My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Kekhawatiran



Max yang sedang memberi obat pada Oma menjadi kalang kabut mendapatkan pesan dari Dito, dia langsung pamit untuk pergi ke rumah Allea


"Saya keluar dulu Oma" ucap Max menyambar jaketnya lalu pergi


Dengan secepat kilat Max mengendarai motornya agar cepat sampai ke rumah Allea, sesampainya di depan rumah Max memarkirkan motornya dan langsung masuk karena pintunya terbuka


Max yang berlari hampir saja menabrak Allea yang baru kembali dari dapur membawa makanan dan minuman


"Lo gak apa apa? " Max memutari tubuh Allea dan mengangkat dagunya menggerakkan kepalanya ke kiri dan kekanan


"Gak apapa, emang gue kenapa? “ tanya Allea kebingungan


"Dito bilang lo Sakit"


"Dito? ini anak bener bener" gumam Allea


"Ayo masuk" Max membuntuti Allea ke kamarnya


Dito dan yang lainnya tersenyum lebar menunjukan deretan gigi mereka Melihat Max dan Allea jalan beriringan


"Kalo urusan Allea lo cepet banget" ledek Dito


"Top cuma 15 menit langsung nyampe" Gita mengacungkan jempolnya


"Lo semua keterlaluan tau gak, gimana kalo Max kenapa napa di jalan" gerutu Allea


"Cieeee yang khawatir" ledek kelima sahabatnya


Wajah Allea bersemu merah sementara Max dia tersenyum bersandar di dinding melipat tangannya di dada


"Udah udah Allea jadi malu tuh padahal tadi dia yang nanyain" ledek Gita


"Kalian makan dulu deh " ujar Allea seraya berlalu ke kamar mandi


Teman temannya menertawakan Allea suara ricuh mereka terhenti saat seseorang berteriak meminta tolong, Gita memanggil Allea karena Emile berteriak teriak minta tolong memanggil manggil nama Cindy


Allea dan teman temannya keluar berlari ke kamar Cindy yang berada di atas mereka mendengar suara rintihan seseorang di dalam kamar dengan pintu terkunci dan Emile menangis di depan pintu berusaha membukanya


"Kenapa dengan Cindy? " tanya Allea


"Ini semua pasti gara-gara kamu kan? pasti kamu apa apain Cindy" bentak Emile dengan isak tangisnya


Adu mulut antara Allea dan Emile tidak terelakkan teman teman Allea menjadi pusing mendengar mereka di tambah rintihan Cindy dari dalam kamar, Max menarik tubuh Allea kebelakang untuk mengakhiri perdebatan mereka


"Udah kita dobrak aja ya tan" ucap Dito dan Emile hanya mengangguk


Pintu terbuka tampak Cindy terbaring lemas di lantai dengan bercucuran keringat dingin teman teman Allea mengangkat Cindy membawanya ke mobil namun tidak dengan Max dia masih mendekap Allea dengan satu tangannya dari belakang


Allea menoleh menengadah menatap Max yang ada di belakangnya seraya melepaskan tangan Max dari tubuhnya


"Kenapa liatinnya gitu? " tanya Max saat Allea menatap Max dengan tatapan yang sulit di artikan


"Gak, awas minggir" Allea mendorong dada Max dengan telunjuknya


Max menangkap telunjuk Allea dan memepetkannya di dinding tangannya mengungkung Allea melotot ke arah Max, bukannya takut Max malah semakin gemas melihat Allea marah


"Awas Max nanti ada yang liat" Allea berusaha mendorong tubuh berat pemuda itu


Allea memegang dada bidang Max yang keras dengan penasarannya tangannya malah meraba perut kotak Max, suara Max membuyarkan lamunan Allea lalu segera menjauhkan tangannya dari tubuh Max


"Lo ngeraba apaan? " tanya Max dengan mengangkat alisnya


"Kenapa gak raba langsung aja? " Max membuka sedikit kaos bawahnya membuat otot otot itu terpampang nyata


"Lo gila " pekik Allea memejamkan matanya berlari menuruni anak tangga


Max tertawa melihat Allea lari seperti di kejar kejar setan hingga menabrak teman temannya yang baru saja kembali dari luar


"Lo kenapa sih lari lari kayak di kejar setan? " tanya tanya Sandro seraya membangunkan Allea yang jatuh bersama Desta dan Gita yang dia tabrak


"Pantesan.. tuh setannya dateng" celetuk Dito melihat Max berjalan santai menghampiri mereka


"Kalo setannya gitu gue gak bakal lari malah gue kekepin" ucap Gita dengan kekehan


Dito menatap tajam Gita dengan sudut matanya membuat gadis chubby itu tersenyum menampilkan barisan giginya, Sandro dan Desta menatap ke arah Allea dan Max lalu kembali menatap Gita dan Dito mereka menangkap sinyal sinyal tidak biasa dari mereka


"Yuk masuk sayang biarkan mereka pacaran" ucap Sandro menggandeng tangan Desta dengan suara di buat seperti perempuan melenggang ke kamar Allea


Allea segera menarik tangan Gita menyusul Sandro dan Desta sementara Max merangkul bahu Dito dan menepuk nepuknya


"Tenang aja gue gak suka cewek rambut pendek" goda Max


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Di lorong rumah sakit Gibran dengan langkah besarnya berjalan ke ruangan dimana Cindy di rawat sesampainya disana Gibran langsung masuk ketika dokter sedang memeriksa, Emile langsung memeluk suaminya saat melihatnya datang


Air matanya tak terbendung melihat Cindy lemas tak berdaya dengan wajah pucat Gibran hanya mengusap punggung Emile sebagai penenang untuk wanita itu


"Sepertinya anak anda meminum obat pencahar dengan dosis tinggi" ucap sang dokter


"Obat pencahar? untuk apa dia meminumnya? " Gibran terheran heran


"Anda bisa tanyakan langsung nanti setelah dia sadar, sebaiknya dia di rawat dulu beberapa hari disini agar Kesehatannya cepat pulih"


"Baiklah, lakukan yang terbaik" ucap Gibran seraya mengelus kepala Cindy


"Ini pasti kerjaan anak kamu itu dia sengaja mau mencelakai Cindy" ucap Emile saat dokter sudah keluar dari ruangan itu


"Kenapa kamu menyalahkan Allea? kapan dia sempat menaruh obat di makanan Cindy? bahkan dia keluar setelah kita" Emile menjadi diam seribu bahasa karena apa yang di katakan Gibran ada benarnya


"Jangan asal menuduh anakku, kalian boleh tidak suka tapi jangan memfitnah" ucap Gibran lalu pergi membuat Emile merutuki perkataannya


Bukannya menunggu anak yang sedang di rumah sakit Gibran malah pulang menemui anak gadisnya yang lain, dia merasa rindu sebentar saja tidak bertemu dengannya


Allea melihat sang ayah berjalan menuju pintu rumah segera berlari dan menyambut ayahnya dengan mencium tangan dan memeluknya, tidak lupa Gibran mengangkat paper bag yang selalu ada di tangannya saat dia pulang sebagai buah tangan saat pulang kantor dan mungkin itu akan menjadi kebiasaannya sekarang


"Waaw ice cream banyak banget yah" pekik Allea kegirangan


"Buat stok kamu simpan saja di kamar" sekarang Gibran juga menaruh kulkas satu pintu dengan berbagai makanan di dalamnya jadi Allea tidak perlu keluar kamar untuk sekedar mengambil cemilan


"Ayah terbaik, Allea ke kamar dulu ya" Allea berlari melompat lompat menuju ke kamarnya


"Semoga ini bisa menebus kesalahan ayah sama kamu dan mamamu, mulai sekarang kamu akan selalu bahagia meski apapun yang terjadi" batin Gibran


Melihat Allea berlari melompat lompat Gibran jadi membayangkan bagaimana Allea kecil dulu, masa masa yang penting untuk menimang dan menantikan setiap pertumbuhan gadis itu terlewatkan bahkan terlalu banyak moment yang ia lewatkan


sepasang mata itu berair kala mengingat bagaimana anak kecil itu dulu hidup susah dengan istri tercintanya tanpa dia di sisinya, sebenarnya senyum Allea seperti tamparan untuknya bukan di wajahnya namun di hatinya. senyum itu bak mengandung Duri yang menusuk nusuk hati Gibran


Like komen dan vote cinta ❤😘


Kalo lagi mood ntar othor kasih double up