My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Penculik



Astaga jadi dia pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa? " Cindy terkejut ketika tahu tentang pasien pria yang mengamuk dari pihak keluarga yang menjemput kesana


"Ya.. tiga bulan lalu pacarnya meninggal dan dia tidak bisa menerima kenyataan itu, wajah pacarnya mirip sekali dengan dokter, dia baru saja keluar seminggu yang lalu dan mengalami kecelakaan"


"Maaf dokter.. keluarga kami mohon maaf yang sebesar-besarnya" Lanjut ibunya seraya menangis


"Tidak apa apa.. saya mengerti, semoga dia bisa sembuh secepatnya"


"Terimakasih dokter tidak melaporkan hal ini pada pihak berwajib" keluarganya pamit setelah pihak rumah sakit jiwa membawa pria itu


"Keluarganya meminta maaf, pantas saja dia baru keluar dari rumah sakit jiwa karena pacarnya meninggal, kasihan ya" ucap Cindy pada Danendra


"Kamu gak kasihan apa sama aku? sakit nih"


"Lebay deh"


"Aww... sakit" pekik Danendra saat Cindy memukul kakinya


"Cih... yang luka tangan yang di pukul kaki " Danendra terkekeh mendengar penuturan Cindy


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ma.. mobil mama kenapa? " tanya Ello saat baru pulang sekolah melihat mobil ibunya rusak


"Gak tau ya kak? mama kan sekarang jadi pembalap" jawab Max meledek Allea, sontak saja mata Allea mendelik menatap tajam suaminya


"Emang bener ma? " tanya Ellia


"Jangan dengerin papa kamu, sana ganti baju" Kedua anak kembar itu masuk ke kamarnya masing masing


"Aww.. aduuhh.. " Allea meringis memegangi perutnya


"Sayang kenapa? " Max langsung panik mengusap perut istrinya


"Perut aku sakit"


"Kita ke rumah sakit sekarang" Max hendak menggendong Allea namun tiba tiba


Preeet


"Ahh.. lega" ucap Allea seraya berdiri dan pergi


"Astaga... " Max menggelengkan kepalanya karena tingkah sang istri yang semakin absurd


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang itu cuma fitnah, aku gak akan ceraikan kamu" ucap Wijaya pada istrinya


"Keputusan aku udah bulat, kamu udah bikin aku malu"


"Sekarang ambil barang barang kamu dan pergi dari sini, jangan harap membawa harta sepeserpun karena ini adalah harta peninggalan orang tua ku" Istrinya melempar koper koper ke hadapan Wijaya


"Sayang.. tunggu.. buka pintunya" Istrinya benar benar tidak mau memaafkan kesalahannya lagi


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Saat sedang makan malam pintu rumah Allea di ketuk seseorang namun ketika bibi membukakan pintu tidak ada siapapun hanya ada kotak tergeletak di depan pintu


"Siapa bi? " tanya Allea


"Gak tau nyonya, cuma ada ini" bibi memberikan kotak itu pada Allea


"Apa nih? " Max mengambil kotak tersebut dari tangan Allea


Setelah membuka kotak itu Max segera menutupnya kembali dan hendak membuangnya, Allea yang penasaran mengikuti suaminya keluar untuk membuagnya ke tempat sampah


"Yang isinya apa? "


"Gak penting.. ayo masuk" Max merangkul bahu Allea untuk membawanya kembali


"Tunggu aku penasaran" Allea menepis tangan suaminya


"Jangan sayang" Allea tidak mendengarkan perkataan Max


Allea mengambil kotak tersebut dan membukanya, betapa terkejutnya dia ketika melihat isi dari kotak tersebut dan langsung melemparkannya hingga isinya ber hamburan


"Aku udah bilang jangan di lihat" Ucap Max seraya memeluk Allea


"Itu.. itu.. sebuah ancaman? "


Bagaimana Allea tidak takut melihat isi kotak tersebut di dalamnya ada foto Max juga sebuah bangkai tikus yang berlumuran darah, Allea jadi gemetar setelah melihat itu


"Apa yang kemarin ngejar aku adalah orang yang sama dengan pengirim kotak ini? " tanya Allea


"Polisi Masih cari tau, udahlah gak usah di pikirin aku bisa atasi semuanya"


"Aku takut" Max memeluk istrinya


Dugaannya mengarah pada Wijaya yang saat ini memiliki masalah dengannya, dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaannya dan selalu mengawasinya


"Awasi dia jangan sampai lolos" Titah Max


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang aku berangkat" Allea mencium tangan suaminya begitu pun Max mencium pipi serta kening Allea


"Aku yang anterin anak anak, jangan kemana mana tanpa aku" lanjut Max


"Iya.. hati hati "


Max mengantarkan Ellia dan Ello sampai ke sekolah lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantor, Seseorang memanggil Ellia ketika Ello lebih dulu masuk


"Ada apa pak? " tanya Ellia


"Babam udah masuk sekolah belum? "


"Sepertinya belum" jawab Ellia


"Ya sudah terimakasih" ketika Ellia berbalik hendak pergi Wijaya membekap mulut Ellia dan memasukkannya ke dalam mobil


Kejadian itu sangat cepat hingga Scurity tidak sempat menolong Ellia, Scurity melaporkan hal itu pada guru dan pihak sekolah segera menghubungi Max memberi informasi tentang nomor di plat mobil tersebut yang terlihat lewat CCTV


Di sebuah hutan mobil melaju cepat, Ellia berteriak meminta tolong ketika melihat mobil menyalip mobil yang di kendarai Wijaya


Beberapa mobil tersebut mengepung mobil Wijaya dari depan hingga belakang, Para pria bertubuh besar keluar menghampiri mobil itu


"Papa" Senyum di bibir Ellia terbit seraya menghapus air matanya saat melihat sang ayah turun dari mobil


"Buka.. buka" teriak Max saat Wijaya tidak kunjung membuka pintu mobilnya


Seorang pria memberikan tongkat baseball pada Max dan dengan sekali pukulan kaca itu pecah seketika, Max menarik baju Wijaya ketika pintu telah terbuka


"Cecunguk sepertimu ingin bermain main denganku? " Max menggertakkan giginya


"Kamu bawa kembali Ellia ke sekolah" titah Max


"Baik tuan"


"Makasih pa" Allea ikut bersama beberapa orang dan pergi dengan mobil


"Ingin menjadi penjahat? Anda pikir saya tidak cukup jahat? " Ucap Max


"Cuih... Kamu menghancurkan semuanya, sekarang aku gak punya apa-apa lagi semua gara-gara kamu" Wijaya meludah tepat di wajah Max


"Sialan" Dengan satu pukulan di wajahnya Wijaya langsung terkapar begitu saja


"Bawa dia.. beri dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan sepanjang hidupnya" ucap Max


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Wijaya bangun dari pingsannya matanya mengerjap memperhatikan sekelilingnya, dia terkejut ketika melihat dirinya berada di sebuah kolam yang dalam namun tanpa air


Para pria berdiri di atas memperhatikan Wijaya yang kebingungan meminta untuk keluar dari sana, Max datang membuat Wijaya kembali mengumpat kasar padanya


"Lepaskan mereka" titah Max


"Kenapa tidak dari tadi kamu melepaskanku" teriak Wijaya di bawah sana


"Bukan anda tuan Wijaya yang terhormat tapi mereka" Max menunjuk pintu yang perlahan terbuka


Dua ekor buaya berjalan dengan cepat kearah Wijaya membuatnya lari ketakutan dia berusaha naik namun tidak bisa karena terlalu tinggi, sebuah tali sengaja di berikan agar Wijaya dapat menghindar dari buaya buaya tersebut


"Tolong.. tolong aku.. ampun.. aku minta maaf" teriak Wijaya yang bergelantungan di sebuah tali


Tangannya sudah tidak kuat untuk menahan bobot tubuhnya namun di bawah dua buaya itu membuka mulutnya lebar lebar, naik ke atas pun tidak bisa karena talinya hanya di ikat di tengah tengah tembok sulit menjangkau tepian kolam itu


"Sudah menyerah? kenapa semangatmu sangat mudah di patahkan? " ejek Max


"Tolong.. aku mohon maafkan aku.. bawa aku ke kantor polisi saja"


"Bukannya kau seorang buaya? dua buaya itu betina kalian bisa menikah di bawah sana" ucap Max membuat anak buahnya tertawa


"Ayo pergi.. biarkan mereka kawin" Ucap Max


"Jangan aku mohon.. jangan tinggalkan aku disini" teriak Wijaya, Max pergi bersama anak buahnya membuat Wijaya teriak teriak ketakutan


"Tolong.. tolong aku.. " teriaknya


Max melihat apa yang di lakukan Wijaya lewat CCTV, Sudah setengah jam Wijaya bergelantungan seraya berteriak tenaganya seperti sudah habis


"Masukkan buaya itu ke kandang dan bawa dia ke kantor polisi" ucap Max


"Kalo aja gue gak janji sama Allea udah gue bunuh tuh orang" Gerutu Max


Wijaya senang meskipun akan di bawa ke kantor polisi setidaknya dia aman dari buaya buaya itu, saat dia di bawa melewati Max dia tidak mengumpat atau melakukan sesuatu pada Max bahkan dia hanya tertunduk ketakutan ketika Max menatapnya tajam