My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Tak pernah dianggap



Allea dan tujuh orang lainnya pergi ke mall untuk sekedar menghilangkan penat, kelima temannya di tambah Yuki dan Max menjadi tujuh teman Allea awalnya Max menolak tapi bukan Allea namanya jika tidak bisa memaksa Max


Yang lain tertawa kadang memilih milih sementara Max hanya mengikuti mereka dari belakang tanpa mengeluarkan kata kata atau sekedar tersenyum Allea yang asyik bersama temannya mendadak teringat Max, Allea celingukan mencari Max yang menghilang di belakangnya


"Cari apa Lea? " tanya Gita


"Max mana ya? " tanya Allea


"Ciiee yang takut kehilangan " ledek Dito membuat semua tertawa kecuali Yuki


"Apaan sih, gue gak enak aja ngajak dia tapi malah lupa" jawab Allea


"Gue ke toilet dulu ya" ucap Yuki setelah melihat sesuatu


"Ya udah kita tunggu di sana sambil pesen makan" ucap Bagas di angguki Yuki


Yuki pergi ke toko Aksesoris dia melihat Max sedang membayar di kasir, lalu dia menghampiri Max tapi sepertinya Max menyembunyikan sesuatu dari Yuki ke sakunya


"Beli apa Max? " tanya Yuki


"Lo gak perlu tau" ketusnya


"Emmhh.. temenin gue bentar cari aksesoris ya? " pinta Yuki


"Gak bisa, Allea telepon" Max menunjukkan layar ponselnya lalu pergi menjawab telepon


"Apa bener Max punya perasaan sama Allea? tapi Allea punya pacar dibanding dia apa kurangnya gue" gerutu Yuki


Yuki kembali ke tempat dimana mereka sedang makan disana sudah ada Max di samping Allea yang sedang memainkan handphonenya dan Allea yang sedang mengobrol dengan Gita disampingnya


"Udah pada pesan? " Ucap Yuki membuat mereka menoleh


"Belum ki nunggu kamu" Jawab Allea


"Ya udah kita pesan" ucap Yuki lagi


Pelayan mencatat pesanan mereka semua


setelah makanan tersaji mereka mulai makan


karena Allea memesan makanan pedas membuatnya terbatuk batuk, Max mengulurkan air tanpa menoleh dia masih menikmati makannya


"Ehem ehem ehem... " ledek teman Allea bersahutan saat Allea menerima jus dari Max yang ternyata itu milik Max


Mereka langsung bungkam saat tatapan dingin Max menatap mereka


"Ahh maaf guy's ini pedes banget" ucap Allea


"Lea lo abisin minum orang" ucap Bagas


"Hah? masa? " Allea menatap gelas yang sudah ia teguk setengahnya


"Ini punya lo ya Max? sorry gue pesenin lagi ya" ucap Allea


Baru saja Allea akan memesan mengangkat tangannya namun di turunkan kembali oleh Max


"Gak usah gue minum ini aja" Max mengambil minuman Allea yang tertukar


"Tapi itu bekas udah gue minum dikit"


"Gak masalah lo juga minum punya gue"


"Ehem sun secara gak langsung dong" ledek Sandro pelan namun dapat di dengar oleh Max yang menatapnya tajam


Semua orang terkekeh melihat Sandro yang tersenyum kikuk menundukan Kepala sejenak meskipun Max terkesan dingin dan ketus tapi di hatinya dia merasa senang, benar kata Allea sepertinya Max harus mulai membuka diri di mulai dari Allea dan teman temannya yang konyol


Sudut bibir Max tertarik sebelah seraya menatap Allea yang lain saling menendang kaki di bawah meja melihat ekspresi Max, tidak di sangka seorang Max dapat tersenyum meskipun hanya sedikit dan sebentar Pandangan mereka bertemu saat Allea baru saja mengangkat kepalanya


Allea tersenyum manis membuat Max salah tingkah membuang wajahnya menatap ke arah lain wajahnya memerah seperti kepiting rebus


"Ada yang lain di senyummu yang membuat diriku salting tak bergerak malu menatap" Dito meledek dengan lagu yang di salahkan liriknya


"Suara lo enak di dengar apa lagi kalo diem" ujar Max membuat Dito di tertawa


"Lumayan ada kemajuan" sindir Dito membuat Max kembali menatap tajam


Setelah selesai mereka berpisah di restauran itu Max pulang dengan Allea kembali sementara yang lain naik mobil Dito termasuk Yuki


"Max gue boleh pulang sama lo gak? gue pusing naik mobil" ucap Yuki


"Eehh.. pusing mau naik motor kalo kejengkang wafat lo, mending naik mobil" sambar Bagas sebelum Max menjawab


"Gak usah macem macem cepet pulang sama kita" ucap Gita kemudian dia berdua dengan Bagas menggandeng tangan Yuki sedikit menyeret karena dia enggan pergi


"Kasihan juga si Yuki, apa gue naik mobil aja ya? " gumam Allea


"Gak ada, ayo pulang" Max menuntun tangan Allea


"Allea kenapa ada disini? " tanya Danendra


"Aku tadi jalan jalan sama sahabat aku" jawab Allea


"Lalu kenapa ada dia"


"Dia juga ikut" jawab Allea


"Duduk sayang ikut kita makan" ajak Lydia


"Makasih gak usah bun Max masih ada kerjaan" jawab Max sopan


"Ayo nak duduk dulu bunda udah lama gak makan sama kamu" akhirnya terpaksa Allea dan Max duduk karena paksaan Lydia


"Kamu bukannya cucu bi Mar? " tanya Gibran


"Betul tuan" jawab Allea


"Siapa gadis ini? " tanya Damian


"Ini pacar aku yah" jawab Danendra


"Ohh.. cantik anak pengusaha mana nak? " tanya Damian lagi


"Dia anak mantan pembantu di rumah aku Om" sambar Cindy


"Apa? " wajah Damian tampak terkejut


Wajah Allea merah padam menahan malu melihat ekspresi Damian sepertinya dia terkejut anaknya berpacaran dengan orang biasa


"Apalah artinya harta dan jabatan jika dia tidak bisa menjaga sikapnya, Allea anak baik, cantik, pintar dia pernah di bawa ke rumah" ucap Lydia tersenyum pada Allea


"Bukankah babat bibit bebet bobot itu penting tante? " tanya Cindy


"Cindy cukup" Gibran memperingatkan


Wajah Allea sudah tertunduk dia ingin pergi tapi bingung harus bagaimana Max menggenggam tangan Allea di bawah meja membuat Allea menoleh


"Maafkan kelancangan anak saya" ucap Gibran


"Dan pemuda tampan ini siapa? " tanya Emile


"Dia anak.." ucapan Lydia terpotong saat Damian menyerobot pembicaraannya


"Dia anak kerabat kami yang di titipkan untuk sekolah disini" jawab Damian


Allea dan Max saling menggenggam untuk memberi kekuatan jelas jelas Allea tau Max anak Damian dari wanita lain namun nampaknya Damian enggan mengakui Max, Allea tidak sadar mengeluarkan kalung yang di pakainya saat membenarkan kerah bajunya


"Nak kalung darimana itu? " tanya Gibran dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan


"Ini sudah ada sejak saya bayi" Jawab Allea dengan tersenyum


'Semoga dia ingat' batin Allea


Belum sempat Gibran bertanya kembali Max sudah berdiri tangan yang sedari tadi saling menggenggam akhirnya terlihat Danendra mengepalkan tangannya melihat itu


"Maaf semuanya saya dan Allea harus pamit kami masih ada pekerjaan sekolah" ucap Max membungkuk lalu pergi tanpa menunggu mereka bicara


"Sialan" gumam Danendra hendaklah menyusul namun tangannya di cekal Damian


"Duduk" perintahnya namun Danendra tetap ingin pergi membuat Damian menekan kuat tangan Danendra hingga dia duduk


Lydia menatap nanar punggung Max yang perlahan menjauh ada rasa sakit di hatinya saat suaminya mengatakan itu dia dapat melihat wajah kecewa Max


Max membawa Allea melaju dengan kencang teriakan Allea tidak di dengar hingga Allea mencubit perut keras Max yang kotak kotak membuatnya tersadar dari lamunannya


"Sorry sorry" Max mengerem secara mendadak membuat tubuh Allea menempel di punggung Max


"Gue hampir Mati Max" pekik Allea dengan nafas tersengal


"Sorry gue gak denger lo tadi"


"Gue tau lo lagi sedih" ucap Allea


"Sok tau" jawab Max memalingkan wajahnya


"Ayo anter gue ke suatu tempat"


"Kemana? gue lagi males"


"Iihh Max ayo" rengek Allea manja menggandeng tangan Max agar naik motor


'Menggemaskan' batin Max


Max kembali melajukan motornya ketempat yang di tunjuk Allea