
"Bagaimana tante ehh dokter? " Max meralat panggilannya pada Ririn
"Saya tau kalian pengantin baru tapi jangan terlalu bersemangat ya, untung hanya kram perut " Max dan Allea saling pandang lalu saling berbisik dan menyikut
"Aku bilang juga apa jangan terlalu garang" bisik Max
"Kamu juga gak sadar tadi cepet cepet" balas Allea
"Kamu yang sering pegang kendali" ucap Max
"Tapi kamu lebih keras pake tenaga" Allea tidak mau kalah
"Kamu juga kayak kesetanan" ucap Max mendapatkan sikutan keras dari Allea
"Kamu kok KDRT? "
"Ehem... lihat ini kalian sepertinya akan memiliki dua bayi" suara Ririn mengejutkan keduanya
"Ahh.. gimana tadi? " tanya Max
"Bayi kalian kembar, lihat ini " Ririn menunjuk layar monitor
"Dua bayi sekaligus? apa ini mimpi? " ucap Allea dengan mata melebar dan menutupi mulutnya menganga
"Ini.. ini.. keajaiban, apa Tuhan mengganti anak kita yang pertama? kita sekaligus dapat dua seperti jackpot" ucap Max dengan wajah berbinar dia benar benar senang
Allea dan Max saling memeluk juga Max mengecup seluruh wajah Allea dengan gemas sepertinya mereka mulai lupa dengan kehadiran Dokternya
"Ehem.. kembali ke topik awal, Berapa banyak biasanya dalam seminggu melakukannya? " Allea dan Max kembali saling memandang
"Jangan malu katakan saja"
"Itu.. anu.. " Allea terbata menggaruk tengkuknya
"Sebenarnya kita tidak tahu pastinya dok" Jawab Max
"Sering atau jarang? "
"Sering" Singkat Max seolah tidak punya rasa malu
"Seminggu bisa berapa kali? " tanya Ririn
"Hampir tiap hari dok itu pun kalo gak berantem" ucap Max langsung mendapatkan cubitan di perutnya oleh Allea
"Aww.. memang benar kan? "
"Jangan di omongin semuanya juga, gak tau malu" protes Allea
Ririn mengulum senyum dan menggeleng dengan tingkah Max juga Allea, mereka kini kembali berbisik sepertinya sedang berdebat
"Sudah sudah nanti berantemnya lanjut di rumah ya" Ririn menengahi
"Saran saya jangan terlalu sering melakukan hubungan suami istri dulu karena kondisi janin trimester pertama rentan mengalami keguguran mengingat kehamilan pertama juga mengalami keguguran jadi kita meminimalisir kejadian serupa"
"Jika memang mau melakukan hubungan suami istri sebaiknya di lakukan perlahan juga bisa di jadwalkan seminggu 2/3x dan durasinya jangan terlalu lama" Mendengar itu Wajah Allea memerah seketika
"Kita permudah saja bagaimana jika jadwalnya kita buat dari hari yang berawalan S, senin, selasa dan sabtu agar mudah di ingat dan perhatikan lagi kalian harus bisa menahan diri" lanjutnya
Dia berpikir kenapa bisa membahas hal sevulgar ini, Allea malu bukan kepalang rasanya dia ingin hilang dari muka bumi dalam sekejap
"Tante jangan kasih tau ayah ya? Allea malu" Lirih Allea menundukkan kepalanya serta menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan
"Tenang aja.. privasi pasien aman" ucap Ririn seraya tersenyum mengusap bahu Allea
"Nyonya gimana keadaannya? " tanya bibi yang melihat Max dan Allea baru saja keluar ruangan dokter
"Gak apa apa cuma kram perut, Ayo pulang" ucap Max menuntun tangan Allea
Mereka berada di dalam mobil tapi Max belum menghidupkan mobilnya, Bibi tersenyum gemas melihat perhatian Max pada Allea yang menurutnya sangat romantis
"Hei.. kalian membuat papa jantungan, apa apaan tadi itu huh? kalian ingin mengerjai papa? " Max berbicara pada perut Allea yang masih rata mengusapnya dengan penuh kasih sayang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Papa.. " Gita terkejut saat mertuanya berdiri di depan pintu
"Silahkan masuk pa" Gita membawanya
Mendengar ada tamu kedua orang tua Gita menghampiri Gita membawa Dirga, orang tua Gita juga terkejut melihat besan yang tidak pernah menginginkan Gita ada di rumahnya
"Ada apa anda kemari tuan? " tanya ayah Gita dengan nada sinis
"Aku kesini untuk melihat cucuku" jawabnya
"Cucu? sejak kapan anda mempunyai cucu? ''
" Ayah... " Gita berusaha menjelaskan namun ayahnya menggantung kelima jarinya untuk menghentikan ucapan Gita
"Sebelumnya saya benar benar minta maaf atas sikap saya dan istri saya, tapi kali ini saya bersungguh sungguh ingin menebus segala kesalahan saya" Ayah Gita terdiam dan ibu Gita mendekat mengusap lengannya serta memberi isyarat dengan mengedipkan mata sedikit menganggukkan kepalanya
"Saya menyesali perbuatan saya dan keluarga saya untuk itu saya meminta maaf pada kalian, meskipun istri saya masih belum bisa menerima kehadiran menantu dan cucu saya tapi saya akan mengganti itu dengan kasih sayang saya yang tidak terhingga"
"Baiklah kami memaafkan kalian tapi tolong ajari istrimu agar tidak selalu merendahkan anak kami, bukankah kesalahan ada pada keduanya? jangan hanya memandang salah anak kami tanpa melihat kesalahan anak kalian" ucap Ayah Gita
"Kalau begitu saya permisi ada yang harus saya kerjakan" Ayah Gita pergi dari sana diikuti Ibu Gita setelah memberikan Dirga pada Gita
"Apa ayahmu bisa memaafkan papa? " tanyanya pada Gita
"Mereka bukan orang yang keras kepala" jawab Gita
"Ahh.. bukannya hari ini Dirga jadwal imunisasi? Ayah akan mengantarkan kalian ke rumah sakit" ucap Ayah Dito
"Ayah tau dari mana? "
"Dito kasih tau tanggalnya, katanya dia gak bisa nemenin jadi ayah mau antar kalian"
"Apa gak merepotkan? ayah sibuk di kantor" ucap Gita
"Demi cucu yang menggemaskan ini semua waktu opa bisa opa berikan"
Ayah Dito mengantar Gita dan Dirga ke dokter anak untuk imunisasi, selain itu ayah Gita juga memberikan kartu kredit untuk Dirga membeli keperluannya. awalnya Gita menolak tapi ayah Dito memohon akhirnya tidak ada pilihan lain selain dia menerimanya
"Ada yang mau di beli? kita bisa berhenti di supermarket atau Mall? " tanya ayah Dito
"Kalo ayah ada waktu Gita mau ke supermarket dulu"
"Tentu opa banyak waktu untuk Dirga, kita parkir dulu" Ayah Dito mengambil Dirga dari gendongan Gita dan menunggu di luar karena Dirga rewel
Tak di sangka mereka bertemu dengan adik Dito yang kebetulan juga berada di sana
"Hei.. bayi ganteng aunty kangen" Adik Dito mencium pipi Dirga dengan gemas
"Mana kak Gita pa? " tanyanya
"Dia belanja di dalam"
"Kalo gitu aku mau cari kak Gita dulu, dah Dirga" Dia pergi setelah mencium Dirga untuk mencari Gita
Ketika pandangan ayah Dito lepas dari putri bungsunya dia di kejutkan dengan kehadiran ibu Dito yang berdiri di hadapannya, Tatapannya bergantian menatap ayah Dito dan Dirga
"Bayi siapa ini? " tanya ibu Dito penuh curiga
"Kamu tidak pernah menemui cucuku sampai tidak tahu wajahnya" ucapnya menggunakan kata cucuku untuk menyadarkan ibu Dito
Ibu Dito menatap lekat bayi yang di gendong suaminya, ada perasaan hangat di hatinya tangannya terangkat hendak menyentuh Dirga namun dia urungkan setelah mendengar suara Gita
"Mama" gumam Gita
"Kamu gak berangkat ke kantor cuma buat nemenin anak haram ini? kenapa kamu berani jalan jalan berdua sama suami saya? jangan jangan setelah Dito kamu juga berniat merayu suami saya? " mendengar tuduhan keji dari ibu Dito membuat Gita tampak sedih
"Cukup.. apa yang kamu katakan" bentak ayah Dito
"Ayah terimakasih sudah mengantarkan Dirga imunisasi hari ini, saya permisi, sekali lagi terimakasih maaf sudah menyita waktunya" Gita mengambil Dirga dari gendongan mertuanya lalu pergi dengan menenteng belanjaan
"Nak tunggu" Ayah Dirga mencegah namun Gita terlanjur sudah naik ke dalam taksi
"Apa apaan kamu? sikap kamu bikin malu, mulut kamu seperti tidak pernah di sekolahkan, memalukan" hardik nya lalu meninggalkan ibu Dito mematung sendiri
Ibu Dito berbalik membelakangi mobil suaminya lalu menekan sudut matanya yang mulai berair dan masuk ke dalam untuk mencari adik Dito