My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Aku kotor



Cindy mengunjungi Celine saat makan siang di kantor tempatnya bekerja, Celine tampak terkejut dengan kedatangan Cindy


"Cindy.. " Celine berdiri dan berlari memeluk Cindy


"Kemana aja lo? udah lupa sama gue? " Cindy pura pura merajuk bahkan tidak membalas pelukan Celine


"Gak sama sekali.. gue minder mau nemuin kalian, gue bukan apa apa di banding kalian yang sukses dan punya suami kaya, gue takut kalian gak mau temenan sama gue lagi" Allea menyentil kening Celine membuatnya meringis


"Dasar bego, mana mungkin gue kayak gitu" ketika mereka sedang berbincang Max melewati mereka


"Hai Max" Cindy menyapa nya


"Hhmm" Singkat Max hanya menoleh sekejap


"Bos lo kenapa? "


"Gak tau.. pagi ini semua orang kena marah" jawab Celine berbisik


"Kenapa? lo juga di marahin? "


"Heem.. gak tau emosinya lagi buruk jangan di senggol entar di penggal pala lo" ucap Celine


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Max pulang sangat larut dia menunggu Allea hingga tertidur, ternyata dugaannya salah Allea masih terjaga menyusui Exel


"Kenapa baru pulang? udah makan? " tanya Allea


"Udah, kenapa belum tidur? "


"Exel nangis terus, ini baru tidur" Allea perlahan menurunkan Bayinya di box bayi


Allea menghampiri Max yang sedang duduk di sofa tangannya dengan cekatan melepas sepatu Max juga melepaskan kancing kemeja Max satu persatu


"Capek ya? mau aku pijat? " tanya Allea


Max menoleh dan tersenyum wajahnya mendekat mengikis jarak diantara mereka, namun gaun tidur bagian depan Allea melorot dan kembali memperlihatkan tanda merah itu


Allea nyaris mencium Max namun dia memalingkan wajahnya dan menjauh, Max pergi begitu saja bahkan membanting pintu hingga Exel kembali menangis


"Sebenarnya apa yang salah? apa dia jijik? " lirih Allea seraya mengambil Exel dari box bayi


"Apaan tadi? " para suster dan bibi keluar mendengar suara pintu di banting keras


"Berantem lagi ya? "


"Udah masuk.. masuk" Bibi menyuruh semua orang masuk


Setelah menidurkan Exel kini Allea ragu ragu membuka pintu ruang kerja Max, ketika pintu terbuka Max terlihat sedang duduk menyamping menatap keluar jendela dengan rokok yang masih menyala di tangannya


"Apa aku ada salah? maaf.. " Allea duduk di belakang Max menyandarkan kepalanya di punggung Max


"Aku lagi ngerokok bisa keluar gak? "


"Kenapa sejak pertunangan Bisma kamu jadi menghindar dari aku, apa karena gaun itu? aku minta maaf" lirih Allea


"Aku gak menghindar aku cuma lagi capek, kerjaan banyak.. sana pergi tidur"


"Aku mau tidur sama kamu" Allea memeluk suaminya


"Tidur sebelum Exel kembali bangun, kamu butuh istirahat" Max mengusap kepala Allea yang menempel di punggungnya


"Kamu jijik sama aku? aku buat kesalahan apa? " Lirih Allea


"Udah aku bilang, Aku gak jijik dan gak marah, kamu gak lakuin kesalahan apapun, sekarang tidur jangan banyak bertanya lagi"


"Max.. liat aku" Max tidak juga menoleh hingga membuat Allea kesal dan menarik kerah bajunya


"Bilang kalo aku salah atau kamu bosen dan jijik sama aku, seenggaknya aku bisa tau diri dan gak akan ganggu kamu lagi" Allea terisak dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Max sekarang


"Kamu butuh istirahat, pergi tidur jangan pikirin apapun" ucap Max


"Gimana aku bisa tidur? gimana aku bisa tidur kalo kamu terus menerus menghindar dan seolah gak mau bertatapan langsung sama aku? bahkan kamu kadang bersikap kasar sama aku, aku harus apa Max? aku harus apa? " Allea mengguncang tubuh Max lalu akhirnya membenturkan kepalanya ke dada bidang Max


"Allea.. pergi tidur, aku capek " tanpa menenangkan Allea Max menjauhkan tubuhnya dan berbalik membelakangi Allea


Tanpa Allea sadari Max meneteskan air matanya dia merasa gagal menjadi seorang suami, gagal melindungi istrinya dan gagal sebagai pemimpin untuk mempertahankan kehormatan sang istri


"Aku harus apa? aku gak mau kamu terus menerus diemin aku, Aku salah sama kamu maaf.. maaf Max, tolong jangan gini" Allea menangis menarik ujung baju suaminya


"Aku merasa gagal Allea... aku gak becus jaga keluargaku sendiri, aku malu sama diri aku sendiri, aku pemimpin yang gagal, aku marah sama diri aku sendiri" lirih Max


"Kamu ngomong apa sih? kamu udah lakuin yang terbaik.. kamu pelindung buat aku sama anak anak"


"Kalo aku pemimpin yang baik gak mungkin itu terjadi, gak mungkin kamu... " Max menggantung kata katanya


"Aku? aku kenapa? " tanya Allea


"Keluar Allea, aku mau sendiri jangan ganggu aku" Allea benar-benar tidak mengerti apa yang di katakan suaminya


"Aku gak ngerti sumpah.. aku gak ngerti ini ada apa sebenarnya? " Allea memutar tubuh Max agar berhadapan dengannya


Max melihat tanda itu lagi dia membayangkan bagaimana Satya mencumbu istrinya, bagaimana Satya menyentuh istrinya dan bagian apa yang sudah dia cium dan sentuh


"Keluar" Max menyeret Allea dan mendorongnya ke luar lalu mengunci pintunya


Allea mematung dengan air mata membasahi pipinya dia tidak mengerti mengapa suaminya seperti membenci dirinya, Allea memutuskan untuk menunggu duduk di lantai bersandar pada dinding


Pagi hari saat Max keluar dari ruangan kerjanya dia terkejut melihat Allea tidur sambil duduk di dekat pintu, Max membawa Allea kembali ke kamar mereka dan menutup tubuhnya dengan selimut


"Maaf sayang.. aku gak marah sama kamu, aku marah sama diri aku sendiri, bayangan itu selalu muncul di benakku" gumam Max kemudian mencium kening Allea dan pergi mandi


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Pagi ini Max datang sangat pagi dan aura dingin kembali menyelimuti kantor, Suasananya menjadi hening bak kuburan


Semua menundukan kepala saat Max melewati mereka dengan wajah super duper menyeramkan, Celine juga takut melihat Aura Max pagi ini dia tahu betul seperti apa teman sekolahnya itu


"Panggil staf keuangan sekarang" ucap Max ketika melewati Celine


Setelah Max masuk Celine segera berlari dan menelpon untuk memanggil staf keuangan, Setelah beberapa saat Staf keuangan masuk dia keluar sambil menangis terisak


"Max kenapa sih akhir akhir ini? apa dia berantem sama Allea? " batin Celine


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Setelah bangun dari tidurnya Allea membuka sebuah pesan yang di kirim nomor tidak di kenal, potongan sebuah rekaman CCTV yang terjadi malam itu di hotel


Tangis Allea pecah dia luruh di lantai kebingungannya tentang sikap Max sekarang dia ketahui, Dia berpikir Max jijik padanya karena dia sudah ternoda oleh laki laki lain


"aku kotor... aku kotor" Teriak Allea di sela isak tangisnya


Allea memukul wajahnya sendiri juga menggodok dan mencakar tubuhnya di bawah guyuran air, Dia benar benar malu dia ketakutan Max akan meninggalkannya


"Aku kotor.. jijik.. aku gak mau.. aku gak mau" Allea berteriak di kamar mandi


Allea tidak keluar pagi itu membuat para suster dan bibi kebingungan pintu kamarnya juga di kunci, belum lagi anak anaknya yang rewel meminta bertemu ibunya


Beruntung sebelum ke kantor Max sudah membawa Exel pada susternya, namun sekarang tiga anak yang masih balita itu rewel meminta di antar ke ibu mereka