
"Mama... Ellia ikut ma.. Jangan tinggalin Ellia" Teriak Ellia mengulurkan tangannya seolah ingin Allea menyambut uluran tangannya, namun mobil Vero perlahan menjauh
"Sus bawa dia masuk" Ucap Alexander dingin
Suster berusaha keras di bantu bibi untuk membujuk Ellia agar mau ikut masuk, Ellia mematung bahkan tangisnya telah berhenti namun hanya berdiri memandang mobil Allea yang perlahan menjauh
Bibi melaporkannya pada Alexander sepertinya dia yang harus turun tangan, Ellia seperti patung bajunya dan suster telah basah kuyup
"Sayang masuk nanti kamu sakit" Ellia masih tidak bergeming
"Sayang besok papa ajak ke wahana bermain" Tatapan mata Ellia tampak kosong
"Ellia jangan uji kesabaran papa" Ellia masih tetap diam
"Ellia... " Bentak Alexander
"Kamu mengusir mamaku, aku membencimu" Bak di sambar petir Alexander terkejut mendengar perkataan putrinya
Anak yang manja dan lembut kali ini dengan tatapan dingin mengatakan membenci ayahnya, Ellia masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu nya dari dalam
"Sayang.. Papa gak usir mama nak" Alexander mengetuk pintu kamar Ellia
"Ganti bajunya sayang ya.. Nanti Ellia sakit"
"Papa jahat.. Papa biarin mama pergi aku jadi gak punya mama lagi, apa papa puas? " Teriak Ellia
"El jangan bicara seperti itu, dia bukan mama kamu"
"Sampai kapanpun mama Ellia tetap mama dokter Ellia gak mau yang lain" Alexander mengepalkan tangannya dia benar-benar bingung dengan keadaannya sekarang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kak.. Lo bener dia bukan Max" Lirih Allea
"Anggap aja itu sebagai pelajaran buat lo, kalo dia emang gak mau tanggung jawab gue yang akan bertanggung jawab "
"Gak perlu kak, ini bukan salah lo gue gak mau melimpahkan kesalahan gue sama lo thanks buat semuanya"
"Kenapa? Apa lo bener-bener gak bisa move on? "
"Gue udah khianatin Max sekali gue gak akan lagi suka sama pria lain, hati gue akan bener bener gue kubur bersama Max" Vero mengusap puncak kepala Allea
"Apa pun keputusan lo gue dukung, gue balik ya" Ucap Vero setelah meletakkan Ello di tempat tidurnya
"Gak mau mampir dulu? " Tanya Allea
"Gak baik udah malem, jaga kesehatan dan inget apapun keputusan lo gue selalu ada di pihak lo" Ucap Vero
"Hati hati kak" Vero hanya mengangguk seraya tersenyum
Begitu besar cinta Vero dia merelakan Allea bersama pria lain namun saat dia terluka Vero siap membantunya, selalu mendukung apapun keputusan Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"El.. Buka pintunya" Alexander tidak mendapatkan jawaban dari Ellia
"Sayang kamu belum makan dari semalam" Alexander masih mengetuk pintu kamar Ellia
Tidak ada jawaban dari penghuni kamar akhirnya Alexander mengambil kunci cadangan
Ellia meringkuk di bawah selimut ketika Alexander menyingkapkan selimut tersebut ternyata dari semalam Ellia tidak berganti baju, Alexander tidak menyangka Ellia akan seperti ini keadaannya lebih parah di banding ketika Nola pergi
"Aku menyesal membawanya kesini"
Tangan Alexander terulur menyentuh kening Ellia tubuhnya panas seketika Alexander membuka pakaian Ellia dan menggantinya lalu memanggil dokter
" Makan dulu ya sayang" Bujuk suster saat Ellia sudah bangun, Ellia hanya diam menggelengkan kepalanya
"Ellia kenapa? Maunya apa? " Tanya dokter yang menyuruh suster agar berdiri dan duduk di kursinya
"Mama... " Gumamnya bibirnya bergetar dengan mata berkaca kaca
"Ellia mau ketemu mama? " Tanya dokter Ellia mengangguk
"Tuan kenapa tidak telpon nyonya? Sepertinya Ellia merindukannya"
"Bukan dia" Dokter sedikit bingung dengan jawaban Alexander
"Lalu siapa? "
"Kamu bekerja di rumah sakit yang sama dengannya, dokter itu bernama Allea" Dokter hanya mengangguk
"Kamu mau bertemu sama dokter Allea? "
"Aku mau... Aku mau ikut" Lirihnya
"Ellia tidak mau makan obat juga sulit di berikan jika seperti ini, tidak ada salahnya memanggil dokter Allea agar membuat Ellia sedikit membaik"
"Tidak usah.. Aku akan membujuknya nanti, pergilah jika sudah selesai" Ucap Alexander
"Makan sedikit saja setelah itu kita minum obat, Ellia bebas minta apapun nanti" Bujuk Alexander, Ellia malah menepis piringnya hingga jatuh berhamburan
"Ellia... " Bentak Alexander membuat Ellia terlonjak , Ellia membelakangi Alexander menutup kepalanya dengan bantal
Ketika di kamarnya Alexander memperhatikan cincin tersebut yang sepertinya tidak asing baginya, didalam cincin tersebut tertulis nama Allea
Tiba tiba bayangannya kembali melihat sosok wanita yang berlari dengan gembira memakai seragam sekolah
"Max.. Ayo kejar"
"Jadi orang jangan dingin dingin lah gue gampang pilek anaknya" Wanita tersebut berlarian memanggil manggil nama Max dengan gembira, ketika wanita itu berbalik tiba tiba bayangannya menghilang
"Arrrggghhh sialan" Alexander memegangi kepalanya yang terasa berdenyut
"Max.. Siapa dia? Satu satunya cara aku harus bertanya pada dokter itu" Alexander berjalan sempoyongan memegangi kepalanya
"Tuan.. Tuan kenapa? " Tanya Suster
"Kepalaku.. Kepalaku "
"Aku ambilkan obat" Saat suster mengambil obat Alexander bergegas pergi ke rumah sakit
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Udah siap Le? " Tanya Gita
"Udah kok.. Lo kenapa pindah lagi ke Jakarta? " Tanya Allea
"Disini kerja di perusahaan orang sementara disana ada perusahaan bokap sama mertua yang harus di urus, gue bakal makin kaya Le" Sergah Dito
"Tau nih dari dulu juga di bilangin suruh nerusin punya orang tua dia gak mau, emang dia pikir enak kerja sama orang" Gerutu Gita
"Sayang tapi kan waktu itu aku belum siap"
"Matamu.. Kamu kan bisa belajar"
"Iya.. Iya aku tau aku salah, maafin ya jangan marah marah dong nanti cantiknya ilang" Allea hanya menggeleng sambil tersenyum
"Gue panggil Ello dulu" Dikamar Ello dan Dirga sedang menulis sesuatu
"Buat siapa sih? " Tanya Dirga yang membantu Ello menulis setiap katanya
"Ada deh, udah ayo" Jawab Ello
"Kalian udah siap? Ayo berangkat" Allea membawakan koper milik Ello
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku denger sendiri dokter Allea hamil waktu mau ambil hasil pemeriksaan dari dokter obgyn"
"Siapa ayah bayinya? Bukannya dia janda? "
"Gak tau, tapi yang paling so sweet gue denger dokter Vero ngomong 'kalo dia gak mau tanggung jawab biar gue yang tanggung jawab' jarang banget ada pria yang mau tanggung jawab padahal itu anak orang lain"
" Gue juga sering denger katanya dokter Vero cinta sama dokter Allea tapi ya gitu dokter Alleanya jual mahal"
"Padahal dokter Vero ganteng sayang banget ya"
"Hmm dokter Vero cuekin dokter Sarah yang jelas jelas suka sama dia sementara yang di kejar malah hamil sama pria lain"
Ketika Alexander melewati tiga suster yang sedang bergosip dia berhenti sejenak mendengarkan pembicaraan mereka, niatnya untuk bertanya tentang Max pada Vero dia lupakan
Alexander kini berlari tidak sabar mencari ruangan Allea tapi bukan dia yang duduk di kursi tersebut
"Kemana Allea? " Tanya Alexander
"Dokter Allea? " Dokter tersebut balik bertanya
"Iya.. Dimana dia? "
"Ada apa mencari Allea? " Tanya Vero yang kebetulan lewat
"Dimana Allea? Kenapa dia gak masuk? "
"Masih peduli ternyata, Allea mengundurkan diri dan sekarang dia sudah pergi" Jawab Vero terlihat puas
"Pergi? "
"Ya.. Dan asal anda tahu setelah menyelesaikan pekerjaan saya juga akan mengundurkan diri lalu menikah dengan Allea kami akan membuat klinik sendiri di jakarta"
"Jangan berani beraninya kamu mengambil Allea dariku? " Alexander mencengkram baju Vero
"Mengambil? Lo yang buang dia brengsek, gue menjaganya seperti berlian tapi lo membuangnya seperti kerikil sungai sialan" Vero meninju wajah Alexander
Terjadi baku hantam diantara keduanya membuat dokter berteriak memanggil orang untuk memisahkan mereka, Alexander melepaskan pegangan orang orang darinya
"Mau kemana lo? " Tanya Vero dengan nada meledek
"Allea udah pergi.. Dia gak akan kembali kesini lagi
WOI.. WOI.. MANA NIH LIKE KOMEN VOTE NYA?
BUNGA.. BUNGA.. BUNGA.. OTHOR UDAH KERJA KERAS NEEEHHH