
"Lo.. ngapain kesini? "
Allea menyuruh bibi masuk lebih dulu karena dia harus mengusir Jonathan sebelum Max turun
"Hai.. jadi ini rumah lo ya? " tanya Jonathan
"Darimana lo tau gue disini? "
"Gue ngikutin lo sama pacar lo, ternyata kalian masih tinggal bareng"
"Pergi sekarang, jangan buat keributan" usir Allea namun Jonathan masih tetap berdiri di hadapannya
"Tamunya gak di ajak masuk gitu? sebagai tuan rumah yang baik" Allea memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Jonathan
"Pergi.. Max ada di rumah jangan macem macem" Allea mendorong tubuh Jonathan agar pergi
"Jadi kalo gak ada gue boleh macem macem? " goda Jonathan
"Pergi sekarang" Allea kembali mendorong Jonathan namun karena kakinya sakit dia terhuyung dan jatuh di pelukan Jonathan
Jonathan menahan pinggang Allea sejenak mereka saling menatap, entah keinginan dari Allea begitu ingin menyentuh rambut Jonathan yang berdiri seperti Duri landak. tangannya terulur menyentuh rambutnya Jonathan sesaat kemudian suara seseorang mengagetkan keduanya
"Ehemmm.. " Allea segera bangun dan terpincang-pincang berjalan menjauh dari Jonathan
"Pak.. usir orang ini" Max memanggil Scurity Menyuruhnya mengusir Jonathan
"Hei.. gue tamu bro, masa lo perlakukan tamu kayak gitu"
"Maaf jangan buat keributan" Scurity menggiring Jonathan keluar
Max menarik kasar tangan Allea masuk ke dalam rumah lalu menghempaskannya kasar hingga duduk di sofa, Allea meringis kala kakinya terasa nyeri perban nya sedikit mengeluarkan darah
"Kamu ngapain tadi? " ketus Max
"Aku gak ngapa ngapain aku tadi jatuh waktu mau usir dia" jawab Allea
"Cih.. usir? begitu cara ngusir orang? harus peluk peluk pegang pegang? kamu pikir aku buta kamu pegang pegang rambutnya" bentak Max
"Aku.. aku.. gak bermaksud.. "
"Diam.. kamu udah mulai berani sekarang sentuh cowok lain" bentaknya semakin keras membuat Allea terlonjak sampai bibi pun keluar mendengar teriakan Max
"Jangan nangis.. apa apa nangis kebiasaan banget, kamu nangis kenapa? gak rela aku suruh dia pulang? " mendengar setiap bentakan Max Allea hanya menangis tanpa menjawab setiap tuduhan Max
"Kamu gak pernah mau dengerin aku, kamu keras kepala, sekarang kamu di pegang pegang cowok lain, giliran di salahin nangis, kamu pikir aku punya kesabaran sebesar apa? "
"Jangan pikir aku takut sama kamu, aku selalu ngalah cuma karena lihat kamu sebagai perempuan lemah bukan takut"
"Sepertinya aku butuh waktu buat sendiri" lanjut Max berbalik hendak pergi, dia terlalu kesal dia takut kata katanya akan semakin menyakiti Allea
Allea segera memeluk lengan Max menahannya agar tidak pergi, Melihat Allea berinisiatif menyentuh laki laki lain membuat Max meradang dia menepis tangan Allea hingga Allea tidak bisa menahan diri dan jatuh
"Max.. jangan pergi.. jangan tinggalin aku.. hiks.. hiks.. " Allea menangis kencang saat melihat Max keluar membanting pintu
"Nyonya ayo bangun" Bibi membantu Allea sampai masuk ke kamarnya
Bibi bingung bagaimana harus menenangkan Allea yang tidak berhenti menangis, jika menelpon ayahnya maka masalah akan semakin rumit bibi akhirnya hanya mondar mandir di depan pintu kamar Allea
"Nyonya makan malam dulu.. nyonya sudah terlalu lama menangis" ucap bibi memberanikan diri masuk ke kamar Allea
"Max gak jawab telepon aku bi.. dia kemana? aku mau dia pulang.. hiks.. hiks.. "
"Jangan buat bibi khawatir nyonya, makan dulu sedikit ya.. nanti tuan juga pulang dia cuma lagi cemburu aja" bujuk Bibi
"Kalo dia gak pulang gimana bi? aku gak bisa tidur kalo gak ada dia, aku gak mau makan aku mau dia pulang" rengek Allea
Bibi di landa kebingungan menelpon Max juga tidak kunjung di jawab, malam semakin larut Allea masih tidak berhenti menangis dia juga menolak makan
Bibi menemani duduk di tepi ranjang sambil terus berusaha menelpon Max, kemudian Allea menyuruhnya melakukan panggilan video
Di club malam miliknya Max sedang nikmati wine duduk sendiri di kursi bar, dia baru sadar bibi menelponnya beberapa kali akhirnya dia menjawab telponnya
"Kenapa bi? " tanya Max
"Nyonya gak berhenti menangis tuan, nyonya juga belum makan" ucap Bibi
"Hai.. Max" seseorang tiba tiba muncul dari belakang mencium rahang Max, Allea tentu
melihat itu karena bibi melakukan panggilan video
Dentuman suara musik yang keras juga melihat Arabella tiba tiba mencium Max di tambah Max langsung mematikan sambungan teleponnya membuat pikiran Allea memikirkan hal yang macam macam
"Lo berani.. " Max menatap Arabella nyalang, berani beraninya dia menciumnya
"Usir dia.. dan pastikan dia tidak bisa masuk kesini lagi" perintah Max pada anak buahnya
"Max tunggu jangan usir gue Max.. gue sayang sama lo" teriak Arabella yang mabuk di seret anak buahnya keluar
Max menjadi khawatir dengan keadaan Allea yang belum makan dia segera bergegas pulang, Sesampainya di rumah Max melihat bibi mondar mandir di depan pintu kamarnya
"Gimana bi? " tanya Max
"Nyonya nangisnya makin menjadi tuan, dia gak mau di ganggu" tanpa mendengar perkataan bibi selanjutnya Max masuk ke dalam kamar
Dia melihat Allea tidur menyamping memunggungi pintu, tangisnya terdengar tersedu-sedu Max merebahkan dirinya di belakang Allea sambil memeluknya
"Sayang kamu belum makan? " tanya Max, Allea tidak menjawab dia berusaha menjauh tidak ingin bersentuhan dengan Max
"Pergi.. aku gak mau deket deket sama kamu, kenapa kamu pulang? kenapa kamu gak habiskan waktu kamu mabuk sama cewek cewek itu? " Allea menangis meraung
"Sayang itu gak seperti yang kamu pikir" Ucap Max namun Allea tidak mau dengar dia menutup telinganya
Max menarik tangan Allea dari telinganya dan membalikkan tubuh Allea hingga terlentang
Plak plak
Allea menampar wajah Max bolak balik dia meringis memegangi rahangnya, Max tidak ingin menambah masalah dia merebahkan tubuhnya di samping Allea dan tidur dengan posisi memunggunginya tidak peduli seberapa kerasnya Allea memukuli punggungnya
Karena pengaruh minuman dia tertidur dengan mudah meskipun punggungnya di pukul bertubi tubi, Karena kelelahan akhirnya Allea juga menyusulkan Max ke alam mimpi keduanya tidur dengan keadaan tidak baik baik saja
.
.
Pagi pagi Allea di bangunkan dengan suara seseorang yang sedang muntah, Allea mengucek matanya menatap sekeliling ternyata Max yang sedang berada di kamar mandi
Bukannya membantu Allea yang masih kesal pergi keluar meninggalkan Max "Bi tanya Max mau di bikinin apa, dia muntah muntah di kamar" titah Allea
Beberapa saat kemudian Max turun berjalan gontai menghampiri Allea yang sedang duduk nonton TV, dia merebahkan kepalanya di pangkuan Allea tubuhnya berkeringat dengan wajah pucat
"Kamu kenapa gak bantu aku? aku lemes sayang" lirihnya menyembunyikan wajahnya di perut Allea
"Aku jijik makanya aku gak bantu" jawab Allea
"Jijik? kamu tega banget, aku menderita sayang" ucapnya manja
"Telepon dokter selesai kan? atau pergi lagi ke bar minum yang banyak" ucap Allea penuh sindiran
"Gak.. gini aja aku udah nyaman" Max kembali menyusupkan wajahnya ke perut Allea
"Bi.. panggil dokter" titah Allea tanpa mendengarkan rengekan Max yang tidak mau di periksa
"Jangan manja" ketus Allea
Jangan lupa like, komen, vote dan dukungan lain ya..
Jadikan favorit juga, dukungan apapun dari kalian sangat berarti buat author