
Dinginnya angin malam menembus sampai ke tulang apalagi di rumah sakit Allea dan Max hanya tidur di sofa panjang, Max tidur sambil duduk dengan Allea tidur menjadikan kaki Max sebagai bantal
Tangan Danendra mulai bergerak matanya pun perlahan terbuka, pertama kali pemandangan yang dia lihat adalah Allea dan Max yang tertidur pulas hatinya mencelos melihat Gadis yang dia cintai bersama saudaranya sendiri
"Max bangun" Allea mengguncang tubuh Max saat melihat Danendra sudah sadar
"Lo butuh sesuatu? " tanya Allea seraya mendekat karena Max tak kunjung bangun
"Gue mau ke kamar mandi" ucap Danendra
"Gue bantu" Allea mendekat hendak meraih tangan Danendra namun Danendra menahannya
"Gue bisa sendiri" ucap Danendra
Saat hendak turun dari tempat tidur Danendra tidak dapat menyeimbangkan dirinya, Allea yang sigap menahan nyatanya tidak sanggup menopang berat badan Danendra hingga keduanya terjatuh dengan Danendra menindih Allea
"Max bangun" pekik Allea membuat Max tersentak dari tidurnya
"Ya ampun baru bangun lo bikin ulah" gerutu Max membangunkan Danendra
"Sorry Allea" lirih Danendra
"Ya gak apa apa gue tau lo lagi sakit" Jawab Allea
"Tapi jangan cari kesempatan juga" ketus Max langsung mendapat sikutan dari Allea
"Ohh iya tadi katanya mau ke kamar mandi? bantuin gih" Allea mendorong tubuh Max agar mendekat ke arah Danendra
"Ya udah cepet" Danendra di bantu Max masuk ke kamar mandi sampai dia selesai dan kembali ke tempat tidur
"Thanks udah jagain gue " ucap Danendra
"Kalo ada bunda sih gue ogah" jawab Max
"Bohong.. lo tau gak? Max khawatir banget selama lo belum sadar" bisik Allea menutupi sebelah wajahnya
"Apaan sih bisik bisik" Max menarik baju belakang Allea agar menjauh dari Danendra
"Cih posesif" hardik Danendra
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Gimana keadaan Danendra sekarang" Selvi mondar mandir mengingat mobil Danendra menabrak pembatas jalan
Hari itu Danendra sedang mengemudi tiba tiba Selvi mengejar mobil Danendra dan meminta Danendra berhenti untuk bicara dengannya, namun Danendra malah mempercepat laju mobilnya hingga dia kehilangan kendali karena seseorang menyebrang sembarangan di hadapannya
Danendra membuang stir akhirnya menabrak pembatas jalan, melihat Danendra tak sadarkan diri bukannya menolong Selvi malah panik dan kabur karena takut di salahkan
.
.
Pagi pagi sekali Selvi pergi kerumah sakit sesampainya disana dia mematung di balik pintu yang sedikit terbuka, dia melihat Danendra sedang bersama Max juga Allea
"Makan dulu ya" Allea hendak menyuapi Danendra
"Enggak.. enggak.. enggak.. sini" Max merebut piring dari tangan Allea lalu duduk di kursi dan Allea beralih ke sisi ranjang Danendra
"Aaaa" Max membuka mulutnya seperti hendak menyuapi bayi
Satu suap belum selesai Max sudah kembali menyuapi Danendra hingga mulutnya penuh " makanan dari tangan lo gak enak, pait" gerutu Danendra dengan mulut penuh
Max tertawa puas melihat Danendra kesusahan menelan makanannya, Allea menggeleng lalu mengambil tissu hendak mengusap sisa makanan di bibir Danendra
"Apaan sih, biarin dia sendiri aja" Max merebut tissu tersebut dan melemparkannya ke dada Danendra
"Heh Allea masih perhatian tuh sama gue" ucap Danendra
"Dia cuma kasihan sama lo, jangan macem macem lo cuma masa lalunya sedangkan gue adalah masa depannya" Ucap Max berbangga diri
"Bukannya kenangan cinta pertama susah dilupain? " goda Danendra
"Cuma kenangan ini, gue bakal kubur tuh kenalan kalo perlu sama elu sekalian gue kubur" Jawab Max
"Kalo pun gue mati kenangannya gak akan dia lupain, ya kan Allea? " goda Danendra seraya mengedipkan sebelah matanya
"Emang iya yang? kamu masih suka mikirin dia? " tanya Max
"Tau aahh.. kalian apaan sih kayak anak kecil"
"Jawab dulu kamu sayang sama aku apa dia? " tanya Max
"Sayang dua duanya, udah bereskan? " jawab Allea
"Jawab yang bener dong" Max merasa tidak puas dengan jawaban Allea
"Oke aku sayang kamu sebagai pasangan dan aku sayang Danendra seperti keluarga, emm adik ipar" jawab Allea
"Nah lo denger sendiri kan? gue menang" Max kesenangan memeluk pinggang Allea dan merebahkan kepalanya di paha Allea
"Biarin yang penting gak jomblo" jawab Max
"Dah ah berangkat sekolah udah siang nih" Allea menengahi keduanya
"Oke baby... lo baik baik disini nanti gue titipin sama suster" ucap Max
"Iya.. iya.. udah pergi sana berisik"
"Oke.. daaahh adik laknat" ucap Max seraya pergi merangkul Allea
"Adik" gumam Danendra seraya tersenyum
Hatinya merasa hangat saat Max menyebut kata adik meskipun di tambahi dengan kata laknat tapi itu dia anggap sebagai perubahan yang lumayan diantara mereka, senyum itu memudar saat Selvi masuk ke dalam ruangan itu
"Pergi.. kenapa anda kemari? " sinis Danendra
"Maafkan mama nak" lirih Selvi mendekat
"Mama? heh ibu macam apa yang meninggalkan anaknya terkapar di tengah jalan? " sinis Danendra
"Mama gak bermaksud begitu sayang"
"Udahlah keluar aja aku gak mau ketemu siapapun,
pergi sana " Danendra menekan tombol di dinding diatas kepalanya
"Ada yang bisa saya bantu? " tanya suster yang baru saja datang
"Usir orang itu dia mengganggu"
"Bu maaf jangan membuat keributan pasien butuh istirahat" ucap sang suster
"Tapi sus... "
"Bawa keluar dok saya sakit kepala liat dia" titah Max
"Mari bu saya antar keluar" sang suster membawa Selvi
"Sayang nanti mama kesini lagi"
"Gak perlu, kalo perlu pergi yang jauh " Ketus Danendra
Hati Selvi mencelos mendengar pengusiran Danendra dia dengan berat hati pergi dari rumah sakit, sementara Danendra sebenarnya dalam hatinya merasa bersalah mengusir dan berkata buruk pada ibunya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Pagi pagi drama ibu hamil selalu membuat kepala sang suami pusing, ada ada saja kelakuannya yang absurd
"Apa lagi? aku harus berangkat sekolah ini udah siang" ucap Dito
"Aku mau ikut " rengek Gita duduk di pangkuan Dito memeluknya erat
"Ikut sekolah? mana bisa kamu gak inget apa udah keluar" gerutu Dito
"Aku gak mau kamu pergi" Gita mencebikan bibirnya
"Sayang aku harus sekolah kalo aku banyak bolos gimana nanti kalo gak lulus? " Dito berusaha memberi pengertian pada Gita
"Aku gimana dong di rumah sendiri? "
"Kan ada ibu, pulang sekolah aku janji langsung pulang" ucap Dito
"Tapi aku masih kangen"
"Sepulang sekolah kamu bebas mau lakuin apa aja tapi sekarang aku harus berangkat"
"Hah.. oke lah tapi ada syaratnya" Dito mengiyakan persyaratan yang di berikan Gita
Keluar dari kamar Dito di tertawakan ibu Gita penampilannya begitu menggelikan, rambutnya diikat ke atas dengan bedak putih seperti anak kecil juga beberapa bekas kecupan merah di pipi juga keningnya
"Hati hati sayang, jangan nakal ya.. jangan dulu di hapus kalo aku masih liat kamu" Gita melambaikan tangannya
Ibu Gita tertawa terpingkal saat Dito menyalaminya melihat penampilan menantunya seperti badut saja, Dito pergi dengan pasrah masuk ke dalam mobilnya
"Nak tunggu" ibu Gita memberikan satu pack tissu basah pada Dito
"Makasih bu" ucap Dito kembali mencium tangan mertuanya
"Yang sabar ya nak" ucap Ibu Gita sembari menahan tawanya
"Iya bu, mau gimana lagi Dito pamit "
"Iya nak hati hati" jawab ibu Gita
Jangan lupa like komen dan vote ya