My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Ingkar janji



"Tuan.. nyonya gak keluar dari kamar ini udah siang, saya dengar nyonya teriak pagi pagi" Bibi khawatir akhirnya menelpon Max


"Dia belum sarapan? "


"Belum tuan, anak anak juga nangis terus mau sama nyonya tapi saya ketuk ketuk pintunya gak di buka juga"


"Saya pulang sekarang" Max dengan langkah besarnya pergi meninggalkan kantor, barulah pasrah Staf bisa bernafas lega


"Baru kali ini gue liat tuan sebegitu kejamnya"


"Mungkin punya masalah pribadi"


"Semoga masalahnya cepet kelar, di kantor terasa tahan nafas kalo ada tuan"


Max mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh waktu lama untuk dia pulang, Benar saja pintunya kamarnya di kunci


Max mengambil kunci cadangan dan ternyata di dalam kosong, Hanya terdengar suara air mengalir di kamar mandi awalnya Max mengira Allea sedang mandi namun perasaannya mengatakan sesuatu


Max membuka pintu kamar mandi juga kosong namun bathtub penuh dengan air karena kerannya tidak dimatikan, Max masuk untuk mematikan keran namun dia terkejut melihat tubuh Allea tenggelam di bak itu


"Allea.. sayang Bangun Allea" Max mengangkat tubuh Allea dan meletakkannya di lantai


Wajahnya mulai pucat tidak ada pergerakan sedikitpun tubuhnya pun penuh cakaran dan kedua pipinya memerah, Max melakukan pertolongan pertama pada orang yang tenggelam namun tidak ada hasil


Max terus melakukannya berulang ulang tanpa putus asa hingga Allea kembali bernafas, Max dengan cepat membawa Allea ke rumah sakit tidak peduli pakaiannya mereka basah kuyup


"Mama.. mama kenapa? " Anak anaknya menangis ketika melihat sang ayah membawa ibu mereka dengan keadaan memperihatinkan, Max pergi tanpa menoleh pada anak anaknya yang sedang di tenangkan pelayan pelayan yang bekerja di rumahnya


Keadaan Allea mulai stabil namun masih belum menunjukkan tanda tanda dirinya akan sadar, Max menangis tersedu mencium tangan serta kening Allea


Dia benar-benar menyesal dan mengira istrinya melakukan semua ini karena dirinya, Karena Allea belum sadar Max memutuskan untuk pulang sebentar untuk mengganti bajunya


Di kamar dia menemukan fakta lain dari handphone Allea yang membuatnya sangat marah, cakaran di tubuh Allea itu adalah luka yang dia buat sendiri


Max meremas handphonenya dan pergi dengan kekesalan yang memuncak, Max menelpon seseorang sebelum dia pergi


"Bebaskan dia dari penjara dan bawa ke tempat biasa, berikan sedikit hadiah" Ucap Max


"Baik tuan"


Max pergi ketempat biasanya dia memberi hadiah pada orang orang yang mengganggunya, Hadiah itu merupakan hal terburuk bagi mereka


"Lo belum nyerah juga? padahal aset lo udah gak berguna dan lo udah tenang di penjara tapi lo lebih memilih menikmati kesengsaraan? " Max mengangkat dagu Satya yang kedua tangannya terikat dan sudah babak belur


Cuih..


"Lo gak tau malu beraninya keroyokan, lawan gue dengan kekuatan lo sendiri" Satya meludah di hadapan Max


"Cih... lo gak inget waktu di hotel gigi lo patah berapa? apa lo kira gue selemah itu? "


"Lepaskan dia" Anak buahnya melepaskan rantai yang melilit tangan Satya


"Maju" ucap Max


Tanpa basa basi Satya berlari dan mulai melayangkan tinjunya namun meleset, Max berkali kali meninju wajah Satya hingga terkapar


Tidak menyerah setelah beberapa saat Satya kembali bangun dan menyerang Max, dengan santai Max menangkis pukulan Satya yang mulai melemah


"Istri lo wangi, kulitnya lembut dan manis.. sayang belum sempat gue pake" Sarkas Satya


Max mengepalkan tangannya hingga urat urat di tangannya menonjol, Sekali pukulan di wajah Satya membuatnya kehilangan kesadaran


"Lempar ke kolam" tanpa rasa iba mereka melempar tubuh Satya ke kolam yang di huni dua buaya


"Maaf Allea.. aku ingkar janji" gumam Max, dia sudah berjanji untuk tidak menghabisi nyawa orang lain begitu saja, namun kali ini Max hilang kendali karena Satya berani menyentuh istrinya


Max mendapat telepon bahwa Allea sudah sadar Max segera kembali ke rumah sakit dan membuang baju serta celananya yang berlumur darah


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Nyonya ingin makan sesuatu? " tanya suster


"Enggak Sus.. suami saya kemana? "


"Tuan pulang dulu, pihak rumah sakit sudah telepon mungkin sekarang tuan sedang di perjalanan" Jawab Suster


"Ya sudah saya tinggal nyonya, selamat istirahat" Allea berbaring dan menutup matanya


Allea ingin pergi karena dia berpikir Max menghindari dirinya karena merasa jijik, Allea ingin menenangkan diri untuk sementara waktu


Setelah terdengar suara pintu di tutup Allea segera bangun dan melepaskan selang infus yang di pasang di tangannya, Allea hendak kabur namun baru saja membuka pintu Max sudah berdiri di hadapannya


"Mau kemana? kenapa infusnya di cabut? " Allea mundur saat Max melangkah masuk


"Tidur.. kamu belum sembuh"


"Jangan sentuh aku.. aku.. aku.. menjijikkan.. aku kotor.. aku menjijikkan.. aku kotor" Hanya itu yang terucap dari mulut Allea


Allea menggelengkan Kepala saat teringat bagaimana Satya mencium tubuhnya, Tangannya mulai mencakar tubuhnya sendiri


"Sayang stop.. kamu menyakiti diri kamu sendiri" Max memegangi kedua tangan Allea


"Pergi.. pergi.. jangan sentuh aku.. Aku gak pantes jadi istri kamu.. aku udah kotor.. aku wanita kotor.. aku gak bisa jaga kehormatan aku" Allea berteriak


"Bukan salah kamu sayang.. bukan salah kamu, tenang "


"Enggak.. aku malu.. aku malu.. jangan sentuh aku, aku kotor" Allea menepis tangan suaminya, dia tidak ingin bersentuhan dengan Max


Max melepaskan bajunya dan memeluk erat Allea meskipun Allea memberontak, Allea terus berkata dirinya menjijikkan


"Enggak Allea.. aku gak berpikir seperti itu, kamu gak salah.. aku yang merasa gagal melindungi kamu, aku gak pernah sedikitpun berpikir kamu menjijikkan.. aku yang lengah aku gak bisa jaga kamu.. maaf"


"Aku menghindar dari kamu karena aku marah sama diri aku sendiri, aku gak pernah tenang waktu lihat kamu"


Suster yang membuka pintu seketika mematung melihat tubuh Max yang kekar berotot di penuhi tatto, Max menoleh dengan tatapan tajam dan dingin membuat suster tersenyum kikuk kembali menutup pintunya, Suster senyum senyum sendiri seraya menggelengkan kepalanya


Max mendekap Allea hingga tidur memeluknya bahkan Max juga tidak memakai bajunya untuk membuktikan bahwa dia tidak pernah merasa jijik pada Allea, Max melihat luka luka di tubuh Allea yang dia buat sendiri


Max bangun dan memotong pendek kuku istrinya agar tidak melukai lagi tubuhnya, Allea mengerjapkan matanya terusik dengan Max


"Kenapa bangun? mau sesuatu? " Tanya Max


"Aku takut kamu ninggalin aku" Allea menangis menarik tangan Max agar kembali tidur disisinya


"Siapa yang bilang aku mau ninggalin kamu? Kamu istri kesayangan aku.. Jangan sedih sedih jelek tau" Max mengusap air mata Allea lalu mengecup bibir Allea


"Aku.. aku.. "


"Sstttt.. jangan bicara lagi, ayo tidur " Max memeluk Allea juga menepuk nepuk b*k*ngnya


"Apa dia.. apa dia sempat melakukan itu? " lirih Allea


"Enggak.. aku datang tepat waktu, jangan pikirin apa apa lagi aku udah urus semuanya"


"Kamu gak jijik aku udah di sentuh orang lain? "


"Enggak sama sekali.. bukan kesalahan kamu juga, aku udah bilang kemaren aku cuma merasa bersalah gak bisa jaga kamu, aku gak sanggup lihat kamu karena aku selalu marah sama diri aku sendiri" Jawab Max


"Apa videonya di liat orang lain? " tanya Allea


"Enggak sayang aku udah urus semuanya, kamu tenang aja.. keluarga sialan itu udah di tahan sama polisi"


"Aku takut kamu gak mau nerima aku lagi"


"Isshh.. aku bahkan gak bisa hidup tanpa kamu " Jawab Max sambil mengeratkan pelukannya


Max mengangkat dagu Allea bibirnya dengan lembut menabrak bibir Allea, Tangannya tak tinggal diam menjelajah kesana kemari


"Kenapa? " tanya Allea saat Max menjauh


"Keadaannya berbahaya" Allea mengerutkan dahinya


"Berbahaya kan? " Max menuntun tangan istrinya ke tubuh bagian bawahnya


"Kami lagi sakit.. ayo tidur" Max tidak ingin egois melihat kondisi sang istri


Max terkejut dia tidak menyangka kejadian ini akan membuat Allea sampai berpikir untuk mengakhiri hidupnya, dia pasti sangat terpukul apalagi ketika Max menghindarinya