
Pagi itu murid di sekolah sedang memperbincangkan berita kemarin sore tentang Allea yang di ajak tiga laki laki untuk mengantarkannya pulang, bukannya Allea tidak mendengar cacian mereka yang mengatakan Allea sok cantik, kegatelan, dan wanita penggoda dia tidak menanggapi hal yang memang dia tidak dia lakukan
"Huh anak baru sok kecantikan banget" sindir teman sekelasnya
"Apa sih istimewanya dia? denger denger neneknya aja pembokat di rumahnya Cindy"
"Bisa banget ya jadi wanita penggoda"
"Keluar sekolah enak ya kalo udah punya keahlian tinggal lanjut jadi sugar baby"
"Open BO gak? hahahaa"
"Gak usah di dengerin" ujar Gita mengusap punggung Allea seolah menguatkan
"Iya Lea mereka cuma sirik sama lo" ujar Dito
"Bener, kita tau aslinya lo gimana" Bagas menimpali
"Lo punya kita Lea gak usah dengerin yang lain" ucap mereka bersamaan
"Thanks guys kalian emang teman terbaik" jawab Allea
Ketika Max baru saja Masuk dia mendengar bisik bisik semua murid tentang Allea, dengan tatapan tajamnya Max menatap mereka membuat bibir mereka mengatup seketika
"Seenggaknya Allea gak seperti kalian yang hobinya nyinyir, ikut campur urusan orang terlepas dari apapun yang Allea lakukan gue tau dia gadis baik baik" ucap Max keras membuat hening suasana kelas
"Jam pelajaran pertama olahraga ganti baju dulu yuk" ajak Gita pada Allea
Semua murid masuk ke ruang ganti untuk menukar baju mereka dengan seragam olahraga, Gita memperhatikan tas yang berada di ujung kursi panjang
"Lea bukannya tas lo di kelas ya? " tanya Gita menunjuk tas yang persis milik Allea
"Iya kok ada disini? " Allea menghampiri tas itu namun seseorang kemudian menyambar nya
Allea dan Gita menatap heran pada sosok itu yang terlihat berbeda, rambut tas dan gayanya menjadi persis seperti Allea membuat keduanya membulatkan mata saling memandang
Rambutnya yang berwarna coklat dan sedikit pendek kini menjadi hitam panjang seperti rambut Allea bahkan memakai jepit rambut hitam kecil di sisi rambutnya sama persis dengan Allea
"Punya lo ki? gue kira punya Allea" ujar Gita
"Gue duluan ya" Yuki tidak menjawab pertanyaan Gita
"Plagiat itu mah" ucap Gita dengan masih menatap kepergian Yuki
"Udahlah biarin aja" sahut Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di ruang ganti pria Max baru saja keluar dia melihat Allea lewat dengan ranselnya, Max memanggilnya namun saat dia berbalik Max malah mengerutkan keningnya
"Gue salah orang" Ucap Max lalu berbalik pergi
"Ternyata apapun cara yang gue lakukan lo tetep gak lirik gue sama sekali" gumam Yuki meneruskan jalannya
Setelah para murid berkumpul dan melakukan pemanasan Allea dan Gita berhenti di pinggir lapangan, Yuki dan beberapa siswa sedang mencoba bola basket dan niat jahatnya pun muncul
Yuki dengan sengaja melemparkan bola ke arah Allea hingga hampir saja mengenai wajahnya namun beberapa senti lagi bola berhenti tepat di hadapan wajah Allea, Allea yang terkejut hanya memejamkan matanya lalu membuka mata setelah merasa bola itu tak kunjung mendarat di wajahnya
"Bukan menghindar malah merem, lo lagi baca mantra manggil jin" ledek Max seraya memegangi bolanya
"Iya jinnya lo" kesal Allea
"Untung ada lo Max kalo enggak tuh muka si Lea pasti memar" sahut Gita
"Gak usah bilang makasih" dengan pedenya Max berkata sambil berlalu men-dribble bola ketengah lapang
"Cool banget " cicit Gita yang mukanya langsung di usap Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di kantor Gibran menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Allea, dia sangat yakin kalung yang di pakai Allea adalah kalung istri pertamanya yang dia usir karena tidak ada kalung persis seperti itu. ia ingat betul kalung rancangannya sendiri
"Oke saya tunggu kabar secepatnya jangan sampai setengah setengah cari informasi menyeluruh"
"Baiklah saya bayar setengah dulu dan setelah semuanya terbukti saya berikan sisanya"
"Naina apa gadis itu anakmu? tapi apakah benar dia anakku atau anak pria lain" gumamnya penuh kesedihan
"Apa kau masih hidup Naina? atau benar yang dikatakan Emile " lirihnya mengusap wajahnya kasar
Emile bahkan membohongi Gibran bahwa Naina mati bunuh diri saat tengah mengandung anak haram tersebut, dan bodohnya lagi Gibran juga percaya dengan kata katanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Murid di sekolah berbaris mendengarkan arahan dari Guru, Allea mengikat rambutnya asal dengan karet Yuki pun mengikuti mengikat rambutnya Allea yang tidak sengaja melirik kebelakang pun memutar bola matanya jengah
"Napa lo? " tanya Gita sambil mencolek lengan Allea
"Si Yuki kenapa sih ngikutin tingkah gue mulu"
"Dia pasti iri sama lo soal kemarin, pengen kayak lo kali biar di lirik" jawab Yuki
"Masa sih segitunya"
"Kalian lanjutkan bapak ada panggilan dulu" belum sempat Gita menjawab guru meminta mereka melanjutkan kegiatannya
"Max ajarin gue maen basket ya" pinta Yuki saat anak anak yang lain mulai memilih menyibukkan diri dengan olahraga
"Hendra" panggil Max seolah mengabaikan ucapan Yuki
"Ini Hendra tim basket gue, ajarin dia katanya mau belajar basket" Max menyerahkan bola basket yang dia pegang pada Hendra
Yuki menatap kepergian Max yang mengabaikannya, ternyata seperti apapun dia berusaha menggapai Max dia tetaplah bintang di langit yang hanya dapat di lihat indah dari kejauhan
Max malah menghampiri Allea dan Gita yang sedang saling melempar bola voli
"Gue ikutan" Max bergabung bersama mereka
Dari kejauhan Danendra melihat kekasihnya itu tertawa lepas dengan adanya Max disana bahkan dia tidak merasa canggung saat Max merangkul bahunya, memang bukan hanya Allea Gita juga Max rangkul masuk ke kelas tapi di mata Danendra hanya terlihat Allea yang bersama Max
"Apaan guru olahraga pergi gitu aja" gerutu Gita yang memang pelajaran olahraga hanya seperti sedang bermain saja
"Heem, bukan keringetan karena olahraga tapi karena di jemur" timpal Allea
"Hai gue boleh gabung? " ujar Yuki yang melihat seperti biasa Allea cs selalu berkumpul di satu kursi apalagi ada Max di sana
"Boleh gabung Aja" jawab Allea sambil tersenyum
"Di liat liat lo kok jadi kayak Allea? tanya Dito
" Ahh masa sih? " jawab Yuki terlihat malu
Max menarik ikat rambut di tangan Allea dan mengikat rambutnya membuat mereka menjadi pusat perhatian, Allea hanya mematung dengan membulatkan matanya saat Max menguncir rambutnya
"Serupa tapi tak sama" ujar Max lalu melangkahkan kakinya keluar kelas
Demi apapun wajah Yuki sampai memerah ketika Max mengatakan itu dan Allea terlihat panik pasalnya dia di perhatikan sejak tadi oleh Danendra dari jendela
"Mati gue" lirih Allea bersembunyi di bahu Gita
Teman temannya yang menyadari perubahan Allea mengikuti arah pandangannya termasuk Yuki, bukannya menenangkan Allea mereka malah mengolok-oloknya karena Danendra belum juga melepaskan pandangannya pada Allea
"Nah lo Allea mampus" ujar Dito
"Wah wah akan terjadi hal apakah setelah ini? " timpal Bagas
"Apakah akan terjadi pertumpahan air mata" Desta menambahkan
"Atau... " ketika Sandro hendak bicara Allea menghentikannya karena dia tahu mulut Sandro yang paling tidak bisa di rem
"Stop lo gak usah ikut ikutan" sergah Allea Membuat Sandro menutup mulutnya dan di tertawakan
"Nah gimana tuh Lea dia kayaknya marah banget" Gita kembali melirik ke luar jendela
"Makanya kalo udah punya cowok gak usah caper sama cowok lain" ujar Yuki seolah menyindir
"Lo jahat banget sih, emang lo liat si Allea caper, gak kan? gak usah ngadi ngadi lo" serobot Gita merasa tidak Terima dengan omongan Yuki
"Kok lo yang sewot" ucap Allea saat Yuki sudah kembali ke kursinya karena merasa Gita akan menelannya bulat bulat setelah mengatakan itu
"Gue bisa liat rasa iri di matanya dia, lo tau? gue yakin dia meniru semua tentang lo buat ngundang perhatian orang" ujar Gita kembali menatap Yuki yang memang berniat menyerupai Allea