
"Alleaaa... makasih sayang, lo penolong gue yang paling baik, lo bidadari, lo malaikat, makasih" Celine memeluk sampai menciumi tangan Allea ketika pergi ke kantor Max
"Iya... iya.. jangan gini malu di liat orang" Allea menarik tangannya sementara Celine hanya cengengesan
"Sayang ngapain malah ngobrol disitu" Mendengar suara istrinya di luar Max segera menarik tangannya masuk
"Thankyou" Cindy mememberikan flying kiss pada Allea sebelum dia masuk
Celine kembali ke meja kerjanya mengerjakan sesuatu yang Max berikan sebagai tugas pertama, Celine benar-benar senang karena Max dan Allea memberinya pekerjaan
Seseorang tiba tiba datang menggebrak meja kerja Celine membuatnya terlonjak, pria tersebut melotot sampai-sampai matanya seperti hampir loncat
"Lo ngapain disini? mau jatuhin temen gue juga? keluarga lo berniat menghancurkan perusahaan Bokap gue tapi sekarang gagal, gimana rasanya? kecewa bukan? "
"Ini apaan sih datang datang marah marah, lo gak sehat? " ketus Celine
"Heh.. bilangin sama si Harsa yang botak itu, jangan macem macem pake masuk ke kantor ini lagi, lo gak tau Max kayak apa kalo marah? bisa hancur lebur lo sama dia"
"Tunggu.. lo salah paham, gue bukan.. " Ucapan Celine
"Lo ikut gue dan kita liat gimana reaksi Max kalo tau siapa lo sebenarnya" Bisma menarik paksa Celine menuju ruangan Max
"Jangan masuk di dalam ada... " terlanjur pintu di buka oleh Bisma
"Hei.. dasar gak sopan, apa gak bisa ketuk pintu dulu" Max terlonjak saat pintu tiba-tiba terbuka
Allea segera memasang kancing bajunya lalu turun dari pangkuan suaminya, Celine menunduk tak kuasa menahan malu wajahnya terasa panas
"Apa kalian gak akan melepaskan tangan satu sama lain? " Goda Max
"Hiiii... " Bisma seperti jijik menghempaskan tangan Celine lalu menepuk nepuk tangannya
"Lo kenapa kasih kerja anak si Harsa botak? " tanya Bisma penuh kekesalan menatap Celine
"Siapa? dia? lo salah" max menunjuk Celine
"Dia temen SMA gue kak.. dan bukan anaknya siapa itu tadi? "
"Tau.. udah di bilangin juga, rese banget sih" ketus Celine
"Dia pasti punya maksud lain Max jangan percaya orang sembarangan, lo juga Allea gimana kalo nanti Max kawin sama dia? " sarkas Bisma
"Gue bukan pelakor.. dasar sialan, lo pikir gue sehina itu? Celine memukuli Bisma
" Eehh... aduh.. aduh.. kenapa nih orang " Bisma menahan serangan Celine, Max memijat keningnya dia kesal karena terganggu belum lagi keduanya malah bertengkar
"Stop" Max menggebrak meja membuat keduanya diam seketika
"Iklan yang kita buat di curi lagi kan? Untung kita buat rencana ini.. lo bisa liat" Max memutar laptopnya dan memutar sebuah video
"Apa? Mitha? " Bisma tidak percaya melihatnya
Mitha memotret semua proposal di meja Bisma juga rancangan iklannya, Bisma mengepalkan tangannya erat dia tidak percaya bahwa Mitha mengkhianatinya
"Anak Harsa itu Mitha, Celine hanya di jadikan kambing hitam" ucap Max
"Padahal gue udah rencanain buat tunangan minggu depan, gue akan bikin perhitungan"
"Jangan gegabah.. Acara pertunangan harus lo lanjutkan acara pertunangannya, kita akan bongkar semuanya disana termasuk kejahatan Kakaknya Mitha" semua orang menatap Max bersamaan
"Jadi kamu udah dapet rekaman CCTV-nya? " tanya Allea
"Udah.. kenapa? " jawab Max singkat
"Gak ngasih tau aku" Allea mencebikkan bibirnya
"Bibirnya minta di cium" Max mengecup bibir Allea membuat Bisma dan Celine langsung balik badan
"Kalian keluar aja, ganggu tau gak" hardik Max
"Ayo keluar aja" Bisma menarik tangan Celine keluar
"Gak usah pegang pegang, dasar kepala batu" gerutu Celine seraya duduk di meja kerjanya
"Apa? lo bilang gue kepala batu? "
"Emang.. gak bisa di bilangin, udah pergi sana gue masih banyak kerjaan" Usir Celine
"Cih.. baru jadi sekretaris aja sombong, lo gak tau siapa gue? " Bisma dengan percaya diri mengangkat kedua sisi jasnya
"Hei... mau ngapain? dasar gila" Celine mendorong Bisma menjauh
"Awas lu" ancam Bisma menunjuk Celine
"Gue gak takut " Celine menjulurkan lidahnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Lo mau kemana? " tanya Mitha melihat Satya sudah rapih dan wangi
"Gue mau... ahh kepo lo" Satya pergi begitu saja
Satya hari itu menyuruh seseorang membuntuti Allea dan saat ini dia ingin menemui Allea di sebuah wahana bermain anak anak, Dia terburu buru karena malam itu Allea tidak bersama Max
"Jangan lari lari Millie" ucap Allea saat Millie lari kesana kemarin, Kaki Millie tersandung beruntung sebuah tangan meraih tubuhnya dan menggendongnya hingga tidak tersungkur
"Hati hati cantik" ucap Satya seraya mencolek hidung Millie
Millie menatap Satya dengan memicingkan ekor matanya, Allea segera merebut Millie dari gendongan Satya
"Jangan sentuh anakku" Allea menekankan kata katanya
"Kamu galak begini cantik banget" Allea pergi begitu saja menghampiri para susternya
"Ini anak anak kamu? lumayan mirip" Satya terus mengikuti Allea
"Tuan maaf jangan mengganggu nyonya kami, silahkan pergi" ucap suster yang menjaga Millie
"Setiap anak punya suster? wow.. suami kamu perhatian banget ya"
"Kayaknya kita pulang aja deh Sus" ucap Allea
"Apa perlu telepon tuan nyonya? " tanya suster ketika anak anak Allea malah tidak ingin pulang
"Saya telepon sekarang" Allea menelpon Max namun Satya malah tidak mau pergi, dan itu membuat Allea khawatir akan terjadi keributan
"Kenapa ngikutin sih? pergi atau aku teriak" ucap Allea
"Siapa yang ngikutin? inikan tempat umum jadi gak apa apa dong aku disini"
"Benar diam disini, jangan bergerak mengikutiku" Allea pergi menjauh membuat Satya tersenyum Smirk
Ketika Allea tergesa-gesa berjalan tiba tiba dia menabrak seseorang, Max berdiri di hadapan Allea mengusap kepala istrinya
"Kok buru buru mau kemana? anak anak dimana? " tanya Max
"Aku mau ke mobil, anak anak lagi main"
"Kenapa? kamu capek? " tanya Max saat mendengar Allea terburu-buru ingin kembali ke mobil
"Enggak.. aku.. aku.. "
"Ternyata kamu disini? " tiba tiba Satya datang seolah dia telah mencari Allea
"Ngapain kamu sama dia? " Tanya Max
"Gak tau dia ngikutin.. aku gak ngapa ngapain" jawab Allea
"Loh.. tadi kan kamu minta di beliin minum, ini aku udah beli" Satya mengulurkan minuman pada Allea
"Dia bohong.. aku.. aku.. "
"Pulang sekarang" ucap Max dingin menarik tangan Allea
"Max dengerin aku dulu, ini gak seperti yang kamu pikir" Max tidak mendengar ucapan Allea dia menarik tangan istrinya kedalam mobil untuk menunggu anak anaknya kembali
"Sayang aku.. aku.. gak gitu" Allea sudah ingin menangis melihat suaminya menatapnya dengan dingin
"Masa kamu gak percaya sama aku? aku gak macem macem" Allea berkaca-kaca bibirnya bergetar menahan tangis
"Aku percaya.. aku cuma becanda" Max terkekeh mengecup bibir Allea
"Kirain kamu marah" lirih Allea
"Enggak.. aku paling tau istri aku gimana, kamu gak akan macem macem" Max mencubit dagu Allea
"Ini sebagian rencana aku, kita harus biarkan mereka seperti tidak terjadi apapun sampai pada saatnya mereka akan di tuntas habis sampai ke akarnya" lanjut Max