My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
aku menyesal mencintaimu



Beberapa hari Allea di rawat di rumah sakit dia selalu menolak bicara dengan Max bahkan dia selalu pura pura tidur jika Max disana tapi itu tidak membuat Max menyerah dia masih mempertahankan keyakinannya untuk meluluhkan kembali hati Allea


Hari ini Max kembali kerumah sakit membawa bunga dan parsel buah ketika tiba disana Allea sedang berbincang dengan Gita , ibu, Gita dan Lydia


"Sayang sudah merasa lebih baik? " tanya Max


"Udah mendingan kok" jawab Allea ini pertama kalinya dia bicara pada Max itu pun karena tidak enak dengan kehadiran ibu Gita


"Lucu ya dia gerak gerak" Allea terlihat senang saat mengusap perut Gita


"Iya, kadang kalo tidur suka gak nyenyak dia nendang terus" jawab Gita


Hidung Allea memerah dengan genangan air mata mungkin dia mengingat anaknya, dan sedang berandai andai jika anaknya masih hidup dia juga bisa merasakan hal yang persis di rasakan Gita


"Gita kita harus pulang udah mau sore papa sama Dito pasti bentar lagi pulang" ucap Ibu Gita melihat kesedihan di wajah Allea


"Yahh.. mainannya pergi deh" Allea mencebikan bibirnya


"Sayang Gita nya pulang dulu, kasihan baby nya harus istirahat" ucap Lydia


"Allea kalo udah sembuh nginep aja jadi nanti bisa puas main sama Gita" ucap Ibu Gita


"Iya bu, nanti kalo Allea nginep ibu mau kan buatin Allea kue bawang "


"Iya anak cantik, ibu tunggu kamu sembuh ya" ucap Ibu Gita


"Kita pulang dulu ya.. daaaah" Gita melambaikan tangannya


"Daahh.. hati hati ya" jawab Allea ikut melambaikan tangan


"Sayang bunda cari cemilan dulu ya" ucap Lydia dia sengaja ingin memberikan waktu untuk mereka berdua


"Iya bun, Allea sekalian titip keripik bun" Lydia hanya mengangguk seraya tersenyum


"Kamu mau buah? " tanya Max namun Allea enggan menatapnya dia memalingkan wajahnya kearah lain


"Aku kangen sama kamu, sampai kapan kamu cuekin aku terus? " lirih Max menggenggam erat tangan Allea meskipun Allea menarik tangannya berulang kali


"Aku tahu aku salah maafin aku, aku janji mulai saat ini aku gak akan peduliin siapapun kecuali kamu"


"Jangan berjanji untuk sesuatu yang tidak bisa kamu tepati,kamu pulang aja aku mau tidur" tegas Allea lalu berbaring memunggungi Max


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa mommy melakukan itu? " tanya Cindy saat menjenguk Emile


"Kenapa? kamu bilang kenapa? itu buat kamu juga kalo Allea tersingkir cuma kamu pewaris satu satunya" Cindy hanya menggeleng mendengar perkataan Emile


"Buat Cindy? mommy pikir Cindy akan bahagia? "


"Kamu kenapa jadi begini? bukannya kamu akan senang jika banyak uang? "


"Kehadiran papa buat Cindy sadar mi bahwa tidak selamanya uang akan membuat hidup kita bahagia" ucap Cindy


"Papa? siapa papa yang kamu maksud? " tanya Emile


"Aku.. aku papa kandungnya, Jangan ajarkan hal hal tidak baik pada anakku sudah cukup selama ini dia jadi pribadi yang buruk" ucap Frans


"Selama daddy sibuk dengan masalahnya dan Allea Cindy menghabiskan banyak waktu bersama papa, Cindy sadar sekarang rasa ingin merampas hak orang lain hanya akan membuat kita semakin buruk"


"Cindy harap mommy bisa berubah setelah keluar dari penjara" lanjut Cindy


"Cindy kamu jangan menyerah harta Gibran itu banyak kamu tidak akan berhenti sampai disini bukan? " Cindy tidak mendengar perkataan Emile karena Frans segera membawanya keluar


"Cindy.. dengarkan mommy.. Cindy" Emile berteriak memanggil Cindy yang sudah pergi, dia pun di bawa kembali oleh polisi kerena berteriak teriak tidak jelas


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Sepulang sekolah Max bergegas kerumah sakit namun saat sampai disana kamar rawat Allea sudah di bersihkan oleh suster


"Loh pasien disini kemana Sus? " tanya Max


"Sudah pulang"


"Dia pulang sama siapa? "


"Sama bapak bapak yang suka nungguin disini "


Sesampainya disana Max mengetuk pintu, pintu terbuka memperlihatkan wajah Gibran yang tidak enak di pandang


"Saya mau ketemu Allea" ucap Max


"Gak ada dia lagi istirahat, kamu pulang aja"


"Tapi.. " belum selesai Max bicara pintu sudah di tutup kencang membuat Max memejamkan matanya


Dengan berjalan gontai Max kembali ke mobilnya, dia melihat tukang kebun sebuah ide muncul di kepalanya. Dia menghampiri tukang kebun tersebut


"Pak.. " panggil Max


"Iya.. kenapa den? " tanyanya


"Nanti kalo ayah keluar kasih tau saya ya, nih nomor telepon saya"


''Kenapa gak langsung masuk aja den? " tanyanya


"Pokoknya kalo ayah keluar kasih tau saya, nih buat beli kopi" Max memberikan uang pada tukang kebun


"Iya.. iya saya ngerti" ucapnya seraya tersenyum menatap uang tersebut


.


.


Lama Max menunggu di warung di ujung jalan raya sebelum masuk ke area rumah Allea, Handphonenya berdering membuatnya tersenyum lebar lalu masuk ke dalam mobilnya


Tanpa mengetuk pintu Max langsung masuk dan pergi ke kamar Allea, tidak ada siapapun di kamar hanya ada suara gemericik air di kamar mandi menandakan seseorang sedang mandi


Max menunggu di sela sela lemari entah apa yang dia pikirkan sampai bersembunyi seperti itu, Allea keluar kamar mandi sambil bersenandung menggosok rambutnya dengan Handuk kecil


"Udah seminggu kenapa masih sakit ya" Gumam Allea melihat lukanya dengan membuka bathrobe di depan cermin. Melihat pantulan tubuh Allea di cermin membuatnya sesak nafas


"Aaaaaaaaaa" Allea menjerit menutup tubuhnya ketika melihat sedikit kepala Max yang menyembul di pojok lemari dari pantulan cermin


"Sstttt... tenang aku.. aku gak liat apapun" ucapnya seraya menutup wajah


Bodohnya dia kenapa juga harus bersikap seperti itu padahal dia suaminya, Allea mengambil bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi


"Sayang kamu lagi apa di dalam? " tanya Max sambil mengetuk pintu


"Sayang.. mana yang masih sakit? " tanya Max menyingkap kaos yang Allea pakai


"Ishh.. " Allea menurunkan kembali kaosnya mengacuhkan Max, Allea berjalan ke ranjang dan duduk memainkan handphonenya


"Sayang aku minta maaf, aku harus gimana lagi biar kamu maafin aku? " ucap Max duduk di samping Allea


"Pergi, tinggalin aku sendiri" jawab Allea dingin tanpa menoleh


"Aku gak bisa tidur kalo gak ada kamu" rengek Max


"Cari orang yang mau menemani kamu tidur, gampang kan? "


"Emang kamu gak marah aku tidur sama cewek lain? tanya Max


" Enggak, justru aku akan semakin yakin buat pisah sama kamu" jawab Allea


"Kamu yakin mau pisah sama aku? " tanya Max namun Allea kini hanya diam


Allea berbaring membelakangi suaminya entah apa yang harus dia jawab, dia mencintainya tapi kemarahan menguasai hatinya


"Aku tau kamu cuma lagi marah jangan terlalu sering mengucapkan kata pisah, kamu akan menyesalinya kalo suatu saat itu terjadi"


"Aku sayang sama kamu, maafin aku" Max memeluk Allea dari belakang mencium kepalanya, Tak terasa air mata mengalir membasahi pipi Allea


"Kalo aja saat itu kamu gak usir aku karena wanita lain, kalo aja aku gak kehilangan anak aku, aku gak akan sebenci ini sama kamu" lirih Allea


"Maaf" hanya itu yang dapat dia ucapkan


"Aku.. aku.. menyesal ketemu sama kamu, aku menyesal ngelakuin hal bodoh sama kamu, aku menyesal.. aku.. aku menyesal jatuh cinta sama kamu.. hiks hiks.. " Ucapan Allea terbata bata dengan suara bergetar tangisnya pecah mengakhiri kalimatnya


Max membalikkan tubuh Allea menghadapnya "Kamu boleh benci sama aku tapi aku gak mau dengar kamu bilang menyesal cinta sama aku, Kamu bisa hukum aku apapun tapi jangan katakan itu" ucap seraya menatap mata Allea


Mata itu menyimpan kesedihan, Max mengecup lama kening Allea lalu beranjak dari tempat tidur berjalan keluar kamar. Allea bisa melihat sebelum keluar Max mengusap kedua matanya lalu menutup pintu mungkin dia juga menangis