
"Tuan sahabat saya sedang mengandung cucu anda kenapa anda tidak mau menerimanya? " tanya Allea
"Aku yakin itu bukan cucuku dia menjebak anakku untuk membangun kembali usaha ayahnya" jawab ayah Dito
"Kalo begitu Dito apa lo merasakan sesuatu saat pertama kali tidur sama Gita? lo pasti sangat tahu bahwa saat kejadian itu Gita masih v*rg*n bukan? " Dito diam seribu bahasa mendengar perkataan Allea
"Jawab Dito? lo melupakan ucapan cinta lo sama Gita setelah lahirnya anak ini? gue yakin lo juga gak tenang kan? " lanjut Allea
"Diam atau mau aku tampar mulutmu" hardik ibu Dito mulai mendekat, Aksa langsung pasang badan melihat Allea dalam bahaya
"Anak kecil sok sok'an ikut campur urusan orang lain" sinis ibu Dito
"Bukan orang lain bu ini sahabat saya sendiri, mereka berdua adalah sahabat saya mohon kalian membuka sedikit saja hati nurani kalian beri keadilan untuk Gita dan anaknya, saya yakin Dito tidak akan hidup tenang dengan menelantarkan anaknya"
Dito menatap Gita yang sedang terisak di pelukan Allea "Gue tau lo sayang sama Gita cuma lo mikirin masa depan lo coba lo pikir juga masa depan Gita hidupnya aja udah ancur kalo pun lo bertanggung jawab apa lagi kalo lo lari dari tanggung jawab, posisi Seorang wanita itu sulit to setelah hamil wanita masih harus menyusui dan merawat anak anaknya sementara lo bebas to" ucap Allea
"Jangan dengar hasutan anak ingusan ini, kamu harus jadi dokter dan kamu gak boleh menikah sebelum kuliah kamu selesai" ujar ibu Dito
"To percaya sama gue Gita cuma perlu pertanggung jawaban, kalian bisa nikah siri sebelum lo jadi dokter kalian bisa membesarkan anak ini sama sama" Allea melihat secercah harapan di mata Dito
"Kalo lo gak mau tanggung jawab dan nelantarin anak ini lo bakal nyesel to, gue dari kecil gak pernah dapet kasih sayang dari bokap gue dan itu rasanya sakit to, lo bukan laki laki pecundang kan? "
"Mama.... " panggil adik perempuan Dito yang baru saja pulang
"Anda punya anak perempuan juga bayangkan jika ini terjadi pada anak kalian, sepertinya sudah cukup saya bicara kali ini. saya beri kesempatan untuk kalian menikahkan mereka jika masih tidak mau mengakui anak ini saya akan membawa kasus ini ke kantor polisi"
"Kami permisi" Allea , Gita dan Aksa pergi dari sana
Dito menatap nanar punggung Gita yang perlahan menghilang dari balik pintu, dia mengejar Gita sampai ke mobil Allea. Dito memeluk Gita dengan tangis penyesalannya
"Maafin gue.. maafin gue.. " Dito menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gita
"Lo gak salah to, gak usah maksain kalo lo emang belum siap. Lo tau? gue gak di peduliin sama orang tua gue, gue bener bener sendiri cuma Allea yang gue punya sekarang dan kalo pun lo juga mau jauhin gue silahkan to hidup gue udah terlanjur hancur" Gita bicara tanpa tangis dia seolah sudah merelakan nasibnya karena bagaimana pun dia juga bersalah dalam hal ini tidak ada paksaan sari pihak mana pun
Bukannya membalas pelukan Dito Gita malah menggenggam tangan Allea, Allea tersenyum mengangguk meyakinkan Gita apapun yang akan terjadi dia akan selalu ada untuk Gita
"Kita pamit to udah malem Gita butuh istirahat" ucap Allea
Dito melepaskan pelukannya Gita masuk ke dalam mobil sekarang dia tidak mengharapkan apapun dia hanya ingin bahagia bersama anaknya tidak peduli apapun yang akan terjadi meskipun dunia menentang Gita tidak akan menyerah dalam hidupnya
Dito memandangi mobil Allea yang bergerak menjauh, Dito jatuh duduk di tanah menjambak rambutnya frustasi Allea melihat itu dari kaca spion sementara Gita sudah tidak memperdulikannya
"Lo yakin sama keputusan lo? " tanya Allea
"Yakin Le gue udah lelah memperjuangkan hak gue, mau dia tanggung jawab atau pun enggak semuanya sama aja buat gue" ucap Gita yang sekarang jauh lebih tegar
"Tapi gue harap lo Terima dia kalo pun dia mau tanggung jawab bagaimana pun anak lo butuh sosok seorang ayah" ujar Allea seraya menggenggam dan mengelus tangan Allea
"Pasti Le, gue sekarang cuma gak mau maksa tapi kalo dia punya niatan baik gue akan menerima dia"
"Jangan sedih jangan takut gue ada disini buat lo"
"Thanks Le" mereka saling berpelukan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Danendra berdiri di depan rumah Damian dia masih ragu ragu untuk mengetuk pintu, akhirnya niat itu dia urungkan namun saat dia berbalik hendak pergi pintu rumah terbuka
Lydia berkaca kaca melihat anak yang selama ini dia besarkan sepenuh hati berdiri di hadapannya, Lydia memeluk Danendra dari belakang keduanya tengah menagis
Max yang baru saja keluar kamarnya melihat kejadian itu dia urungkan untuk keluar dan kembali ke kamarnya, Damian juga memeluk mereka berdua ketika dia baru saja keluar ruang kerjanya. Max kembali membuka pintu kamarnya melihat pemandangan mengharukan itu dari lantai atas
"Lo emang pantes ada disini Danendra sepertinya mereka lebih butuh lo di banding gue" gumam Max lalu menutup pintunya
Max merebahkan tubuhnya di ranjang menatap langit langit rumahnya dengan pikiran menerawang, Dia berpikir tinggal di rumah Omanya lebih baik dari pada tinggal bersama keluarganya namun menyaksikan perbedaan antara dirinya dan Danendra
"Saya kangen Oma, sepertinya saya gak bisa jauh dari Oma" jawab Max seraya tersenyum
"Apa karena kehadiran gue lo milih pergi? " tanya Danendra
"Gak itu gak bener, Gue dari kecil deket sama Oma kasihan aja dia sendiri di rumah, Makasih lo udah mau pulang bunda selalu khawatir sama lo" Untuk pertama kalinya Max memeluk Danendra seraya menepuk punggungnya
Lydia ikut memeluk kedua putranya penuh rasa haru, Max memang berbesar hati memaafkan semua kesalahan Danendra juga dapat menerimanya dengan baik namun jika tinggal satu atap dia akan melihat kedekatan Danendra dan ayahnya yang membuat dia merasa keberadaannya dia dia disana
"Saya pergi.... assalamu'alaikum" Max menyalami kedua orang tuanya lalu mengadu kepalan tangannya dengan Danendra
"Ini lebih baik" batin Max seraya pergi dengan motornya
Max tidak pulang kerumah Omanya dia pulang ke apartemen sesampainya disana dia membuka ponsel dan memanggil nomor Allea dengan panggilan video
"*Hai lagi apa? " tanya Max yang sedang berbaring menelungkup
"Hai Mas" Jawab Allea sambil terkekeh
"Apa? apa? coba ulang sekali lagi" ucap Max
"Apa sih mas? " tanya Allea sengaja di buat manja
"Iisshh geli" ucap Max menggedikkan bahunya
"Kenapa telepon malem malem? " tanya Allea
"Kangen aja sama calon istri" goda Max membuat pipi Allea bersemu merah
"Boong aja, tadi siang juga ketemu"
"Tapi ada ayah kamu yang kayak satpam komplek mondar mandir mulu gangguin"
"Hisshh dasar.. dia tau calon mantunya suka nyosor nyosor kayak Bebek" ledek Allea
"Tapi kan anaknya suka" Goda Max membuat Allea salah tingkah
"Jadi kangen sekolah" Allea mengalihkan pembicaraan
"Kangen sekolah apa kangen gue? " goda Max
"Ihh apaan sih pede banget deh"
"Tapi bener kan? " Allea membenamkan wajahnya di bantal karena malu
"Diihh anak gadis malu" ledek Max
"Tau ahh gue mau tidur" kesal Allea
"Tidur aja tapi jangan di matiin, gue mau liat muka lo sebelum tidur" Ucap Max
"Mimpi indah sayang" ucap Max*
Keduanya saling memandang lewat layar handphone, Allea yang bilang mau tidur duluan tapi kenyataannya Max sudah terlelap lebih dulu
"Mimpi indah Mas" Jawab Allea setelah Max terlelap sambil terkekeh sendiri
Tidak lama setelah itu Allea juga menyusul Max ke alam mimpi
Jangan lupa like komen dan vote sayang
🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝