My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Serius



"Ehhemm" Suara Gibran mengejutkan keduanya


"Ayah ngagetin aja" jawab Allea, Max hanya tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya


"Kalian lagi ngapain? masuk" ketua Gibran


"Hati hati.. bye" Allea melambaikan tangannya pada Max


"Hati hati apanya? kamu ikut masuk" Max kembali di buat melongo


"Astaga masalah" gumam Max seraya menggeleng mendorong motornya masuk ke halaman rumah Allea


Max dan Allea duduk di kursi berhadapan dengan Gibran keduanya tampak menunduk menunggu Gibran bicara


"Kenapa kamu gak nurut sama ayah? " satu pertanyaan Gibran tujukan pada Allea


"Ayah ada urusan mendesak, lagi pula Allea udah minta anter kak Aksa tapi dia gak mau" Jawab Allea memanggil Aksa kakak karena usianya lebih tua


"Itu karena perintah ayah, kamu di hukum tidak boleh keluar atau kamu mau hukumannya di perpanjang? "


"Enggak yah, maafin Allea" Allea menunduk mengerucutkan bibirnya


"Kamu juga kenapa bawa anak orang malem malem? " gerutu Gibran pada Max


"Saya cuma di suruh Allea om"


"Ya kenapa kamu mau? "


"Saya gak bisa nolak permintaan Allea om" Jawab Max


"Terus kalo kamu di suruh Allea loncat ke sumur kamu mau? "


"Ya enggak gitu juga om"


"Damian gak nyariin kamu jam segini belum pulang? " tanya Gibran melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam


"Saya udah lama gak tinggal di rumah ayah" lirih Max


"Lalu kamu tinggal dimana? " tanya Gibran


"Saya tinggal sama Oma atau di bengkel om" ketika Allea dan Max sedang diinterogasi oleh Gibran, di dalam kamar Cindy dan Emile sedang bergosip


"Iya mommy kemaren curi curi dengar ternyata Max itu anak Gibran dari Lydia sementara Danendra dari wanita lain" ujar Emile


"Berarti si Allea beruntung dong mom bisa deket sama Max, padahal kalo di liat liat sih emang lebih ganteng Max, badannya juga bagus, berkharisma lagi" ucap Cindy membayangkan Max


"Kamu suka sama Danendra apa Max sih? " tanya Emile


"Awalnya Danendra tapi setelah di pikir pikir Lebih segala galanya Max di banding Danendra"


"Kamu deketin Max aja udah pasti harta keluarganya turun sama anak sah udah gitu mommy denger Max udah punya usaha sendiri"


"Bener juga sih tapi Max gak bisa deket sama cewek lain kecuali Allea" kesal Cindy


"Usaha aja dulu, Kamu lebih segalanya di banding Allea cuma cowok bodoh yang lebih milih dia" dengan percaya dirinya Emile membanggakan putrinya itu


.


.


"Ya sudah kamu pergi ke kamar istirahat jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi, kamu juga pulang ini udah malem" titah Gibran pada keduanya


"Saya permisi Om, saya janji gak akan ulangi lain kali" ucap Max lalu menyalami Gibran


Allea masuk kedalam kamarnya karena kamarnya berada di depan otomatis dia dapat melihat Max yang masih berdiri di depan rumahnya karena hujan deras malam itu, Allea tidak tega membiarkan Max pulang di tengah hujan


Allea keluar lalu menaiki satu persatu tangga menuju kamar ayahnya, Allea mengetuk pintu di ikuti Aksa yang takut Allea kembali kabur


"Ayah bisa gak kalo Max suruh nginep aja? " ucap Allea ketika Gibran membuka pintu kamarnya


"Biarin aja dia pulang hujan hujanan siapa suruh keluar malem malem" jawab Gibran


"Ayah kok gitu, emang ayah tega lihat anak sahabat ayah kenapa napa nanti kalo pulang ujan ujanan nanti apa kata orang tuanya" Gibran masih dengan keputusannya Allea juga masih terus membujuk Gibran


Akhirnya Aksa mendekat dan membisikan sesuatu senyum terbit di wajah Gibran membuat Allea mengerutkan alisnya


"Kamu bisikin apa sama ayah? " tanya Allea ketika dia turun karena ayahnya menyetujui Max menginap di sana


"Rahasia" singkat Aksa


"Apa? " Max berbalik menghadap Allea


"Kata ayah lo boleh nginep soalnya ujan" ucap Allea


"Kata ayah apa emang lo gak rela gue pulang? " goda Max


"Eng.. enggak ayah yang bilang" Allea tergagap menjawab candaan Max


"Ya udah ayo masuk" Max merangkul bahu Allea


Baru saja merangkul tangan Max di turunkan oleh Aksa yang selalu mengekori mereka dari belakang, Max memicingkan matanya menatap sebal pada Aksa


"Gak boleh pegang pegang, kamar kamu sebelah sana" Aksa menunjuk kamar untuk Max


"Itu apaan? " Max menunjuk ke arah atas hingga Allea dan Aksa menoleh bersamaan


"Good night" ucap Max celingukan lalu mencium pipi Allea membuat kedua makhluk yang di bohongi itu melongo


"Dasar cecunguk" hardik Aksa yang kesal karena di bohongi


.


.


Keesokan paginya semua keluarga Gibran sudah berkumpul di meja makan termasuk Max yang menginap disana, setelah menyimpan beberapa lauk di piring ayahnya Allea menyendok makanan hendak menaruh di piring Max


Sendok berisi lauk itu menggantung di udara karena Cindy juga hendak melakukan hal yang sama namun dengan lauk yang berbeda, Max menahan dengan tangannya dan berbicara dengan sopan karena merasa tidak enak dengan kehadiran Emile dan Gibran


"Maaf saya tidak suka ikan" ucap Max pada Cindy lalu menarik sendok Allea dan menyimpan lauknya sendiri di piring miliknya


"Terimakasih" Ucap Max seraya tersenyum, ketika semua orang tidak melihat lagi Max mengedipkan sebelah matanya pada Allea


Allea menarik sebelah sudut bibirnya mulai menyuap makanannya, selesai makan Allea masuk ke kamarnya membaca beberapa buku saat dia keluar Max sudah tidak ada di dalam rumah. Allea menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras rumah


"Ayah Max udah pulang? " tanya Allea


"Belum, dia di halaman belakang" mendengar penuturan ayahnya Allea segera ke halaman belakang


"Astaga, ayah bener bener deh" desis Allea ketika melihat Max memegang cangkul memakai topi berkebun


"Max lo ngapain? " teriak Allea


"Bokap lo nyuruh gue berkebun" jawab Max lalu kembali mencangkul tanah


Allea masuk mengambil jus dan cemilan lalu kembali ke belakang, Allea membawa Max duduk memberinya minum yang langsung di teguk habis. Allea mengusap keringat di dahi Max dengan tisu


"Lo kok mau? " tanya Allea


"Masa sama calon mertua nolak" Jawab Max membuat Allea terkekeh


"Emang lo serius sama gue? " tanya Allea


"Serius lah, gue pikir pikir gimana kalo kita tunangan aja" Allea diam seribu bahasa matanya tidak sanggup menatap mata Max


"Gimana? " tanya Max


"Apa gak terlalu cepat? gue mau sih tapi kita masih sekolah" jawab Allea


"Jangan kasih tau siapapun, kalo lo setuju gue akan bicarakan ini sama bunda" Allea terlihat mengangguk malu malu


"Gitu dong, tolong suapin tangan gue kotor" titah Max


Baru saja Allea menyuapi Allea terdengar suara Gibran memanggil anak perempuannya itu


"Nak sini ngapain disitu panas" teriaknya


"Heemm ayah mertua memang menyebalkan" ucap Max dengan mulut penuh kue


"Itu bokap gue, ya udah mas lanjutin ya kerjanya bye" Allea menggoda Max melambaikan tangannya


"Hei coba panggil sekali lagi" ucap Max merasa geli dengan panggilan Allea


Allea malah tertawa seraya pergi dari sana


Jangan lupa like komen dan vote ya