My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kembali memburuk



"Selamat pagi anak mama.. Kita mandi dulu ya" Ucap Allea lembut pada bayinya 


Allea membawa kedua bayinya ketempat mandi khusus bayi, memandikan kedua bayinya meskipun ini pertama kalinya namun Allea terlihat cukup mahir mungkin insting insting seorang ibu


Allea terdengar sedang bercerita tentang Max pada anak anaknya meskipun mereka mungkin tidak mengerti, Gibran tersenyum seraya menghapus air matanya melihat putrinya di depan pintu


"Sayang kalian  tau? Papa kalian semalam bilang mama harus kuat, kalian kuatin mama ya.. " Ucap Allea


"Cucu opa lagi mandi? " Gibran mendekati Allea lalu mencium keningnya


"Ayah belum berangkat? " Tanya Allea


"Ayah mau libur dulu hari ini, mau puas puasin  jaga cucu ayah hari ini"


"Kalo gitu ayah bantu bawa Millie " Ucap Allea seraya tersenyum menyerahkan Millie ke gendongan Gibran


Gibran mengikuti gerakan tangan Allea memakaikan pakaian pada Marcello, Gibran kini bisa melihat kembali senyum Allea meskipun matanya masih diliputi kesedihan


"Kamu baik baik saja? " Tanya Gibran


"Allea baik yah, mungkin masih sedikit sedih aja" 


"Kami selalu ada buat kamu sayang.. Jangan sedih lagi ya"


"Ya.. Allea harus kuat demi mereka, semalam Allea mimpi Max yah" Lirih Allea


"Mungkin itu pertanda Max tidak mau melihat kamu menangis sayang, dia tidak ingin kamu bersedih"


"Ayah.. "


"Ya sayang? " Jawab Gibran


"Apa Allea boleh kuliah? " Tanya Allea


"Tentu, kamu mau ayah daftarkan? "


"Bener yah? Kalo boleh Allea mau kuliah di tempat yang sama dengan Max" Ujarnya


"Kamu mau masuk kapan? " Tanya Gibran


"Setelah satu minggu lagi yah nunggu selesai nifas"


"Ayah akan urus semuanya, asal Allea bahagia apapun ayah usahakan" Ucap Gibran


"Makasih yah" Ucap Allea seraya memeluk Gibran 


"Kok mama gak di ajak pelukan? " Cicit Ririn mengerucutkan bibirnya


Gibran dan Allea membuka sebelah tangannya agar Ririn masuk kedalam pelukan  mereka, Ririn bergabung berpelukan dengan Gibran dan Allea seraya mengecup pipi Gibran lalu kening Allea


"Ada apa nih sepertinya mama ketinggalan berita" 


"Kita sepertinya harus cari baby sitter karena Allea mau meneruskan pendidikannya" Ucap Gibran


"Itu bagus sayang, mama akan bantu jaga baby twins nanti" Ucap Ririn seraya mengelus kepala Allea


"Makasih ma"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Hari hari berikutnya keluarga Max menemui Allea di rumah Gibran, saat mereka sampai Allea sedang menjemur kedua bayinya di dekat kolam


"Sayang" Mendengar suara Lydia membuat Allea menoleh sambil tersenyum


"Bunda... Ayah.. " Lirih Allea


Mereka menghampiri Allea dan bergantian memeluknya, Damian langsung duduk bersama bayi bayi kecil sementara Lydia begitu lama memeluk Allea


"Kamu baik baik aja sayang? " Tanya Lydia seraya mengusap air matanya


"Baik bun, bunda jangan nangis" Allea berusaha menahan air matanya membantu menghapus air mata Lydia


"Maaf sayang bunda gak bisa nahan, bunda kangen sama kalian " Allea membawa Lydia duduk bersama


"Ayah.. bunda.. Allea mau melanjutkan kuliah bagaimana menurut ayah sama bunda? " Tanya Allea


"Bunda akan mendukung apapun keputusan kamu sayang" Ucap Lydia


"Ayah juga, soal cucu cucu kecil ini kita bisa bergantian merawatnya" Jawab Damian


"Terimakasih ayah bunda..."


"Asi Allea gak terlalu banyak bun jadi Allea kasih susu formula yang sama kayak Ello ternyata susu yang selama ini di minum Millie beda, Allea bukan ibu yang baik sampai gak tau Millie alergi susu sapi" Lirih Allea matanya tampak berkaca kaca


"Gak apa apa sayang, yang penting Millie baik baik aja kan? " Lydia menenangkan Allea


"Iya.. Untung mama Ririn belum berangkat kerja jadi bisa di tangani"


"Kamu udah makan? " Tanya Lydia di jawab gelengan oleh Allea


"Makan dulu biar baby twins bunda yang jaga, di meja makan bunda bawain makanan kesuksesan Allea" Ucap Lydia


"Makasih bun kalo gitu Allea titip mereka dulu"


"Ya.. Sayang" Lydia tersenyum melihat Allea yang perlahan berjalan menjauh


"Sepertinya Allea mulai bisa menerima kenyataan" Ucap Damian


"Ya.. Semoga kebahagiaan selalu bersama kalian sayang" Lirih Lydia mencium kedua bayi kembar itu


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Gimana keadaan Allea ma? "


"Alhamdulillah Allea semakin membaik.. Dia juga mau nerusin kuliahnya"


"Syukurlah, aku khawatir banget sama keadaan Allea tapi belum bisa kesana soalnya aku juga banyak tugas kampus"


"Gak apa apa sayang do'a kan saja Allea semoga dia bisa melalui semuanya"


Yuki sering menanyakan kabar Allea pada Ririn, sungguh sebuah sandiwara yang luar biasa  yang di mainkan oleh Yuki


"Lo bisa baik baik aja? Mana mungkin? " Gumam Yuki


"Jadi lo belum gila? Oke permainan kita tambah sayang.. "


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Malam itu Allea menunggu kepulangan ayah serta ibu sambungnya, Allea menidurkan kedua bayinya lalu menyalakan televisi


"Kabar duka dari keluarga besar Damian alynsky,  anak sah yang sebelumnya di umumkan saat konferensi pers meninggal dunia akibat kecelakaan beruntun saat menuju rumahnya"


"Di kabarkan pemuda yang baru saja berusia 19 tahun tersebut meninggal akibat terjebak di dalam mobil yang dia kendarai terbakar sementara istrinya selamat namun mengalami depresi dan mengamuk di rumah sakit"


"Entah video ini benar atau tidak namun seseorang berhasil merekamnya ketika sang gadis yang baru saja melahirkan menangis histeris di sebuah rumah sakit"


Remote yang di genggam Allea terjatuh saat melihat foto mobilnya terbakar, tangis Allea kembali histeris saat membayangkan bagaimana tersiksanya sang suami yang meregang nyawa di dalam mobil tersebut


"Aaaaaaaaaa.. Kenapa kamu? Kenapa gak aku aja, aku gak sanggup Max aku gak sanggup" Teriak Allea


"Nona.. Nona yang sabar, ini sudah suratan takdir non" 


"Diam.. Diam.. Aku tidak mau dengar, matikan TV nya bi" Allea berteriak menutup telinganya tidak mau mendengar siaran yang masih berlangsung


"Matiin bi.. Cepet" Ujar salah satu pelayan


Kedua pelayan itu masih menenangkan Allea yang masih histeris, menunggu tuannya pulang


"Ada apa ini? " Tanya Gibran yang baru saja pulang bersama Ririn


"Nona tadi nonton TV tuan jadi begini" Jawab pelayannya


Bersamaan dengan itu suara tangis bayi bayi Allea terdengar, Ririn menyuruh Gibran menenangkan Allea sementara dirinya merawat dua bayi


"Tenang sayang.. Kenapa? Ada apa? " Allea bisa tenang setelah Gibran mendekapnya erat


Gibran merasa khawatir melihat Allea tidak kunjung tidur saat malam, dia hanya menangis walaupun masih merawat bayinya namun air matanya tak juga reda


Allea kembali terpukul saat melihat mobil mereka yang terbakar, Gibran dan Damian sudah berupaya menghapus berita berita di sejumlah TV dan sosial media agar Allea tidak pernah lagi melihat kejadian pilu yang menimpanya


"Sayang tidur" Ucap Gibran saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi


"Kalo hari itu Allea gak maksa pulang malam malam Max pasti masih ada di sini bersama Allea, semua ini karena Allea yah Allea penyebab kematian Max" Allea kembali menangis tersedu sedu


"Bukan sayang.. Bukan salah kamu semua sudah kehendak yang maha kuasa, ikhlaskan sayang agar Max tenang disana"


"Ayah... Allea kangen sama Max yah, Allea gak pernah tidur nyenyak tanpa Max" Tangis Allea terdengar pilu menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya


Dari pukul 3 pagi sampai pagi Allea tidak lepas dari pelukan ayah juga ibu sambungnya, beruntung bayi bayinya tidak bangun jadi Allea bisa tidur di dekapan orang tuanya