My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Max kembali



"Max" Gibran dan Ririn spontan menyebut namanya bersamaan


Tiba tiba Max memeluk keduanya yang masih kebingungan, Allea mengira itu adalah Alexander yang sengaja datang mengaku sebagai Max


"Bisa bicara sebentar? " Tanya Max, Ririn dan Gibran hanya mengangguk dengan wajah cengo di giring keluar oleh Max


"Cih.. Pintar sekali dia menipu orang" Gumam Allea kembali tidur, dia tidak ingin berurusan dengan Alexander baginya semua sudah selesai


Karena terlalu lama mengobrol dengan Gibran dan Ririn saat dia kembali ke kamar Allea ternyata sudah tidur


Max ikut berbaring menyamping memandangi wajah Allea


Tangannya terulur membelai wajah Allea juga mengambil tangannya dan mengecupnya 


"Apa yang kamu lakukan? " Tanya Allea seraya mendorongnya


"Aktingku bagus bukan? Orang tuamu percaya"  Jawab Max kemudian memeluk Allea


"Lepaskan aku brengsek"


"Jangan galak galak sayang kamu lagi hamil"


"Pergi Alexander jangan menggangguku lagi" Max hanya tersenyum


"Kamu gak kenal suami kamu sendiri? " Tanya Max


"Walaupun wajah kalian mirip tapi kalian berbeda jangan samakan pria brengsek seperti dirimu dengan suamiku" Hardik Allea namun Max malah terkekeh


"Aku Max.. Kamu gak percaya? "


"Aku gak akan percaya omongan kamu" Jawab Allea


"Aku pernah buatkan kamu album foto" Max menyebutkan foto apa saja yang ada di sana bahkan secara detail, Allea mematung menatap mata Max


"Apa ini mimpi? Bagaimana bisa? " Allea menangis menutupi wajahnya


"Ssttt.. Jangan menangis" Max membuka tangan Allea yang menutupi wajahnya


"Nanti aku ceritakan, ayah dan mama udah tau sekarang ada hal lain yang harus aku kerjakan" Lanjut Max


"Hal lain apa? " Tanpa bicara Max mencium bibir Allea, Alexander menggulingkan tubuh Allea berada di atasnya


"Aku kangen sama kamu, obati sedikit rasa kangen aku, bisa kan? " Pandangan nakal Max membuat Allea malu


"Sepertinya kamu lupa aku suka yang bagaimana"


"Aku suka suara kamu seperti ini"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Bi... Ini masakannya kenapa gak di terusin? " Ririn memanggil bibi yang tak kunjung keluar


Ririn akhirnya mengetuk pintu bibi lalu pintu sedikit terbuka menampakkan bibi yang hanya menyembulkan kepalanya sedikit


"Bibi kenapa sih? " Tanya Ririn 


"Ada Hantu nyonya besar, tangannya dingin dia mirip tuan Max" Bibi bicara dengan mata membulat


"Aaa.. Itu dia hantunya di belakang bibi" Teriak Ririn sontak saja bibi melompat keluar dan bersembunyi di belakang Ririn


Ririn tertawa memegangi perutnya yang terasa keram karena terus tertawa


"Mana ada hantu bi, cepet beresin masaknya nanti suamiku marah" Ucap Ririn


"Nyonya temenin saya ya? " 


"Kamu merintah saya? " Tanya Ririn menunjuk dirinya


"Iya.. Ehh.. Enggak saya mana berani, maksud saya tolong temenin disini nyonya saya takut"


"Ya udah sana masak saya duduk disini" Ririn duduk di meja makan menemani pembantunya masak


"Bi.. Bi.. Kamu udah tua kok masih takut hantu" Ucap Ririn seraya membelah apel yang di pegangnya


"Ini beneran nyonya besar, dia ketuk pintu subuh subuh terus pegang tangan saya dingin banget, kan saya jadi ngeri" Jawab bibi


"Ya gimana gak dingin orang dia baru turun dari pesawat langsung kesini" Ucap Ririn


"Maksud nyonya? "


"Dia beneran masih hidup bi.. Seseorang memalsukan kematiannya, dia hilang ingatan selama lima tahun karena pengaruh obat yang di berikan susternya atas perintah wanita jahat itu" Ucap Ririn


"Wanita jahat siapa? "


"Aku malas menyebut namanya, kalo aku tahu dia seperti ini aku tidak akan membesarkannya, aku menyesal menyayanginya" Lirih Ririn mengingat sosok Yuki


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Dimana kalian? " Tanya Nola pada suster


"Saya di rumah sakit, jangan telepon dulu saya diawasi tuan Daniel" Jawab suster


"Siapa yang sakit? "


"Ellia.. Tuan sedang ada pekerjaan jadi menyuruh tuan Daniel menjaga Ellia"


"Di tugaskan perusahaan pergi ke luar negeri"


"Bagaimana dengan wanita itu? " 


"Setelah bertengkar dia pergi dari rumah membawa anaknya, sepertinya saya mendengar dia meminta tanggung jawab tuan"


"Tanggung jawab apa? "


"Sepertinya dia hamil, akhir akhir ini dia mengeluh mual pusing juga lemas"


"Lalu bagaimana tanggapan Alexander"


"Seperti tuan menolak bertanggung jawab makanya mereka bertengkar"


"Bagus.. Jadilah pria brengsek Alexander"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Diem geli" Max terus mengusak kepalanya ke leher Allea


"Aku kangen sama kamu, buat hari ini aku gak mau kemana mana, gak usah mandi udah gini aja" Ucap Max seraya memeluk dan menciumi istrinya


Allea tertawa kegelian dengan tingkah Max yang mencium seluruh tubuhnya, terakhir Max mencium bibir Allea namun mereka terlonjak saat pintu tiba tiba terbuka


Ello masuk tanpa mengetuk pintu dia belum mengetahui jika Ayahnya sudah kembali, melihat tatapan Ello yang menatap mereka dingin Allea menutup seluruh tubuh polosnya dengan selimut


"Opa suruh aku manggil mama buat sarapan" Ucapnya lalu pergi menutup pintu dengan cara membantingnya


"Kenapa dia? Bukannya dia selalu senang ketemu kamu? " Tanya Allea


"Dia marah karena kamu nangis terus, kamu tau? Dia nulis surat dan menempel nya di pintu rumah kamu"


"Apa isi suratnya? "


"Nih baca sendiri" Max meraih celananya lalu mengeluarkan sebuah kertas


"Haahaa.. Anakku pintar sekali" Allea tertawa membaca surat tersebut


"Dia marah.. Aku harus gimana? " Tanya Max


"Salah kamu sendiri kenapa gak mau tanggung jawab, jangan jangan kamu juga sering tidurin cewek lain"


"Sembarangan.. Aku gak pernah celup sana celup sini, aku cuma celup kamu doang"


"Cihh..  Itu karena burung kamu gak bangun, coba kalo bangun lain lagi ceritanya" Ketus Allea


"Sekali dua kali boleh lah" Jawab Max membuat Allea meradang


"Siapa yang ngajarin kamu begini? Kamu gak brengsek seperti ini sebelumnya" Allea memukuli Max yang sembarangan bicara


"Aku cuma becanda yang.. "


"Huh.. Menyebalkan"Allea berjalan meninggalkan Max


"Sayang mau kemana? " Tanya Max manja


"Ikuutt.. " Rengeknya manja mengikuti Allea ke kamar mandi


Saat sarapan bersama Ello tampak ketus dia tidak banyak bicara, Max terus memancingnya dengan berbagai pertanyaan namun Ello hanya menjawab pertanyaan orang lain kecuali Max


"Ello mau ikut ketemu Ellia? " tanya Max namun Ello mengabaikannya


"Sayang.. Ellia lagi di rumah sakit" ucap Allea


"Ellia kenapa? " Ello tampak panik


"Dia demam tinggi, hari ini papa mau pulang kamu mau ikut? " tanya Max


"Kamu bukan papaku" ketus Ello


"Sayang dia benar-benar papa kamu, kemarin kita cuma bertengkar seperti Ello dan Ellia kalo berebut mainan" ucap Allea


"Tapi Ello selalu bujuk Ellia kalo dia nangis, kenapa kamu enggak? kenapa kamu biarin mama nangis? " pertanyaan Ello membuat kedua orang tuanya terdiam


"Ello sayang.. berantemnya orang dewasa itu berbeda, kemarin hanya ada kesalahan pahaman sekarang mama udah baikan sama papa" ucap Ririn memberi penjelasan


"Kenapa papa gak mau dede bayi? " pertanyaan Ello seolah menjadi tamparan untuk Max


"Bukan gak mau, papa cuma kaget aja sekarang mereka udah seneng seneng lagi mereka udah baikan, Ello juga seneng kan kalo mama seneng? " Ello hanya mengangguk


"Mama udah maafin papa, Ello juga mau kan maafin papa? "


"Ya.. jangan bikin mama nangis lagi"


"Iya sayang papa janji" jawab Max seraya tersenyum


Othor up 2 bab ya..


Jangan lupa like komen dan vote


Kasih othor kembang tujuh rupa biar tangan othor kuat ngetik setiap hari 😂


Yang udah kasih kembang, like komen dan vote tencu 😘 amisyu 😍 love love buat kalian ❤❤❤