My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kenapa harus anakku



Tit tit tit 


Suara dari alat rumah sakit yang terpasang di tubuh Allea, semua keluarga berada di sampingnya dengan tangis dari semua orang


"Maaaaxxx tidaaaak" Allea langsung terbangun dari koma nya dengan nafas tersengal


"Sayang.. Sayang tenang" Ucap Gibran


"Ayah Max dimana? Dia terluka yah dia terluka" Ucapnya terkesan buru buru


"Sayang tenangkan diri kamu" Ucap Lydia


"Bayi aku.. Mana bayi aku? " Allea histeris menyentuh perutnya


"Tenang sayang kita akan bawa kesini bayinya" Lydia menenangkan Allea sampai Cindy dan Danendra datang bersama suster membawa dua bayi


Senyum Allea terbit menghapus air mata di wajahnya, tangannya melambai lambai menyuruh suster menaruh kedua anaknya di tangannya


"Mama kira mama kehilangan papa dan kalian, mama tenang sekarang melihat kalian baik baik saja" Lirihnya mencium kedua anaknya


"Max mana? Kenapa dia gak di rawat di kamar yang sama lagi? " Tanya Allea


"Maxime di ruangan lain sayang, sekarang kasih asi dulu bayinya" Ucap Lydia lembut setelah saling menatap dengan semua orang


"Aahh iya sampe lupa, berapa hari aku disini? " Tanyanya lagi


"Kamu sudah dua hari koma sayang" Semua orang diam hanya Lydia yang bicara karena takut salah salah mereka malah membuat Allea kembali histeris


"Lama juga ya.. Kasihan mereka pasti kelaparan" Lydia menutupi bagian depan Allea dengan kain khusus ibu menyusui


"Abis ini Allea mau ketemu sama Max ya bun" Ucapan Allea membuat semua orang terkejut


"Jangan dulu sayang jahitan di perut kamu belum kering nanti aja ya" Jawab Ririn yang baru saja masuk


"Mama dari mana? " Tanya Allea


"Baru aja selesai periksa pasien, mama dengar Allea sudah sadar jadi buru buru kesini" 


"Jadi kapan Allea bisa ketemu sama Max? "


"Nanti setelah jahitan nya kering, sekarang istirahat dulu dede bayinya biar di jaga sama suster ya" Ririn kembali memasukkan bayi Allea kedalam box


"Daahh sayang mama istirahat dulu nanti kita ketemu papa sama sama" Mendengar perkataan Allea semua anggota keluarganya memalingkan wajah ke arah lain berusaha menyembunyikan air mata yang menggenang dan siap terjun


Mereka keluar satu persatu setelah Allea tidur Lydia tidak bisa lagi menahan tangisnya dia merosot duduk di lantai memukul mukul dadanya, semua orang ikut menitikkan air mata melihat bagaimana malangnya Allea


"Kenapa harus anak anakku? " Lirih Lydia


"Bunda" Danendra ikut duduk memeluk bundanya


"Kenapa Maxime ku? Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan aku saja? " Ucapnya dalam isak tangis pilu


"Aku tidak bisa menahannya" Gibran berlari keluar dari rumah sakit mengeluarkan segala sesak di dadanya


Dia menangis tersedu sedu di belakang rumah sakit, bagaimana dia menghadapi Allea setelah ini apa yang harus dia katakan jika Allea menanyakan keberadaan suaminya


"Sayang sudah lah" Ririn menenangkan Gibran


"Apa yang harus aku jawab nanti? Kenapa Allea malangku, kenapa gadis kecilku"


"Kita harus terlihat kuat di hadapannya, jika kita lemah siapa yang akan menjadi tempat berlindungnya? Lagi pula cepat atau lambat Allea pasti akan mengetahuinya kita harus bersiap menghadapinya" Ucap Ririn




Keesokan paginya Allea baru saja bangun dari tidurnya, disana ada Lydia yang setia di samping Allea 


"Bunda tidur disini? " Tanya Allea


"Enggak sayang.. Semalam yang jaga disini ayah emang Allea gak bangun? "


"Enggak bun tidur Allea nyenyak banget" Jawabnya


"Tapi Allea gak mau makanan rumah sakit bun, boleh minta yang lain gak? " Ucap Allea dengan wajah memohon


"Mau makan apa sayang? Bunda beliin tapi jangan bilang bilang" Bisik Lydia lalu keduanya tertawa


Allea kembali membaringkan tubuhnya saat Lydia pergi keluar membeli makanan yang di minta Allea, Allea memikirkan bagaimana caranya pergi mencari Max tanpa di ketahui orang tuanya tapi perutnya sakit saat bergerak


Allea memejamkan matanya dia rindu suaminya, suaminya juga berjanji akan memberi hadiah setelah Allea melahirkan dia ingin menagih nya sekarang


Terdengar suara pintu terbuka bersamaan dengan suara kedua suster yang sedang bicara, Allea pura pura tidur mendengarkan pembicaraan mereka


"Kasihan nona ini" 


"Hmm.. Melahirkan di usia muda di tinggal mati pula sama suaminya"


"Katanya keluarganya masih merahasiakan ini darinya"


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana saat dia mengetahui semuanya"


"Sayang sekali padahal suaminya ganteng banget, aku pernah ketemu waktu mereka kontrol ke dokter Ririn"


"Aku juga pernah liat tapi waktu kecelakaan kasihan jasadnya tidak bisa dikenali"


"Selesai, ayo pergi" Suster pergi setelah selesai mengganti infus


Allea membuka matanya merenungkan perkataan kedua suster tersebut, tiba tiba saja air matanya berlinang Allea mencabut selang infus yang terpasang di tangannya


Allea berlari keluar mencari meja resepsionis dengan tangisnya, rasa sakit di perutnya tidak dia rasa meskipun sudah ada bercak darah di bajunya


"Sus dimana suami saya Sus? Dimana? " Allea histeris


"Nona tenang nona.. Bicara perlahan lahan"  Ucap resepsionis


"Suami saya Sus.. Kami kecelakaan beberapa hari lalu suster dimana suami saya? " Allea semakin histeris


Ririn segera datang setelah di hubungi mereka sudah di beritahu oleh Ririn bahwa pasien ini adalah anak sambungnya saat pertama masuk ke rumah sakit


"Sayang kenapa disini? Ayo masuk kamu masih harus istirahat nanti bunda nyariin" Ucap Ririn lembut


"Mama gak bohongin Allea kan ma? Sekarang bawa Allea keruangan Max"


"Sayang lihat perut kamu kembali berdarah kita lihat dulu ya, setelah itu... "


"Setelah itu apa ma? Jadi siapa yang benar diantara kalian? Jadi siapa yang di maksud suster itu? Siapa yang meninggal saat kecelakaan? Siapa yang jasadnya tidak di kenali? " Teriak Allea histeris


"Sayang kamu tenang, sekarang ikut mama anak anak butuh kamu sayang"


"Enggak ma.. Allea mau ketemu sama Max tolong ma" Allea menangis tersedu-sedu memegangi kaki Ririn


Ririn mengusap air matanya berusaha membangunkan Allea yang yang tidak mau bangun juga, mereka menjadi tontonan banyak diantara mereka yang ikut menangis melihat Allea yang menyedihkan


Tangis Allea melemah dan jatuh tergeletak di lantai, Ririn memanggil orang untuk mengangkat Allea dan kembali membawanya keruang rawatnya


Saat Ririn kembali dengan Allea yang terbaring di dorong suster Lydia mencari cari keberadaan Allea, Lydia menjadi khawatir saat melihat menantunya terbaring menutup mata


"Kenapa Allea? " Tanya Lydia


"Dia sudah tau semuanya" Lirih Ririn


"Tau darimana? "


"Entahlah, tapi dia menyebutkan kata suster" Jawab Ririn


"Aku tidak menjaganya dengan baik.. Bagaimana nanti jika dia sadar? " Lydia menyalahkan dirinya yang tidak menjaga Allea dengan benar


"Kita harus telepon orang yang menemukan Allea tempo hari" Ucap Ririn


"Ya.. Itu keponakanku" Lirih Lydia


Bisma harus menceritakan bagaimana dia menemukan Allea malam itu, karena Allea sangat yakin Max masih hidup akan sulit baginya menerima kenyataan bahwa suaminya meninggal begitu tragis


Mereka mengabarkan hal ini juga pada keluarga yang lain agar berkumpul disini untuk memberi semangat pada Allea