
Max pulang dengan rasa kesal karena melihat ibunya yang baru menemuinya niatnya ingin ke bengkel dia urungkan
"Max gak ke bengkel? " tanya Oma
"Gak" singkat Max lalu pergi ke kamarnya
Prang prang prang
Oma terkejut mendengar suara barang pecah di kamar Max dengan tergopoh gopoh Oma naik ke kamar Max memastikan keadaan Cucunya itu
"Max ada apa sayang" Oma menggedor pintu kamar Max
Max tidak menjawab hanya terdengar barang barang kembali pecah
"Biiii bawa kunci cadangan di kamar saya" teriak Oma
Si bibi membawa segenggam kunci cadangan ke pada Oma ketika pintu di buka Oma sangat shok dengan kamar yang berantakan Max duduk di sudut menyangga tangannya yang berdarah dengan lutut
"Ada apa Max bilang sama Oma" Oma berlutut di sebelah Max mengusap bahu remaja itu
"Kenapa saya harus punya mama seperti dia? kalo bisa milih saya gak pernah mau di lahirkan dari rahim seorang perebut suami orang" lirih Max
"Max jangan bicara seperti itu, apa kamu bertemu Mamamu? " tanya Oma
"Kenyataannya Oma... Ya dia datang meminta saya kembali sama dia, dia pikir saya tidak punya perasaan apa? bertahun-tahun dia ninggalin saya dan membuat hidup saya penuh dengan penderitaan dan rasa malu sekarang dia datang kembali seolah tidak punya salah"
"Maafkan Oma"
" Untuk apa Oma minta maaf ini bukan salah Oma "
"Obati dulu lukamu" Max pergi sendiri ke dapur untuk mengobati lukanya
Oma menatap nanar punggung Max yang perlahan menghilang di ambang pintu dia resah entah harus jujur atau tetap diam dia menyayangi Max tapi juga kasihan pada Danendra jika dia di ketahui bukan anak Lidya lantas apa Selvi mau menerimanya atau memperlakukannya sama seperti Max
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu Allea sedang membaca buku di dalam kamarnya Suara mobil di depan rumahnya membuat Allea bangun dan mengintip di jendela
"Hiissh kenapa dia datang kesini" gerutu Allea
"Lea ada tamu" ucap nek Mar mengetuk pintu
"Iya bentar" Allea keluar dari kamar
Danendra sudah duduk di sofa seraya tersenyum kearah Allea, Allea pun membalas senyum Danendra berjalan mendekatinya
"Ada apa? " tanya Allea lembut
"Loh kok nanya ada apa? aku mau ajak nonton kan pagi udah aku bilang" jawab Danendra
"Eemmhh tapi aku lagi males keluar"
"Please temenin aku makan bentar aja, aku belum makan" ucap Danendra memohon
"Oke, tapi jangan malam malam ya"
"janji"
Allea berganti baju dan pamit pada neneknya
sepanjang perjalanan Danendra selalu menggenggam tangan Allea sambil sesekali menoleh menerbitkan senyumnya
"Mau makan dimana? " tanya Danendra
"Terserah kamu aja kan kamu yang mau makan"
"Aku mau makan makanan kesukaan kamu"
"Aku gak punya kesukaan apapun, aku makan apa saja"
"Baiklah kita ke tempat favorit bunda aja" Danendra membawa Allea ke restauran kesukaan bundanya
Sepulang dari sana di perjalanan pulang Danendra berhenti di sebuah jembatan yang memiliki pemandangan yang bagus di atas sana terlihat sungai dan kota kota yang bercahaya di kegelapan malam
"Cantik ya" wajah Allea berbinar kala melihat pemandangannya
"Iya sangat cantik" jawab Danendra tapi menatap Allea
Allea menoleh ke arah Danendra yang menatapnya dengan senyuman, tampan memang tapi Allea merasa enggan di tatap seperti itu oleh Danendra
Allea menutup wajah Danendra dengan tangannya membuat Danendra terkekeh menurunkan tangan itu
"Jangan gitu liatinnya"
"Kenapa? "
"Aku malu "
"Kamu cantik Allea"
"Lihat pemandangan yang bagus"
Allea menoleh pada tangan yang merangkul pundaknya lalu menoleh pada Danendra di sebelahnya, Danendra perlahan membawa Allea mendekat hingga mengikis jarak diantara mereka hembusan nafas Danendra membuat Allea tersadar hingga mundur beberapa langkah
"Sorry Danendra, mungkin ini terlalu cepat" ucap Allea
"Gak masalah, aku yang harus minta maaf.. kamu memang beda dengan wanita kebanyakan" ucap Danendra tersenyum mengelus pucuk kepala Allea
"Boleh aku peluk? " tanya Danendra merasa tidak enak akhirnya Allea hanya mengangguk
Sejenak Danendra memeluk Allea, Allea ragu membalas pelukannya tangannya terangkat perlahan mengusap punggung Danendra
"Kita pulang" ucap Allea membuat Danendra melepaskan pelukannya
"Oke gadis manis" Danendra menuntun tangan Allea masuk ke dalam mobil
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah seperti biasa Allea bercanda dengan kelima sahabatnya namun bedanya sekarang ada Yuki yang ikut bergabung meskipun tidak mengerti apa yang mereka bahas hingga tertawa sedemikian rupa namun dia terpaksa bergabung karena tidak ada teman dan juga demi bisa melihat Max dari dekat
Terbukti dia tidak terlalu mencermat obrolan yang lain dia hanya memandangi Max yang sesekali malah memandangi Allea, Yuki memandang Allea apa yang menarik dari Allea hingga Max terlihat cukup dekat dengan Allea meskipun dengan wajah ketusnya
"Allea gue semalem liat lo sama Danendra, ehem ehem" celetuk Sandro
"Diem gak lo jangan suka gosip pagi pagi" pekik Allea membuat semua temannya meledek
"Emang lagi ngapain? " sahut bagas
"Kepo lo" hardik Sandro
"Si anjim pengen gue getok tu pala pake cangkul" ujar Bagas seraya menoyor kepala Sandro membuat yang lain tertawa
Tanpa sadar tangan Allea yang terbiasa memukul saat tertawa memukul tangan Max yang di perban posisi duduk Allea menyamping hingga menghadap Gita, Max hanya meringis kecil menarik tangannya yang baru saja di pukul Allea, Dito dan Bagas yang ada di depan Allea melongo hingga memberi kode pada Allea
"Ya ampun sorry Max gue gak sengaja" ujar Allea bangkit dari tempat duduknya menuju kursi Max
Allea mengambil tangan Max yang terbungkus perban luka itu sepertinya kembali mengeluarkan luka hingga perbannya ada bercak merah cukup banyak
"Max gue minta maaf banget, ayo gue bantu ganti perbannya" ucap Allea
"Gak usah " ketus Max menarik tangannya dari Allea
"Ayolah Max gue gak akan tenang sebelum itu di obati, lagi lagi gara gara gue lo luka" mendengar perkataan Allea Yuki mengernyitkan keningnya
"Beberapa terluka karena Allea, apa Max suka sama Allea" batin Yuki
"Ayo cepet" Allea malah menekan lukanya tapi Max hanya menatapnya dingin
Kelima temannya sudah pucat melihat kelakuan Allea, takut takut Max malah marah padanya namun siapa sangka saat Allea menarik tangan Max dia hanya diam dan mengikuti langkah Allea
"Memang Allea pawangnya Max" gumam Bagas dapat di dengar temannya
"Iya meskipun sempat jauh jauhan tapi tetep aja pada perhatian" ucap Dito
"Kadang gue heran sama mereka punya perasaan masing masing apa engga sih? " tanya Desta namun temannya hanya menggedikkan bahu
"Tapi di lihat dari pengorbanan Max yang rela luka luka nolongin Allea berkali kali gue rasa dia suka sama Allea, tapi... " ucapan Gita terpotong
"Tapi apa? " ucap temannya serempak
"Tapi gue gak yakin sama Allea dia punya pacar, kalo soal baiknya jangan di tanya dia baik sama semua orang, iyakan Yuki lo juga merasa Allea baik sama lo yang baru di kenal? " tanya Gita membuyarkan lamunan Yuki
"I.. iiya" jawabnya
Di UKS Allea membuka perban Max dan membersihkannya terlebih dahulu memberikan obat merah lalu menutupnya lagi dengan perban
"Tangan lo kenapa? " tanya Allea
"Gak apa apa" singkat Max
"Kenapa lukanya sebanyak ini? "
"Bawel" Max menarik tangannya yang sudah selesai di perban
"Gue cuma nanya, bisa gak sih Max gak usah ketus sama orang? coba membuka diri gitu buat orang lain" ucap Allea
"Gue gak suka.. gue lebih suka buka yang lain" Max menyeringai mendekati Allea
"Max jangan becanda" Allea beringsut mundur
"Mau coba? " goda Max
"Gak lucu" Allea memukul tangan Max hingga dia meringis
"Sorry sorry gue refleks" Allea mengambil tangan Max lalu di tiupnya
Max menyunggingkan senyum nya samar nyaris tidak terlihat, Allea masih meniup luka itu dan Max masih setia menatap Allea, Allea membalikkan tubuhnya ke belakang sejenak untuk mengambil pulpen
Max mengernyitkan keningnya melihat Allea membuka tutup pulpen dan mulai menulis di perban Max 'get well soon' tulis Allea disana
"Ke kelas yok" Allea berjalan lebih dulu meninggalkan Max yang mematung
Max membaca tulisan itu seraya tersenyum lebar baru kali ini dia bisa tersenyum begitu manis hanya karena perlakukan kecil dari Allea