
Allea meringis kesakitan namun dia tidak berhenti bicara untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini dia pendam bertahun tahun lamanya, rasa sakit, kecewa, dan kebencian yang dia timbun bertahun-tahun
"Ayah sibuk bahagia bersama keluarga baru ayah tapi ayah melupakan aku dan ibu, bahkan ayah tidak mencari kami karena sudah bahagia dengan dunia ayah sendiri"
"Ayah tidak berpikir gadis kecil di bully setiap hari karena tidak jelas asal usul ayahnya? Allea harus jual kue bersama ibu di pasar dari Allea bayi, sampai ibu meninggal bahkan ayah tidak pernah datang menemui Allea" Tangis pilu Allea pecah dia menangis tersedu sedu mengungkapkan keluh kesahnya selama ini
"Sekarang ayah memandang rendah Allea seolah anak gadis ayah yang lain sangat sempurna, Allea mengakui kesalahan Allea yah tapi Allea tidak bermaksud menyakiti siapapun, kenapa amarah ayah begitu besar sama Allea padahal Cindy melakukan kesalahan yang lebih parah? " Allea berkata dengan cambuk yang masih bergantian melukai bagian tubuhnya
Ketika Gibran mengangkat sabuknya tinggi tiba tiba seseorang memeganginya dari belakang dan merampas sabuk itu, Damian dan keluarganya terpaku melihat Allea di siksa habis habisan oleh Gibran
Max segera merangkul Allea dan membawanya pergi dari sana "Jangan seperti ini, semuanya bisa di bicarakan baik baik. Kamu akan menyesal kalau terjadi sesuatu pada Allea" ucap Gibran
Mendengar itu Gibran runtuh dia luruh di lantai menatap kedua tangannya yang lagi lagi menyakiti anak gadisnya, dia menangis kekesalannya membuatnya hilang kendali
"Semuanya hancur, keluargaku hancur aku tidak memiliki siapapun lagi sekarang" lirihnya
"Aku tahu mereka salah, tapi dengan kamu menyakiti Allea dia akan semakin menjauh harusnya kamu bicara baik baik dari hati kehati dan mencari solusi dari permasalahannya"
"Sudah minta maaf nanti sama Allea, Kami datang kesini untuk bertanggung jawab atas apa yang di lakukan anak kami. Bagaimana pun kita harus menikahkan mereka sebelum mereka semakin jauh" ucap Damian seraya membangunkan Gibran
"Kami minta maaf atas perbuatan yang di lakukan Maxime, sebenarnya dia sudah lama mengatakan ingin menikah tapi kami hanya menganggapnya main main kami tidak berpikir dia dan Allea akan melakukan ini" ucap Lidya
Max membawa Allea ke kamarnya ditemani bibi yang sudah membawa kotak p3k, bibi pelayan itu menangis tidak kuasa melihat tubuh Allea dengan banyak bekas cambukan di punggung dan lengannya
"Maaf bibi gak sanggup non" tangan bibi gemetar ketika hendak mengobati punggung Allea
"Sini bi" Max mengambil alih obat dari tangan bibi dan mulai mengoleskan nya di bagian luka
"Tahan ya" ucap Max saat Allea meringis merasakan perih lukanya
Bibi duduk di bawah ranjang menggenggam tangan Allea tidak henti hentinya dia menangis, antara takut dan kasihan ini pertama kalinya biji melihat Gibran hilang kendali
Dia tidak tahu saja saat Gibran marah dulu pada ibu Allea dia tega menyeret bahkan memukul istrinya yang sedang hamil, dulu nek Mar juga sama seperti bibi merasa kasihan namun tidak berani bertindak apapun
"Bi ambilin baju lain" ucap Max
Bibi mengambil dress full kancing agar memudahkan Allea bajunya menggantinya, setelah menggantikan bajunya Allea duduk di tepi ranjang
"Maaf, gara gara aku kamu jadi seperti ini" lirih Max memeluk Allea
Tangisan Allea semakin tersedu sedu di pelukan Max, pemuda itu ikut menitikan air mata saat melihat Allea menangis pilu
"Bawa aku pergi dari sini" lirih Allea
"Iya, ayah lagi bicara sama ayah kamu. aku akan bawa kamu pergi dari sini tapi kita harus nikah dulu"
"Nikah? " mendengar kata itu Allea mendongak menatap wajah Max
"Keadaannya sudah seperti ini aku gak bisa bawa kamu tanpa ikatan, kalo kamu setuju aku bisa bawa kamu kalo pun kamu gak mau aku gak akan maksa tapi akan aku pastikan ayah kamu gak akan menyakiti kamu lagi" jawab Max
"Tapi kapan itu? " tanya Allea
"Ayah lagi diskusi dulu, semoga aja om Gibran ngizinin" jawab Max
"Kita nikah sekarang aja" Perkataan Allea membuat Max mematung sejenak, dia begitu senang mendengar itu dari Allea
"Bi sampaikan ini sama ayah" bibi mengangguk sebagai jawaban lalu pergi
Bibi menceritakan tentang Allea yang ingin menikah hari ini juga dan niatnya ingin pergi dari sini, Gibran semakin merasa bersalah mungkin sekarang Allea merasa takut berada di rumah itu
"Gimana? Allea yang minta sendiri jangan sampai kita larang nanti mereka melakukan hal yang lebih jauh lagi" Damian mengingatkan
"Nanti kalian bisa bicara dengarkan apa yang dia katakan, saling memaafkan akan memperbaiki hubungan kalian" ucap Damian seraya menepuk pundak Gibran
Singkat cerita Gibran menyuruh supir Damian agar menjemput Cindy dan membawanya jalan jalan terlebih dahulu setelah acara ijab kabul selesai baru dia akan pulang, pernikahan ini hanya mereka yang tahu
Allea memakai kebaya lama ibunya dengan di beri sedikit polesan Make-up oleh Lydia, Max tak lepas menatap Allea hingga dia duduk di sampingnya. ijab kabul lantang di ucapkan oleh Max dengan satu tarikan nafas Keduanya kini sudah sah menjadi suami istri
"Nanti ayah yang akan urus surat suratnya" ucap Damian, meskipun pernikahannya diam diam tapi mereka tidak mau menikah siri Damian akan mengurus semuanya
"Kamu cantik " bisik Max membuat Allea tersipu malu
Saat semuanya sudah selesai Damian hendak membawa keluarganya pulang, Gibran mendekati Allea dengan maksud ingin memeluk putrinya namun Allea malah ketakutan dan menghalangi wajahnya dengan tangan
Hati Gibran semakin teriris ternyata sedalam itu luka yang dia berikan pada putrinya, Damian menepuk nepuk punggung Gibran untuk mensupportnya
"Baik baik disana, maaf ayah membuat kamu terluka untuk kesekian kalinya" lirih Gibran
Allea hanya mengangguk dia tak kuasa menahan tangisnya langsung memposisikan tubuhnya menghadap Max, Max menghapus air matanya seraya tersenyum
"Jangan nangis nanti make up nya luntur" goda Max
"Aku titip Allea sama kalian" ucap Gibran
"Tenang aja Allea akan aman, kami pamit dulu" Gibran menatap kepergian putrinya bersama keluarga barunya
Dia tidak menyangka putrinya akan menikah secepat ini dan dengan cara seperti ini, dia masuk ke kamar yang Allea tempati tadi tangisnya kembali membanjiri wajahnya mengingat betapa sadisnya dia tadi memukuli Allea
"Maaf sayang.. maafkan ayah" tangis penyesalan yang menyesakkan dada
.
.
Malam hari Allea tidur dengan posisi menelungkup kepalanya menyamping menghadap Max
"Maaf aku gak bisa lakuin itu malam ini" ucap Allea
"Lakuin apa? kalo ngomong yang jelas dong? " goda Max pura pura tidak mengerti
"Emmmhhh.. itu lo.. "
"Itu apa? kamu gak jelas ah" Max bisa melihat wajah Allea memerah mungkin dia malu
"Tau ahh.. " Allea mengalihkan pandangannya ke sisi yang lain
"Aku ngerti sayang sini dong jangan marah marah" bujuk Max .
"Gak apa apa aku ngerti kamu lagi sakit, tapi nanti di double ya" ucap Max seraya terkekeh
"Iihh.. nyebelin" Ucap Allea berbalik menyentil hidung Max
"Hah kalo aja kamu gak sakit aku akan buat kamu gak bisa jalan besok" cicit Max
"Hmm dan kalo itu terjadi aku gak akan kasih jatah dua bulan" jawab Allea membalas Max
"Hari pertama jadi istri udah sadis aja" gerutu Max
Sesaat hening mereka hanya saling pandang Max perlahan lahan menggeser wajahnya sampai hidung mereka saling menempel,