My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kehilangan hal berharga



Dia siang yang terik lagi lagi Cindy terlambat naik bus dia harus menunggu bus berikutnya untuk pulang, sebuah mobil berhenti di hadapannya seseorang membuka jendela mobilnya


"Naik" ucap Frans


"Tidak, Terima kasih" ucap Cindy enggan melihat ke arah Frans


"Hari ini panas bus juga paling sampai setengah jam lagi" Setelah mempertimbangkan ajakan Frans akhirnya Cindy pun masuk


Cindy hanya diam menatap keluar jendela mungkin dia juga bingung harus bicara apa, sesekali Frans menoleh ke arah Cindy


"Mau makan dulu? " tanya Frans


"Gak, Terima kasih" Jawab Cindy


"Kamu masih marah padaku? " tanya Frans lagi


"Kenapa aku harus marah? " ucap Cindy


"Ini, baca lah" Frans memberikan sebuah amplop bertuliskan nama rumah sakit


"Apa ini? kenapa juga aku harus membacanya"


"Kalau begitu simpan saja suatu saat kamu akan mempercayainya" Cindy memasukan amplop itu ke dalam tasnya tanpa bicara apapun lagi


Hampir sampai rumahnya Cindy memilih turun jauh dari kediaman Gibran dan berjalan kaki, dengan berat hati Frans menurunkan Cindy sebenarnya dia masih ingin bersama Cindy namun Cindy tidak bersedia di ajak kemana pun oleh Frans


"Makasih om" ucap Cindy lalu pergi begitu saja


Triiinngg


Satu pesan masuk ke handphone Cindy, dia menghentikan langkahnya untuk melihat pesan sejenak


Kiki


"Celine cepu" pesan yang di tulis kiki beserta kiriman video


Cindy menggeram mengepalkan tangannya saat memutar rekaman video yang memperlihatkan Celine berdua dengan Danendra di bawah pohon saat di sekolah, terdengar juga pembicaraannya dengan Danendra ikut terekam


"Sialan, lo harus di beri pelajaran" gumam Cindy mengepal handphonenya erat berjalan menuju rumah


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Max sedang memandangi Allea yang sedang tertidur di dalam mobilnya, mereka menghabiskan waktu malamnya untuk berkencan mengelilingi kota itu untuk berburu makanan kaki Lima


"Kekenyangan ya? " human Max spray mengelus pipi Allea dengan jari telunjuknya lalu kembali melajukan mobilnya


.


.


"Emmhh.. uuhh" Allea menggeliat namun merasa tubuhnya tidak dapat di gerakkan


Allea perlahan membuka matanya tampak tangan kekar membelit tubuhnya, di hadapannya dada bidang tanpa pakaian membuat wajah Allea merah merona


" Mau kemana? udah tidur aja" gumam Max masih masih menutup matanya ketika pergerakan Allea menganggu tidurnya


"Kenapa kamu gak anterin aku pulang? '' tanya Allea


" Pulang? bukannya ini udah pulang? ini rumah kamu juga" Jawab Max kini dia menatap lekat wajah kekasihnya


"Ini apartemen kamu"


"Tapi sekarang juga milik kamu" Kini tangan Max terulur membenahi anak rambut yang berantakan di sekitar wajah Allea


"Apapun yang aku punya semuanya milik kamu juga, uang, rumah, cintaku, sayangku, hatiku bahkan tubuhku semuanya cuma milik kamu" Lanjutnya membuat Allea terkekeh


"Dasar gombal" Allea mendorong pelan Dada Max


Belum sempat Allea menarik tangannya Max menahan tangan itu di dadanya, Allea semakin tidak karuan saat dada polos itu bersentuhan dengan tangannya


"Aku tulus" hanya itu yang di ucapkan Max lalu kembali memeluk Allea


Allea hanya diam tanpa sadar tangannya menggambar abstrak di dada Max sontak saja Max langsung menahan tangannya " Jangan bergerak"


"Kenapa? " tanya Allea, Allea langsung bisa menangkap maksud dari Max melihat bulu kuduknya berdiri


Dengan jahilnya Allea malah meraba dada hingga perut Max, si empunya tubuh memejamkan matanya berusaha membuat tangan Allea berhenti namun tangan itu bergantian menyentuh tubuh Max bahkan menggelitiknya


"Mau menggoda aku huh?"


"Ahaha aku cuma bercanda, kalo kamu merasa terganggu aku tidur di sofa aja" Allea tertawa terpaksa berusaha melepaskan tangannya


"Mau kabur setelah memasang umpan? "


"Bukan.. bukan gitu aku mmphht.. " belum selesai Allea bicara Max sudah lebih dulu Mel***t bibirnya


Tanpa sadar ciuman Max sudah merambat ke telinga dan leher Allea bahkan Max membuka kancing baju Allea dengan giginya, Malam yang begitu dingin karena hujan deras di luar tidak terasa di kamar mereka


.


.


Pagi hari Allea mengerjapkan matanya berkali-kali dia beringsut duduk dan bersandar di kepala ranjang setelah kesadarannya terkumpul dia tersentak melihat baju mereka berserakan di lantai, Allea menepuk nepuk pipinya keras memastikan bahwa kejadian semalam hanya mimpi


Suara gemericik air berhenti tandanya seseorang akan segera keluar dari kamar mandi, Allea kembali berbaring dan berpura pura tidur membelakangi Max yang baru selesai mandi


Max duduk di belakang Allea hanya menggunakan bathrobe lalu menyentuh punggung polosnya membuat tubuh Allea tersentak, Max memeluk Allea dari belakang seraya menautkan jarinya


"Kamu udah bangun kan? " bisik Max membuat bulu kuduk Allea meremang


"Kita.. semalam? " tanya Allea ambigu


"Maaf" lirih Max mengeratkan pelukannya


"Kenapa? " lirih Allea


"Kenapa apanya? kamu juga gak nolak" Jawab Max membuat Allea yang semula sedih menjadi kesal berbalik menatap Max nyalang


"Kenapa kamu gak berhenti sebelum itu terjadi? kenapa kamu.. " belum selesai Allea perkataannya Max menyerobot


"Kenapa juga kamu malah menikmatinya bukannya menolak saat aku buka semua paka mmpphh...." Allea membekap mulut Max


"Jangan bahas ini lagi, memalukan" Ketus Allea seraya melepaskan tangannya


"Lihat ini" ucap Max seraya terkekeh membuka Bathrobenya menunjukkan tanda merah di dadanya


"Aaaaaaaaaa, aku gak mau ngomong sama kamu lagi, aku benci sama kamu" teriak Allea lalu membelakangi Max


"Benci? beneran? aku rasa benci dalam artian yang lain" goda Max seraya memeluk Allea


"Maksudnya? "


"Kamu belum puas? oke, ayo kita lakukan sekali lagi" perkataan Max sukses membuat allea berdiri seraya membelitkan selimut tebal di tubuhnya


"Kamu mau kemana? " tanya Max saat Allea berjalan perlahan kadang berjinjit


"Kamar mandi" ketusnya


Mendengar suara langkah kaki mendekat Allea mengulurkan tangannya untuk menghadang Max agar tidak mendekatinya "Aku bisa sendiri" Max mematung melihat Allea menghilang di balik pintu


Setelah kejadian itu Allea lebih banyak diam seperti sekarang dia duduk berjauhan dengan Max di tepi tempat tidur, saat Max bergeser mendekat dia juga bergeser menjauh


"Iihhh.. lepasin " pekik Allea saat Max tiba tiba memeluk Allea


"Kamu masih marah? aku udah minta maaf"


"Percuma, maaf gak bisa kembalikan apa yang sudah berlalu" jawab Allea


"Marah marah juga gak akan bisa kembalikan apa yang sudah berlalu tapi aku janji akan tanggung jawab sama kamu dan aku janji ini pertama dan terakhir kita melakukannya sebelum menikah" mendengar itu Allea menoleh namun dengan wajah yang tidak enak di lihat


"Janji" ucap Allea


"Janji.. kecuali ini" Max mencium seluruh wajah Allea berkali kali membuat wajahnya basah


Mereka tertawa saling menggelitik meski awalnya Allea kecewa dengan kejadian ini tapi dia merasa saling menyalahkan juga percuma hal yang berharga dalam hidupnya sudah hilang, sekarang dia hanya perlu menerimanya dan mungkin sekarang akan mengiyakan ajakan Max untuk menikah seandainya pemuda itu kembali memintanya


Apakah mereka akan bersatu membuat keluarga kecil yang bahagia?


Atau perjalanan cinta mereka hanya akan menjadi kisah?


Jangan lupa like komen dan vote ya ❤