My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Hilang kendali



"Pembunuh" seseorang mengirim pesan serta videonya di rumah sakit keluar dari kamar dimana nek Mar di rawat


Emile jadi ketar ketir dia mondar mandir di kamarnya, teror dari Frans di tambah teror dari nomor baru membuatnya semakin pusing belum lagi dia belum bisa membujuk Gibran untuk mengeluarkan Cindy dari penjara


"Sial.. sial.. sial.. apa lagi ini arrrggghhh"


Prang prang


Emile berteriak sendiri menghancurkan meja riasnya, gibran yang baru saja pulang bekerja sampai terkejut saat dia membuka pintu


"Apa apaan ini? " tanya Gibran


"Aku.. aku.. " Emile tergagap tidak bisa menjawab pertanyaan Gibran


"Kenapa? kamu udah gila ya? " bentak Gibran melihat kamarnya berantakan


"Aku cuma lagi kepikiran Cindy, gimana keadaannya disana, makan apa dia" ucap Emile


"Kamu gak bisa gitu keluarin dia, jangan berat sebelah dong kamu memenjarakan Cindy karena Allea" lanjut Emile


"Kamu gak sadar apa yang baru saja kamu omongin? anak kamu jelas jelas bersalah dia bahkan hampir membuat nyawa seseorang melayang kalo pun korbannya bukan Allea aku juga tetap tidak akan membelanya biarkan dia sadar dengan kesalahannya sendiri" jawab Gibran


"Dia juga anak kamu" bentak Emile


"Justru karena dia anak aku, aku mau dia menjadi pribadi lebih baik lagi kamu yang seharusnya membimbing dia lebih baik jangan menyalahkan orang lain untuk semua kesalahan dia" ucap Gibran tak kalah tinggi


"Aku lebih baik lembut di kantor " Gibran kembali pergi dengan tas kerjanya sepertinya dia akan bermalam di kantor malam ini


"Ayah mau kemana? " Tanya Allea saat melihat ayahnya menuruni tangga


"Ayah lembur kerja sayang, kamu baik baik di rumah ya, kalo mau apa apa bilang Aksa" ucap Gibran lalu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Allea


"Nanti malem aku mau nonton sama Max ya"


"Boleh tapi jangan pulang malem malem inget bawa Aksa" mendengar penuturan Gibran Allea melemah


"Iya deh" singkat Allea tidak semangat


.


.


Malam itu Max menjemput Allea dengan mobilnya sesampainya di rumah Allea Max mendengar suara keributan di dalam rumah, dengan tergesa-gesa Max masuk memastikan bahwa Allea baik baik saja


"Ada apa ini? " tanya Max melihat Allea dan Emile bersitegang dengan Aksa di tengah tengah mereka


"Jangan ikut campur ini tidak ada urusannya denganmu" ucap Emile


"Segala sesuatu yang bersangkutan dengan Allea adalah urusan saya" jawab Max


"Cih.. menggelikan kalian bocah ingusan" hardik Emile


"Gak usah di ladenin kita pergi aja" Allea menarik Max untuk pergi


Namun dia kembali berbalik dan berkata pada Aksa " kamu gak perlu ikut, antar aja makanan itu ke kantor ayah " ucap Allea


"Anak sama ibu sama sama kriminal " ucap Allea seraya mengacungkan jari tengahnya pada Emile


"Kembali bocah kurang ajar dasar j*l*ng" teriak Emile yang berusaha mengejar Allea namun di tahan Aksa


Allea duduk di mobil dengan dada naik turun masih emosi, Max mengusap punggung Allea dan memberinya sebotol air mineral


"Kenapa lagi sih? " tanya Max


"Gak ada, gak usah di bahas " ucap Allea


"Oke.. mau makan atau langsung nonton? "


"Langsung nonton aja ya keburu malem kata ayah jangan pulang malem malem" jawab Allea


Malam ini kekesalan Allea terobati dengan jalan jalan bersama sang kekasih, niat awal hanya ingin menonton namun Allea dan Max datang ke beberapa tempat untuk menghibur Allea dan itu berhasil membuat gadis itu kembali tertawa


Max melihat jam di pengelana tangannya sudah menunjukan pukul 10 malam "Astaga aku ada janji sama anak anak di bengkel" ucap Max


"Ya udah kita kesana aja" Jawab Allea


"Gak mau pulang dulu? " Max takut nanti Gibran marah karena Allea pulang larut malam


"Aku gak akan pulang, lagian ayah juga gak ada di rumah dia lembur di kantor"


"Ya udah tunggu bentar disini ya aku mau beliin makanan buat anak anak dulu" Max memesan beberapa makanan untuk di bawa ke bengkel


"Allea apa kabar? " Sam mengulurkan tangannya


"Baik kak, lama gak ketemu" jawab Allea ramah menerima jabat tangan Sam


"Iya.. sejak gue kuliah kita gak pernah ketemu lagi, sama siapa kesini? " tanya Sam


"Sama... temen " Allea sempat menggantung ucapannya dia bingung


"Temen? ayo pulang" ketus Max yang ada di belakangnya


"Oh ini temennya" ucap Sam dengan senyum meledek


"Kak gue duluan ya" ucap Allea yang tangannya sudah di tarik Max dan memasukkannya kedalam mobil


"Temen? kamu malu ngakuin aku pacar kamu? " wajah Max sudah tidak enak di pandang


"Bukan gitu sayang, aku bingung kalo aku jawab sama pacar nanti dikiranya aku pamer" jawab Allea dengan bodohnya


"Bilang aja kamu malu ngakuin aku sebagai pacar kamu atau kamu mau di kira single biar bisa di deketin gitu? " Allea hanya menggaruk tengkuknya dia tidak menyangka Max akan semarah ini


"Gak gitu yang percaya deh sama aku"


"Terserah deh, kalo sejak awal emang kamu malu sama aku mending gak.. " ucapan Max terhenti saat Allea membekap mulutnya


Dengan susah payah Allea pindah duduk di pangkuan Max, gadis ini seolah sedang menggoda untuk meminta maaf


Allea menangkup wajah Max agar menatap dirinya namun Max selalu membuang wajahnya ke arah lain, Allea merasa kesal sendiri Max tidak mau mendengarkan ucapannya apa lagi memandangnya


"Sayang" rengek Allea tapi Max masih dingin menyilangkan tangan di dadanya


Allea berinisiatif melingkarkan tangan Max di pinggangnya dan meraih wajah Max menciumnya lembut bahkan ciumannya turun ke leher serta tangannya yang tidak diam meraba dada bidang Max dan membuka kancing kemeja Max satu persatu


Max terbawa suasana dia mengelus b*k*ng Allea hingga punggung, bahu, dan lengannya, tangan Max mulai menyusup di balik baju Allea mengusap perut rata gadisnya itu. Seperti sihir keduanya terhanyut bermain saling menyentuh dan menyesap


"Eemmhh... akhh Max" Max menyandarkan tubuh Allea ke stir dan menyingkap bajunya


Allea meremas rambut Max dan mengigit bibirnya dengan racauan ketika Max menyesap bergantian kedua benda kenyal di hadapannya, ini pertama kalinya mereka hilang kendali di bakar gelora asmara


Max menghentikan aksinya ketika dia mendapatkan kesadarannya kembali, Max merapihkan kembali baju Allea lalu saling memandang. Wajah Allea sudah memerah dia malu bukan main bisa bisanya dia merintih seperti itu


Hening keduanya merutuki kebodohannya masing masing namun Allea masih tidak bergerak di pangkuan Max, Apa lagi Allea merasakan sesuatu menggeliat di bawah sana keduanya memalingkan wajah sama sama merasa malu


"Sorry" ucap Max


"I.iyy.. ya" jawab Allea


"Ehem.. Kita jalan" ucap Max, Allea kembali ke tempat duduknya


Hening tidak ada yang bicara sesekali Max hanya melirik Allea yang seperti sedang bergumam sendiri menatap keluar jendela


"Kamu marah? " tanya Max memberanikan diri


"Ehh.. eng.. engak" Jawab Allea seraya menggaruk tengkuknya


"Maaf ya aku gak bisa kontrol tadi" lirih Max


"Gak apa apa, tapi kedepannya kita jangan gitu lagi" jawab Allea


"Iya.. kamu juga jangan mancing mancing"


"Iya aku juga gak maksud gitu, tadinya cuma mau bujuk kamu. Aku gak nyangka kamu kayak gitu" jawab Allea


"Kamu yang mulai duluan, kucing di kasih makan ya pasti di makan" ucap Max


"Kalo kamu gak ngambek ngambek kayak gitu aku juga gak akan lakuin hal bodoh" pekik Allea merasa tidak Terima di salahkan


"Hei... kenapa kamu marah marah? emang kamu yang mulai duluan" ucap Max


"Kamu juga harusnya jangan berbuat terlalu jauh" jawab Allea


"Tapikan kamu juga menikmati sampe merem melek"


"Gila, udah diem " teriak Allea memukuli bahu Max


"Dih malu? kan emang bener liat nih rambut aku sampe berantakan kamu remas remas keenakan" goda Max


"Diem.. gak, dieemm" Allea terus memukuli Max yang tertawa selalu menggoda Allea


Jangan lupa like komen dan vote 🥰🥰