My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Manja saat ada maunya



Max sedang berdiri bersandar di dekat meja rias sambil memainkan ponselnya, Max hanya menggunakan handuk yang di lilit di pinggangnya


"Kamu ngapain berdiri di situ? " tanya Allea yang baru saja bangun dari tidurnya


"Lagi balas chat Bisma" jawab Max


"Bahas apa? "


"Aku kalah taruhan semalem"


Allea berjalan menghampiri Max lalu memeluknya seraya menciumi dada dan leher Max, Max meletakkan handphonenya dan membalas pelukan Allea membiarkan istrinya melakukan apapun yang dia inginkan


" Geli " bisik Max


"Emmhh.. aku kangen sama kamu" ucap Allea lalu mengecup bibir Max


"Kangen? setiap hari kita ketemu, apa yang semalem kurang? " goda Max


"Bukan itu.. aku kangen aja, kamu gak kangen sama aku? "


"Enggak.. tiap hari juga ketemu" jawab Max


"Aaw.. aw.. " Max meringis saat Allea mencubit put*ngnya lalu pergi


"Sayang aku cuma becanda"


"Bodo amat" Allea pergi ke kamar mandi tidak mendengarkan ucapan Max


Setelah mandi Allea tidak menemukan Max di kamarnya entah dia pergi kemana, Selesai berpakaian Allea keluar dari kamar yang kini di pindahkan di lantai bawah


Ternyata Max sedang berada di dapur memakai celemek dan membawa sodet tersenyum pada Allea yang mengacuhkannya berjalan ke arah tempat rak gelas, Max mematikan kompor lalu menghampiri Allea yang sedang minum duduk di kursi


"Aku udah masakin buat kamu " ucap Max sambil menaruh beberapa piring berisi masakannya di hadapan Allea


"Bi.... beliin bubur ayam di depan" ucap Allea


"Iya nyonya"


"Beli sekalian buat bibi" ucap Allea


"Tuan mau sekalian? " tanya Bibi, belum sempat Max menjawab Allea sudah menyerobot


"Gak usah dia udah masak bibi beli dua aja" ketus Allea


Bibi mengerti jika majikannya sudah bicara dengan nada seperti itu tandanya mereka sedang tidak baik baik saja bibi pergi tanpa bertanya apapun lagi


"Menggemaskan" ucap Max seraya menggigit pipi Allea


"Sakit" pekik Allea menjambak rambut Max


"Kamu galak banget" Max meringis mengusap kepalanya


"Bodo"


Max duduk di hadapan Allea seraya memakan masakannya, Allea hanya mengaduk bubur yang sudah di hidangkan oleh bibi seraya menatap Max yang menyuap makanan ke mulutnya sambil menelan ludah


"Akkhh.. sakit perut" Max pura pura kesakitan memegangi perutnya berlari ke kamar mandi yang terletak di dapur


Allea memperhatikan keadaan sekeliling lalu mulai menggeser piringnya mendekat awalnya menyuap satu sendok setelah itu sendok demi sendok sampai makanannya habis


"Ehem.. apa piringnya bolong? kemana semua makanannya? " ucap Max baru saja datang mengangkat piring di hadapan Allea


"Apa? apa liat liat? aku.. aku gak tau ya makanannya kemana jangan sembarangan nuduh" sergah Allea


"Siapa yang nuduh kamu? aku gak ngomong apa apa kok" jawabannya


"Ya.. ya.. abis liatinnya gitu banget"


Max mendekatkan wajahnya ke wajah Allea membuatnya refleks menutup mata, Max mengulum senyumnya lalu membelokkan wajahnya ke sampai telinga Allea


"Ada sisa makanan di bibir kamu" bisiknya lalu mengecup kening istrinya


Sontak saja Allea membulatkan matanya tangannya terulur menyentuh ujung bibirnya lalu memalingkan wajahnya yang sudah memerah membuat Max semakin gemas


"Nanti aku masakin lagi pulang kuliah, aku pergi dulu ya " Max mengelus kepala Allea seraya mencium puncak Kepalanya


Saat Max sudah membuka pintu mobilnya Allea berlari kecil ke arah suaminya, Max merentangkan tangannya Allea memeluknya erat


"Mau minta maaf? " tanya Max namun Allea menggeleng


"Bukan, nanti pulang bawain sate, ya? " ucapnya manja


"Kalo ada maunya aja manjanya gak ketulungan" Max mengernyitkan sudut hidungnya seraya mencubit pelan hidung Allea


"Aku berangkat kiss dulu" Allea mengecup bibir suaminya melambaikan tangan saat mobil Max sudah melaju


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Hallo kenapa ma? "


"Ternyata Jonathan tidak sepenuhnya bersalah, seseorang telah mengancamnya mama merasa bersalah sama dia"


"Jadi mama mau bebasin kak jo? "


"Mama akan bicarakan dengan ayah Allea semoga saja dia mau mencabut gugatannya"


"Baguslah semoga saja mereka mau melepaskan kak jo"


"Mama besok mau jenguk kakak kamu sekaligus minta maaf sama dia"


"Iya ma.. titip salam sama kak jo aku gak bisa kesana karena lagi sibuk kuliah"


"Iya gak apa apa sayang.. jaga diri ya"


"Ya ma.. mama juga"


Ririn berbicara dengan Yuki di telepon seperti tidak tahu apapun Yuki selalu bersikap lemah lembut pada Ririn menyembunyikan sikap buruknya, Selepas Ririn mengakhiri panggilan teleponnya Yuki menelpon seseorang


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Hari itu Ririn membuat janji dengan Gibran setelah pertemuan sebelumnya, Gibran mau memaafkan Jonathan setelah mendengar semuanya dari Allea dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi


"Terimakasih sudah memaafkan Jonathan" ucap Ririn dengan mata berkaca kaca


"Dia akan menjadi anakku juga apalagi dia tidak sepenuhnya bersalah" Jawab Gibran seraya menggenggam tangan Ririn


Ririn hanya mampu mengangguk dia menahan air matanya agar tidak jatuh, tiba tiba handphone Ririn berdering dia menjawab teleponnya


Setelah menjawab telepon tersebut tangan Ririn gemetar tatapannya kosong dengan air mata yang berlinang tanpa suara , melihat kondisi Ririn Gibran pun menepikan mobilnya


"Kamu kenapa? " Gibran memegangi bahu Ririn


Bibir Ririn terbuka namun tidak ada yang keluar dari mulutnya Gibran membawanya kedalam pelukannya membuat tangis Ririn pecah dia menangis tersedu-sedu Gibran hanya mengusap kepala serta punggungnya


"Jonathan.. " lirihnya


"Jonathan kenapa? bukankah kita akan menjemputnya? " tanya Gibran


"Dia meninggal" tangis Ririn semakin menjadi


Gibran yang mendengarnya pun terkejut tidak bisa berkata kata lagi, Gibran melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Ririn seraya mengusap air matanya


"Kita kesana sekarang, siapa tahu itu hanya telepon dari orang iseng" Ririn mengangguk kembali membenarkan posisi duduknya namun masih dengan air mata yang berlinang


Gibran menuju rumah sakit yang sudah di sebutkan polisi karena Jonathan masih bernyawa namun sesampainya di rumah sakit Jonathan menghembuskan nafas terakhirnya, sesampainya disana Ririn memeluk jasad Jonathan yang di tutupi kain putih sementara Gibran menanyakan apa yang terjadi dengan Jonathan


" Tadi ada orang katanya teman saudara Jonathan yang ingin membesuk awalnya kami tidak curiga namun saat saudra Jonathan keluar menemuinya orang tersebut langsung menusuk saudara Jonathan, maaf kami lalai saat itu sampai tidak tahu ada orang membawa senjata tajam" ucap polisi


"Lalu orang itu kemana? apa sudah di tangkap? " tanya Gibran


" Orang tersebut sudah tewas karena sempat melarikan diri dan melawan akhirnya terkena tembak di bagian kepala, Jasadnya ada di sebelah sana mungkin anda mengenalnya " ucap polisi


Gibran melangkah mendekati jasad pria tersebut dan membuka kain penutup , Gibran sama sekali tidak mengenalinya akhirnya dia memanggil Ririn namun masih sama Ririn juga tidak mengenalnya


"Apa ada petunjuk lain? " tanya Gibran


"Tidak ada apapun bahkan dia juga tidak membawa ponsel hanya ada surat administrasi dari rumah sakit di sakunya" polisi menyerahkan sebuah amplop putih


"Aku akan cari tahu nanti kita harus urus dulu jenazah Jonathan" Ucap Gibran memeluk Ririn yang menangis tersedu sedu