
"Sayang kenapa hmm? Kenapa sampai seperti ini? " Tanya Allea saat sampai di rumah Alexander
"Aku gak mau mama pergi, aku takut mama gak balik lagi" Lirih Ellia
"Apa yang kamu lakukan itu salah Ellia, kamu menyusahkan orang lain dan membuatnya terganggu" Sergah Alexander membuat Ellia menundukan wajahnya
Allea memberi isyarat agar Alexander diam namun sepertinya pria itu hendak mengatakan sesuatu hingga akhirnya Allea mencubit pahanya, Alexander diam memalingkan wajahnya seraya mengusap bekas cubitan Allea
"Jangan seperti ini lagi ya.. Kamu buat semua orang khawatir itu gak baik" Ucap Allea seraya memeluk Ellia
"Mama gak marah? "
"Mana bisa mama marah sama anak cantik ini, dengar.. Mama sayang sama Ellia mama gak akan ninggalin Ellia" Allea mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu disana
"Ini alamat mama di jakarta, kamu bisa susul mama kesana kalo mama gak balik lagi kesini" Ucap Allea
Allea terpaksa membatalkan penerbangannya karena Ellia meminum susu lalu mengunci pintu kamarnya, dia merajuk ingin bertemu Allea namun ayahnya mengatakan jika Allea sudah pergi pagi ini
Karena tidak jadi pergi Allea memutuskan untuk merawat Ellia, malam hari dia terbangun dari tidurnya Allea berjalan ke ruang keluarga lalu menyalakan televisi
"Lagi ngapain? Belum tidur? " Tanya Alexander yang baru saja keluar ruang kerjanya untuk mengambil air
"Kebangun jam segini bingung mau ngapain" Jawab Allea masih menatap televisinya
"Maafin Ellia, gara gara dia kamu gak jadi pergi" Alexander duduk di sebelah Allea
"Gak apa apa.. Lagi pula aku masih bisa pergi besok" Jawab Allea
"Bagaimana kalo kalian ikut? Maksudku Ellia ikut bersamaku" Lanjut Allea
"Aku tidak percaya orang lain merawat anakku" Jawab Alexander membuat Allea mendelik
"Aku juga tidak akan menjualnya" Ketus Allea
"Siapa tahu nanti kau menculik dan meminta tebusan padaku"
"Hei.. Aku tidak semiskin itu, dasar menyebalkan"
Alexander tersenyum melihat wajah cemberut Allea yang persis seperti putrinya, tanpa dia sadari sedari tadi Allea melihat Alexander tersenyum ke arahnya
"Hei.. Oscar Oasis kenapa senyum senyum gitu? "
"Kamu bilang aku apa? " Alexander menyadari Allea menyebutnya Oscar Oasis
"Oscar Oasis" Jawab Allea
"Apa itu? "
"Tokek gurun pasir di kartun anak anak" Jawabnya santai
"Kenapa kamu menyamakan aku dengan tokek? " Pekik Alexander marah
"Karena tubuhmu belang"
"Hei.. Ini seni, kau tahu? Sembarangan"
"Aku tahu, apa seni harus sebanyak itu? Membuat tubuhmu benar-benar terlihat mirip tokek"
"Hentikan Xander itu geli" Allea tertawa saat Alexander menggelitiknya
Allea dan Alexander tertawa saling menggelitik sampai keduanya sama sama diam dengan nafas ngos-ngosan karena terlalu banyak tertawa, saat mereka diam terdengar suara kecapan dari televisi keduanya sontak menoleh
Adegan seorang pria dan wanita sedang berciuman membuat keduanya menelan ludah, posisi Allea masih memegang kerah baju Alexander sementara Alexander memegang pinggang Allea
Tanpa sadar Allea terlalu fokus menonton seraya menggigit bibir bawahnya, pandangan Alexander bukan lagi tertuju pada televisi namun pada bibir merah Allea yang tampak manis
Alexander mendekatkan wajahnya tanpa aba aba langsung memagut bibir Allea, awalnya Allea memberontak namun Alexander bisa menahan tangannya sampai dia ikut terhanyut merasakan sesuatu yang dia rindukan sejak dulu
Kini mereka saling memeluk dan menghisap satu sama lain, Allea benar-benar di buat lupa diri oleh sosok yang mirip suaminya ini
"Rasa ini, kenapa bisa sama? Apa aku hanya terlalu merindukan Max, aku tahu ini salah" Batin Allea
Alexander merebahkan tubuh Allea di sofa Allea masih membiarkan Alexander menciuminya dia ingin lihat seberapa jauh pria ini dengan tindakannya, Alexander mengakhiri pagutannya dan menatap wajah Allea lalu mengecup kening Allea
"Tidurlah.. Jangan mengigau lagi" Ucap Alexander seraya mengecup puncak kepala Allea
"Aku kenapa? Kenapa aku merasa pasrah begitu saja? Tapi pria ini jauh dari dugaanku dia tidak melakukan hal yang berlebihan dari ini meski aku tahu dia sedang menahan hasratnya saat ini" Batin Allea, dia bisa mendengar nafas Alexander yang memburu
Keduanya terlelap di sofa tersebut dengan posisi saling memeluk, seseorang di balik dinding tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya
.
.
Pagi pagi sekali Allea bangun namun dia tidak melihat Alexander lagi, dia mengingat kejadian semalam membuatnya geleng-geleng sendiri
"Nona mau di buatkan sarapan? " Tanya bibi
"Boleh bi, Ellia sudah bangun? Aku pergi sekitar 2 jam lagi" Ucap Allea
"Nona sedang bersiap" Jawab bibi
"Bersiap sekolah? "
"Bukan.. Apa nona tidak tahu? Tuan subuh tadi pergi menyerahkan pekerjaannya pada tuan Daniel katanya mau ikut sama nona pergi ke Jakarta"
"Apa dia serius? Aku mandi dulu bi" Allea bergegas ke kamarnya untuk mandi
Setelah selesai mandi Allea menghampiri Ellia yang sudah berada di meja makan, tanpa dia sadari ternyata Alexander juga ada disana
"Pagi ma.. " Sapa Ellia
"Pagi sayang" Jawa Allea
Ketika dia menoleh ke samping pandangannya bertemu dengan Alexander keduanya sontak memalingkan wajah
"Kalian serius mau ikut? " Tanya Allea
"Ehemm.. Aku takut Ellia bertingkah seperti kemarin"
Selesai makan Ellia pergi ke mobil terlebih dulu, ketika Allea hendak keluar Alexander menarik tangannya
"Apa lagi? Cepat sedikit kita bisa telat" Ucap Allea
"Semalam.. " Allea dengan cepat membekap mulut Alexander
"Jangan di bahas" Ucap Allea lalu keluar, Alexander ikut keluar mengejar Allea tampaknya mereka berdebat seraya berjalan ke mobil
"Apa yang wanita itu lakukan? Tuan sampai tidak mengajakku pergi" Gerutu suster yang kesal biasanya dia selalu di ajak setiap Alexander dan Ellia bepergian
"Mungkin karena tuan ingin menghabisi waktu berdua dengan dokter itu, hah.. Seandainya kamu lihat adegan semalam" Beo bibi seraya membayangkan kejadiannya
"Apa yang terjadi semalam? " Tanya suster penasaran, bibi membisikkan sesuatu membuat suster terkejut
"Apa? Gak mungkin tuan melakukan itu" Pekik suster
"Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, tuan memang memaksanya" suster mendengus pergi begitu saja wajahnya tampak menahan kekesalan
"Dasar gak tahu diri, bisa bisanya pembantu suka sama majikan" gumam bibi yang sengaja memanas manasi suster Erika
"Hallo.. nyonya"
"Ada kabar apa? "
"Semalam bibi bilang lihat tuan memaksa mencium dokter itu, apa mereka berpacaran? " tanya suster
"Kenapa kamu bertanya padaku? jangan biarkan mereka dekat kamu harus bisa menimbulkan kesalah pahaman diantara mereka"
"Masalahnya tuan dan Ellia sudah ikut pergi ke Jakarta bersama dokter itu"
"Apa? dasar bodoh kenapa kamu gak ikut? "
"Saya sudah mengatakan akan ikut pada tuan tapi tuan tidak memperolehkan saya ikut"
"Gak becus kamu" Nola kemudian mematikan sambungan teleponnya