
Allea dan Dito sudah semalaman menjaga nek Mar sampai pagi pagi sekali Dito disuruh pulang lebih dulu oleh Allea karena dia masih menunggu dokter memeriksa keadaan neneknya. setelah kepulangan Dito akhirnya nek Mar sadar menggerakkan jari jarinya
"Nek.. nenek" Senyuman terpancar di wajah Allea melihat kelopak mata wanita tua itu sedikit terbuka
"Allea" nek Mar menggapai wajah cucunya itu dan membelai nya
"Nek apa yang terjadi? nenek buat Allea jantungan" rengek Allea seraya menangis
"Berhati hatilah dengan nyonya Emile sayang" lirih nek Mar dengan suara pelan
"Jangan jangan dia yang melukai nenek " nek Mar hanya mengangguk
"Aku harus buat perhitungan" geram Allea
"Jangan bahayakan dirimu sayang, menjauh dari mereka lebih baik nenek tidak mau kamu terluka"
"Tapi nek.... "
"Berjanji sama nenek" nek Mar bicara sungguh-sungguh menggenggam tangan Allea
"Baiklah" Allea mengalah demi melindungi neneknya, dia tahu jika dirinya berulah maka nek Mar akan menjadi taruhannya
"Nek gak apa apa kan disini sendiri Allea harus sekolah" ujar Allea
"Iya gak apa apa, disini juga ada dokter"
"Baik baik ya nek" ucap Allea sebelum pergi
"Allea" panggil nek Mar saat Allea hendak keluar
"Ya kenapa nek? " Allea kembali menghampiri nek Mar
Tiba tiba nek Mar memeluk tubuh Allea erat, Allea juga membalas pelukan nek Mar. Allea berpikir mungkin nek Mar masih cemas melepaskan Allea karena takut Emile akan berbuat jahat padanya
"Jadilah gadis kuat jangan mudah di kalahkan oleh orang lain, jangan terlihat lemah jaga diri kamu baik baik nenek gak mau kamu kenapa napa" ucap Nek Mar seraya meneteskan air mata
"Nek Allea janji sama nenek gak akan ada orang yang menindas Allea, nenek baik baik disini ya cepet sembuh" jawab Allea
"Nenek mau pergi jauh dari sini" ucap Nek Mar
"Iya Allea janji setelah nenek membaik kita akan pindah, Allea akan minta pindah sekolah " jawab Allea
"Pergilah nanti kesiangan" entah apa yang terjadi Allea rasanya enggan sekali pergi meninggalkan neneknya, namun neneknya memaksa Allea pergi kesekolah
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Allea masih saja tidak fokus di dalam kelas dia lebih banyak melamun hingga tidak menanggapi ucapan teman temannya, sampai teman temannya harus menepuk bahunya baru Allea sadar
"Kenapa? nenek udah baikan? " tanya Max
"Udah kok" jawabnya
"Ada masalah? " tanya Max
"Lo kenapa Lea? ngomong aja kalo lo ada masalah" ucap Gita
"Gak ada kok, gue cuma merasa ada yang gak enak ganjel gitu di hati gue, tapi gue juga gak tau itu apa" jawab Allea
"Mau gue anterin pulang? " tanya Max, belum sempat Allea menjawab guru sudah masuk dan murid murid kembali ke kursinya masing-masing
"Anak anak kita kedatangan murid baru, sebenarnya bukan murid baru juga dia pernah sekolah disini" ucap guru
Murid yang lain bertanya tanya termasuk Gita cs, saat guru memanggilnya masuk, semua mengucapkan selamat datang kembali kecuali Max pemuda itu memasang wajah datar seperti sebelum mengenal Allea
"Gue duduk disini ya" ucapnya pada Max
"Gue gak suka ada orang duduk disini" jawab Max dingin
"Max kita kan... " ucapannya terpotong saat Max menepis tangan gadis itu yang menyentuh tangannya
Braakk
"Jangan berani lo sentuh gue, menjijikkan" bentak Max
Bukannya menjawab Max malah pergi membawa tasnya keluar kelas, guru melarang memanggil nama Max berulang kali namun Max tidak menoleh sedikitpun
"Max kenapa? " tanya Allea khawatir
"Nanti gue ceritain" bisik Gita
"Hai gue Arabella" Gadis itu menepuk pundak Allea
"Ohh.. hai gue Allea" mereka saling berjabat tangan
Belajar mengajar berjalan seperti biasanya setelah jam istirahat Allea mencari Max ke belakang gudang namun dia tidak ada di perpustakaan juga tidak ada
"Cari siapa Lea? " tanya Sam
"Cari Max liat gak? " jawabnya
"Oh.. dia pulang kali tadi pagi gue liat dia keluar sekolah naik motor"
"Makasih" ucap Allea seraya berlari kembali ke teman temannya
Jam pelajaran terakhir handphone Allea mati habis daya, Max yang sudah pulang kembali ke sekolah untuk menemui Allea. setelah berbicara pada guru di luar kelas Max dan guru yang sedang mengajar kembali masuk
"Allea kemari" guru perempuan itu memeluk Allea setelah dia mendekat
"Ibu turut berduka cita, jangan berkecil hati Tuhan sudah mengatur hidup umatNya " ucap guru itu membuat Allea bingung
"Ada apa ini? Max? " tanya Allea kebingungan
"Nenek meninggal"
Duuaarrrrr
Bak petir di siang bolong Allea mematung tanpa ekspresi, Max berinisiatif memeluk Allea dan mengusap punggungnya kelima temannya berhambur memeluk Allea dan menguatkannya
"Lo bohong.. lo jangan becanda Max gak lucu " Allea tersenyum miris dengan air mata yang membasahi pipinya
"Allea lo harus kuat" Max menangkup wajah Allea menatap lekat lekat manik mata itu
"Arrrggghhh neneeekk.... " Allea menepis tangan Max dan berlari keluar
Max mengejar Allea hingga ke gerbang sekolah lagi lagi Max memeluk Allea yang mulai hilang kendali dia menjerit meronta meminta Max melepaskannya. murid satu kelas Allea juga ikut berhamburan ingin tahu apa yang akan terjadi di luar
Rasa simpati, rasa sedih, rasa haru, cemburu, iri berbagai perasaan di antara mereka pada Allea yang saat ini sedang di peluk erat oleh Max dan di tenangkan satpam sekolah
"Hei.. Hei lihat gue jangan gini Allea, dengan sikap lo yang seperti ini lo akan membebani nenek tenang Allea tenang" Max menangkup wajah Allea saling menatap dengan Allea yang masih terisak
"Tunggu disini, gue ambil motor dulu" setelah tenang Allea mengangguk menuruti perkataan Max
Sesampainya di rumah sakit Allea kembali meraung menangis sejadi jadinya memeluk jasad neneknya, Max hanya bisa mengusap punggung Allea yang bergetar hatinya seakan merasa ikut sakit melihat Allea menangis sampai seperti ini
"Nek Allea gak punya siapa siapa lagi jangan tinggalin Allea nek, kita udah janji akan pergi jauh setelah nenek pergi tapi kenapa nenek ninggalin Allea duluan? Nek Allea mau ikut nenek" tangisan Allea memenuhi kamar itu
Pihak rumah sakit hendak membawa jenazahnya tapi Allea menahan sekuat tenaga, Max membantu menahan Allea menarik tubuhnya dari ranjang itu. tangan Allea memegang lengan nek Mar hingga tangan mereka bersentuhan Allea menggenggam sesuatu saat tangannya terlepas dari tangan nek Mar
Allea masih belum menyadari itu dia memeluk Max erat tanpa bicara Apapun Max membalas pelukan itu sesekali dia mengecup pucuk kepala Allea dengan sayang
"Duduk dulu" Max mendudukkan Allea mengambil segelas air sambil menunggu jenazahnya masuk ke dalam ambulance
Allea baru sadar menggenggam sesuatu dia membuka kepalan tangannya ternyata sebuah anting, Max datang dan Allea segera memasukkan antingnya ke dalam saku
"Minum dulu" Max memberikan airnya
"HP lo mati ya? " Tanya Max
"Iya, makasih udah ngasih tau gue" lirih Allea
"Untung gue cadangin no telepon gue di rumah sakit, yang tabah ya tenang aja ada gue"
"Thanks" Allea menggenggam tangan Max seraya mengusap air mata dengan sebelah tangannya