My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Pingsan



Lydia menatap sepasang pengantin baru yang sedang tertawa di ayunan belakang rumahnya, ia mengusap air di sudut matanya tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang


"Kenapa? Kamu juga mau pacaran seperti mereka? " Tanya Damian


"Bagaimana hidup Allea sekarang? Dia sekarang lebih tertutup dia tidak lagi mau membagi apapun dengan kita termasuk orang tuanya" Lirih Lydia


"Hmm.. Kasihan anak itu dia tidak bisa melupakan Maxime, kepergiannyabyang mendadak membuat Allea sangat terpukul"


"Dia setia sampai hari ini, bagaimana membantu dia agar mau menatap hidupnya yang baru? "


"Doa kan yang terbaik untuk Allea dan Marcello, mereka telah banyak menderita" 


"Kasihan cucu cucuku, Millie apa dia masih hidup? Dimana dia sekarang? " Tangis Lydia semakin terisak dia membalik tubuhnya memeluk suaminya


Danendra dan Cindy yang mendengar suara bundanya segera menghampiri mereka, Damian hanya memberikan isyarat agar mereka jangan bertanya


Cindy berkaca kaca dia tahu betul jika Lydia sudah seperti ini berarti dia mengingat Allea dan Max, Danendra merangkul bahu istrinya dia juga sebenarnya sedih melihat sang bunda yang selalu menangis ketika mengingat nasib anak menantunya


"Sudah... Kita doakan yang terbaik untuk mereka jangan sedih lagi kamu tahu kan anak kita tidak suka melihat bundanya menangis"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Apa kamu bilang? Mereka benar-benar melakukannya? " Pekik Nola


"Saya mendengarnya sendiri, sepertinya ini bukan yang pertama kalinya karena saat pulang dari luar negeri tuan dan dokter itu sama sama memiliki tanda merah di tubuhnya meskipun agak memudar"


"Berapa hari tuan luar negeri? " Tanya Nola


"Seminggu... Harusnya tuan dua minggu berada di sana "


"Terus awasi mereka dan laporkan setiap gerak geriknya"


"Baik nyonya"


"Allea kemana bi? " Tanya Alexander saat tidak melihat Allea di meja makan


"Sepertinya masih di kamar tuan" Mendengar tuannya menanyakan Allea suster sedikit mengintip dari pintu kamarnya


Alexander melangkahkan kakinya menuju kamar Allea, saat membuka pintu kamarnya ternyata tidak ada siapapun disana


"Allea... " Alexander mendengar suara seseorang dari kamar mandi


Alexander membuka pintu kamar mandi ternyata Allea sedang duduk di dekat kloset dengan wajah pucat, Alexander segera menghampiri Allea dan membantunya berdiri


"Kamu kenapa? Kenapa gak manggil orang kalo sakit? "


"Aku gak apa apa, mungkin cuma masuk angin" Lirih Allea


"Kamu yakin? Mau di panggilkan dokter? "


"Gak usah.. Udah siang kenapa belum berangkat? " Tanya Allea


"Kalo ada apa apa nanti telepon aku" Alexander menatap jam di pergelangan tangannya


"Iya"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Gue lagi sakit kak, tapi gue kirim sampel rambutnya" 


"Hasilnya gak bisa cepet, biasanya 2 minggu baru keluar paling bisa di percepat seminggu"


"Gak apa apa.. Gimana kak Vero aja"


"Lo masih mual? " Tanya Vero


"Iya.. Pusing juga makin lemes"


"Lo gak lakuin yang macem macem kan? "


"Ahh.. Anak anak manggil udah dulu ya kak" Allea segera menutup teleponnya untuk menghindari pertanyaan Vero


Allea melihat kalender membuatnya semakin panik,  Allea masuk ke kamar mandi setelah keluar dia malah menangis


"Bodoh.. Bego.. Kenapa lo sebego ini" Allea merutuki dirinya sendiri


"Mama kenapa nangis? " Tanya Ellia saat dia masuk bersama Ello


"Kata papa mama lagi sakit, ini buah buat mama" Mereka duduk di samping Allea dan mulai menyuapi Allea dengan buah


"Mama sakit apa? Kenapa gak panggil dokter? " Tanya Ello


"Gak apa apa, cuma kecapean aja"


"Mama kan dokter kenapa gak periksa sendiri aja? " Cicit Ellia membuat Allea terkekeh


"Kamu bisa aja, udah sore papa belum pulang? " Tanya Allea


"Enggak.. Sini temenin mama tidur" Allea berbaring di peluk kedua anaknya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Dokter Allea gak masuk lagi? " Tanya dokter Sarah pada Vero


"Dia lagi sakit, tau kan dia dokter pekerja keras? Baru pulang jadi relawan pula" Jawab Vero


"Katanya dia di bawa pria tampan sampai tiga hari? Kira kira apa yang mereka lakukan? Sebagai orang dewasa tentu kita tau bukan?"


"Jangan bergosip, pergilah"


"Kamu selalu membelanya, jika kamu tahu dia tidak sebaik yang kamu kira baru kamu menyesal"


"Tidak akan aku menyukai baik dan buruknya dia" Tegas Vero


"Kamu bodoh untuk seorang dokter" Hardik Sarah


"Yang penting aku tidak licik dan mempermainkan orang lain" Sarah keluar membanting pintu ruangan Vero


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Pagi pagi Allea sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, dia memakai lipstik merah untuk menyamarkan wajahnya yang pucat


"Kamu mau pergi kerja? " Tanya Alexander


"Iya.. Aku gak enak banyak libur" Alexander berjalan ke kamar mandi


Setelah menyelesaikan buang air kecilnya Alexander sedikit merapikan rambutnya di depan cermin, saat hendak keluar dia melihat sebuah alat tes kehamilan yang tergeletak di bawah wastafel


"Positif? Cih.. Siapa yang akan dia minta pertanggung jawabannya nanti" Alexander kemudian membuangnya sembarangan


"Ayo.. Udah siap? " Tanyanya pada Allea


"Udah"


"Tunggu.. " Alexander mencekal tangan Allea


"Apa lagi? " Tanpa menjawab Alexander mencium bibir Allea


"Lipstik kamu terlalu merah"


"Isshh.. Kenapa gak bilang? " Allea hendak mengusap bibirnya yang basah namun Alexander lebih dulu mengusapnya


"Ayo pergi" Alexander memeluk Allea dari belakang seraya berjalan mendorongnya


"Jangan gini.. Malu di liat orang" Alexander malah mencebikan bibirnya menempel pada Allea sampai keluar


"Papa peluk peluk mulu, aku juga mau" Ellia dan Ello mendorong dorong tubuh Alexander agar menjauh dari Allea lalu keduanya memeluk sang ibu


Allea menghela nafas pasalnya ketiga orang itu menempel padanya membuat sesak, dari kejauhan Nola melihat kedekatan mereka semakin merasa marah dia masuk kedalam mobil dan mengemudikan nya dengan kecepatan tinggi


"Kalian akan menyesal, arrrggghhh" Nola memukul kemudi


"Aku akan membuat kalian tidak pernah merasakan kebahagiaan, Alexander hanya milikku, dia Alexanderku" Nola semakin berteriak-teriak seperti orang kesetanan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Udah baikan? " Tanya Vero pada Allea


"Lumayan.. Diem di rumah juga bosen"


"Lo masih tinggal di rumah pria itu? " 


"Anak anak maunya di sana" Jawab Allea


"Ohh... Jadwal pagi ini apa? "


"Pertama cuma kontrol pasien yang baru di operasi beberapa hari lalu"


"Ayo.. Gue anter"


"Gak perlu.. Emang kak Vero gak ada kerjaan? "


"Sebentar doang" Vero ikut Allea masuk ke ruangan pasien


Allea mulai tidak fokus dia terus menggeleng gelengkan kepalanya, beberapa detik kemudian Allea kehilangan kesadarannya membuat Vero panik


OTHOR UP BANYAK NIH


JANGAN LUPA KEMBANG YE 🌹🌷🌹🌷


JANGAN LUPA JUGA LIKE KOMEN DAN VOTE