
"Allea ayo ikut kita mau liat pemandangan bagus" ucap Yuki
Allea menoleh kearah Max lalu Max menggeleng membuat Allea murung "Kalian pergi aja, Allea nanti sama gue"
"Kita berengan aja, kasian tuh Allea nya pengen ikut" bujuk Yuki
"Bareng aja ya.. " lirih Allea seraya menarik narik ujung baju Max
"Hah.. ya udah, jangan jauh jauh dari aku" Melihat wajah istrinya begitu menyedihkan akhirnya Max mengalah
Perjalanan cukup jauh dan Allea benar benar tidak bisa pergi kemanapun karena tangannya di pegangi Max, Yuki yang melihat itu dari belakang merasa kesal namun harus dia tahan demi tujuannya
Tiba di atas tebing pemandangan terlihat dari jelas dari atas sana juga burung burung yang berterbangan di langit biru membuat Allea terkesan, Max melepaskan tangan Allea sejenak untuk membetulkan tali sepatunya
Saat Max kembali berdiri dia celingukan mencari Allea yang menghilang dari sisinya dia menanyakan pada teman temannya yang berjalan beriringan bersamanya tadi
"Liat Allea gak? "
"Tadi kayaknya jalan duluan" jawab seorang teman
Max mempercepat jalannya untuk mengejar Allea, dia juga kembali menanyakan pada teman yang berada di depannya
"Liat Allea gak? "
"Tadi sama Yuki duluan" Max mempunyai firasat tidak enak dia berlari kecil mencari keberadaan Allea
Max berteriak memanggil nama Allea saat langkahnya terhenti untuk mencari jalan yang di lalui Allea sebuah teriakan membuatnya terkejut dia berlari ke asal suara, hanya terlihat Yuki yang berdiri mematung di atas tebing dengan air mata yang menetes
"Dimana Allea? " Dengan tidak sabar Max mengguncang bahu Yuki
"Allea.. dia.. dia.. kepeleset" pandangan Yuki menatap ke bawah
"Argghh.. jangan main main" bentak Max
"Tolong... siapapun tolong" belum sempat Yuki bicara suara seseorang terdengar dari bawah sana
"Allea.. sayang bertahan" Max menoleh ke bawah tebing yang tinggi
"Aku udah gak kuat" ucap Allea dalam tangisnya dia benar benar ketakutan
Allea berpegangan pada sebuah batu dengan tangan yang gemetar, Max berniat turun namun teman temannya datang dan melarangnya karena akan membuat keduanya dalam bahaya
Mereka membuka sabuk dan menyatukannya menjadi sebuah tali panjang untuk membantu Allea naik, tali masih kurang panjang akhirnya Max memaksa turun dengan memegangi untaian sabuk yang di pegangi teman temannya
Max meraih tangan Allea dan berhasil mengangkatnya, tubuh Allea gemetar dalam pelukan Max dia lemas bagai tak memiliki tulang. dengan susah payah Max membawanya naik hingga mereka bisa bernafas lega setelah keduanya selamat
"Lagi lagi lo bikin kita panik" ucap salah satu dari mereka
Tangis Allea pecah hingga tidak dapat mengeluarkan suaranya dia begitu ketakutan Max mendekap tubuh Allea, Sebenarnya Max juga gemetar karena ketakutan melihat Allea bergelantungan di bawah sana
Max mengedarkan pandangannya, pandangannya berhenti saat melihat betis Allea berdarah dia segera menggendong Allea kembali ke villa
"Kalo terbukti ini perbuatan lo, gue akan bikin perhitungan" ucap Max penuh penekanan
Teman teman sekolah menggunjing Yuki yang seolah sengaja tidak berteriak minta tolong saat melihat Allea jatuh, tidak sedikit dari mereka yang menduga Yuki lah yang mendorong Allea
Setelah semuanya pergi meninggalkannya kembali ke villa Yuki mengusap air matanya kasar wajahnya menunjukan sifat aslinya
"Sial.. kenapa lo gak mati aja, susah susah gue ajak lo kesini semuanya berantakan" Gumam Yuki
Max meminta teman temannya mencari dokter terdekat agar bisa mengobati luka Allea, Hanya teman laki laki yang menolong mereka sedari tadi sementara yang perempuan acuh tak acuh mungkin mereka bagian dari orang orang yang senang jika melihat Allea terluka
"Aku udah bilang gak usah ikut ikutan, kamu gak mau dengar bisanya ngambek gak di turutin maunya ngambek kalo udah begini menyesal pun percuma" Max memarahi Allea karena tidak mendengarkannya dari awal
"Maaf" lirih Allea yang hanya menangis menatap lukanya yang sudah di jahit dan di perban oleh dokter
Allea semakin menangis kakinya sudah sakit dia juga di marahi oleh Max, dia ingin di manja namun suaminya malah memarahinya habis habisan
"Kemasi barang kamu kita pulang sekarang"
"Tapi kaki aku sakit"
"Lain kali jangan membantah lagi atau aku patahin kaki kamu sebelah lagi" ucap Max masih dengan nada tinggi
Teman teman Sekolahnya bergidik ngeri melihat kemarahan di wajah Max yang menggendong Allea keluar, hawa dingin terasa saat mata mereka tidak sengaja bertemu
Setelah kejadian itu Batang hidung Yuki tidak terlihat lagi, karena yang lain kebingungan mereka juga memutuskan pulang sore itu juga
Di perjalanan Allea masih saja terisak tersedu sedu, Max menghentikan laju mobilnya dia menghembuskan nafas kasar Lalu meraih tubuh Allea kedalam dekapannya
"Aku khawatir liat kamu gelantungan di tebing setinggi itu, kamu harusnya dengerin aku"
"Aku banyak larang kamu itu karena takut kamu terluka, aku bisa gila kalo sampai kamu kenapa napa tadi, maafin aku ya marah marah sama kamu" lanjut Max dengan nada lembut
Allea tidak bicara sama sekali dia masih tersedu sedu mungkin antara rasa takut, rasa sakit dan kesal karena di marahi bercampur jadi satu
"Kamu tidur aja ya.. " ucap Max setelah mendaratkan kecupan bertubi-tubi
Sesampainya di rumah Allea masih tidak bicara dia takut salah bicara dan Max akan memarahinya lagi, bibi sudah khawatir setengah mati melihat nyonya nya pulang dengan keadaan seperti ini
"Kalau tuan besar tau pasti ada keributan nyonya" ucap Bibi ketika membantu Allea mengganti pakaiannya
"Jangan kasih tau ayah bi" lirih Allea
"Lukanya besar ya? " bibi memperhatikan betis Allea yang di balut perban, Allea hanya mengangguk
"Max mana bi?" tanya Allea
"Tuan.. kayaknya di bawah"
"Bantu saya turun bi" Allea menggapai tangan bibi untuk membawanya turun
Max mendiamkan Allea yang sudah duduk di sampingnya, pandangannya masih lurus menatap televisi, Allea juga enggan membuka pembicaraan mereka berdua hanya diam menonton
"Aku mau mandi, kamu mau mandi gak? " Max membuka pembicaraan
"Gak.. udah malem dingin'' lirih Allea
" Jangan jalan kemana mana, tunggu aku disini" ucap Max
Max bangkit dari duduknya berjalan menuju ke kamar, Allea menatap punggung Max yang semakin berjalan menjauh setidaknya Max mau bicara padanya itu sudah membuatnya lega
Tok tok tok
"Bi.. bukain pintunya"
Bibi membukakan pintu beberapa saat kemudian bibi berjalan kembali mendekati Allea
"Siapa bi? " tanya Allea
"Cowok nyonya katanya mau ketemu, bibi gak berani kasih masuk takut tuan marah" jawab bibi
Bibi memapah Allea menuju pintu keluar menemui tamu yang berdiri membelakangi mereka
"Siapa? " tanya Allea lalu orang tersebut berbalik
"Lo.. ngapain kesini? " tanya Allea panik melihat sekeliling