekelebat bayangan Naina di wajah anak itu"


"Tuan saya tidak pernah bertemu dengan nyonya sejak saat itu bagaimana bisa saya merawat anaknya"


"Saya tidak menyebut Allea sebagai anaknya, saya hanya bilang dia sekilas mirip Naina saya ingin menemuinya karena saya merindukan istri saya" ucapan Gibran membuat nek Mar bungkam dia merutuki mulutnya yang keceplosan


"Dia sedang istirahat baru saja dia pulang sekolah mungkin dia sedang tidur" jawab nek Mar


"Tidur? baru saja saya melihat dia mengintip dari jendela" Nek Mar menghela nafas kasar lalu membukakan pintu rumahnya


"Allea... kamu tidur gak? " nek Mar mengetuk pintu kamarnya


"Kenapa nek? " Allea membuka kamarnya menatap seseorang yang berdiri di belakang nek Mar


"Tuan ingin bertemu denganmu"


"Baiklah silahkan duduk Tuan" Allea pergi sejenak ke dapur untuk mengambilkan air minum


"Jangan bicara terlalu banyak dan jangan sampai keceplosan" bisik nek Mar saat menyusul Allea, Allea menganggukkan sebagai jawaban lalu nek Mar meninggalkan mereka di ruang tamu


"Ada yang bisa saya bantu tuan? " tanya Allea


"Sebenarnya saya ingin tahu darimana kamu mendapatkan kalung itu" Gibran menatap kalung yang sengaja Allea keluarkan


"Ini milik ibu saya" jawabannya membuat Gibran semakin penasaran


"Apa ibumu bernama Naina? "


"Entahlah saya tidak tahu" jawab Allea


"Dimana ayahmu? " tanyanya lagi


"Saya tidak tahu mungkin sudah meninggal sejak lama"


"Apa kau tau darimana ibumu mendapatkan kalung itu? "


"Tidak tahu aku baru memilikinya sekarang"


"Dimana ibumu? "


"Sudah meninggal sejak aku berusia 7/8 tahun aku lupa, tuan kenapa anda bertanya seputar keluargaku? apa kau tertarik menjadikanku istri keduamu?" ucapAllea sinis membuat Gibran tercengang


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku baru tahu kamu ternyata gadis seperti itu"


"Aku lelah berpura-pura baik tuan, jika kau mau menikahiku maka aku dengan senang hati menerimamu asal maharnya setimpal" jawabnya


"Atau hanya menjadi simpananmu aku juga mau asal kau memenuhi keinginanku" ucap Allea di buat seseksi mungkin


"Kamu tidak waras" ucap Gibran lalu bangun dari duduknya dan pergi


"Apa kecurigaan ku salah? dia berbeda dengan Naina dia terlalu agresif" gumam Gibran saat berada di mobilnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Keesokan harinya di sekolah Allea di buat kesal dengan tingkah Danendra dan Sam yang mengganggu, Danendra selalu mengikuti Allea untuk memastikan hubungannya tapi Allea kekeh dengan keputusannya.


Sementara Sam dia menjadi perhatian namun sedikit berlebihan, pagi ini dia memberikan coklat dan setangkai bunga mawar membuat Allea kembali jadi perbincangan di sekolah


"Gue risih sumpah sama mereka" keluh Allea


"Lo jadi inceran 3 cowok Lea, keren banget" cicit Gita


"3, siapa lagi? dua aja gue udah pusing" gerutu Allea


"Max" bisik Gita


"Apa? lo salah dia temen terbaik gue"


"Max lo mau kemana? " tanya Allea saat Max kembali pergi


"Perpustakaan" Allea mengejar Max diikuti Yuki yang menjadi Allea versi lain


"Gita suka Max, Max suka Allea tapi Allea cuma anggap temen" gumam Gita


"Lo ngomong apaan sih? " Tanya Dito


"Gak, ikut ke perpustakaan yok" akhirnya kelima sekawan itu pergi ikut Allea


Disinilah mereka sekarang di belakang perpustakaan di bawah pohon besar, Yuki awalnya duduk berdekatan dengan Max tapi Max menjauh dan duduk di samping Gita dan Dito yang duduk saling membelakangi menyandarkan punggung keduanya


Allea baru saja datang dengan bukunya dan duduk di belakang Max menyandarkan punggungnya di punggung Max lebih tepatnya menyandarkan diri dengan meletakkan kepalanya membuat Max semakin membungkuk


"Berat, geser dikit" ucap Max membuka earphonenya


"Gak ahh enakan gini" Allea malah mengusel kepalanya


Yuki menatap sinis Pada Allea, Sam dan Danendra yang mencari Allea mengetahui keberadaannya dan menyusul Allea dengan jalan yang berbeda. sesampainya disana mereka ikut bersandar di kedua sisi antara Max dan Allea. Max menoleh pada mereka bergantian lalu bangkit dan pergi


"Kalian apaan sih? geser dikit" Gerutu Allea saat mereka terlalu menghimpit Allea


"Tadi aja nempel nempel sama Max " jawab Danendra


"Ya ampun kalian terlalu menghimpit guee ampe sesak" pekik Allea


"Kalian kenapa sih?" Allea bangun menatap mereka satu persatu


"Gue/aku suka sama lo/kamu" ucap mereka berdua


"Wawwww" ucap kelima temannya sambil bertepuk tangan


"Kalian jangan ikutan gila" pekik Allea lalu pergi


Kelima temannya mengejar Allea seraya tertawa sementara Sam dan Danendra saling menatap tajam menepuk nepuk lengan mereka yang sempat menempel karena Allea berdiri seolah merasa jijik


Yuki gadis itu menatap iri kepergian Allea dan kelima sahabatnya


"Apa hebatnya dia sampe bisa di sukai tiga cowok sekaligus" gumam Yuki yang geram


Dia tahu Max menyukai Allea dari sikapnya pada Allea dan juga mendengar perkataan Max pada Gita di pesta


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Sepulang sekolah Allea yang baru saja dari toilet di seret dua teman Cindy, Allea meronta namun terus di seret hingga ke depan gudang. Allea di dorong hingga lututnya berdarah karena terbentur


"Awwww" pekik Allea ketika satu tamparan mendarat di wajah mulusnya


"Lo apaan sih? " teriak Allea


"Ini balesan buat lo yang hancurin pesta gue malem itu" ucap Cindy


Cindy kembali ingin menampar Allea namun seseorang mencengkram tangannya dari belakang, kedua teman Cindy mundur ketakutan melihat tatapan tajam dari mata elang itu


"Lo? lepasin gue" Max mencengkram erat tangan Cindy membuatnya meringis


Cindy lupa atau mungkin tidak tahu bahwa di belakang gudang adalah tempat ternyaman Bagi Max, Max yang mendengar teriakan Allea keluar dan menahan tangan Cindy yang hendak menampar Allea kembali


"Jangan ikut campur anak haram" teriak Cindy membuat Max semakin mengeratkan cekalannya


"Biarpun anak haram gue gak pernah menindas siapapun, lo cuma anak sok suci yang semena mena sama orang lain" Max menghempaskan tangan Cindy hingga punggungnya menabrak dinding


"Ayo" Max mengulurkan tangannya pada Allea dan dia menerimanya seraya berdiri


"Kaki gue sakit" Max melihat lutut Allea yang memang luka cukup lebar


Max membungkuk dan menyuruh Allea naik ke punggungnya, Cindy dan teman temannya di buat menganga singa yang kejam berubah menjadi kucing di hadapan Allea. Allea naik ke punggung Max lalu memeletkan lidahnya saat Max mulai berjalan


"Singa takluk kalo sama pawangnya" gumam satu teman Cindy yang agak lemot


"Apa istimewanya gadis miskin kayak dia" gerutu Cindy seraya berjalan menghentakkan kakinya dengan kesal