My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Di kurung



Gita cemas sudah sangat larut Dito belum juga pulang, padahal menurut teman temannya dia pulang dari cafe pada pukul 10 malam Gita mondar mandir di kamarnya handphone Dito juga tidak aktif


Di tempat lain Dito sepulang dari cafe pergi ke rumahnya dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Gita, dia takut Gita dan bayinya down karena ulah ibunya


Saat pintu di buka adik Dito berhambur memeluk yang kakak yang beberapa bulan ini tidak pernah dia temui


"Dimana mama? " tanya Dito


"Ada di kamar kak, kesana aja" jawab adiknya


"Enggak, panggil mama sama pap kesini" titah Dito


Adiknya menuruti perkataan Dito dan pergi ke kamar kedua orang tuanya, Dito berdiri dari duduknya ketika mereka kembali ke ruang tamu


"Kamu tau juga jalan pulang" ucap Sang ayah


"Dito gak lupa jalan pulang pa, Dito selalu ingin pulang tapi Dito sadar diri setelah kesalahan yang Dito lakukan rasanya tidak pantas Dito menginjakkan kaki kesini" jawab Dito


"lalu apa yang membawamu kembali? " ketus Ibunya duduk dengan angkuhnya


"Ma.. Pa kalian orang tua Dito dan Dito gak mau bersikap durhaka tapi kali ini Dito mohon jangan bicara apapun jika bertemu dengan Gita, Dito sangat mencintainya jangan membuatnya tertekan"


"Kamu membuat mama malu Dito, secepatnya setelah melahirkan tinggalkan wanita itu dan kembali kerumah" bentak ibu Dito


"Maaf ma Dito gak bisa, Dito sayang sama kalian tapi Dito juga sayang sama Gita dan bayi kami. Dito cuma berharap mama jangan nyakitin perasaan Gita lagi dia sedang mengandung bukan hal mudah buat dia lewatin semua ini"


"Gita udah berkorban banyak ma buat Dito sampai sampai dia memutuskan keluar dari sekolah, tidak bisa kemana mana rasanya sangat egois kalau Dito bisa bebas sementara Gita tertekan di rumah karena omongan mama" lanjut Dito


"Apa susahnya ab*rs*? dia masih bisa sekolah, main, keluyuran, dia aja yang mempersulit hidupnya" ucap Ibu Dito


"Mama akan sadar saat suatu hari mama kehilangan seorang anak meskipun anak itu tidak di harapkan keberadaannya, kami melakukan sesuatu yang salah tapi kami tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali dengan melenyapkan bayi kami"


"Dito rasa percuma kedatangan dito kesini tidak berpengaruh apapun, mama cuma perlu tau Dito tidak akan segan kalau mama berani menekan Gita lagi, Dito permisi" lanjut Dito


Merasa apa yang dia katakan tidak berpengaruh apapun Dito memutuskan untuk pulang, Dito hanya ingin ketenangan untuk Gita dia takut jika Gita terus tertekan itu akan mempengaruhi kesehatan anak dan ibunya


.


.


Dito pulang kerumah Gita saat tengah malam dia membuka pintu perlahan lahan, terlihat Gita berlari dari kamarnya saat mendengar mobil Dito terparkir di halamannya


"Kamu kemana aja huh? kamu keluyuran gak tau apa istri di rumah khawatir? kamu pergi sama siapa? aku disini nungguin kamu sampe gak bisa tidur" Gita menangis tersedu-sedu mendekati Dito


"Aku ada urusan tadi, jangan nangis dong nanti bayinya ikutan sedih" Dito memeluk Gita seraya menghapus air matanya


"Kamu gak ketemuan sama cewek lain kan? " ketua Gita


"Gak sayang, kamu jangan marah gak mungkin juga aku ketemu sama cewek lain sementara di rumah ada istri secantik kamu"


"Terus tadi kamu kemana? " tanya Gita


"Aku tadi kerumah mama, tadinya aku mau bicara baik baik supaya mama mau nerima pernikahan dan bayi kita tapi percuma " jawab Dito, wajah Gita semakin di tekuk saat Dito mengatakan itu


"Jangan sedih sayang, biarkan mereka yang tidak mengharapkan kita kedepannya kalo kamu ketemu mama kamu menghindar aja" lanjut Dito


"Apa mama kamu selamanya gak mau nerima aku? '' lirih Gita


" Suatu saat nanti mama akan sadar, sekeras apapun batu karang tetap saja membutuhkan laut. Mama akan berubah suatu saat nanti" ucap Dito mengecup pipi istrinya


"Siapa bilang karang cuma ada di laut? di aquarium juga banyak" cicit Gita


"Ohh iya.. hhaha kamu bisa aja" Dito tertawa mendengar perkataan Gita


"Sekarang tidur ya ini udah malem kasihan bayinya di ajak begadang" Dito merangkul Gita membawanya ke kamar


"Kamu beneran sayang sama aku atau cuma karena ada bayi ini aja? " tanya Gita saat keduanya sedang berbaring


Gita merangsek kepalanya ke leher Dito dan menyembunyikan wajahnya disana, Dito mengelus punggung Gita sesekali mencium puncak kepalanya


"Jangan berubah, jangan tinggalin aku" lirih Gita


"Gak akan sayang, selama nyawa aku masih ada di badan aku gak akan ninggalin kamu" jawab Dito


"Aku janji kedepannya aku akan bahagiakan kamu dan bayi, aku gak akan biarin siapapun menyakiti kalian termasuk mama" keduanya saling memeluk dan tidak lama setelah itu keduanya menutup mata beralih ke alam mimpi


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Dari malam itu Allea di kurung di kamar atas dengan jendela yang memakai teralis besi Allea hanya makan apa yang di berikan oleh pelayannya, namun pagi itu sepertinya Gibran lupa memberikan kunci pada pelayan hingga Allea mengetuk ngetuk pintu karena lapar


"Bi.. bibi.. Allea lapar bi" teriak Allea


"Non maaf ya tuan lupa ngasih kuncinya, Ada tali gak nanti bibi ikat makanan di luar jendela" ucap Pelayan di dekat pintu


Allea menggeledah seisi kamar namun tidak ada tali apapun, Allea duduk lemas bersandar di pintu bersamaan dengan itu bibi juga duduk di sebarang pintu luar


"Non ada gak? " tanya Bibi


"Gak ada bi.. Allea lapar air juga abis" lirih Allea


"Ada sprei gak? kalo ada itu aja Non di ikat sambungin nanti bibi kasih makanannya"


"Ada bi, Allea ikat dulu ya" Dengan semangat Allea mengeluarkan sprei dan mengikat ujungnya


Bibi sudah menunggu di luar dengan keranjang berisi makanan, air, dan buah, Sprei terjulur ke bawah Allea menariknya perlahan lalu mengambil isinya


"Makasih bi" teriak Allea mengacungkan jempolnya, Sampai Gibran pulang pelayan mengantarkan sesuatu yang Allea minta lewat jendela


Allea sedang berbaring menatap langit langit kamar, dia sedang berpikir tentang apa yang dia lakukan dengan Max adalah kesalahan ada penyesalan di hatinya andai saja dia bisa menjaga dirinya dengan baik semua itu tidak akan terjadi


"Ayah belum bicara sejak semalam denganmu" Suara seseorang membuyarkan lamunannya, Allea menoleh sebentar lalu kembali menatap ke atas


"Ayah kecewa sama kamu Allea, harusnya kamu bisa menjaga nama baik keluarga sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Wilson jangan mencoreng nama baik keluarga"


"Sekarang? jadi menurut ayah dulu Allea bukan keluarga Wilson? jadi jika Allea tidak ikut ke rumah ini ayah juga tidak mau mengakui Allea?" tanya Allea tidak habis pikir dengan perkataan ayahnya


"Jangan mengalihkan pembicaraan, apa yang kamu lakukan menjijikkan Allea. Gadis macam apa yang sudah tidur dengan pacarnya? "


"Menurut ayah gadis macam apa yang bisa seperti itu? "


"Semua yang melihat kalian akan berpikiran sama, ayah tidak pernah mendidik kamu jadi seperti ini" bentak Gibran


"Ya... karena Allea sejak kecil tidak mendapat didikan dari ayah, Allea tumbuh seperti rumput liar di luar sana terbiasa melakukan semuanya sendiri, Allea terbiasa semaunya sendiri"


"Allea gadis liar, tidak seperti Cindy yang seperti tuan putri yang Mulia" Mata Allea senantiasa berkaca kaca


"Jangan menyangkut pautkan kesalahan kamu dengan orang lain? " bentak Gibran


"Ayah Allea hanya melakukan kesalahan yang tidak berakibat fatal pada orang lain Allea tidak menyakiti orang lain, ayah berbicara seolah olah apa yang Cindy lakukan tidak ada apa apa di banding perbuatan Allea"


"Kenapa hari itu Allea gak mati aja di tangan Cindy agar ayah tidak punya anak memalukan seperti Allea" Nada bicara Allea sudah berapi api


"Kamu benar benar ingin mati? " Wajah Gibran memerah menahan amarah, Dia sudah di hadapkan dengan banyak masalah keluarganya sekarang benar benar berantakan


"Allea ingin mati sejak dulu yah, Allea tidak berharap dilahirkan di dunia ini. Andai dulu ibu gak ketemu sama ayah mungkin nasib buruk gakan akan menimpa ibu" sungut Allea


Plak


Akibat tamparan tangan besar Gibran membuat Allea tersungkur Allea memegangi pipinya air matanya semakin berderai, belum selesai sampai di situ Gibran menarik sabuk dari pinggangnya dan memukulkannya ke tubuh Allea


Gibran tidak mendengarkan jeritan dan rintihan Allea, dia seperti kesetanan sekarang