My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Mengantar Lili



Lili satu mobil bersama Allea dan Max sementara Arabella bersama bodyguard di mobil lain, sepanjang perjalanan Allea selalu menceritakan cerita cerita lucu pada Lili hingga membuatnya tertawa


Lili yang duduk di tengah tengah mereka terkadang bersandar pada tubuh Max saat berhadapan dengan Allea, Max menatap wajah istrinya penuh cinta


Wajah istrinya yang selalu tersenyum meskipun banyak penderitaan di hidupnya selama ini, Tangan Max terulur mengusap kepala Allea membuatnya menatap Max mengangkat alisnya


"Kamu cantik" ucap Max


"Memang dari lahir" Allea terkekeh dengan jawabannya sendiri


"Ibu kenapa pelut ibu bergelak gelak? " tanya Lili seraya memperhatikan perut Allea


"Ini? didalam sini ada adik bayi, coba pegang" Allea menarik tangan Lili untuk mengusap perutnya


"Bagaimana bayi itu bisa masuk? apa bayi itu sangat kecil? "


"Ibu tidak tahu bagaimana dia masuk, tapi Lili juga dulu sekecil ini di perut mami" Max hampir tertawa mendengar pertanyaan Lili


"Bayi ada di perut karena di masukkan oleh papanya" celetuk Max seraya terkekeh menutup matanya


"Kamu gak boleh bilang gitu" gerutu Allea melihat wajah bingung Lili


"Gak lagi" ucap Max namun masih terkekeh menghadap keluar jendela mobil


"Lili... "


"Ya.. "


"Jagain mami, Lili harus jadi orang baik, pintar, bijaksana, janji sama ibu Lili tidak akan menyakiti siapapun" Allea Mengusap kepala Lili


"Bisa gak kalo Lili tinggal sama ibu aja? " Allea bingung saat Lili mengatakan itu seraya tidur di pangkuannya


"Lili.. kalo bisa ibu juga mau Lili tinggal di rumah tapi Lili masih punya orang tua sayang, kita masih bisa bertemu dilain waktu"


"Boleh Lili peluk? " Ucap Lili dengan wajah sedihnya


Allea mengangguk lalu memeluk Lili, mata Allea berkaca-kaca entah kenapa rasanya dia sedih melihat anak ini


melihat istrinya berkaca kaca Max mengecup keningnya tanpa terasa mobil sudah sampai di tujuan, Allea membawa Lili menuju helikopter yang di dalamnya sudah ada Arabella


"Jaga Lili, semoga lo bisa hidup lebih baik disana dan cari kebahagiaan tanpa harus menghancurkan kebahagiaan orang lain" ucap Allea pada Arabella yang menatap ke depan Seolah enggan menatap Max dan Allea


"Baik baik sayang.. nurut sama mami" Allea mengusap puncak kepala Lili


"Keluarga lo udah lepas tangan Arabella, jadi dari pada lo kabur dan luntang lantung di jalanan mending lo nurut, gue udah atur semuanya disana tapi ingat gue lakuin ini semata mata karena kasihan sama anak lo" ucap Max


"Apa lo gak bisa pikir pikir lagi Max? Gue cinta banget sama lo Max, gue mau jadi istri kedua lo"


"Tapi gue gak mau dapet barang rongsokan" Ucap Max lalu membawa Allea pergi dari sana


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Millie.. sayang jangan gitu" Lydia dan suster kewalahan menghadapi sikap Millie sampai sampai Niko dan adiknya selalu menangis karena ulah Millie


Kali ini Niko menangis karena satu sepatunya hilang di bawa lari oleh Millie, Niko tidak mau diam sebelum sepatunya dia dapatkan kembali


"Millie.. sayang dimana sepatu uncle? " tanya Ririn, Millie hanya diam dia masih fokus dengan mainannya


"Opa mian sebentar lagi pulang, nanti opa gak mau main lagi sama Millie" mendengar nama opanya di sebut sebut Millie baru mengangkat kepalanya


"Dimana sayang? katakan atau oma telepon opa mian biar jemput oma pulang" Millie segera berdiri menarik tangan Lydia agar tidak pergi, Millie menunjuk ke arah dapur suster dan bibi pun mencarinya namun tidak menemukan apapun


"Dimana sayang? " tanya Lydia


"Di Kamal mandi" lirih Millie, benar saja suster menemukan sepatu Niko di kamar mandi yang berada di dapur


"Aku cuma mau bantu belsihin toilet" Millie berdalih membuat para orang tua menggeleng menghembuskan nafas bersamaan


Millie menunjukkan wajah bersalah yang menggemaskan membuat oma Omanya tidak dapat marah


"Heh.. untung cucuku" Lirih Lydia bersamaan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Sayang aku ke toilet dulu" Ucap Max, Allea mengangguk lalu Max meninggalkannya bersama Gita


"Mama mau cari apa lagi? " tanya Gita


"Mama mau cari baju buat papa dulu ya, kalian kalo mau cari cari lagi berdua aja ya biar cepet nanti kalo mau pulang telepon mama"


"Iya.. kalo gitu Gita sama Allea mau cari makan dulu ya ma"


Allea duduk di kursi panjang meluruskan kakinya begitupun Gita, Allea mengipasi dirinya dengan tangan seraya mengusap keringat di keningnya


"Cape ta" lirih Allea


"Hooh sama.. makan ice cream kayaknya enak " Akhirnya Gita dan Allea membeli icecream beserta cemilan lainnya


Saat sedang asik makan ice cream Allea melihat Miranda berjalan mendekat dengan seorang pria yang gaya terlihat sangat sombong, Allea menyikut lengan Gita untuk memberi kode dan benar saja Miranda berhenti di hadapan mereka


"Ehh.. ada ibu ibu lagi nongki"


"Apaan sih lo sok kenal" Gita menjawab sinis


"Cih.. kalian enak enakkan disini, kalian gak ngurusin anak anak gitu? "


"Apa urusannya ama lo, emang kalo gue gak urus anak berdampak sama kehidupan lo gitu? " Gita menggerutu


"Suami kita bayar baby sitter buat jaga anak, mereka tahu istrinya juga butuh waktu buat memanjakan diri makanya bayar baby sitter" Jawab Allea dengan santai


"Ohh iya.. suami kalian kaya ya gue lupa karena lihat istri istrinya yang.. B aja, uppss.. sorry" Cibir Miranda


"Sembarangan lo gak liat kulit kita mulus bening dari ujung kaki ampe ujung kepala? emangnya elo muka udah kek pabrik terigu.. hahah" Gita tertawa membuat Allea juga ikut tertawa


"Heh gendut lo bilang apa? " Miranda tidak Terima dia menggebrak meja membuat mereka semakin di perhatikan pengunjung lain


"Gendut juga udah laku daripada kurus kering masih jomblo" jawab Gita lalu menjulurkan lidahnya


"Udah pergi sana lo gak malu di liatin? mana gak di belain lagi" Allea menyindir si pria yang berada di samping Miranda


"Pantes suami lo selalu di gosipkan dekat sama cewek lain karena istrinya udah gendut, gak menarik lagi"


"Bodo amat.. Semua yang deketin juga gak ada yang di ajak serius, dan kalo kalian para cewek tertarik d ngan hartanya itu gak akan lo dapetin karena semua udah atas nama gue tapi kalo mau orangnya silahkan ambil kalo dia juga bersedia gue udah kenyang" Allea menjawabnya dengan santai


"Gue gendut karena di kasih makan beda sama yang cuma ngajak itu pun jarang jarang, makanya lo langsung alias kerempeng, Makanya cari yang mau nikahin jangan cuma di ajak check-in keburu tua" ledek Allea


"Kalian banyak bicara, dari perusahaan mana suami mereka bekerja? aku akan memerintahkan perusahaannya memecat suami mereka" Pria yang bersama Miranda kesal dengan ucapan Allea dan menjatuhkan semua makanan yang ada di meja nya


Allea bersikap tenang menahan Gita yang emosinya sudah memuncak, dia menelpon seseorang dan bangkit membersihkan tumpahan makanan di bajunya


"Panggil suamimu, mereka akan kehilangan pekerjaan dalam sekejap" ucapnya seraya mendorong Allea, beruntung Gita menahan tubuh Allea hingga dia tidak sampai terjatuh


Miranda langsung menghilang saat Allea menelpon suaminya, dia tahu tidak akan aman jika Max ada di sana


"Sayang kamu disini? Aku cari kemana mana, kalian gak apa apa? " Max menghampiri Allea dan Gita


"Tu.. tuan.. "


"Ini suami gue.. mau dia di pecat kan? " ucap Allea seraya menggandeng tangan Max


"Maaf nyonya saya tidak mengenali anda"


"Kerja sama kita batal, ayo sayang kita pulang" Max menggandeng tangan Allea lalu pergi di ikuti Gita


"Tuan jangan.. saya mohon tuan, kerja sama ini sangat penting untuk perusahaan saya" pria tersebut mengekori Max sampai di parkiran


"Pak.. jauhkan dia" Ucap Max seraya membawa Allea masuk ke dalam mobil sementara Gita sudah bersama mertuanya


"Tuan.. tuan... " teriaknya ketika mobil Max dan Allea pergi


"Sial.. gara-gara wanita itu" Pria tersebut memukulkan tangannya di udara