My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Rapuhnya tante Ririn



"Apa yang membuat istriku ini senyum senyum sendiri? " Tanya Max ketika Allea baru saja masuk ke kamar


"Nanti malam bantuin ya" Ucap Allea seraya mendekat dan mengusak kepalanya di ketiak Max


"Bantuin apa? " Tanya Max yang semula tidur terlentang menjadi berbalik menghadap Allea


"Nanti malam tante Ririn aku suruh kesini aku mau  buat rencana buat ayah"


"Kucing gembul ini mau jadi makcomblang? " Goda Max seraya menekan kedua pipi Allea hingga bibirnya mengerucut


"Kamu bilang aku kucing gembul? "Kesal Allea melepaskan tangan Max dari wajahnya


" Hmm.. Sekarang kamu bukan kucing kecil lagi, kamu gembul, gempal, bulat menggemaskan " Max mengusak hidungnya di pipi Allea yang memang semakin bulat


"Iihh jahat... Ini juga gara gara kamu" Allea memukul bahu Max menjauhkan tubuhnya


"Kenapa gara gara aku? Huh? " Max kembali menarik pinggang Allea 


"Kalo kamu gak bikin aku bunting aku masih tetep langsing" Ucap Allea seraya mengerucutkan bibirnya, Max tertawa membuat Allea semakin mengerucutkan bibir serta memicingkan matanya


"Aku suka kamu bulat begini, kalo gitu aku buat bunting lagi setelah mereka lahir" Ucap Max di sela tawanya


"Jangan macem macem.. Siapa yang urus mereka nanti"


"Ada Oma Opa mereka, kita bisa bulan madu setelah mereka lahir" Bisik Max di akhir kalimatnya


"Jahat banget" Ucap Allea sambil memicingkan matanya membuat Max gemas dan menggigit pipinya


"Sakit" Allea mengusap bekas gigitan Max


"Kamu mau ngapain? " Tanya Allea ketika Max menyingkap bajunya


"Diem dulu" Max mulai mencoretkan spidol ke perut buncit Allea membuat sebuah gambar


"Kamu buat apa? " 


"Ini jagoan dan princess kita, coba foto dulu" Max mengambil handphone dan memfoto perut Allea serta dirinya yang sedang mencium perut buncit tersebut


"Ada ada aja" Allea menggeleng saat melihat gambar yang di buat Max


"Kapan ya mereka lahir? Aku udah gak sabar" Ucap Max seraya memeluk dan mengelus perut Allea


"Sabar tinggal 2 bulan lagi"  Jawab Allea seraya mengusap kepala Max 


"Hiisshh... Geli" Allea menjauhkan wajah Max yang mulai menciumi seluruh bagian perutnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Hari ini untuk pertama kalinya ibu Dito mengajak Gita juga Dirga jalan jalan, mereka membeli kebutuhan MPASI untuk Dirga di sebuah supermarket


"Dirga boleh makan ini gak? " Tanya Gita pada mertuanya


"Boleh kok, ambil buah sama sayurnya agak banyak aja" Ucap Ibu Dito pada Gita yang sedang memilih barang belanjaan sementara dirinya menggendong Dirga


"Hai jeng" Sapa seseorang seraya mendekat


"Bawa anak siapa jeng? Ganteng banget" Ibu Dito terdiam sejenak, Gita mengalihkan pandangannya sedikit menjauh dari mereka takutnya ibu Dito tidak akan mengakuinya


"Ini cucuku dan itu menantuku" Jawabnya menunjuk ke arah Gita yang sedang memilih buah


"Cucu? Menantu? Bukannya anak jeng masih kuliah? " Orang tersebut seperti terkejut mendengar perkataan itu Dito


"Ya..  Mereka menikah waktu masih sekolah" Jawab ibu Dito


"Jangan jangan udah hamidun duluan ya? " Ibu Dito menatap tidak suka pada wanita tersebut


"Hei jeng aku cuma asal bicara, jangan batalkan investasinya" Teriak wanita tersebut saat ibu Dito menjauh membawa anak dan menantunya


Gita menatap ibu mertuanya yang sedang mengajak bicara Dirga dari samping, wanita yang selama ini hampir membuatnya gila ternyata bukan wanita sejahat itu


"Kita makan dulu, kayaknya Dirga juga lapar" Ucapnya pada Gita yang hanya bengong menatap ibu mertuanya


"Ta.. Gita kamu kesambet ya? " Ibu Dito melambaikan tangannya di hadapan Gita


"Ahh.. Kenapa ma? " Gita terlonjak 


"Kita makan dulu Dirga juga kayaknya lapar"


"Ya.. Kita cari restauran dekat sini" Jawab Gita


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Malam itu Ririn menepati janjinya datang makan malam di rumah Allea, Allea menyambutnya dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan


"Tante masuk aja dulu Allea mau panggil Max dulu" Ucap Allea


Ririn membuka pintu yang ada di hadapannya sepertinya ruangan itu sengaja di desain untuk pasangan yang ingin merayakan  moment special banyak bunga bertaburan juga lilin di atas meja lengkap dengan beberapa hidangan, namun Ririn merasa bingung mengapa kursinya hanya ada dua


Ririn melangkahkan kakinya masuk tiba tiba saja pintunya terkunci dari luar, Ririn mengetuk pintu berkali kali seraya meminta seseorang membukakan pintunya


"Allea jangan main main, kenapa kamu kunci ayah di kamar mandi? " Ririn mendengar suara Gibran dari balik pintu Kamar mandi


Ririn mendekat ke arah pintu ternyata memang benar Allea mengunci ayahnya di kamar mandi, tangan Ririn memutar kunci dan membukanya


Mereka sejenak saling pandang lalu tersadar Ririn mundur beberapa langkah menjauhi Gibran seraya menundukan kepalanya


"Anak ini benar benar" Gerutu Gibran kembali menggedor pintu


Lama mereka di sana akhirnya keduanya duduk berhadapan di meja romantis yang sudah di siapkan, Canggung tidak ada pembicaraan keduanya hanya diam sesekali meminum air yang ada di hadapan  mereka


"Gibran.. Sekali lagi aku minta maaf" Ucap Ririn mengawali percakapan mereka


"Sudahlah kamu gak salah, aku sudah mendengar semuanya dari Allea" Jawab Gibran


"Apa kamu tahu Jonathan tidak sepenuhnya bersalah? " Tanya Gibran


"Ma.. Mmaksudnya? "


"Jonathan di ancam seseorang, kejadian kamu masuk rumah sakit itu juga bagian rencana orang tersebut" Ririn sontak saja terkejut mendengar hal itu


"Tapi.. Tapi siapa yang mengancam Jonathan? " Tanya Ririn


"Jonathan sendiri tidak mau menyebutkannya karena takut keselamatanmu terancam, jadi alasannya menculik Allea semata mata ingin menyelamatkan kalian berdua"


"Orang tersebut menginginkan Allea bercerai dengan Max dan memaksa Jonathan membawa Allea pergi jauh dengan menekannya melalui dirimu, awalnya Jonathan menolak tapi orang itu mencelakai kamu jadi Jonathan terpaksa menculik Allea" Lanjut Gibran


"Lalu kenapa dia memukuli Max? " Tanya Ririn


"Karena dendamnya, apa kau punya anak bernama Yuri? " Tanya Gibran


"Ya dia tinggal bersama ayahnya dan meninggal beberapa tahun lalu karena bunuh diri"


"Penyebab Yuri bunuh diri adalah Max, pemuda sejuta pesona itu menolak mentah mentah Yuri sampai dia memakai segala cara namun hasilnya tetap sama akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya, itu yang membuat Jonathan berniat melenyapkan Max" Ucap Gibran, air mata Ririn mengalir deras lidahnya terasa kelu


Dia baru tahu kebenarannya tentang kematian anaknya, selama ini mantan suaminya hanya memberitahunya bahwa Yuri bunuh diri karena tekanan dari sekolah terlalu berat serta pembullyan oleh teman temannya, tidak ada kata kata lagi yang keluar dari mulut Ririn hanya isak tangis yang terdengar pilu


Ririn benar benar gagal mendidik anak anaknya keluarganya hancur berantakan begitupun kehidupan  buah hatinya, dada Ririn terasa sesak dia tanpa rasa malu menangis sesenggukan di hadapan Gibran


Gibran yang merasa  iba pun beralih ke samping Ririn lalu memeluknya membiarkan Ririn menangis sepuasnya di pelukannya, begitu rapuh dan hancurnya hidup Ririn selama ini, Gibran menyesal telah mengatakan kata kata yang menyakitkan pada Ririn