My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Gita yang rapuh



"Psstt.. ssttt... " Allea menyembulkan kepalanya di pintu kamar memberi isyarat pada Aksa


"Kenapa nona? " tanya Aksa seraya mendekat


"Jangan keras keras" Allea langsung menarik tangan Aksa ke dalam kamarnya


"Nona apa yang anda lakukan nanti tuan bisa salah paham"


"Diam.. bantu aku keluar please" Allea memohon


"Tidak, saya bisa di pecat kalau melanggar perintah tuan" Tolak Aksa, pasalnya Allea di hukum selama seminggu tidak boleh keluar


"Bentar aja... ya.. ya.. " Allea membuat wajahnya seimut mungkin


"Maaf nona saya tidak terpengaruh, permisi" Ucap Aksa lalu keluar dari kamar Allea


Allea sampai melongo kali ini Aksa tidak bisa di ajak kompromi, Allea mondar mandir memikirkan cara bagaimana bisa keluar untuk menemui Gita


Ting


Allea mendapatkan ide dia segeran menyambar jaketnya lalu menelpon seseorang untuk menunggunya di dekat rumah, Allea kembali menyembulkan kepalanya melihat keadaan di luar


"Aman" gumamnya setelah melihat punggung Aksa yang berdiri membelakanginya sementara Cindy dan Emile sedang menonton TV


Allea mengunci pintu lalu keluar lewat jendela, untung saja kamarnya berada di bawah jadi dia tidak terlalu sulit untuk keluar. Baru saja melangkah Allea melihat Gibran sedang menelpon di depan rumahnya


"Haishh.. kenapa nelpon disitu sih" Allea berjalan mengendap berjalan ke belakang rumahnya


"Heh... terpaksa" Allea memanjat dinding di samping rumah untuk keluar


Hap


"Astaga" Max terlonjak saat Allea melompat tepat di sampingnya


"Lo ngapain loncat loncat kayak maling? " tanya Max


"Sstt.. udah diem, ayo jalan" Jawab Allea mengambil helm lalu naik ke motor Max


"Kemana? " tanya Max saat sudah jalan


"Ke gedung XXX"


"Ngapain? "


"Jangan banyak tanya jalan aja dulu" Max menjalankan Motornya dengan kencang membuat Allea ketakutan memeluk Max


Max tidak mendengarkan ocehan Allea yang ketakutan di belakang dengan kesal Allea pun menggigit bahu Max membuat laju motornya terhenti


"Sakit tau" Max mengusap bekas gigitan Allea


"Abis lo bawa motor kenceng banget mau ngeprank malaikat maut lo" gerutu Allea


"Lo bilang jangan banyak tanya jalan dulu, ya gue cepet cepetin jalannya biar bisa cepet ngobrol juga" Jawaban konyol Max


"Tapi gak ngajak mati orang juga"


"Kalo ngajak cinta mati? " tanya Max membuat Allea mematung sejenak


"Bulshit Max mulut lo manis doang kenyatannya nol, cepet jalan" pekik Allea seraya memukul bahu Max


Max kembali melajukan motornya dengan santai Allea memeluk Max tersenyum senyum sendiri seraya menyandarkan kepalanya di tubuh Max


.


.


Sesampainya di tempat tujuan Allea naik ke lantai 4 sesuai janjinya dengan Gita, Gita sudah ada di sana tampak sedang berdiri menatap ke bawah gedung


"Kenapa ajak Max" bisik Gita


"Gak apa apa rahasia kita aman dia gak akan kasih tau siapa pun"


"Kalian ngobrol aja, gue tunggu disana" Max menunjuk tempat yang jauh dari mereka


"Kenapa ngajak ketemuan disini? " tanya Allea


"Ini kantor bokap gue, kayaknya disini lebih aman aja" Jawab Gita


"Sebenarnya lo hamil kan? " Gita hanya diam mendengar pertanyaan Allea


"Sorry Allea gue panik waktu itu ada pemeriksaan, sumpah gue gak ada niat buat jebak lo gue asal masukin alat tes itu" Jawab Gita dengan berlinang air mata


"Gak apa apa, guru juga udah percaya kalo itu cuma kerjaan orang gak bertanggung jawab tapi lo gak bisa sembunyiin ini lama lama"


"Gue tau Allea tapi gue bingung gak ada jalan keluar dari masalah ini"


"Orang tua lo tau? siapa yang ayah dari bayi ini? " tanya Allea


"Mereka tau Allea tapi gak bisa berbuat apapun, gue udah kasih tau juga keluarga Dito mereka menolak bertanggung jawab" lirih Gita


"Apa Dito? kok bisa? " pekik Allea


"Perusahaan papa gue bangkrut dan mereka mengira gue jebak Dito biar perusahaan papa kembali bangkit dengan menikah nya gue sama Dito" kali ini Gita sudah menangis sesegukan


"Lalu gimana tanggapan Dito? "


"Dia gak mau memperjuangkan gue, dia bungkam Seolah olah emang dia gak tau apa apa padahal kita ngelakuin itu atas dasar suka sama suka, dia bilang gak mau hancurin masa depannya karena nikah muda" Allea memeluk Gita yang berkata sambil tersedu-sedu


"Gue akan bantu lo sampai mereka mau mengakui anak ini, lo gak sendiri gue akan selalu ada buat lo" ucap Allea seraya mengelus punggung Gita


"Gue gak tau harus gimana lagi, gue merasa sendiri apalagi orang tua gue juga lepas tangan karena kecewa sama gue, gue bener bener putus asa Allea"


"Lo jangan banyak pikiran ya jaga baik baik kandungan lo kalo pun mereka gak mau ngakuin bayi ini kita besarkan dia sama sama" Ucap Allea


"Thanks Allea, gue harus pulang makasih udah luangin waktu buat ketemu sama gue"


"Pokoknya lo harus tetap semangat jangan menyerah, lo pulang sama siapa? "


"Supir gue nunggu di bawah, gue duluan ya"


"Oke.. hati hati" Ucap Allea yang di angguki Gita


Allea menghampiri Max yang sedang berdiri dengan sebatang rokok di tangannya, Max baru saja menyalakan rokoknya Allea mendekat menyandarkan kepalanya di bahu Max



"Kenapa nih tiba tiba nempel begini? " tanya Max seraya membuang asap rokoknya


"Bantuin gue ya"


"Eemmhh pantes ada maunya" Max mencebikkan bibirnya


"Ayolah Max ini bukan buat gue ini buat Gita" pinta Allea seraya memeluk lengan Max dengan tetap menyandarkan kepalanya


"Gue udah tau masalah mereka" jawab Max dengan santai


"What? " Allea mendongak tercengang mulutnya sampai menganga


"Gak usah mangap gitu" ledek Max menyesap kembali rokoknya


"Kenapa lo gak bilang sama gue? " pekik Allea memukuli bahu lengan dan dada Max


"Gue bukan biang gosip apapun yang gue denger gue simpen aja sendiri" Jawab Max menangkap kedua tangan Allea dan menahan di dadanya


"Dari mana lo tau? " tanya Allea yang memundurkan kepalanya karena posisi mereka sangat dekat bahkan kepala Max terus maju


"Max Lo mau ngapain? " Allea menjauhkan kepalanya dari Max karena kedua tangannya di tangan oleh Max di dadanya Allea hanya bisa memundurkan kepalanya


"Gimana kalo kita yang bikin bayi biar lo gak sibuk ngurusin urusan orang" ucap Max dengan senyum mengerikan menurut Allea


"Jangan macem macem, apa lo mau kepala lo di penggal sama ayah" pekik Allea seraya memejamkan matanya


"Mphh hahaha lo lucu banget" Max tertawa melepaskan tangan Allea


"Lo ngerjain gue dasar sialan" Mereka saling mengejar hingga Allea dapat menarik baju Max dan naik ke punggungnya


"Ayo pulang" ucap Allea mengalungkan tangannya ke leher Max


"Turun " singkat Max menggoyangkan tubuhnya agar Allea turun


"Enggak mau, Mau di gendong" ucap Allea manja


"Hhiiss jijik" mendengar perkataan Max Allea malah tertawa, Mereka turun dengan Max menggendong Allea sampai ke lantai bawah


Jangan lupa like komen dan vote