My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Rencana menyatukan ayah



Setelah beberapa bulan perut Allea semakin membesar Max tidak bisa kemana pun kecuali kuliah karena Allea akan selalu menempel padanya, berbeda dengan anaknya Gibran masih tak menemui Ririn meskipun dia merindukannya


Ririn tidak pernah menemui Gibran setelah pengusiranya tempo hari, Ririn merasa mungkin saja Gibran marah padanya karena anaknya menyebabkan Allea dan Max terluka padahal dirinya tidak tahu apapun dan tidak bersalah dalam hal ini


Hari ini Allea jadwal periksa ke rumah sakit di usia kandungannya yang menginjak tujuh bulan dia selalu di kelilingi  keluarga yang begitu mencintainya, semua anggota keluarganya turut mengantar Allea tak terkecuali Oma, Danendra dan Cindy


"Ini.. Kenapa sebanyak ini? " Tanya Ririn ketika semuanya masuk


"Kami keluarganya" Jawab Oma


"Maaf ibu demi kenyamanan sebaiknya hanya calon ibu dan ayahnya saja selebihnya bisa menunggu di luar" Ucap Ririn 


"Mereka saja yang keluar aku mau disini" Kekeh Oma dengan wajah merajuknya


"Tapi ma kita juga.. " Ucapan Lydia terhenti saat Oma menyergah ucapannya


"Aku tidak mau bicara dengan kalian jika kalian tidak mau mengalah" Mereka akhirnya keluar mengalah pada nenek tua itu


"Coba sekarang kita lihat apa mereka menunjukkan jenis kelaminnya atau seperti sebelumnya" Ucap Ririn karena sebelumnya jenis kelamin janin allea tidak bisa di lihat


"Mereka sangat aktif, perkembangannya juga bagus, lihat ini " Ririn menunjuk ke arah monitor


"Silahkan bangun " Allea bangun lalu turun di bantu Max


Belum sempat Ririn bicara sekeluarga itu kembali masuk ke dalam ruangan, Ririn menggeleng mempersilakan mereka mendengar berita baik yang akan dia sampaikan


"Selamat ya.. Anaknya laki-laki dan perempuan" Ucap Ririn


Sontak Max memeluk Allea begitu pun Damian memeluk Gibran sementara Oma, Cindy, Lydia dan Danendra berpelukan bersama mereka mengabaikan Ririn


"Ehemm... " Mereka melepaskan pelukannya lalu kembali menjadi menatap Ririn yang sedang tersenyum manis


"Resep obat sudah saya tulis, semoga sehat dan lancar saat melahirkan melahirkan " Ucap Ririn


"Biar ayah yang ambil kita tunggu di luar" Ucap Allea seraya mendorong ayahnya agar mendekati meja Ririn lalu memberi kode dengan matanya agar mereka semua keluar


"Kamu... "


"Please yah.. Allea mau beli minum dulu" Wajah Allea memelas hingga mau tidak mau dia menurut saja


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Menurut kamu apa ayah akan menyelesaikan urusannya dengan tante Ririn dan mereka kembali bersama? " Tanya Allea


"Tidak tahu, ayah mertua tidak bisa menerima orang yang menyakiti kamu bukan? Aku pernah mengalaminya" Jawab Max


"Tapi sekarang dia bisa nerima kamu masa tante Ririn yang gak salah gak bisa? "


"Itu karena kamu terlalu cinta sama aku jadi ayah takut kamu gila kalo aku pergi"


"Hisshh... Jadi kamu gak cinta sama aku? " Allea memberangus kesal melipat tangannya di dada


"Enggak" Goda Max namun dengan wajah yang serius


Allea tidak lagi mengatakan apapun dia menatap keluar jendela seraya menggigit kuku ibu jarinya, Max meliriknya dari pantulan jendela terlihat Allea sedang menangis


"Mau ice cream? " Tanya Max, Allea hanya menggeleng


"Mau beli bakso, mie ayam, ayam goreng atau martabak? " Allea kembali menggeleng


"Mau cium gak? " Allea juga menggeleng


Max menepikan mobilnya di sebuah cafe dessert lalu melepaskan sabuk pengamannya juga sabuk pengaman Allea


"Kamu kenapa? " Max menyentuh tangan Allea namun di tariknya tangan tersebut


"Kamu lucu kalo lagi marah" Ucap Max sambil terkekeh


"Ayo turun tadi waktu mau berangkat siapa yang semangat banget pengen ice cream? "


"Udah gak mau" Jawabnya dengan suara bergetar


"Mau apa dong? "


"Aku gak akan minta apa apa lagi sama orang yang gak cinta sama aku, aku nanti bisa minta sama ayah" Ucapnya sambil mengusap air matanya


"Aku cuma bercanda sayang, ya kali aku gak cinta sama cewek secantik dan segemas ini" Max mencubit pipi Allea


"Kamu pergi aja atau aku aja yang turun di sini nanti ayah jemput" Ucap Allea hendak membuka pintu mobil


"Dasar anak ayah... Sayang aku becanda jangan marah"  Max menahan tangan Allea lalu mengambilnya dan menciumnya


"Lepasin.. Aku gak mau" 


"Bohong"


"Aku gak bohong aku cinta sama kamu, jangan marah ya.. Ya.. "


"Aku gak percaya"


"Supaya kamu percaya kamu minta apapun aku turutin asal jangan suruh aku pergi"


"Jangan becanda gitu lagi"


"Iya janji.. Jangan cemberut lagi dong" Max mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya


"Mau ice cream banyak" Rengek Allea


"Oke... Sebanyak apapun yang kamu mau" Ucap Max lalu mengecup bibir Allea sebelum turun


Beberapa saat kemudian wajah Max terlihat murung dia harus pasrah ketika dia di suruh menghabiskan banyak ice cream yang di pesan istrinya


"Bawa pulang aja ya yang" Ucap Max


"Gak.. Abisin cepet aku ngantuk mau cepet cepet tidur"


"Ya makanya kita bawa pulang aja biar cepet" Bujuk Max


"Gak mau.. Abisin disini baru pulang" Max menghela nafas kasar seraya menggelengkan kepalanya


Allea mengulum bibirnya menyembunyikan senyum jahat karena berhasil mengerjai suaminya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mana resep obatnya? " Ucap Gibran


"Silahkan" Ririn menyodorkan sebuah kertas


"Aku minta maaf atas kesalahan Jonathan" Ucap Ririn


"Aku tidak ingin membahasnya, permisi" Gibran berbalik hendak pergi


"Gibran bisakah... " Kata kata Ririn terhenti saat Gibran kembali menatapnya dengan tatapan dingin


"Maaf aku pernah mengatakan akan membawa dirimu hidup bahagia bersama dan akan membuatmu melupakan luka yang pernah di buat mantan suamimu sekarang aku berpikir kembali aku tidak bisa memenuhi apa yang aku katakan, aku tidak bisa hidup bersama orang yang akan membuat putriku dalam bahaya" Ucap Gibran lalu pergi


Ririn meneteskan air mata setelah kepergian Gibran, pria yang selama ini membuatnya merasa nyaman dan kembali bisa menerima cinta di hidupnya sudah benar-benar pergi


Ririn menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan yang taruh di atas meja, tubuhnya bergetar menahan suara tangisnya


"Maaf dokter pasien selanjutnya? " Ucap suster yang masuk karena Ririn tak kunjung memanggil pasien


"Ahh.. Sebentar aku cari dokter pengganti dulu hari ini aku tidak enak badan" Jawab Ririn seraya mengusap air matanya


Suster menatap kepergian Ririn yang melewatinya, dokter yang selama ini di kenal profesional dalam bekerja sekarang lebih banyak absen juga sering tidak konsen


"Ada apa dengan dokter Ririn? " Gumam suster


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Baru saja Allea sampai di depan rumahnya ketika dia hendak masuk kedalam rumah Ririn memanggilnya, Allea dan Max menghentikan langkah mereka 


"Tante" Allea menghampiri Ririn dan membawanya masuk


" Tante mau minta maaf atas kesalahan Jonathan " Ucap Ririn ketika mereka duduk di ruang tamu


" Tante gak perlu minta maaf, tante gak salah lagi pula semuanya udah lewat Jonathan juga pasti dapat pelajaran penting di dalam penjara"


" Semoga saja anak itu berubah" Lirih Ririn 


"Gimana hubungan tante sama ayah? " Tanya Allea


"Ayah mana yang akan membiarkan anaknya dalam bahaya" Lirih Ririn


"Ah.. Tante gimana kalo nanti malem tante makan malam disini" Allea mengalihkan pembicaraan


"Tapi.. "


"Please... Allea mau makan malam sama tante" Allea menunjukkan wajah memelasnya


"Ya udah nanti tante kesini, mau di bawain apa? " Tanya Ririn


"Gak usah bawa apa apa bibi yang masak nanti malam" Senyum Allea mengembang ketika rencananya berhasil