
Matahari sudah meninggi keduanya masih sama sama tertidur dengan pulasnya, Allea terbangun saat suara handphone terus berdering dia meraih handphone di nakas dan asal menjawab teleponnya tanpa melihat handphone siapa yang dia pegang
"Hallo? siapa? " tanya Allea dengan suara parau
"Allea.. lo sama Max? " tanya seseorang di sebrang telepon
"Hah? " Allea membuka matanya melihat siapa yang sedang menelpon
"Akhh.. diem Max aku udah gak sanggup" Rengek Allea ketika Max kembali menyerangnya
Allea lupa belum mematikan teleponnya Arabella mematung mendengar Allea dan Max yang saling bersahutan, Dia menutup mulutnya seraya meneteskan air mata
Max yang dia kenal dulu berbeda sekarang, dulu Max bahkan menolaknya ketika dia mulai menggoda, dengannya Max hanya sekedar memeluk dan mencium tidak pernah melakukan hal hal di luar batas
Bersama Allea bahkan Max tidak bisa mengontrol diri walaupun di hadapan orang banyak, Arabella mematikan teleponnya karena suara di sebrang sana semakin menggila bisa bisa membuatnya terbakar
"Max.. aku bener bener gak punya tenaga lagi" lirih Allea
"Itu hukuman buat kamu, kenapa kamu gak mau kasih tau aku? "
"Karena.. pelan pelan " Allea memukul punggung Max tapi dia tidak mendengarkan
Max ambruk di atas tubuh Allea dengan bercucuran keringat, Nafas keduanya naik turun Max kali ini sangat gila rasanya Allea ingin kabur dari sana
"Kamu mau bunuh aku? " protes Allea
"Kamu gak akan mati, aku gak mungkin celakain kamu" jawab Max
"Gak mungkin celakain? kamu buat aku kelelahan, tulang tulang aku rasanya mau copot semua" gerutu Allea
Max malah tertawa menangkup wajah Allea yang cemberut, lalu mengecup bibirnya beberapa kali
"Aku kasih hadiah nanti jangan cemberut gitu dong"
"Gak usah, paling hadiahnya ujung ujungnya nyusahin aku juga"
Max semakin tertawa mendengar jawaban Allea, Melihat istrinya bangun dan merintih Max dengan cepat bangun dan mengangkat tubuhnya kekamar Mandi
"Aku mohon udah ya, aku beneran susah jalan "
"Iya sayang, aku cuma mau mandi aja sama kamu aku janji"
Selesai mandi Max benar benar memanjakan Allea dia membantunya berpakaian, mengeringkan rambutnya juga memasak dan menyuapi Allea
"Kamu mau jalan jalan? " tanya Max
"Enggak aku benar-benar lelah, aku mau tidur aja" Jawab Allea
"Oke sekarang kita tidur" Max membenarkan posisi tidur Allea lalu ikut tidur memeluknya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Gita di rawat malam itu untung saja kandungannya kuat Gita hanya terkejut membuat keram di perutnya, malam itu Dito sudah di buat kalang kabut melihat dari luar Gita meringis di tangani dokter
"Gimana dok istri saya? " tanya Dito saat dokter keluar
"Beruntung kandungannya kuat dia hanya keram perut dan sedikit kontraksi palsu saja, di usianya yang masih muda sebaiknya harus benar benar menjaga kandungannya dengan baik" ucap Dokter
"Saya sudah meresepkan obat nanti bisa di berikan setelah istri anda bangun" lanjutnya
"Terimakasih dok" Setelah dokter pergi Dito masuk dan mendekati Gita
"Kamu buat aku jantungan, jangan bikin aku panik ya" Dito mengusap kepala Gita lalu mendaratkan kecupan di kening dan perut Gita
Dito senantiasa mengelus perut Gita dan mengecup punggung tangan Gita, pintu ruangan terbuka tampak adiknya tersenyum namun wajahnya tidak bisa bohong dia sepertinya habis menangis
"Kenapa? " tanya Dito bangun dari duduknya dan membelai rambut sang adik
"Aku takut tadi papa sempet drop liat kak Gita kesakitan" lirihnya sambil memeluk Dito
"Sekarang gimana keadaan papa? "
"Untung papa baik baik aja, aku gak nyangka mama bisa sekejam itu"
"Kakak juga bingung padahal semarah marahnya orang tua Gita tetap mereka memperlakukan kakak dengan baik, bahkan mereka tidak pernah lagi mengungkit kesalahan kakak dan keluarga kita" ucap Dito
"Kakak tau sendiri mama itu keras kepala, gimana keadaan kak Gita? "
"Untung saja kandungannya kuat dia gak apa apa" jawab Dito
"Aku boleh pegang perutnya gak? "
"Boleh" Dito menuntun tangan adiknya mengelus perut Gita satu tendangan kecil membuat gadis kecil itu membulatkan mata dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata
"Dia gerak.. dia gerak.. " ucapnya sangat antusias
"Hai.. bayi kecil cepat lahir , baik baik ya di sana kamu harus kuat seperti mamamu" ucap adik Dito di dekat perut Gita dan bayi itu kembali menendang
"Aaaa... lucunya, aku juga pengen ngerasain bayi nendang di perut aku" cicitnya membuat Dito yang semula merasa terharu menjadi kesal sendiri
"Macem macem gue gantung lo" hardik Dito seraya menjitak kepala adiknya
"Kakak sakit tau.. aku kan cuma pengen ngerasain nanti bukan sekarang" ucap Adik Dito dengan bibirnya yang mengerucut
"Sekolah yang bener jangan mikirin yang gituan, lo harus bisa banggain mama sama papa jangan kayak gue"
"Iya.. iya.. tau"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Max menggelengkan kepalanya saat dia baru bangun tidur sepertinya karena terlalu lama tidur, dia pergi ke dapur hendak memasak untuk makan malam namun sepertinya di dapur sudah ada yang memasak
"Kamu siapa? " tanya Max
"Tuan saya menggantikan ibu saya yang sedang sakit" jawabnya sambil menunduk
"Hmm.. lanjutkan pekerjaanmu" ucap Max berlalu mengambil air
Saat Max sedang meneguk air kepala gadis itu mendongak menatap Max, dia terpaku melihat pria tampan dengan tubuh kekar berdiri tegap di hadapannya
"Apa yang kamu lihat? " tanya Max tegas
"Oh.. maaf tuan" dia kembali menundukkan kepalanya
Dia terus menatap Max sampai dia menghilang di balik pintu, tidak lama kemudian Max keluar namun bersama Allea
"Silahkan nona dan tuan muda" ucapnya berdiri di dekat meja
"Kamu ikut makan aja lagian ini udah malem gak baik perempuan pulang malam malam" ucap Allea sambil tersenyum
Max hanya diam dia mengambilkan makanan ke piring Allea lalu ke piringnya, Allea dapat melihat sedari tadi gadis itu mencuri curi pandang ke arah Max. Apalagi saat Max terlihat perhatian mengikat rambut Allea yang tergerai
Selesai makan malam Max duduk di sofa sambil menonton televisi sementara Allea mengambil minuman dingin di kulkas
"Nona adiknya tuan? " tanya gadis itu
"Siapa namamu? " tanya Allea
"Mila" jawabnya pelan
"Ohh.. memang aku terlihat seperti adiknya? " tanya Allea kembali, Mila mengangguk
"Mila tolong berikan ini pada kakakku" ujar Allea niatnya hanya menggoda Mila siapa sangka dengan sumringah dia mengambil minuman itu dari tangan Allea
"Ternyata benar dia adiknya, gue ada kesempatan dong deketin kakaknya" batin mila
"Dia senang karena di suruh ngasih air apa karena gue bilang kakak? " gumam Allea
Allea mengikuti Mila dari belakang, entah karena gerogi atau apa minuman kaleng itu berjatuhan dari nampan. Allea menahan rasa ingin tertawanya melihat kepala Max terkena minuman kaleng tersebut
"Kamu bisa kerja gak sih? kalo gak bisa pulang sana" tegas Max membuat Mila gemetar
"Sayang dia gak sengaja kenapa kamu semarah itu" ucap Allea memungut minumannya
Max menarik lembut tangan Allea untuk duduk di pangkuannya "Kamu nunggu apa lagi sana pergi" Mila menundukkan wajahnya pergi dari sana dengan sedih
Allea mengusap kepala Max lalu mengecupnya Max bersikap manja mengusak kepalanya ke dada Allea membuat Mila kembali berpikir 'apa mereka benar kakak adik? '
Sampai tengah malam Mila juga mengintip Allea dan Max yang masuk ke kamar yang sama, setelah terdengar suara kunci di putar dia mendekat menguping dari luar
Awalnya terdengar mereka saling tertawa kemudian hening saat Mila hendak beranjak pergi langkahnya terhenti saat mendengar suara Allea yang seperti tercekat
"Pelan.. pelan..ada Mila" Mila dapat menyimpulkan apa yang terjadi di dalam
Dia mundur perlahan dengan menutup mulutnya dia mengerti sekarang kenapa Max bersikap manja pada Allea
Prang
Sebuah vas bunga jatuh tersenggol membuat penghuni kamar itu keluar, Max dan Allea sama memakai bathrobe membuat Mila semakin gugup melihatnya
"Kamu.. " Allea dapat melihat kemarahan di mata Max dia segera menenangkannya dan kembali membawanya masuk
"Sstt.. udah ayo masuk" ucap Allea mengusap dada Max
"Kamu cepat tidur ini udah malam" ucap Allea pada Mila
"Sial.. ternyata wanita itu nipu gue, gue pikir dia beneran adeknya" gumam Mila sambil memunguti pecahan vas bunga