My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Mama papa pelukan



Baru saja sampai beberapa menit di hotel yang di pilih Allea kini dia di tinggalkan sendiri disana, Allea pergi membawa Ellia namun tidak dengan Alexander


"Hah.. Kenapa dia tidak mengajakku" Gumam Alexander 


Disana sendiri membuatnya bosan dia juga tidak tahu harus kemana akhirnya dia memutuskan untuk tidur


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Proses akad nikah Cindy dan Danendra sudah terlewatkan, para tamu sedang bersalaman dengan pengantin di atas pelaminan


Para tamu undangan sontak menoleh saat seseorang memasuki area gedung pernikahan, Gaun merah menyala panjang kontras dengan kulit putihnya


Yang lebih mengejutkan dia membawa seorang anak kecil yang amat mirip dirinya dengan gaun merah yang sama, semua mata tertuju pada wanita yang mulai naik ke pelaminan


"Lo telat" Cindy berpura-pura merajuk


"Sayangku.. Kemaren ada problem, sorry.. Tapi kan yang penting gue udah disini" Ucap Allea seraya memeluk Cindy


"Hai gadis kecil.. Siapa ini? " Danendra menyapa Ellia


"Ini Ellia.. Nanti gue ceritain" Sergah Allea


"Selamat om tante Semoga hidup bahagia" Beo Ellia 


"Terima kasih sayang.. Kamu manis sekali" Cindy menuntun Ellia agar mendekat


"Kamu kesini sama papa? " Bisik Cindy pada Ellia


"Iya.. Papa ada di hotel, mama gak bolehin ikut" Ellia balik berbisik


"Kamu panggil Allea mama? "


"Iya.. "


"Apa mereka dekat? "


"Gak tau.. Tapi pagi pagi aku lihat mama tidur peluk papa di sofa" Mendengar penuturan Ellia mata Cindy membulat dengan mulut menganga


Ellia memang paling dulu bangun sebelum Allea dan Alexander dia melihat papa mamanya itu saling memeluk, Ellia membangunkan Allea agar dia tidak kesiangan dan ketinggalan pesawat


Namun malah Alexander yang bangun dan mengatakan mereka juga akan ikut membuat Ellia sangat senang


"Kalian bisik bisik apa sih? " Tanya Allea


"Ahh.. Haha.. Itu Ellia bilang semalam gak ada yang peluk dia" Wajah Allea berubah seketika, wajahnya merah padam mendengar perkataan Cindy


"Kenapa non? Mukanya merah gitu? " Goda Cindy 


"Apaan sih lo gajelas deh" 


"Ellia gabung sama Ello ya nanti minta opa sama Oma makanan" Lanjut Allea


"Iya.. Ma" Ellia menghampiri Ello yang sedari tadi melambaikan tangan padanya


"Jadi semalam tidur sama siapa? " Goda Cindy


"Gak usah kepo, pikirin noh ntar malem di unboxing" Balas Allea


"Gimana rasanya di unboxing? " Tanya Cindy jadi penasaran


"Hati hati itu sakit banget, lo gak akan bisa jalan seminggu buat gerak aja susah " Allea menakut nakuti Cindy


Cindy menjadi diam tak berkutik sekarang dia seperti sedang memikirkan sesuatu, Allea terkekeh berhasil mengerjai Cindy lalu bergabung bersama kelima sahabatnya yang hadir juga disana


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang sama siapa disini? " Tanya Lydia saat melihat Allea berada di restauran


"Bunda.. " Allea celingukan takut Alexander muncul saat Lydia ada disana


"Kamu kenapa kayak orang bingung? "


"Bunda Allea ada meeting sama beberapa tenaga kesehatan, bunda baru nyampe atau udah mau pulang? " Tanya Allea


"Bunda nunggu ayah.. Itu dia bunda baru selesai makan"


"Kamu ternyata disini juga, dimana anak anak? " Damian menanyakan keberadaan Ello dan Ellia


"Mereka di rumah sama ayah"


"Kita kesana sekarang sayang? Kamu mau ikut atau enggak? " Tanya Damian pada Allea


"Aku disini masih ada kerjaan, ayah bunda hati hati.. Bye" Allea menuntun kedua mertuanya keluar


"Kenapa dengan Allea? "


"Gak tau, mungkin sebentar lagi meeting nya akan di mulai" Jawab Lydia


"Belum pesen? " Tanya Alexander


"Belum nunggu kamu dulu, kita bawa pulang aja ya aku gak enak badan" 


"Oke" Allea membawa pulang makanannya ke hotel tempat Alexander 


"Kenapa gak ke rumah kamu? "


"Aku lebih suka disini" Jawab Allea asal


"Lebih suka disini? "


"Ahh.. Maksudku disini lebih dekat jaraknya dari restauran"


"Benarkah? " Goda Alexander


"Me.. Memang apa lagi? "


"Aku kira kamu mau... "


"Kamu makan sendiri aja deh aku gak laper" Allea kembali menaruh sendoknya


"Gak laper? Apa mau tidur sekarang? " Tanya Alexander seraya mengulum senyumnya


"Isshh.. Tau ahh"


"Kan cuma nanya kenapa ngambek gitu? " Allea yang kesal hendak memukul tangan Alexander yang ada di atas meja namun dia menyadari itu dan mengelak otomatis Allea memukul meja


"Awwww... " Allea meringis mengibaskan tangannya


"Haha.. Apa itu sakit" Alexander tertawa seraya mendekat kesamping Allea


"Udah tau sakit pake nanya" Lirih Allea Seraya mengusap matanya


"Nangis? " Alexander menengok wajah Allea yang tertutupi rambut


"Sakit banget ya? " Alexander menarik lembut tangan Allea


Telapak tangan Allea memerah juga lecet Alexander meniupnya pelan lalu menciumnya, bukannya diam Allea malah semakin terisak


"Kenapa? Apa perlu ke dokter? " Tanya Alexander panik, Allea hanya menggeleng


"Sstt.. Jangan nangis" Alexander menarik Allea dalam pelukannya


"Kamu kenapa? " Tanya Alexander ikut menghapus air mata Allea


"Bisa anter aku ke suatu tempat? " Lirih Allea


"Aku antar, tapi aku harus mandi dulu" Jawab Alexander menepuk nepuk lengan Allea yang masih bersandar di pelukannya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Cindy sedang kesusahan membuka resleting gaunnya, tiba tiba saja Danendra membantunya dari belakang


Danendra menurunkan gaun di bahu Cindy serta menciumi tengkuknya, bulu kuduk Cindy meremang saat bibir Danendra menyusuri tengkuk serta bahunya


"Kenapa? " Tanya Danendra saat Cindy sedikit menjauh


"Aku.. Aku sedikit capek hari ini" Danendra menatapnya tanpa mengatakan apapun


"Aku.. Aku.. Mau mandi dulu" Cindy hendak berlari ke kamar mandi namun Danendra menahan tangannya


"Apa? " Lirih Cindy


Danendra menuntun Cindy ke ranjang dan membawanya duduk, Danendra menggenggam tangan Cindy tatapannya tidak pernah teralihkan dari Cindy


"Kenapa? Kamu takut? " Tanya Danendra


"Aku cuma.. "


"Tatap mata aku" Ucap Danendra seraya menyentuh kedua bahu Cindy


Mata mereka bertemu Cindy jadi lebih tenang seperti terhipnotis Cindy hanya diam, tanpa sadar Danendra sudah menguasainya


"Akkhh.. Sakit " Cindy mencengkram sprei dengan wajah mengernyit keringat membasahi wajah serta tubuhnya


Tangan Danendra memindahkan cengkraman tangan Cindy ke punggungnya, kuku kuku Cindy menancap di punggung Danendra hingga kukunya terlihat pucat


"Ber.. henti" Lirih Cindy namun sepertinya Danendra tidak mendengarkannya


Jangan lupa sajen buat othor🌹🌷🌹🌷


like, komen dan vote juga ya ❤