My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Perubahan Max



Allea dan Max sampai di tempat yang allea maksud


sebuah danau dengan rumput hijau yang mengelilinginya, Allea menarik tangan Max agar ikut duduk di tepi danau


"Indah kan? gue suka disini" ucap Allea


"Hhmm" singkat Max membuat Allea menoleh


"Max.. " panggil Allea


"Ya"


"Gue tau lo sodaraan sama Danendra.. "


"Stop Allea jangan bahas ini gue gak suka"


"Justru lo harus dengerin gue Max, Gue tau dari Danendra dan menurut gue lo gak seharusnya menarik diri dari keluarga lo bunda sayang sama lo Max"


"Lo gak tau apa apa Allea gue.. gue.. anak haram dan gue yang buat keharmonisan keluarga itu hancur, gue anak haram"


"Lo gak bisa Salahin diri lo sendiri, seorang anak tidak berdosa dan tidak seharusnya menanggung dosa orang tuanya bukan? yang haram itu perbuatan mereka bukan lo"


Allea merebahkan dirinya di rumput hijau itu begitu pun Max mengikuti Allea mereka berbaring berlawanan hingga kepala mereka berdua terbalik


"Max hidup kita gak jauh berbeda" ucap Allea


"Ayah gue masih hidup dan gak mau tau sama sekali soal gue dan almarhum ibu gue, dia sibuk dengan keluarga barunya dan membuang gue dan ibu"


Max menoleh Allea yang wajahnya tepat berada di sampingnya wajah cantik dengan hidung mancung dan bibir yang mungil juga menoleh berhadapan dengan Max tanpa sadar Max tersenyum manis membuat Allea ikut tersenyum


"Ternyata lo bisa senyum juga" ucap Allea


Wajah Max menjadi merah padam membuang wajahnya ke arah lain Allea tertawa melihat ekspresi Max yang sedang malu


"Malu lo kayak anak perawan mau di lamar" goda Allea seraya duduk


Max menengadah melihat Allea yang ada di atas kepalanya, Max menggeser tubuhnya hingga kepalanya ia letakkan di paha Allea. sekarang wajah Allea yang bersemu merah


"Malu lo kayak anak perawan mau di lamar" balas Max


"Gue emang masih perawan" celetuk Allea


"Massa? gak percaya gue kalo gak di coba" ucap Max dengan frontal


Tak


Allea menjitak kepala Max namun yang di jitak hanya cengengesan Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan, Max tidur di pangkuan Allea sementara Allea memainkan rambut Max


"Besok malem gue ada pertandingan basket lo mau ikut gak? " ajak Max


"Lo ngajak gue? " tanya Allea konyol


"Lah iya emang ada siapa lagi disini? "


"Hehe kali aja lo latihan mau ajak cewek lain"


"Gak ada cewek yang mau deket sama gue" seloroh Max


"Itu karna lo galak, dingin, ketus, kayak es batu" ucap Allea menunjuk nunjuk kening Max


"Gue gak mau deket sama orang lain, mereka hanya baik saat lo punya segalanya dan saat mereka tau lo terpuruk mereka akan menjauh"


"Gue dulu banyak temen tapi setelah mereka tau gue anak haram satu persatu dari mereka menjauh" lanjut Max


"Terus kenapa lo mau deket sama gue? " tanya Allea


"Karna lo tau semua tentang gue tapi masih mau berteman sama gue, lo itu orang langka di kehidupan gue" jawab Max


"Gue ada satu permintaan" ucap Allea


"Apa? " Max menatap wajah Allea


"Coba buka diri lo buat orang lain, jangan ketus aja dulu dan mulai senyum" ucap Allea menarik kedua sudut bibir Max dengan jarinya


"Kenapa gue harus lakuin itu?" tanya Max


"Biar lo ada temen Max, tapi lo punya tim basket? "


"Punya, mereka cuma butuh gue selebihnya kita gak ada komunikasi lain selain masalah pertandingan"


"Hidup lo gak asyik Max" cicit Allea


Max hanya tersenyum tanpa menanggapi ocehan Allea, Max memejamkan matanya menyilangkan tangan di dadanya


"Max kok malah tidur" gerutu Allea


"hhmm suara cempreng lo merdu" jawab Max


"Pulang yuk" ajak Allea


"Ayok" Max berdiri mengulurkan tangannya pada Allea


"Besok malam jadi ikut gak? "


"boleh juga bosen di rumah terus"


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Keesokan harinya semua murid di sekolah menatap heran pada sosok yang berjalan di Koridor


tidak sedikit dari mereka yang terpesona melihat senyumnya ada seseorang yang tersenyum bangga saat melihat sosok itu mendekati pintu kelas


"Pagi Max " ucap Allea yang berdiri di ambang pintu


"Pagi Allea" ucap Max dengan senyuman manis


banyak yang berbisik bisik tentang ke tampanan Max


Max yang dingin saja begitu tampan apa lagi tersenyum seperti itu


Max dan Allea duduk di kursinya ke lima sahabatnya menatap Allea penuh tanda tanya


"Allea lo kasih apa si Max kemarin? " bisik Gita menarik tangan Allea


"Lo kasih sun ya? " cicit Bagas yang ikut nimbrung


"Dasar oon" Allea menoyor kepala Bagas


"Sumpah Allea gue liat dia senyum kayak aneh banget" ucap Dito


"Tapi ganteng" ucap Gita


Mereka berenam bisik bisik cengengesan di meja Allea Max yang melihat itu ikut mencondongkan tubuhnya di atas kepala Allea


"Ngomongin apaan? " suara itu sukses membuat mereka tercekat


Dengan wajah takut dan senyum kikuk mereka mendongak menatap Max Allea mengambil tangan Max dan menyuruhnya ikut bergabung di dekat Bagas di samping Allea


"Gabung sini Max" ucap Allea


"Kenapa jadi pada diem? gak suka ya gue ada di sini? " tanya Max melihat mereka bungkam


"Ehh enggak kok kita malah seneng akhirnya lo bisa gabung sama kita, iya kan? " ucap Dito


"Iya."


"Bener bAnget" ucap mereka bersahutan "


"Lo berlima punya cafe kan? " tanya Max


"Ya cafe kecil kecilan"


"Pulang sekolah gimana kalo kita makan disana? gue teraktir" ucap Max


"Lo yakin? "


"Yakin lah " Sandro memegang dahi Max


Yang lain sudah tampak wajah cemas saat Sandro menyentuh dahi Max, Max hanya mengernyitkan dahinya dan setelah Sandro melepas tangannya Max malah ikut ikutan menyentuh dahinya sendiri


"Kenapa sih? " tanya Max


"Gue kira lo sakit abis berubah banget" ucap Sandro


"Gue berterima kasih sama kucing kecil ini udah buka mata gue" Allea mengacak pelan rambut Allea lalu pergi


"Aaa baper" cicit Gita dengan manja memegangi dadanya


"Gue rela jadi kucing kecil biar di elus elus" lanjut Gita membuat Allea salting


"Max ngapain ngomong gitu sih mereka jadi liatin gue gitu" batin Allea saat murid perempuan memandang sinis ke arahnya


Sepulang sekolah Max dan Allea geng bersiap hendak pergi namun saat Allea hendak naik motor Max Danendra mencekal tangannya


"Turun" otomatis Allea langsung turun


"Ayo pulang" Danendra menarik tangan Allea ke mobilnya


"Bentar aku udah janji sama mereka mau makan di cafe " Allea menepis tangan Danendra


"Aku bisa ajak makan di cafe mana pun kenapa kamu harus pergi sama dia"


"Kalem gak usah bentak bentak gitu dong sama cewek" Max turun dari motornya melihat Allea di bentak Danendra


"Ini gak ada urusannya sama lo"


"Jelas ada dia temen gue"


"Ohh jadi punya temen lo sekarang? "


"Stop... kalo kamu mau ikut ikut aja gak usah berantem disini malu di liatin orang" Allea berada di tengah tengah keduanya


"Waahh cinta segitiga bentar lagi bakal benar benar terjadi" ucap Dito yang di angguki teman temannya di mobil


"Guys kita berangkat duluan aja, biarkan mereka selesaikan percintaan mereka dulu" ucap Max pada teman Allea yang berada di mobil


"Oke.. "


"Let's Go"


"Lea kita duluan" ucap temannya bersahutan


"Jadi Max bagian dari kamu sekarang? " tanya Danendra penuh penekanan


"Iya.. please Danendra jangan batasi aku berteman dengan siapa pun, Max gak seperti yang kalian kira dia baik"


"Tapi aku takut dia rebut kamu dari aku"


"Itu gak Mungkin Danendra, dia cuma butuh teman lihat sekarang sikapnya lebih terbuka"


"Terserah kamu, tapi kalo dia rebut kamu dari aku jangan salahin aku kalo aku buat perhitungan sama dia"


"Jadi kamu gini ya aslinya, aku cukup tau aja" Allea berjalan meninggalkan Danendra


"Allea tunggu.. kamu mau kemana? " Danendra mengejar Allea menahan tangannya


"Aku mau ke cafe mereka"


"Oke aku antar" Danendra menarik tangan Allea masuk ke mobilnya