My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Terjebak di lift



"Mau pergi jalan jalan? " Max memeluk Allea dari belakang


"Enggak.. Asiku gak keluar sama sekali kasian Exel " Semenjak keluar dari rumah sakit Allea lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar


"Kamu harus happy biar asinya lancar, Kita jalan jalan berdua ya? "


"Tapi anak anak? " Allea mengkhawatirkan anak anaknya


"Ada suster.. Ayolah, seharian aku mau sama kamu"


"Gak kerja? " Tanya Allea


"Kamu juga ikut ke kantor, Seharian aku gak mau jauh sama kamu" Max mengusak kepalanya ke leher Allea


"Kayak anak kecil" Allea mengusap kepala suaminya


"Siap siap dulu, aku tunggu di bawah"


Max membawa Allea bersenang-senang main di berbagai wahana, tenang rasanya melihat sang istri kembali ceria


"Udah lama ya kita gak main main berdua" ucap Allea


"Hhmm.. seneng gak? " Tanya Max seraya memeluk Allea


"Jangan gini malu di liat orang"


"Biarin... biar mereka pengen" Max mengecup bibir Allea lalu terkekeh


"Ayo pergi kita di liatin" Allea menarik tangan suaminya menjauh karena ulahnya mereka menjadi tontonan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Celine memutar matanya jengah saat Bisma naik di lift yang sama, Bisma pun melirik sinis pada Celine


Pintu Lift tertutup dan di saat Lift melaju tiba tiba saja lift itu berguncang dan lampunya mati, Celine yang tidak siap terjatuh menimpa tubuh Bisma


"Awwww.. " Keduanya meringis


"Dengkul lo nimpa aset gue, sialan" Gerutu Bisma


"Kok lo ngatain gue? Namanya juga celaka siapa yang tau, Kaki gue juga Sakit" Celin duduk memegangi kakinya


"Lo harus tanggung jawab kalo aset gue gak berfungsi "


"Kenapa gue? bisa aja kan aset lo emang gak berfungsi sejak awal? " Berang Celine


"Sembarangan... lo mau nyoba? " Celine segera beringsut menjauh dari Bisma


"Cih.. sok suci, lagian punya gue gak akan bangun juga liat lo.. gak ada Menarik menariknya"


"Lo cowok mulut lemes banget sih.. lo pikir lo menarik? cih... di bandingin bos gue lo gak ada apa apanya" Celine menjulurkan lidahnya mengejek Bisma


"Huh.... pantesan di khianatin pacarnya, gak ngaca" Gumam Celine


"Heh nyinyir.. Bener-bener lo" Bisma mendekat saat mendengar celine bergumam


"Hei.. diem disitu, jangan mendekat" Celine terperanjat saat Bisma mendekat


"Tempatnya gelap dan sepertinya aman, gimana kalo kita melakukan sesuatu supaya gak boring" Sontak saja Celine berdiri di pojokan menutup mulutnya


Bisma mengukung Celine dengan sebelah tangan sementara satu tangan lagi dia gunakan untuk menarik tangan yang menutupi Mulut Celine, jantung Celine begitu berdebar karena wajah Bisma berada sangat dekat dengan wajahnya


Kedua tangan Celine di pegang di kedua sisi tubuhnya kini hidung mereka bahkan hampir bersentuhan, Celine tidak berani bergerak karena sedikit saja dia bergerak bibir mereka akan saling menabrak


"Hahhaa... lo takut juga? sampe gemetaran gitu" Bisma tertawa seraya menjauh dari Celine


"Gue kira dia beneran cowok gila" batin Celine


"Lo ngarep gue cium ya? sampe nutupin bibir segala"


"Gak sudi gue di cium sama lo, lebih baik gue cium orang yang buka pintu ini" Ketus Celine


Baru saja Celine diam pintu terbuka dari luar oleh dua pria yang cukup berumur, Bisma semakin terbahak sambil menunjuk Celine


"Coba sekarang lo cium" Ucap Bisma di sela tawanya


Celine bergegas meninggalkan Bisma lalu mengambil tangan kedua pria itu dan mencium tangannya dengan hidung


"Makasih pak.. saya seperti di selamatkan papa saya" Ucap Celine


"Anak yang baik.. kamu gak apa apa? " Bisma sampai ternganga melihat Celline


"Gak apa apa.. saya permisi" ucap Celine lalu menjulurkan lidahnya pada Bisma


"Hei... tunggu.. lo itu ingkar janji, kenapa gak lo cium pipinya? " Bisma mengejar Celine


"Gue gak bilang mau cium apanya kan? udah sono pergi" Usir Celine


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lagi makan apa? " Tanya Dirga ikut duduk di meja yang sama dengan Ellia


"Makan bakso.. mau? "


"Gak... Ello kemana? " Dirga celingukan mencari Ello


"Gak tau.. mungkin di Perpustakaan" Jawab Ellia


"Uhuk.. uhuk.. " Dirga berdiri mengambilkan air untuk Ellia


"El.. kamu kenapa? " Dirga mulai panik saat melihat wajah Ellia memerah


"Gatel kak... aku.. se.. sak.. " Ellia kesulitan untuk bernafas


"Ini.. kamu alergi? tapi ini cuma bakso? " Dirga segera cek mangkuk Ellia


"Bubuk susu? " Dirga Melihat di pinggiran mangkuk terdapat bubuk susu yang masih menempel


Dengan sigap Dirga menggendong Ellia menuju UKS untuk di berikan obat, Ello yang mendengar Ellia sakit dari temannya segera menyusul ke UKS


"Kenapa Ellia? "


"Baksonya ada yang campur sama susu" jawab Dirga


"Aku telepon mama dulu" Ketika Ello hendak pergi Ellia menahan tangannya


"Ja.. ngan.. aku.. bawa obatnya..di tas" Ello segera mengambil obat Ellia di dalam tasnya


"Siapa yang campur susu ke makanan Ellia? Aku gak bisa diem aja" Ello keluar setelah Ellia tertidur


"Kamu kenapa sih gak teliti banget? apa aku dan Ello harus selalu jagain kamu? " ucap Dirga seraya mengusap kepala Ellia


Belum sempat ke kantin di jalan Ello mendengar Babam dan teman temannya tertawa di depan kelas membahas Ellia yang masuk UKS karena mereka memasukkan susu ke mangkuk baksonya


"Si Ellia sampe merah mukanya kayak kepiting rebus"


"Haha.. iya, itu pelajaran buat dia.. kata mamaku papa Ellia


Ello bersembunyi di balik pintu dimana mereka berdiri sekarang, Ketika mereka tertawa cekikikan tanpa basa basi Ello langsung memukul wajah Babam


Perkelahian di antara mereka tidak terelakkan, tiga lawan satu memang bukan lawan yang seimbang tapi Ello masih berdiri tegak, Mereka baru berhenti saat Guru melerai mereka dan membawa mereka ke ruang guru


" Ellia masih ada di UKS ibu bisa lihat sendiri, tindakan mereka berlebihan bagaimana jika Ellia sesak nafas dan kehilangan nyawanya? " Ello menceritakan semuanya


"Bohong bu.. gak ada bukti juga kalo aku masukin susu ke mangkuk Ellia" Babam menyangkal


"Ohh begitu? kalo ada bukti gimana? " ucap Ello


"Siapa yang bisa buktiin? dia cuma ngomong sembarangan bu"


"Oke.. gini aja bu kalo diantara kita ada yang berbohong aku mau yang salah harus keluar dari sekolah" Ello melirik Babam d ngan tatapan dingin


"Persis papanya" batin Guru melihat bagaimana sikap Ello


"Coba aja.. aku gak salah kok" Babam tetap menyangkal


"Tepati janjimu" Ello menekan jam tangan yang melingkar di tangannya


Ternyata Ello memakai watch phone dan Ello sudah merekam semua pembicaraan Babam dan teman temannya, wajah Babam menjadi pucat setelah mendengar rekaman suaranya


"Ibu harus memanggil orang tua kalian"


"Tidak perlu memanggil orang tua kami, mama sakit dan papa sibuk.. aku cuma minta keadilan dan jangan lupa hukumannya, aku permisi" Ello keluar dari ruang guru untuk melihat kondisi kembarannya


"Kamu berantem lagi? "


"Aku belain kamu ya" jawab Ello


"Terus gimana? Apa udah ketahuan siapa yang masukin susu ke makanan Ellia" tanya Dirga


"Udah.. pelakunya Babam tapi gak tau nanti keputusan guru gimana"


"Apa orang tua kita akan di panggil? " tanya Ellia


"Aku udah bilang gak usah panggil orang tua kita, kasihan mama lagi sakit"


"Hhmm.. bagus deh" Ellia menganggukkan kepalanya


"Kamu udah baikan? mau pulang sekarang? " tanya Dirga


"Enggak.. aku udah baik baik aja kok, ya.. cuma masih bentol bentol sedikit" Ketiganya pergi ke kelas masing masing setelah keadaan Ellia membaik