My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Jangan menyesal



Allea baru saja terbangun dia melihat Vero menatapnya seraya menyilangkan tangan


"Aku kenapa? " Tanya Allea


"Lo yang lebih tau diri lo kenapa" Jawab Vero, Allea hanya menundukkan wajahnya


"Kalian selesaikan urusan kalian, aku pergi dulu" Ucap dokter bagian obgyn


"Ayahnya pria itu? " Pertanyaan Vero membuat Allea mengangkat kepalanya


"Kak.. Gue pasti minta pertanggung jawaban dari dia" Jawab Allea, Vero menggelengkan kepalanya


"Belum tentu dia bertanggung jawab, dia bukan Maxime"


"Lo gak usah khawatir kak gue akan baik baik aja, dia pasti tanggung jawab"


"Kalo engga? " Allea hanya diam


"Kalo dia gak mau tanggung jawab biar gue yang tanggung jawab" Lanjut Vero 


"Ambil tas lo gue anterin pulang sekarang"


"Tapi.. Gue harus kerja"


"Lo mau kerja? Gimana cara lo kerja kalo cium bau obat aja lo pingsan" 


"Nurut sama gue, pulang sekarang" Allea akhirnya pulang diantar oleh Vero ke rumah Alexander karena barang-barangnya masih ada disana


"Kalo ada apa apa telepon gue"


"Iya kak.. Makasih udah anterin gue pulang"


Allea masuk ke dalam rumah dia kembali mual saat mencium bau masakan yang bibi masak, Allea berlari ke kamar mandi yang terletak di dapur


"Non.. Kenapa? Aduh gimana nih? " Bibi membantu Allea memijat tengkuknya


"Udah bi makasih" Lirih Allea, dia kembali ke kamarnya


"Duh.. Jangan jangan.. "


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


"Gimana kabar kamu sayang? " Tanya Gibran ketika menelpon Allea


"Baik yah, ayah mama sama yang lain gimana kabarnya? "


"Baik sayang.. Mama kangen banget sama kamu "


"Iya.. Allea juga kangen kalian"


"Kamu baik baik aja nak? Kenapa kamu seperti sedang menangis? " Tanya Ririn


"Aku kangen makanya aku nangis"


"Uuhh.. Udah jangan nangis malu sama Ello"


"Allea pengen banget makan masakan mama" Allea merasa menginginkan masakan Ririn


"Pulang sayang... Nanti mama masakin yang banyak buat kamu"


"Allea juga pengen pulang, Allea pengen peluk ayah sama mama" Suara Allea memberat isak tangisnya semakin terdengar


"Kamu baik baik aja sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi buat kamu sedih? " 


"Enggak ma.. Aku cuma kangen kalian"


"Kami juga, nanti setelah ayah menyelesaikan urusannya kami akan kesana lagi"


"Allea tunggu"


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Allea berbaring menatap langit langit seraya mengusap perutnya, dia membayangkan bagaimana reaksi anak anak ketika tahu mereka akan mempunyai adik


"Mama udah tidur? " Tanya Ellia menyembulkan kepalanya dari pintu


"Sini sayang" Ellia dan Ello merangkak naik lalu memeluk Allea


"Kata bibi mama sakit lagi? Apa belum makan? " 


"Mama masih kenyang.. Jangan khawatir mama baik baik aja"


"Ello takut mama sakit, Ello takut mama ikut papa " Lirih Ello matanya sudah berkaca kaca


"Isshh.. Ello kok ngomongnya gitu? Gak boleh, mama pasti sehat ya kan? " Ellia menggerutu pada Ello


"Mama baik baik aja, kalian gak akan kehilangan mama, mama akan selalu ada buat kalian"


"Aku mau mama selalu ada di samping aku, jangan tinggalin aku ya.. Aku gak mau kehilangan mama untuk yang kedua kalinya"


"Oke.. Mama janji" Ketiganya mengaitkan jari kelingking bersamaan


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


"Anda tidak pulang tuan? " Tanya Daniel


"Gue bingung.. Bener bener bingung" 


"Kenapa lagi? "


"Menurut lo seandainya wanita yang berhubungan dengan banyak laki laki kalo hamil itu anaknya siapa? " Tanya Alexander


"Kenapa nih pertanyaannya gini? Lo hamilin anak orang?"


"Siapa? Allea? " Tanya Daniel, 


"Nah kan.. Gue bilang juga apa pake pengaman" Lanjut Daniel dengan nada mengejek


"Gue kira dia cuma berhubungan sama gue doang, ternyata dia juga berhubungan sama temen dokternya"


"Tau dari mana lo? " 


"Gue kan niatnya mau surprise jemput dia diem diem di Bandara ehh tau nya dia malah enak enakan di toilet sama temen dokternya, gue ikutin lagi dia pergi ke apartemen" Alexander menceritakannya pada Daniel


"Siapa tau lo salah sangka, kalo itu anak lo gimana? "


"Entahlah.. Gue berpikir mau main main sama dia tapi gue nemu tespeck di kamar mandinya, gue jadi bingung kalo tanggung jawab takut bukan anak gue"


"Kalo lo suka, cinta sama dia jangankan lo pernah nyobain asli anak orang lain pun harusnya lo Terima.. Iya kan? " Alexander merenungkan perkataan Daniel


"Dah lah.. Capek gue mau pulang, nih tuker kunci" Daniel menukar kunci mobilnya, mereka memang selalu bertukar mobil karena disana Alexander adalah bawahan Daniel


🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝


Mobil Alexander terparkir di halaman rumahnya, ketika masuk rumah sepi tanpa anak anak hanya ada bibi dan suster di dapur


"Anak anak mana Sus? " Tanya Alexander


"Di kamar dokter Allea tuan" Alexander segera naik ke kamar Allea


Ketika pintu terbuka ternyata anak anak sedang memijat kepala Allea sambil menonton TV, Allea tidur di pangkuan mereka, Alexander tiba tiba ikut berbaring di sebelah Allea menjadikan kaki Ello sebagai bantal


"Pijit juga dong" Alexander mengarahkan tangan Ello ke kepalanya


"Masih sakit ya? " Tanya Alexander pada Allea


"Anak anak udah malem tidur ya, besok mama buatkan puding buah"


"Horeee.. Selamat malam mama papa" Ucap keduanya lalu mencium pipi Allea serta Alexander


"Kenapa mengusir mereka? Apa kamu mau berduaan? " Goda Alexander seraya memeluk Allea


"Aku mau ngomong sesuatu"


"Apa? " Tanya Alexander seraya merapihkan rambut Allea ke belakang telinganya


"Aku hamil"


"Lalu? " Bukan Alexander yang terkejut namun sebaliknya, Allea terkejut melihat reaksi Alexander


"Kamu harus tanggung jawab, aku gak mau anak ini lahir tanpa ayah? " 


"Minta saja teman doktermu yang bertanggung jawab" Alexander menjauh dari Allea dia duduk di tepi ranjang


"Tapi ini anak kamu.. Bagaimana bisa kamu melimpahkan kesalahan kamu sama orang lain? " 


"Aku gak percaya itu anak aku"


"Kurang ajar.. Kamu yang selalu lakuin itu sekarang kamu mau lari dari tanggung jawab? " Bentak Allea


"Hei.. Bukan cuma aku, kamu juga mau gak ada paksaan kita sama sama mau"


"Ya kalo kamu sadar harusnya kamu tanggung jawab, ini anak kamu"


"Siapa yang tau? Kamu sering main ke apartemen pria lain, gak ada yang tau juga kan itu anak siapa lagi pula kita gak ada hubungan apapun, aku gak pernah bilang mau serius juga kan? "


"Hah.. Lucu, ingat ucapan kamu hari ini jangan menyesal" Allea mengemas semua barangnya kemudian pergi ke kamar Ello juga mengemas barangnya


"Kak bisa jemput kami sekarang" Allea menelpon Vero


"Mama kita mau kemana? Gimana sama Ellia" Rengek Ello,  mendengar suara ribut ribut di luar Ellia keluar dari kamarnya


"Ma.. Mama mau kemana? Mama tunggu Ellia ikut ma" Ellia mengejar Allea yang berjalan tergesa terkesan menyeret Ello


"Ma.. Ellia ikut mama jangan tinggalin Ellia, mama udah janji selalu ada di samping Ellia" Seketika Allea berhenti, Ellia bersimpuh memeluk kaki Allea


Meskipun bibi dan suster membujuk Ellia namun gadis itu tetap tidak mau melepaskan tangannya, Allea menangis tanpa suara dia berdiri disana tanpa mengatakan apapun hanya tangis anak anaknya yang meraung tidak ingin di pisahkan


Suster berhasil melepaskan tangan Ellia dari kaki Allea barulah dia kembali berjalan menggendong Ello yang meronta, Alexander hanya berdiri menyilangkan tangannya di dada 


Allea terjatuh  kakinya tidak kuat lagi menahan gemetar sementara Ello hendak kembali ke dalam namun Allea berteriak


"Ello... Ikut mama atau kamu gak akan ketemu sama mama lagi" Teriak Allea dia sudah lelah, Ello mematung dia kembali memeluk ibunya yang menangis tersedu


"Ada apa ma? Apa papa mengusir kita? "


"Jangan sebut dia papa, dia tidak pantas mendapat gelar Seorang ayah" Perkataan Allea sampai di telinga Alexander


Sebuah mobil masuk halaman dan berhenti, seseorang keluar dari mobil berlari menghampiri Allea yang duduk di peluk Ello


"Tunggu di mobil" Vero memberikan kunci mobilnya pada Allea


Vero dengan langkah besarnya menghampiri Alexander dan mencengkram kerah bajunya, kepalan tangannya hampir melayang mengenai wajah Alexander namun teriakan Ellia membuat Vero mengurungkan niatnya


"Om jangan pukul papa" Tangis Ellia setengah berteriak


"Bawa wanitamu di sedang hamil jangan biarkan dia mencari ayah baru untuk anaknya" Ucap Alexander


"Keparat.. Lo akan menyesal setelah tahu kebenarannya, dan lo gak usah khawatir anak pria brengsek manapun yang ada di kandungan Allea gue akan bertanggung jawab sepenuhnya"


"Jangan menyesal saat lo tahu kebenarannya" Vero menepuk keras pipi Alexander lalu pergi membawa Allea, Ellia berlari di tengah rintik hujan mengejar mobil Vero