My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Gara gara cemburu



Allea sedang menyetrika baju Max yang baru saja dia angkat dari jemuran, Danendra yang tidak sengaja lewat menghampirinya membawakan satu kaleng minuman dingin dari dapur


"Kenapa di kerjain sendiri? " ucap Danendra membuat allea terkejut


"Ahh.. ngagetin aja, gak apa apa gue cuma mau jadi istri yang baik aja" jawab Allea


"Emmhh.. gimana rasanya jadi seorang istri? " tanya Danendra


"Gimana? gimana maksudnya? "


"Ya perasaan lo setelah menjadi istri dari cowok yang lo cinta" Allea menoleh sebentar lalu kembali fokus pada baju yang dia setrika


"Lo nyindir apa gimana nih? " tanya Allea sambil tertawa kecil


"Ya bukannya dari dulu lo deket banget sama Max? dulu aja waktu kita masih pacaran dia selalu jadi prioritas lo kan? jujur sebenarnya gue masih belum rela lo nikah sama Max"


"Sebenarnya dulu gue cuma gak bisa bedain mana cinta sama kekaguman gue bingung akan dua hal itu, dan mungkin lo bener gue udah suka sama Max dari dulu dan gue cuma kagum sama lo yang pinter, anak orang kaya tapi gak sombong" Jawab Allea


"Apa lo gak pernah sedikitpun ada perasaan suka sama gue? " tanya Danendra


"Jujur gue lebih suka nganggep lo sahabat atau sodara mungkin, Sekarang gue tau persis seperti apa perasaan gue"


"Huh.. lo orang yang jujur" Danendra menarik nafasnya dalam mendengar pahitnya kejujuran


"Gue cuma gak mau ngasih orang harapan palsu, kita bisa mulai semuanya dari awal kan? kita jadi sodara yang baik, dan gue berharap hubungan lo sama Max semakin membaik"


"Semoga aja" singkat Danendra


Ketika Allea hendak mengambil setrika yang dia letakkan dia tidak berhati hati hingga tangannya terkena setrika yang panas


"Aww.. sshhh " Allea mengibas ngibaskan tangannya


Dengan panik refleks Danendra mengambil tangan Allea dan meniupnya, bersamaan dengan itu juga Max baru saja masuk kesana


"Ehem.. " Allea segera menarik tangannya dia takut Max berpikir yang macam macam


Tanpa bicara lagi Max berbalik pergi Allea segera mencabut setrika nya lalu menyusul Max dan meninggalkan Danendra sendiri, Max masuk kedalam kamarnya dia menyalakan PlayStation dan duduk di atas ranjang sambil bermain


"Sayang lagi apa? " tanya Allea manja duduk di samping Max namun Max mendiamkannya bahkan tidak menjawab pertanyaannya


"Kamu mau makan apa? aku masakin ya? " Max masih diam


"Kamu mau di bikinin kopi, teh atau susu? " Max sama sekali tidak memperdulikan


"Mau aku siapin air hangat buat mandi? "


"Atau aku bantu kamu mandi? " Allea terlanjur kesal dia berdiri di hadapan Max dan menghalangi pandangannya


Max mematikan gamenya lalu melempar stiknya sembarangan kemudiaan beralih bermain Game di handphonenya, Allea merangkak di tempat tidur mendekati Max


"Sayang kamu kenapa? " tanya Allea sedih


"Aku pijitin ya? " Allea menyentuh kaki Max namun dia menjauhkan kakinya


Allea hendak memeluk Max tapi Max berbalik memunggunginya, akhirnya Allea hanya berbaring memunggungi Max juga. Allea selalu berbalik melihat apa yang sedang di lakukan suaminya tapi Max sama sekali tidak bergerak


Merasa frustasi sendiri Allea duduk bersandar di kepala ranjang sambil menarik narik lengan Max agar berbalik, Max malah menepis tangan Allea kembali fokus ke handphonenya


Layar handphone memperlihatkan postingan postingan teman teman sekelasnya di sosial media, Max yang biasanya tidak pernah menyukai postingan apapun kali ini menyukai poto poto wanita Allea melihat itu geram sendiri langsung pergi meninggalkan Max keluar


"Bibi lagi masak? Allea bantu ya"


"Jangan non nanti nyonya marah" jawab pelayan


"Gak apa apa Allea bantu motong motong aja"


Allea memotong bawang cukup banyak sampai mengeluarkan air mata, mungkin sebenarnya dia ingin menangis tapi malu akhirnya dia memotong bawang agar bisa di jadikan alasan


Max juga masih memperhatikan Allea dia pergi ke dapur melihat Allea bercucuran air mata mengiris bawang Max tetap cuek hanya mengambil minum lalu kembali pergi


"Dasar gak berperasaan" umpat Allea


"Non udah kebanyakan ini, aduh sampe nangis.. udah non gak usah bantuin bibi nanti nyonya marah" ucap pelayan


"Yah... ini gimana dong bi?"


"Gak apa apa nanti bibi bikin bawang goreng aja"


"Maaf ya bi" lirih Allea merasa bersalah


"Gak apa apa non, cuci tangan dulu nanti perih kena mata " Allea Menurut mencuci tangan lalu pergi menemui bundanya di ruang tamu


Allea melihat Max duduk di sebelah Cindy sedang mengobrol dan terlihat senyum senyum, entah kapan Cindy datang kesana yang jelas Allea hanya melihat mereka duduk berdua


"Sayang ngapain disini? loh kamu nangis? " tanya Lydia yang baru saja keluar kamar


"Gak bun, tadi bantu bibi ngiris bawang.. Allea mau mandi dulu ya bun" pamit Allea kembali ke kamarnya


Tanpa bertanya atau menenangkan Allea Max berbaring mengacuhkan tangis istrinya, terdengar pintu kamar di banting Max menoleh sebentar lalu tertawa pelan


Harum menganggu indera penciuman saat pintu kamar mandi terbuka, Max bangun melihat Allea yang keluar hanya di lilit handuk. Instingnya lelakinya keluar dia berjalan menghampiri Allea yang sedang mengambil baju di lemari


Benda kenyal nan hangat menyapu bahu dan tengkuknya, Allea meremas ujung handuknya seraya memejamkan mata


Max membalikkan tubuh Allea sesuatu menyembul di atas handuk membuat jakun Max naik turun, Allea menendang kaki Max lalu melesat kabur mengunci pintu di kamar mandi


"Argghhh, Allea buka" Max menggedor pintu namun Allea tidak kunjung membukanya


"Mampus, siapa suruh cuekin gue giliran ada maunya aja heh, lo pikir gue tergoda? kagak" gerutu Allea berbicara sendiri di depan cermin


Belum selesai berpakaian dan baru saja memakai ********** pintu kamar sudah di dobrak, Allea panik mengambil handuk menutupi tubuhnya


"Kamu gila? kenapa di dobrak nanti kalo mandi gak ada pintunya gimana? " suara Allea marah marah layaknya ibu ibu yang memarahi anaknya


Tanpa menjawab Max membopong tubuh Allea seperti karung beras dan melemparnya ke ranjang, Allea beringsut menutupi tubuhnya sedang selimut


"Kamu mau ngapain? aku masih sakit ya" Allea mundur perlahan saat Max semakin merangkak mendekat


" sakit"


".. sakit.. jangan keras keras" rintih Allea


"Sakit Max" pekik Allea


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya Max menutup mulut Allea dan melanjutkan aksinya namun ketukannya tak kunjung berhenti


"Apa sih bun? " tanya Max menyembulkan sedikit kepalanya


"Tadi bunda denger suara gaduh gaduh apa? barusan Allea kenapa? " tanya Lydia membuat Max tersenyum kikuk


"Anu bun.. itu.. "


"Itu itu apa? kamu gak macem-macem sama menantu bunda kan? "


"Ouhh engak bun enggak, itu tadi pintu kamar mandi copot.. udah dulu ya Bun dadah bunda" Max segera menutup pintunya


Allea beringsut di kepala ranjang menutupi tubuhnya, Max mendekat dengan tatapan dingin membuat Allea takut


"Sini" panggil Max namun Allea tetap diam


"Sini atau? " mendengar nada ancaman Allea maju perlahan


"Sakit gak? " tanya Max melihat luka di punggung Allea, Allea hanya mengangguk sebagai jawaban


"Kamu berani berduaan sama cowok lain lagi? pegang pegangan tangan? " tanya Max seperti sedang menghukum anak kecil, Allea menggeleng lemah


"Janji jangan deket dekat cowok lain? " Allea mengangguk


"Sini" Max merentangkan tangannya agar bisa memeluk Allea namun Allea menggeleng


"Kenapa?"


" Kamu peluk aja cewek di luar aku gak mau"


"Merajuk huh? aku sengaja lakuin itu biar kamu juga rasain apa yang aku rasain" ucap Max


"Aku gak suka liat kamu deket sama cewek lain" ucap Allea bergetar matanya mulai berkaca kaca


"Aku juga, apalagi pegang pegangan tangan apa itu maksudnya? "


"Dia cuma bantu tiupin tangan aku kena setrika" Allea mengacungkan tangannya yang nampak menghitam


Max mengambil tangan itu dan mengecup lukanya,


"apa pun alasannya aku tetep gak suka kamu bisa minta aku buat tiupin"


"Aku gak tau dia tiba tiba pegang tangan aku" lirih Allea


"Sini kamu " ketus Max Allea bergeser semakin mendekati Max yang duduk di tepi ranjang


"Jangan macem macem lagi ya." Allea mengangguk di dekapan Max


"Aku mau nerusin yang tadi" lanjut Max


"Gak mau kamu kasar"


"Aku janji lebih lembut" Akhirnya Allea mengangguk dia juga tidak ingin membantah keinginan suaminya


Penghuni kamar sebelah sempat shok saat mendengar itu, siapa lagi kalau bukan Danendra semula dia terkejut mendengar suara suara aneh namun selanjutnya dia jadi gelisah sendiri mungkin setelah hari ini Danendra akan meminta pindah ke kamar bawah dari pada mendengar suara suara laknat saudaranya