
Hai semua readers terimakasih untuk yang sudah memberikan dukungan untuk novel recehanku ini 😁, semoga kita semua senantiasa di beri kesehatan, umur panjang dan rezeki berlimpah serta di mudahkan apa yang sudah di cita-citakan dan selalu ada dalam lindungannya
Selamat membaca semoga terhibur, jangan lupa tekan like setelah membaca lalu berikan komentar dan dukungan untuk author jika kalian berkenan 😇😇😇
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Allleaaaaaa" teriak Cindy
Brrraakkk
"Cindyyyyy" kini Allea yang berteriak ketika melihat Cindy terbaring di aspal berlumuran darah
Cindy berlari mendorong Allea namun sayang dia tidak sempat menghindar dan akhirnya dia yang tertabrak, Allea berlari menghampiri Cindy dan memangku kepalanya serta berteriak meminta bantuan
Sesampainya di rumah sakit Cindy sedang di tangani dokter sementara Allea terlihat Syok dia hanya menangis tanpa bisa di ajak bicara, Perawat membersihkan luka lukanya dan memberinya segelas air hangat untuk menenangkannya
"Ayah Cindy akan baik baik aja kan? Allea gak bisa maafin diri Allea sendiri kalo Cindy kenapa napa" Akhirnya Allea bersuara setelah beberapa saat
"Cindy akan baik baik saja, Kalian darimana kenapa ini bisa terjadi? " tanya Gibran
Allea mulai menceritakan semuanya dari awal Gibran mengusap kepala Allea sambil Allea bercerita
"Mobil itu melaju kencang dan akhirnya Cindy yang tertabrak karena menyelamatkan Allea" lirihnya
Mendengar suara pintu terbuka Gibran berdiri menghampiri dokter
"Dia kehabisan darah apa disini ada yang golongan darahnya sama? " tanya dokter
"Saya ayahnya dok saya akan mendonorkannya" ucap Gibran lalu ikut kesebuah ruangan untuk melakukan transfusi darah
"Maaf tuan setelah di periksa darah anda tidak cocok dengan pasien" ucap dokter
"Bagaimana bisa? " setelah dokter menjelaskan beberapa kemungkinan akhirnya Gibran keluar hendak mencari persediaan darah yang sama dengan Cindy
Saat keluar Dia melihat Allea sedang bicara dengan seorang pria, Gibran segera mendekati mereka dan bertanya siapa pria itu
"Siapa anda? " tanya Gibran
"Saya mendapat telepon katanya Cindy kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor segera" jawab Frans
Pihak rumah sakit masih memegang handphone Cindy karena darah Gibran tidak cocok mereka mencoba nomor telepon lain yang di beri nama 'papa' dengan emoticon love
"Jelaskan kenapa anda bisa di beritahu pihak rumah sakit? " tanya Gibran yang penasaran
"Tidak ada waktu untuk itu sekarang saya harus menyelamatkan anak saya" jawabnya
Mendengar itu Gibran tersulut emosi saat Frans mengatakan Cindy adalah anaknya, dia hendak menghajar Frans namun Allea menahannya
"Keselamatan Cindy lebih penting sekarang, silahkan om" ucap Allea membiarkan Frans pergi
Beberapa saat kemudian Frans keluar dari ruangan dan dokter membawa kantong darah, Gibran yang sekarang Terkejut bagaimana ini bisa terjadi pikirnya
Gibran menyuruh Allea pulang bersama supir meskipun Allea menolak tapi Gibran memaksanya, dia ingin membicarakan hal penting dengan Frans
"Jelaskan " ucap Gibran bisa di lihat dari matanya ada kilatan amarah yang membuncah
"Tenang tuan, duduklah" jawab Frans dengan tenang
"Sebenarnya Cindy adalah anak kandung saya dan Emile" lanjutnya membuat Gibran syok
"Dulu kami berpacaran namun dia berubah setelah beberapa tahun kita bersama, saya baru tahu saat itu dia menikah dengan anda namun saya menemukan fakta bahwa sebelum menikah dengan anda dia sudah terlebih dahulu mengandung anak saya "
"Saya menemukan sebuah alat tes kehamilan di kamarnya, saya tidak menyangka dia akan selicik itu menjebak anda" Lanjutnya
"Kurang ajar, dia menyingkirkan istriku dan aku percaya begitu saja dengan kata katanya" geram Gibran
Gibran benar-benar kehilangan kata kata dia pergi meninggalkan Frans tanpa bicara sepatah kata pun, dia menyesali semuanya andai bisa waktu di putar ulang kembali dia tidak akan menyia nyiakan Naina karena hasutan Emile
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sesampainya di halaman rumah Allea keluar dari mobil berjalan ke teras rumah, Max sudah menunggu disana dengan tatapan tajamnya memandang Allea Seolah olah akan memakannya hidup hidup
"Nih.. aku balikin" Ucap Max menyimpan keras buku buku Allea di meja kecil yang ada di teras rumah
"Kamu darimana? " tanya Max
"Cindy masuk rumah sakit" jawab Allea dia kembali menangis mengingat Cindy
Allea kira Max akan memeluk dan menenangkannya namun dia salah Max menyudutkannya ke dinding dan mengungkungnya dengan satu tangan mencengkram lengannya
Bahkan Allea melihat kilatan amarah di mata Max sampai sampai Max tidak melihat luka yang di perban di kening Allea
"Kamu berani bawa cowok masuk ke apartemen" ucap Max dingin
"Aku gak pernah bawa cowok masuk"
"Kamu mau nyangkal? apa yang kalian berdua lakukan huh? " tanya Max di penuhi amarah
"Aku gak lakuin apapun, kamu kenapa sih? " Allea sedikit ketakutan ketika Max mencengkram lengannya
"Jangan main main kamu, jangan mentang mentang aku diem aja kamu bisa seenaknya, aku suami kamu gak sepantasnya kamu masukin laki laki lain ke apartemen saat aku gak ada" cengkraman di lengan Allea semakin kencang
"Aku berani sumpah, aku gak bawa dia masuk dia maksa masuk kita gak ngapa ngapain" jawab Allea
"Dia maksa masuk? kamu gak bisa panggil keamanan? apa kalo dia maksa tidur kamu juga diem aja huh? " bentak Max membuat Allea memejamkan matanya mendengar bentakan Max
"Kamu kira aku sehina itu? kamu kira aku mantan pacar kamu yang j*l*ng itu? aku benci sama kamu" Allea menepis tangan Max dengan berderai air mata
"Dia maksa masuk dan itu gak lama, kamu lebih percaya apa kata orang di banding aku? suami macam apa yang kamu maksud? bahkan kamu menyakiti aku dan sekarang kamu tuduh aku dengan tuduhan sehina itu? " melihat Allea menangis tersedu wajah Max melunak dia benar-benar kalah ketika melihat wanitanya menangis seperti itu
"Aku pikir pilihan aku udah benar kita pisah aja, aku suruh ayah nanti urus perceraian kita" lanjut Allea
"Allea bukan gitu maksud aku" Max menghentikan langkah Allea yang hendak pergi
"Kamu dengan jelas bohongin aku dan mementingkan wanita lain sementara aku.. kamu menuduhku tanpa mendengarkan penjelasanku, kamu egois" Allea menepis tangan Max dan masuk kedalam rumahnya
"Allea maafin aku"
Ketika Max hendak menyusul seseorang menariknya dari belakang, Satu bogem mentah Gibran daratkan di wajah Max
Gibran baru saja sampai di rumah ketika terjadi pertengkaran diantara mereka
"Kamu membuat anakku terus menangis, apa maumu huh? " Kesal Gibran mencengkram kerah baju Max
"Pergi dari sini jangan temui Allea lagi" ucap Gibran menghempas kasar kerah baju Max
"Tapi aku masih suaminya" protes Max
"Aku orang tuanya, jangan merasa paling berhak memiliki Allea jika kamu masih menyakitinya" Max memaksa masuk membuat Gibran memanggil satpam untuk mengusirnya
"Allea aku gak akan pergi sebelum kamu maafin kamu" teriak Max, Karena tersulut emosi dia membuat hubungannya dan Allea semakin renggang
Allea mengintip dari balik jendela hujan deras mengguyur di luar sementara Max berdiri di luar gerbang menunggu Allea
"Dia bisa sakit kalo disana terus" gumam Allea
Allea khawatir namun gengsinya terlalu besar dia malah tidur membiarkan Max di luar kehujanan menunggunya