My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Di bawa ke kantor polisi



Buuuggghh.....


Aksa dan Max mendorong para penjahat itu di hadapan Cindy dan Emile yang sedang menonton televisi, Gibran yang sedari tadi berjalan mondar mandir menanti kepulangan Allea


"Sayang kamu selamat, ayah udah panggil polisi" Gibran memeluk Allea begitu pun Allea


Cindy sudah pucat bak kehilangan banyak darah dia susah payah menelan salivanya, apalagi melihat tatapan tajam Max yang seolah menusuk jantungnya jika dia benar benar punya penyakit jantung sepertinya dia akan benar benar mati di tempat


"Kurang ajar kalian" Gibran menghajar kembali ke tujuh orang itu


"Siapa yang menyuruh kalian huh? " Gibran mencengkram kerah baju salah satu dari mereka


Semuanya terdiam hanya menundukan kepala sampai pihak kepolisian datang dan menginterogasi mereka secara terpisah semuanya memberikan pengakuan yang berbeda membuat polisi bingung


"Bawa saja mereka semua dan pastikan mereka bicara, gunakan cara apapun agar mereka bicara" ujar kepala kepolisian


"Kalian mau mengaku atau aku akan menyuruh polisi memotong bagian tubuh kalian? " ancam Max


"Jangan mengancam mereka bagaimana jika mereka memberikan keterangan palsu? " ujar Cindy yang tiba tiba menyahut


"Kenapa jadi lo yang sewot? lo takut? " ledek Max


"Takut? kenapa Cindy Harus takut? " tanya Gibran


"Karena Cindy yang berencana melenyapkan Allea" Max menatap tajam ke arah Cindy yang terlihat salah tingkah tangannya gemetar dengan keringat dingin


"Apa? gak mungkin Cindy melakukan itu" Gibran seakan tidak percaya Cindy bertindak sejauh itu


"Iya dad mereka bohong, jangan percaya omongan mereka" teriak Cindy


"Kenapa? lo takut sekarang? dimana keberanian lo saat menyuruh mereka melenyapkan seseorang? Allea tahu semuanya dia ngomong sama gue"


"Max Allea pasti bohong dia cuma pengen jatuhin gue" jawab Cindy dengan wajah memelas


"Katakan siapa yang menyuruh kalian? " Max mengambil pistol yang ada di saku polisi dan mengacungkannya pada salah satu dari mereka


"Jangan" teriak mereka bersamaan


"Max biar polisi yang menangani ini jangan gegabah" Allea memeluk Max dari belakang


"Sayang menjauh" Gibran khawatir Max menyakiti Allea


"Pak apa saya boleh menembak kaki salah satu dari mereka? " tanya Max memberi kode dengan matanya


"Silahkan" Jawab polisi


Dooorrrr praaanngggg


Mereka semua menjerit ketakutan apalagi Cindy dia jatuh duduk di lantai menutupi telinganya seraya menangis, Allea memeluk erat Max air mata Allea terasa membasahi punggungnya


"Yah meleset, sekali lagi ya pak" ujar Max saat tembakannya melesat ke celah kaki mereka hanya mengenai guci besar milik Gibran


"Udah Max udah udah, gue gak mau lo jadi jahat biar polisi yang mengadili mereka" Allea menangis tersedu memegangi tangan Max yang masih terangkat


"Sekali lagi ini sangat mengasyikkan" Jawab Max terlihat akan menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya ke kepala mereka


"Kami mengaku salah kami akan memberitahu dalang dari semuanya" para penjahat itu berlutut


"Katakan" ucap Max dingin masih mengarahkan pistolnya


"Dia" tunjuk mereka bersama sama mengarah pada Cindy "Dia yang menyuruh kami mencelakai nona ini, ampuni kami.. ampuni kami.. " mereka sampai bersujud memohon agar Max menurunkan pistolnya


"Ini pak saya kembalikan" Ujar Max menyimpan kembali pistolnya di celana polisi


"Cindy kamu? " Tanpa di duga Gibran mendekat dan mendaratkan pukulan bertubi-tubi di kedua pipinya


"Maafin Cindy dad, Cindy benar benar iri pada Allea hidupnya begitu sempurna. kasih sayang daddy sekarang hanya tertuju pada Allea apalagi hidup-Nya terasa sempurna setelah bertemu dengan Max" Cindy berkata jujur karena ketakutannya


"Udah Dad.. udah kasian Cindy" Emile memeluk kaki Gibran agar menghentikan pukulannya


"Anak tidak tahu diri, kamu sudah mendapat kemewahan sejak kecil apa yang kamu inginkan dari Allea huh? Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi anak tidak berguna seperti ini" Gibran kembali memukul wajah Cindy hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya


" Bawa mereka pergi dari sini aku muak melihat mereka" ucap Gibran seraya menepis tangan Emile di kakinya


Keadaan di rumah Gibran menjadi hening tidak ada yang bersuara, Emile mengurung dirinya di kamar sementara Max dan Gibran berada di kamar Allea sedang menghibur gadis itu. Gibran menjawab telepon hingga menyisakan allea dan Max di kamar


"Udah malem sekarang kamu tidur, aku mau pulang dulu" ucap Max menarik selimut menutupi tubuh Allea


"Aku? kamu? geli banget" Allea terkekeh mendengar Max


"Hei romantis dikitlah " ucap Max tidak Terima Allea menertawakannya


"Haha.. oke oke kita akan jadikan kebiasaan" jawab Allea


"Aku pulang ya, cium dulu" Max meraih wajah Allea dan mengecupi seluruh wajahnya dan mendarat lama di bibir


"Iisshh nanti ada ayah" Allea mendorong tubuh Max menjauh


"Ya udah sampai ketemu besok, mimpi indah.. bye" Max tersenyum sebelum pergi lalu menutup pintu kamar Allea dan berpamitan pada ayahnya untuk pulang


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang makan dulu "


"Gak mau sebelum seblak nya ada" rumah Gita gaduh dengan suara Dito dan istrinya itu


Kedua orang tua Gita hanya menggeleng melihat Dito terus mengetuk pintu kamar Gita yang terkunci, Dito di buat pusing oleh Gita yang menolak makan dan selalu makan makanan pedas dari pagi saja dia makan hanya satu kali hanya makanan pedas yang dia makan


"Sudah.. sudah.. biarkan saja dulu nanti juga kalo lapar dia makan" ucap Ibu Gita menghampiri Dito


"Dito cuma khawatir bu, Gita dari pagi cuma makan sekali" jawab Dito lemas


"Iya juga sih tapi mau gimana lagi kalo di paksa juga dia marah marah, udah biarin aja dulu nanti juga kalo lapar keluar"


"Kamu istirahat aja di kamar tamu, Makanan udah ibu simpan di kulkas nanti dia tinggal panaskan sendiri" lanjut ibu Gita


"Iya bu, kalo gitu Dito istirahat dulu" Mereka semua masuk ke kamar masing masing


Benar saja Gita malam malam keluar kamar mencari Dito, dia panik sendiri Dito tidak ada di rumah Gita sampai membuka semua kamar mencari keadaan suaminya


"To... Dito.. " panggil Gita seraya membuka satu persatu pintu kamar


"Dito kok kamu tidurnya disini sih" Rengek Gita memukuli punggung Dito yang sedang tertidur


"Apasih? kan kamu kunci pintunya" jawab Dito dengan suara parau


"Kamu tega, kenapa kamu malah pergi kenapa gak bujuk aku? " tangis Gita pecah


"Hei.. gimana aku mau bujuk kamu pintunya aja di kunci, aku ngomong dikit kamu ngomong panjang lebar kayak kereta api"


"Aku cuma mau kamu bujuk aku tinggal cari kunci cadangan apa susahnya" Dito hanya menggaruk kepalanya bingung dengan sikap sang istri


"Ya udah jangan nangis aku minta maaf ya, lain kali aku dobrak pintunya sekalian" jawab Dito


"Huaaaa.. kamu ngeledek aku ya? " tangis Gita semakin keras


"Aduhh jangan nangis aku cuma becanda, nanti orang rumah bangun ngiranya aku ngapa ngapain kamu" Dito bingung bagaimana cara menghentikan tangisan Gita


"Cup cup cup sayang jangan nangis ya" Dito membawa Gita ke pelukannya


Dito mengecupi bibir Gita bertubi tubi seraya mengusap air matanya, namun Gita meminta lebih dia menekan tengkuk Dito dan memperdalam ciumannya


"Aku mau.. " lirih Gita


"Mau apa? " belum menjawab pertanyaan Dito Gita langsung menubruk tubuh suaminya hingga terjengkang ke belakang


"Astaga.. agresif banget" cicit Dito saat Gita memulai serangannya


Jangan lupa like komen dan vote ya 😍😍