My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Di ganggu kakak kelas



Hari yang sangat terik semua murid berbaris melaksanakan upacara, Allea berbaris paling belakang dan di depannya adalah Gita dan 4 teman lelakinya disampingnya ada Max yang sesekali mencuri pandang


Allea menghalangi wajahnya dengan tangan karena teriknya matahari tiba tiba cahayanya tertutup Allea melirik ke sisi yang lain masih panas ternyata Max menutupi pantulan cahaya dengan tubuhnya


Pandangan mereka bertemu Allea tersenyum pada Max dan bilang terimakasih tanpa bersuara hanya bibirnya yang mengisyaratkan sudut bibirnya sedikit tertarik melengkungkan senyuman samar meski hanya sedikit tapi Allea bisa melihatnya


.


.


Di sebuah minimarket Lidya (istri Damian) sedang berbelanja beberapa cemilan


tiba tiba seseorang menepuk pundaknya ia pun menoleh


"Hai nyonya Damian" ucap Selvi


"Apa kabar Selvi? lama kita gak ketemu" balas Lidya


"Cukup baik, bagaimana keadaan rumah tangga kamu apa baik baik saja? atau suamimu sedang butuh wanita lain lagi?" tanya Selvi sinis


"Aku tidak tahu mungkin kamu bisa tanya sendiri pada Damian, dan rumah tangga kami sampai sejauh ini masih baik baik saja, terimakasih untuk perhatiannya pada keluarga kami saya permisi" ujar Lidya lalu pergi


"Dan satu hal Maxime butuh kasih sayang dari ibunya jangan karena kesalahan orang tuanya anak itu harus menanggung semuanya, Anak itu tidak berdosa aku harap kamu berlaku baik padanya" Lidya menghentikan langkahnya sejenak lalu kembali pergi seusai berbicara


Selvi mengepalkan tangannya berani beraninya Lidya berbicara seperti itu Selvi memilih pergi dan tidak jadi berbelanja, sebelum keluar dia menatap sinis pada Lidya yang sedang membayar belanjanya di kasir


.


.


" Maaaxxx" teriak Allea seusai bubar upacara


"Ini gue beliin makasih udah bikin gue gak kepanasan" Allea memberikan botol minuman dingin


"Thanks" Max mengambilnya lalu pergi


Allea mengejarnya dan menahan tangan Max melangkahkan kakinya sejajar, Allea yang terus bertanya sebaliknya Max hanya diam terkadang menjawab seperlunya


"Kita berteman" Allea mengulurkan tangannya


Max membiarkan tangan Allea menggantung tidak membalas jabat tangan Allea, Allea yang kesal mengambil tangan Max dan menjabatkannya


"Oke kita resmi berteman" ucap Allea lalu berlari masuk ke kelas


Max hanya menggeleng melihat tingkah Allea


dari sekian banyak murid di sekolah itu hanya Allea yang mau berteman dengannya meskipun sedikit memaksa


Saat sedang belajar Allea sesekali melirik Max kebelakang mata mereka terkadang bertemu Allea tersenyum manis, sementara Max masih sama kaku dan dingin. Tidak terasa bel istirahat berbunyi semua anak anak berhambur keluar


"Ke kantin Le" ajak Gita


"Iya kalian duluan ntar gue nyusul mau ke toilet dulu" jawab Allea


"Oke deh, cabut ngab" ujar Gita mengajak teman yang lain


"Max ke kantin yuk" ajak Allea


"Lo aja gue gak biasa ke kantin" ucap Max


"Ayo lah Max, sekali ini aja" pinta Allea


"GAK" ucap Max seraya pergi


"Singkat padat jelas" gumam Allea


Allea pergi ke toilet melewati kantin teman temannya memanggil tapi Allea harus buru buru ke toilet dia hanya melambaikan tangan kepada teman temannya


Selesai dari toilet Allea ragu melewati geng yang waktu itu mengeroyok Max, dia mencengkram erat rok sekolahnya Allea menghela nafas sebelum melangkahkan kakinya


"Hai cantik sendirian aja" Ujar Sam ketua geng itu


"Permisi kak saya mau lewat" ucap Allea menunduk


"Uunncchh cute banget sih" salah satu dari mereka menyentuh rambut Allea


"Haahhaa" suara tawa mereka


"Mau gak entar malem kita nongkrong" ucap Sam


"Gak, permisi saya harus pergi" ucap Allea hendak pergi tapi mereka memegangi tangan Allea


"Jangan sombong sombong lah" salah satu dari mereka menyentuh dagu Allea


"Iihh pergiiiiiii " teriak Allea Allea mendorong Sam hingga terjatuh


karena tidak terima Sam juga mendorong Allea hingga punggungnya terbentur dinding


Tiba-tiba seseorang menendang punggung Sam hingga tersungkur dia bangkit menatap nyalang pada orang tersebut, ternyata itu Max dia mendengar teriakan Allea Saat kedatangan Max Allea langsung bersembunyi di belakang punggungnya


"Jangan pernah membuat martabat seorang laki laki menjadi rendah" hardik Max


"Dan Lo jangan sok suci anak haram, anak semacam Lo mana tau bapak Lo kayak gimana, jangan jangan bapaknya juga c*b*l"


...Hahhahaaa...


Tawa mereka menggema Max mengepalkan tangannya kuat kuat hingga terlihat urat urat di tangannya, Allea yang melihat itu segera menahan tangan Max yang sudah mulai melangkah namun Max menepisnya


Buugghh bugggh bugggh


Enam melawan Satu awalnya Max kalah namun akhirnya semua geng Sam tersungkur di lantai


Meskipun Allea berteriak meminta mereka berhenti tapi Max tidak mendengarkannya, Mereka kembali menjadi tontonan murid murid dan akhirnya di panggil oleh guru


"Apa ini Max? sudah berapa kali kamu membuat keributan di area sekolah? apa kamu ingin mencoreng nama baik sekolah?" tanya gurunya


Max hanya diam dia bosan disalahkan terus menerus seolah sudah tau apa yang akan terjadi


"Bu saya boleh bicara?" tanya Allea yang baru saja masuk


"Silahkan"


"Sebenarnya Max menolong saya Bu, mereka berenam mengganggu saya, ibu bisa lihat luka memar di punggung saya ini karena Kak Sam dorong saya Bu" ucap Allea, guru melihat luka memar di punggung Allea yang sudah diobati oleh Gita


"Benar begitu?" tanya gurunya


"Eng.. enggak Bu bohong" ucap Sam


"Kamu tidak mau membuat pembelaan Max?" tanya gurunya


"Untuk apa bukannya saya selalu di salahkan? biar orang menganggap saya salah tidak ada untungnya juga semua akan tetap sama, kalo tidak ada lagi yang ingin di bicarakan saya permisi" ujar Max lalu pergi


"Dan untuk hukumannya seperti biasa saya kerjakan sepulang sekolah" ucap Max yang berhenti di ambang pintu


"Kalian jangan pulang sebelum menyelesaikan hukuman dari ibu, bersihkan setiap toilet, kelas dan halaman sekolah sampai bersih"


"Ya Bu" ucap mereka menunduk dan saling sikut


"Sekarang pergi ke kelas masing masing"


"Bu saya boleh bicara?" tanya Allea


"Silahkan"


"Sebenarnya yang saya lihat Max tidak seburuk itu, dia hanya berkelahi dengan anak yang selalu membuat masalah dengannya, saya dengar sendiri mereka menyebutnya.." Allea berhenti sejenak


"Menyebutnya apa Allea?"


"An.. anak ha..ram Bu" ucap Allea ragu


"Selain mengganggu saya mereka juga mengatai Max, Max hanya berkelahi dengan mereka yang bermasalah terlepas dari Max yang suka berkelahi sebenarnya dia tidak bersalah selalu orang orang itu yang mengganggunya duluan" jelas Allea


"Terimakasih Allea ini akan menjadi pelajaran untuk saya, saya juga salah tidak bertanya duduk permasalahannya dan malah menyalahkan Max"


"Sudah kewajiban saya untuk meluruskan apa yang saya ketahui Bu , saya permisi"


"Ya silahkan"


.


.


Sepulang sekolah Allea mencari Max ke belakang gudang disana Max sedang bersandar dengan satu kaki di angkat menopang tangannya tidak lupa juga sebatang rokok yang masih menyala, Allea menghampirinya dan mematahkan rokok di tangan Max


"Merokok itu gak baik Max" ucap Allea


"Ada perlu apa lagi? sana pulang " ketus Max


"Gue Mau Lo anterin pulang" ucap Allea duduk di sebelah Max


"Gue gak mau" singkat Max


"Ayolah Max gue malu ikut sama temen temen mereka rumahnya beda arah" ucap Allea di buat semanja mungkin


"Lo gak malu minta anter sama gue? apa Lo gak tau rumah kita juga beda arah?" ucap Max membuat Allea hanya bisa cengir kuda


"Mereka kan berlima jadi harus nganter satu satu juga, Lo kan sendiri, ya ya ya mau ya?" Allea mengguncang lengan Max


"Imbalannya apa?" tanya Max membuat Allea langsung menatap bingung


"Imbalan apa?" tanya Allea


"Kalo gue mau nganterin Lo apa Lo bakal ngasih gue imbalan?" Ucap Max dengan wajah yang semakin mendekati wajah Allea


"Max Lo mau apa?" Allea tidak bisa mundur karena tangannya di pegang Max


Dengan takut Allea memejamkan matanya rapat rapat Melihat itu Max tersenyum samar lalu menoyor kening Allea


"Ngapain merem merem?'' tanya Max kembali berwajah datar


Seketika Allea membuka matanya dan memukul lengan Max membuat Max Kembali menatapnya horor


"Ayo anterin gue pulang" Allea buru buru menarik tangan Max


Max mengantar Allea pulang sampai rumah disana ada Nek mar yang sedang sibuk melayani pembeli, Allea langsung membantu melihat warung nasi Allea ramai pembeli Max juga membantu, Allea mencuri pandang melihat Max melayani pembeli meskipun dengan wajah datarnya dan tanpa bicara Max hanya membungkus apa yang di tunjuk pembeli


"Nek mar cucunya cakep bener" ujar salah satu pembeli


"Iya saya juga Mau kalo di kasih mantu kayak gini udah cantik, rajin pula iya kan ibu ibu?" timpal yang lain


"Iya bener Bu enak aja di pandang mata "


"Eehheemm ehhemm" Max Pura pura terbatuk-batuk


Ibu ibu itu melirik kearah Max


"Oalah ada pacarnya toh"


"Pacarnya juga ganteng "


"Iya pengen juga jodohin sama anak saya"


"Huss ibu ibu ini main jodohin aja tanya dulu anaknya mau gak" ucap Nek mar dengan guyonan


"Hahaha iya bener ya Bu" timpal pembeli lain membuat mereka tertawa tidak termasuk Max


"Udah pada makan dulu sana, biar nenek yang beresin ini" Ucap Nek mar mengambil wadah wadah kosong di tangan Allea


"Iya, Ayo Max" Allea lagi lagi menarik tangan Max


Mereka makan tanpa berbicara hanya terdengar dentingan sendok saling beradu Allea sesekali mencuri pandang saat pandangan mereka bertemu Allea mengalihkan pandangannya ke sembarang arah