My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Punya adik



Sesampainya di rumah Allea beristirahat sebentar, dia tidur  berdua dengan Ello di kamarnya


Di tengah tidurnya Allea merasa terganggu dengan seseorang yang mengusap kepalanya


"Ayah.. " 


"Kenapa pulang gak bilang? Kalo Gita gak kasih tau mungkin kamu seminggu disini ayah gak tau"


"Tadinya Allea mau kasih surprise tapi ketiduran gak jadi deh"


"Kamu baik baik aja sayang? Kenapa kamu pucat, kurus seperti ini? " Tanya Ririn khawatir, Allea terdiam dia mengumpulkan kata kata untuk memberitahu kedua orang tuanya


"Ayah.. Mama.. Allea minta maaf, Allea gak bisa jaga nama baik keluarga" Allea turun dari ranjang bersimpuh di kaki keduanya


"Hei sayang.. Kenapa? " Ririn terkejut melihat Allea tiba-tiba bersimpuh


"Ada apa? Ayo bangun bicara yang benar" Gibran mencoba membantu Allea bangun namun dia menolak


"Ayah Allea hamil" Bak petir menyambar Ririn membulatkan matanya dengan menutup mulutnya yang menganga sementara Gibran hanya berekspresi datar


"Jangan becanda Allea, surprise kamu gagal jangan bikin ayah jantungan" Ucap Gibran


Allea menggeleng dengan bercucuran air mata, Gibran menghela nafas seraya berdiri


"Apa dia mau tanggung jawab? " Tanya Gibran suaranya pelan namun sukses membuat  Allea gemetar sambil menggeleng


"Katakan siapa dia? " Bentak Gibran membuat Allea terlonjak"


"Jangan keras keras nanti Ello bangun, kita bicara di luar" Ucap Ririn menengahi


Setelah orangtuanya keluar Ello membuka matanya, mata kecilnya berkaca kaca mendengar ibunya di marahi kakeknya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Alexander pulang kerumahnya dia menyendiri di ruangan tempatnya melukis, tangannya menggenggam kalung pemberian Allea sambil menatap lukisan lukisan yang dia buat


Bayangan setiap lukisan menjadi semakin nyata, Alexander berusaha keras mengingat semuanya dia tidak ingin melupakan apapun lagi


"Arrrggghhh" Alexander memegangi kepalanya semakin mencengkram rambutnya


"Siapa.. Siapa dia? " Urutan dari lukisan tersebut seperti puzzle yang mulai tersusun


"Arrrggghhh... Kenapa kamu tidak menunjukkan wajahmu? " Teriak Alexander


Kini malah bayangan Allea ketika semalam pergi dari rumahnya serta kata katanya terngiang di telinganya, Alexander meraih satu lukisan secara acak lalu menatapnya


Gambar seorang wanita terdampar di rakit di bawah terangnya bulan, bayangannya mulai memperlihatkan dia berenang mendorong rakit tersebut sampai ke tepi pantai


Dia membalik tubuh wanita yang basah itu dan menyingkap rambut panjangnya, wajah pucat Allea memejamkan matanya itu membuat dia mengingat sesuatu


"Alleaaaa... " Teriaknya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Katakan Allea siapa pria brengsek itu? " Gibran yang kesal mengguncang kedua bahu Allea


"Jangan kasar, Allea lagi hamil" Sergah Ririn


"Pria brengsek mana Allea katakan? " Bentak Gibran


"Apa Vero? Atau ayah anak itu? " Tanya Ririn lembut


"Jawab Allea" Suara Gibran kembali menggelegar memenuhi seisi rumah


"Sayang diamlah.. Aku yang akan bicara" Ririn malah membentak Gibran


"Katakan Allea tidak perlu takut, kita akan menyelesaikannya" Bujuk Ririn


"Aku akan membesarkan anak ini sendiri ma" Lirih Allea


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Apa kata orang nanti? "


"Kamu diem dulu bisa gak sih" Ririn yang kesal mencubit suaminya


"Katakan nak.. Biarpun orang itu gak mau bertanggung jawab setidaknya kita harus tahu siapa dia"


"Alexander ma.. Papanya Ellia" Lirih Allea


"Ayah jangan.. Allea mohon ayah, tidak ada paksaan kami sama sama mau" Allea memegangi kaki ayahnya


"Biarpun kalian sama sama mau tapi dia tetap harus tanggung jawab, orang seperti apa dia berani beraninya mempermainkan anakku" Gibran marah marah seperti orang kebakaran jenggot


"Dengarkan Allea biarkan dia tenang dulu, kita bisa membicarakan ini lagi nanti" Ucap sang istri


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Alexander bergegas kerumah Allea namun sepertinya rumah itu kosong hanya ada catatan kecil yang di tempel di pintu


'Terimakasih sudah menjadi ayahku beberapa bulan, mamaku terlalu banyak menangis matanya juga bengkak karena mu, apa kamu gak mau minta maaf? Kami akan pergi semoga kita tidak bertemu lagi'


Hatinya terasa perih melihat catatan dengan tulisan khas bocah, Alexander mengusap matanya yang mulai berembun lalu kembali ke rumahnya


"Sayang.. Kamu mau bertemu mama? " Tanya Alexander pada Ellia saat tiba di rumah


"Mama ada disini? " Ellia langsung bangun wajahnya nampak lebih ceria


"Tidak.. Kita yang akan kesana" Jawab Alexander, tanpa di duga Ellia langsung memeluknya


"Sekarang makan ya" Alexander mengusap kepala Ellia, gadis kecil itu makan sendiri dengan lahapnya, Alexander tersenyum lega ternyata ada di dekat Allea adalah kekuatan untuk Ellia


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mama"


"Iya sayang? " Ello dan Allea berbaring saling memeluk di kamar Ello


"Ello mau punya adik ya? Apa adik Ello juga gak punya ayah? " Pertanyaan Ello membuat Allea tercekat


"Mama gak usah sedih, mama adalah mama terkuat, mama bisa jagain Ello sendiri selama ini, sekarang ada Ello yang bantuin mama jaga adik bayi, mama gak usah nangis" Ello menghapus air mata di pipi sang ibu


"Makasih sayang, Ello anak baik cuma kalian harta yang paling berharga buat mama" Allea mengecup kening sang Putra


"Opa sama Oma kemana? Kenapa opa marahin mama? " 


"Karena mama nakal sayang, Opa marah karena terlalu sayang sama mama" Jawab Allea


"Opa marah karena mama gak boleh punya dede bayi lagi? Kasian ya dede bayi"


"Udah malem  sekarang kamu bobo, mama tinggal gak apa apa? " Allea berusaha menghindari pertanyaan sang anak yang selalu membuatnya kikuk


"Iya.. Mama jangan tidur malem malem ya" 


"Iya sayang" Allea mematikan lampu kamar anaknya lalu kembali ke kamarnya


Subuh saat bibi sedang memasak seseorang mengetuk pintu dengan tidak sabaran, bibi tergopoh gopoh membuka pintu masih membawa sayuran di dalam wadah


"Tu.. Tuan" Bibi hendak menyentuh wajahnya tetapi dia terlebih dulu memegang tangan Bibi


"Dingin.. Jangan jangan.. " Bibi langsung lari terbirit-birit membuat orang itu kebingungan


Pintu kamar Allea terbuka wanita itu sedang tertidur pulas, senyum tercetak di wajahnya perlahan berjalan mendekati Allea


Di peluknya tubuh Allea dia membenamkan wajahnya di perut Allea, kondisi kamar yang gelap dan Allea baru saja terbangun membuatnya tidak bisa mengenali siapa orang yang memeluknya


"Maaf sayang.. Maaf buat semuanya" Lirihnya dengan isak tangis tetesan air mata membasahi perut Allea


"Ayah? Kenapa ayah nangis? "


"Maafin aku.. Maaf aku membuat kamu menderita selama ini" Orang tersebut memegangi tangan Allea


"Max.. " Gumam Allea


"Ya.. Ini aku" Allea segera menarik tangannya


"Aku pasti halusinasi lagi" Allea segera kembali berbaring, Max tidur di belakang Allea seraya memeluknya


"Aaaaa.. Lepas.. Siapa kamu? Tolong" Teriakan Allea membangunkan seisi rumah


Lampu di nyalakan oleh Gibran dan Ririn yang baru saja terbangun, dia melihat sosok pria memeluk anaknya yang berontak


Gibran menarik ujung baju pria tersebut namun saat dia berbalik Gibran dan Ririn di buat terlonjak hingga tongkat yang di bawa Ririn untuk memukul terjatuh