
Matahari sudah meninggi Allea tidur di pelukan Max dengan tangannya sebagai bantal, Allea mengucek matanya beberapa kali sebelum menyingkirkan tangan Max yang melingkar di pinggangnya
Allea mendongak menatap wajah Max Wajah yang begitu tegas, tampan Ketika tidur tidak ada wajah jutek dan dingin dia terlihat sempurna. Allea menatap lekat wajah Max, tiba tiba Max kembali mengeratkan pelukannya
"Max gue gak bisa nafas" Allea memukul mukul lengan Max
"Ohh sorry" Max menelentangkan dirinya memijat keningnya
"Gue haus" lirih Allea seraya duduk
"Kita cari air"
"Akkhh " Max meringis kala bangun dari tidurnya
"Max lo gak apa apa? " Allea mendekati Max
"Lebay banget sih" Max menepis tangan Allea dari bahunya
"Marah marah mulu" gumam Allea dengan kesal saat Max sudah berjalan beberapa langkah
"Mau ikut apa gue tinggal" Ucap Max tanpa berbalik
Allea mengikuti Max mencari air untuk minum jalan Allea sudah sempoyongan dia begitu haus dan lapar
"Max" lirih Allea duduk di sebuah pohon yang sudah tumbang
Max menoleh lalu kembali mendekat ke arah Allea yang sudah lemas bersandar sebuah pohon mau tidak mau Max terpaksa menggendongnya
Max berhenti di sebuah sungai yang jernih menurunkan Allea memberi minum Allea dengan tangannya
"Gue laper Max" lirih Allea lemah
"Sabar dulu tunggu disini gue cari makanan dulu" baru kali ini Max bicara ramah pada Allea
Max berjalan menaiki bebatuan yang cukup tinggi
sekitar 30 menit Max kembali dia menggendong Allea dengan tergesa gesa
"Kita mau kemana? " tanya Allea
"Ada ladang berarti sedikit lagi kita deket pemukiman" Max bersemangat
Max sampai di hamparan sawah dan kebun kebun ada sebuah gubug kecil Max menurunkan Allea disana Max memetik buah pisang di dekat gubug dan membawanya
"Ini punya siapa Max? " Allea dan Max memakan buah pisang dengan lahap
"Gak tau, yang penting kita kenyang dulu" ucap Max
"Kalo ada yang marah gimana? "
"Justru bagus kita bisa minta anter ke tempat camping gue bayar nanti pisangnya, dompet gue ketinggalan di tenda"
Setelah kenyang mereka tertidur di gubug itu
.
.
.
Di tempat camping semua orang mencari Allea dan Max Mereka di buat menjadi beberapa kelompok Cindy hanya bermalas malasan di tenda dia tidak mencari Allea karena beralasan sedang sakit
"Males banget gue nyari dia" ujar Cindy
"Kalo dia mati di makan hewan buas gimana? Dia masuk hutan loh" ujar satu teman Cindy
"Iya, gimana kalo kita ketahuan" ujar yang lain
"Kalian bisa diem gak sih, kita gak akan ketahuan kalo kita gak ngomong apa apa" bentak Cindy
.
.
Allea tersentak dari tidurnya kala seseorang berbicara dengan lantang Allea mengucek matanya beberapa kali begitu pun Max
"Kalian berbuat mesum di kebunku? " bentak orang itu
"Eng.. engga pak sumpah kita cuma ke sasar" ucap Allea
"Kalian pasti bohong, sekarang cepat ngaku"
"kenapa kalian memetik pisang ku? kurang ajar sekali kalian" hardik bapak tua itu
"Kita gak ngapa ngapain pak, kita lagi camping tapi kita tersesat" ucAp Max
" Untuk pisang bapak saya akan bayar asal bapa antar kami kesana dompet saya ketinggalan " lanjut Max
"Baiklah, tapi janji kalian harus bayar saya" ucap bapak tua itu
"Iya iya"
Bapak tua itu mengajak Max dan Allea ke rumahnya dan mengobati luka mereka setelah itu kembali mengantar mereka ke perkemahan
"Alleaaaaaa " teriak Gita dan langsung memeluk Allea yang baru saja datang
"Lo gak apa apa? apa ada yang sakit? " Gita memeriksa bagian tubuh Allea
"Gak apa apa cuma sedikit luka, Max yang lukanya agak banyak karena lindungin gue"
"What? seorang Max lindungin lo? " tanya Gita tidak percaya
"Iya malah gue di gendong waktu gue lemes"
"Tapi lo gak di apa apainkan? " tanya Gita
"Ya enggak lah"
Setelah Max membayar sejumlah uang pada bapak itu Guru juga menanyai ketiganya bagaimana bapak itu bisa menemukan Max dan Allea
"Saya cuma ikut petunjuk jalan di pertigaan sana pak" jawab Max ketika di tanya guru
"Saya juga pak, petunjuk belok kiri saya ikutin aja" jawab Allea
"Saya rasa ada yang sengaja belokin arahnya pak, waktu saya ke sana jelas penunjuk jalan itu mengarah ke lurus dan barusan saya liat memang belok ke kiri" ucap Danendra yang baru saja datang
"Saya rasa semuanya sudah jelas pak, saya permisi" Max pergi setelah kedatangan Danendra
"Max tunggu" Allea pamit mengejar Max
Allea mengejar Max hingga ke dekat tenda Max
"Max tunggu" Allea seperti anak kecil memegangi ujung baju Max
"Apaan sih? " ketus Max
"Makasih udah nolongin gue kemaren" ucap Allea
"Terus? "
"Udah gitu aja gak ada terusannya"
"Kalo gue mau di terusin gimana? " Max menyeringai
"Ma..maksudnya? " Allea perlahan mundur
"Disini sepi" Allea menggoda Allea yang sudah ketakutan
Max mendekatkan wajahnya ke wajah Allea
mata Allea membulat sempurna kini bukan Allea yang di toyor kepalanya tapi Allea menoyor kepala Max lalu lari terbirit-birit Untuk pertama kalinya Max tertawa melihat tingkah Allea
"Gadis bodoh"
.
.
Oma sedang berada di kediaman Damian untuk membicarakan tentang Max dan Selvi Namun Damian seperti tidak peduli dia pergi begitu saja dengan dalih harus bertemu klien, Hanya ada Lidya yang menemani Oma menikmati secangkir teh di taman belakang
"Bu gimana Maxime?" tanya Lidya
"Dia baik, tidak terlalu menutup diri waktu itu saja dia mengajak temannya kerja kelompok di apartemen" jawab Oma
"Syukurlah, saya mengkhawatirkannya padahal saya sangat menyayanginya tapi dia seakan menjauh" lirih Lidya matanya sudah berkaca kaca
"Suatu saat dia akan kembali seperti dulu, belum ada waktu yang tepat" ucap Oma seperti biasa datar dan dingin
"Maksud ibu? " Lidya tidak mengerti yang di maksud ibu mertuanya
"Akan ada waktunya kamu mengerti, ibu harus pulang" Oma mengambil tasnya lalu pergi
Lidya mengantar Oma sampai ke mobil karena Lidya tipe menantu penurut dia tidak pernah banyak bertanya dia akan mematuhi apapun kata mertuanya
"Ibu hati hati, jaga kesehatan" ucap Lidya kemudian menyalami tangan Oma
"Salam buat Maxime" lanjut Lidya sebelum mobilnya pergi
Lidya berjalan masuk kedalam rumah dia masuk ke kamar yang dulu di tempati Max, Lidya mengambil poto Max mengecupnya lalu memeluknya
"Bunda kangen nak" Lidya merasa kehilangan sosok Max yang dulu begitu dekat dengannya
Setelah Max tahu dia anak dari perempuan lain yang merusak kebahagiaan bundanya Max seakan menanggung malu atas perbuatan ibunya dia menjauh dari keluarga Damian karena merasa tidak pantas ada di antara kebahagiaan mereka